Zakat, Ṣadaqah, & Infaq
Tiga Operasi atas Rizq: dari Kalibrasi Kepemilikan, Pembuktian Kebenaran, hingga Stewardship Resource
Kajian Integratif Pantulan Cermin
Konsolidasi hasil kajian leksikal, naratif, struktural, dan operasional
Zakat, Ṣadaqah, & Infaq
Tiga Operasi atas Rizq: dari Kalibrasi Kepemilikan, Pembuktian Kebenaran, hingga Stewardship Resource
Kajian Integratif Pantulan Cermin
Konsolidasi hasil kajian leksikal, naratif, struktural, dan operasional
Abstraksi
Zakat, Ṣadaqah, dan Infaq sering diperlakukan sebagai tiga istilah yang saling menggantikan karena ketiganya dapat tampak dalam tindakan yang sama: harta keluar dari tangan seseorang dan memberi manfaat kepada pihak lain. Kajian ini menunjukkan bahwa penyamaan itu terlalu cepat. Ketiga diksi tersebut berasal dari akar yang berbeda, hidup dalam narasi Qur’ani yang berbeda, dan menguji sisi manusia yang berbeda. Zakat tumbuh dari akar ز ك و dan berhubungan dengan tazkiyah, kemurnian, kelayakan, serta pertumbuhan yang benar; Ṣadaqah bertumpu pada akar ص د ق yang membawa medan kebenaran, pemenuhan, dan konfirmasi; sedangkan Infaq berasal dari akar ن ف ق, dengan bentuk anfaqa/yunfiqu yang secara konsisten menandai pengeluaran atau deployment resource.
Dari keseluruhan pembacaan, ketiganya lebih tepat dilihat sebagai tiga governance atas Rizq. Zakat mengaudit hubungan manusia dengan apa yang berada dalam penguasaannya; Ṣadaqah menguji apakah keyakinan dan pengakuan berani menanggung real cost melalui pelepasan; Infaq menguji bagaimana resource dikelola, diarahkan, dan dipertahankan agar menjadi flow yang menopang continuity, capability, growth, dan regeneration. Ketiganya bukan tangga linear beginner-intermediate-advanced, melainkan tiga exercise paralel yang terus bekerja setiap kali skala Rizq membesar. Pada pihak penerima, ketiganya membentuk continuity architecture: memulihkan pijakan, membuka recovery space, lalu menyediakan continuity capital sampai penerima mampu menjadi steward berikutnya.
Dalam living corpus Pantulan Cermin, ketiga operasi ini berada di wilayah Shukr setelah Rizq hadir. Shukr tidak berhenti sebagai ucapan terima kasih, tetapi menjadi cara mengoperasikan pemberian: status kepemilikan ditata melalui Zakat, kebenaran pengakuan diuji melalui Ṣadaqah, dan resource yang tetap berada dalam penguasaan diarahkan melalui Infaq. Karena itu pembahasan ketiganya pada akhirnya bukan hanya tentang “berapa yang keluar”, melainkan tentang bagaimana Rizq diterima, diperlakukan, dilepaskan, dikelola, dan diteruskan menjadi manfaat yang melampaui diri.
Jakarta, 21 September 2026
Deni Setiawan / email : deni@pantulancermin.com
Tesis Utama
Zakat, Ṣadaqah, dan Infaq bukan tiga nama bagi tindakan “memberi”, melainkan tiga operasi berbeda terhadap Rizq. Zakat menata status kepemilikan agar manusia tidak mengabsolutkan apa yang berada padanya; Ṣadaqah membuktikan ṣidq dengan membuat keyakinan mempunyai cost dan consequence nyata melalui relinquishment; Infaq mengubah Rizq dari stock menjadi purposeful deployment agar kehidupan, responsibility, capability, dan sistem dapat terus berjalan dan bertumbuh. Ultimate maturity ketiganya bertemu pada satu kesadaran: manusia bukan pemilik terminal atas Rizq, melainkan steward yang dituntut mampu memiliki tanpa diperbudak kepemilikan, melepaskan tanpa menagih kembali, dan mengelola resource agar menghasilkan kehidupan melampaui dirinya
Gambar 1 — Arsitektur Besar Pengelolaan Rizq
Tiga governance atas satu Rizq: Zakat mengaudit ownership, Ṣadaqah menguji truth dan attachment, Infaq mengatur deployment.
1. Mengapa Tiga Diksi Ini Tidak Boleh Disamakan
Kesulitan paling awal dalam memahami tiga istilah ini adalah kemiripan bentuk perbuatannya. Seseorang mengeluarkan uang; dari luar, tindakan itu dapat disebut zakat, sedekah, atau infaq. Akan tetapi Al-Qur’an sendiri tidak memperlakukan ketiganya sebagai sinonim sederhana. QS 9:103, misalnya, menyebut objek yang diambil dari amwāl sebagai ṣadaqah, sementara efek yang dituju adalah “tuṭahhiruhum wa tuzakkīhim bihā”. Artinya, Ṣadaqah dapat menjadi vehicle bagi tazkiyah, tetapi vehicle dan effect bukan kata yang sama. Demikian pula QS 58:12–13 menampilkan ṣadaqah dan zakat dalam dua ayat berdekatan sebagai dua diksi berbeda, sedangkan akar نفق dipakai baik untuk deployment yang diarahkan kepada Sabīl Allah maupun deployment yang justru dipakai untuk menghalangi Sabīl Allah. Perbedaan ini memaksa kita membaca fungsi, medan operasi, dan orientasi masing-masing secara terpisah.
Karena itu dokumen ini tidak mencari satu definisi kamus yang memaksa seluruh ayat tunduk pada satu slogan. Pendekatannya bergerak dari akar kata, pola penggunaan Qur’ani, objek tindakan, konsekuensi pada pelaku, dampak pada penerima, lalu baru menyusun sintesis struktural. Metode ini penting agar istilah yang sudah sangat populer tidak menutupi arsitektur yang sebenarnya lebih kaya.
2. ZAKAT — Kalibrasi Kepemilikan
2.1 Akar kata dan medan makna
Zakat berangkat dari akar زكو (zāy–kāf–wāw). Quranic Arabic Corpus mencatat akar ini 59 kali dalam tujuh bentuk, termasuk zakā, zakkā, tazakkā, azkā, dan zakāt. Corpus sering memberi gloss “purify”, sementara sumber leksikal klasik yang telah dipakai dalam kajian memperluas medan ini kepada namāʾ (pertumbuhan), barakah, dan ṣalāḥ. Dua ayat membantu menjaga agar “purification” tidak direduksi menjadi satu makna sempit. QS 2:232 menyandingkan azkā dengan aṭhar; QS 9:103 juga memakai tuṭahhiruhum dan tuzakkīhim dalam satu rangkaian. Pemisahan diksi ini menunjukkan bahwa tazkiyah tidak identik secara mekanis dengan ṭahārah.
Objek transformasi Zakat juga penting. Pada QS 92:18, seseorang “yuʾtī mālahu yatazakkā”: ia memberikan hartanya, tetapi subjek yang mengalami tazakkā adalah manusianya. Pada QS 9:103, ṣadaqah diambil dari amwāl, tetapi yang “ditahirkan” dan “ditazkiyahkan” adalah hum, yaitu manusia. Karena itu, harta adalah medium exercise; manusia adalah target transformasinya.
Gambar 2 — Zakat: Kalibrasi Kepemilikan
Dari amwāl, ḥaqq, rightful release, tazkiyah, hingga proper growth.
2.2 Pertanyaan utama, objek, dan wilayah exercise
Pertanyaan Zakat: “Apa yang tidak layak saya tahan sebagai milik absolut saya?”
Dalam sintesis Pantulan Cermin, Zakat bekerja pada boundary SELF – POSSESSION – SOCIAL. Ia mengoreksi penyakit kepemilikan yang berbunyi: “semua yang berada di tanganku adalah sepenuhnya hakku.” Ayat tentang ḥaqq di dalam amwāl (QS 51:19 dan QS 70:24–25) memberi resonansi kuat bagi model ini, tetapi kajian ini sengaja tidak menyamakan secara leksikal ḥaqq maʿlūm dengan zakat. Yang dapat dikatakan dengan aman adalah bahwa arsitektur Qur’ani menolak absolutisasi possession: berada pada saya tidak otomatis berarti seluruhnya layak saya tahan sebagai entitlement pribadi.
Dari sini fungsi dominan Zakat dirumuskan sebagai ownership calibration yang berujung pada tazkiyah dan proper growth. Exercise-nya bukan “belajar kehilangan harta”, tetapi belajar memiliki tanpa menjadi dimiliki oleh apa yang kita miliki. Karena itu Zakat bukan exercise yang hanya relevan bagi beginner. Semakin besar capital seseorang, semakin besar pula risiko absolutisasi ownership; maka audit Zakat justru semakin relevan pada keadaan abundance.
2.3 Memberi harta tidak identik dengan Zakat
QS 2:177 memberi pembeda yang penting. Ayat itu lebih dahulu menyebut pemberian harta yang dicintai kepada kerabat, yatāmā, masākīn, ibn al-sabīl, orang yang meminta, dan pembebasan; setelah itu, secara terpisah, ayat menyebut penegakan ṣalāh dan pemberian zakāt. Pemisahan ini membuat definisi “Zakat = memberikan harta kepada orang yang membutuhkan” menjadi terlalu sempit. Memberi harta dapat menjadi bagian dari arsitektur kebaikan, tetapi Al-Qur’an tidak menghabiskan makna Zakat ke dalam satu bentuk transfer kepada pihak yang membutuhkan.
Distinction ini juga menjelaskan mengapa Zakat perlu dibaca dari efek tazkiyah dan relationship manusia dengan possession. Harta memang menjadi medium tindakan, tetapi problem yang diaudit bukan sekadar ada atau tidak ada transfer. Problemnya adalah apakah seseorang memperlakukan apa yang berada dalam penguasaannya sebagai absolute entitlement, atau tetap mampu membedakan antara control, legitimate possession, dan sesuatu yang tidak layak ia tahan.
2.4 Apa yang dilepas, kapan, dan berapa?
QS 51:19 dan QS 70:24–25 menyebut adanya ḥaqq di dalam amwāl. QS 6:141 menambahkan bentuk yang sangat konkret: ketika hasil tanaman aktual pada hari panen, “wa ātū ḥaqqahu yawma ḥaṣādihī” — berikan ḥaqq-nya pada hari panennya. Ayat-ayat ini memperkuat distinction antara possession dan entitlement: sesuatu dapat berada dalam harta kita, tetapi di dalamnya ada hak yang tidak semestinya berhenti pada kita.
Namun kajian ini tidak menemukan dasar Qur’ani yang cukup untuk mengubah ḥaqq tersebut menjadi satu persentase universal. Pertanyaan “apa yang harus dilepas?” dapat dijawab secara konseptual dengan ḥaqq; pertanyaan “kapan?” pada QS 6:141 terkait dengan aktualisasi hasil panen; sedangkan pertanyaan “berapa persennya?” tidak boleh diisi dengan angka yang tidak muncul dari korpus yang sedang diaudit. Demikian pula maʿlūm pada QS 70:24 tidak dengan sendirinya membuktikan satu formula persentase tertentu. Di sinilah kajian sengaja membedakan WHAT dari HOW MUCH.
2.5 Growth: bukan sekadar bertambah, tetapi bagaimana pertumbuhan itu terjadi
QS 30:39 memperhadapkan riba yang ditujukan agar bertambah di dalam amwāl manusia dengan Zakat yang diberikan sambil menghendaki Wajh Allah. Sementara QS 2:276 menyatakan bahwa Allah memusnahkan riba dan menumbuhkan ṣadaqāt. Dua ayat ini membuat kata “growth” tidak dapat dipahami hanya sebagai kenaikan angka. Pertumbuhan dalam arsitektur Qur’ani juga diaudit melalui arah, relasi, dan cara value itu terbentuk.
Dalam sintesis Pantulan Cermin, kontras ini dapat dijelaskan sebagai perbedaan antara pertumbuhan yang menarik value kembali kepada pemilik melalui claim atas pihak lain dan pertumbuhan yang membuka ruang bagi value untuk hidup di luar diri. Rumusan “extractive versus generative growth” adalah bahasa sistem untuk membantu pembacaan; ia bukan arti leksikal langsung dari kata Zakat atau riba.
2.6 Real action dan continuity pada penerima
Secara real action, Zakat menuntut rightful release: melepaskan bagian yang tidak layak dipertahankan sebagai milik absolut. Dari sisi penerima, fungsi ini dapat dibaca sebagai restoration of footing. Seseorang yang kehilangan akses kepada hak, pijakan, atau minimum viable footing tidak semestinya dibiarkan jatuh hanya karena resource terkunci pada pihak lain. Karena itu dampak terbaik Zakat bukan membuat orang terus berada dalam posisi penerima, melainkan mengembalikan floor yang memungkinkan ia tetap hidup, bergerak, dan menjaga martabatnya.
2.7 Contoh kehidupan
3. ṢADAQAH — Ketika Kebenaran Membayar Harganya
3.1 Akar kata dan arsitektur ṢIDQ
Ṣadaqah berasal dari akar صدق (ṣād–dāl–qāf). Quranic Arabic Corpus mencatat akar ini 155 kali dalam 19 bentuk. Form I ṣadaqa bergerak pada medan “benar” dan “memenuhi”; Form II ṣaddaqa pada “mengonfirmasi/membenarkan”; sedangkan Form V taṣaddaqa dipakai pada tindakan yang kita sebut Ṣadaqah. Karena itu, membatasi Ṣadaqah pada “pemberian sukarela” menghilangkan hubungan semantiknya dengan ṣidq.
QS 33:23 menyebut orang yang “ṣadaqū mā ʿāhadū Allāha ʿalayhi”: mereka benar terhadap apa yang mereka janjikan. QS 49:15 menutup rangkaian iman, hilangnya keraguan, serta perjuangan dengan amwāl dan anfus dengan sebutan “ulāʾika humu al-ṣādiqūn”. Medan ini memberi pola yang konsisten: claim tidak selesai sebagai ucapan; ia masuk ke tindakan, cost, dan consequence.
Gambar 3 — Ṣadaqah: Ketika Kebenaran Membayar Harganya
Claim menjadi proof ketika commitment memasuki real cost, release, consequence, dan verification.
3.2 Dari claim ke proof
Pertanyaan Ṣadaqah: “Apa yang bersedia saya lepaskan sebagai bukti dari apa yang saya yakini?”
Dari seluruh occurrence yang dibahas, common denominator paling kuat bukan objek uangnya, melainkan adanya sesuatu yang bernilai dan dapat dipertahankan, kemudian benar-benar dilepaskan. QS 2:280 memakai taṣaddaqū untuk remission piutang ketika debitur berada dalam kesulitan. QS 5:45 memakai taṣaddaqa pada pelepasan hak qiṣāṣ. Dalam dua kasus ini, yang dilepas bukan sesuatu yang “bukan hak saya”, melainkan justru sesuatu yang legitimate untuk saya pertahankan. Di sinilah Ṣadaqah berbeda secara tajam dari working model Zakat.
Arsitekturnya dapat diringkas sebagai CLAIM/BELIEF → COMMITMENT → REAL COST → RELEASE/RELINQUISHMENT → CONSEQUENCE → VERIFICATION. Risk-taking dapat berada di dalam arsitektur ṣidq, tetapi risk-taking sendiri belum cukup disebut Ṣadaqah. Jika Rp10 juta ditaruh ke bisnis sendiri dengan ekspektasi kembali Rp20 juta, ada conviction dan risk-bearing tetapi belum tentu relinquishment. Hubungan dengan Ṣadaqah menjadi jauh lebih kuat ketika claim atas return, kontrol, atau entitlement benar-benar dilepaskan.
3.3 Ṣadaqah tidak selalu “sukarela” dan tidak cukup hanya transfer
QS 58:12 pernah memerintahkan ṣadaqah sebelum najwā dengan Rasul, sehingga “voluntary” tidak dapat dijadikan defining feature. Sebaliknya QS 2:280 memperlihatkan ruang pilihan ketika seseorang meremit claim. Spektrumnya lebih luas: ada commanded context, ada contextual release, dan ada relinquishment yang dipilih. Defining feature yang lebih stabil adalah adanya release yang mempunyai real cost dan consequence.
Lebih jauh, QS 2:263–264 menunjukkan bahwa transfer material belum cukup. Ṣadaqah dapat dibuat bāṭil oleh mann dan adhā; ayat yang sama membandingkan dengan orang yang mengeluarkan harta karena riyāʾ al-nās. Ini berarti pelepasan harus selesai bukan hanya pada cashflow, tetapi juga pada relational ownership. Uang yang sudah diberikan tidak boleh direklamasi melalui hutang budi, penghinaan, kontrol, atau tuntutan recognition.
3.4 Visibility, recognition, dan ultimate acceptance
QS 2:271 mengoreksi simplifikasi lain: ṣadaqah yang ditampakkan tetap disebut baik, sedangkan yang disembunyikan dan diberikan kepada fuqara disebut lebih baik dalam konteks ayat itu. Karena itu public tidak identik dengan riyāʾ, dan private tidak otomatis identik dengan ketulusan. Visibility adalah kondisi eksternal; orientasi adalah persoalan yang berbeda. Ṣadaqah menguji apakah tindakan tetap mempunyai nilai ketika pelaku tidak menjadikan recognition manusia sebagai return yang harus diterima.
QS 9:103–104 menambahkan arah kedua. Secara horizontal, ṣadaqah berpindah kepada manusia dan memberi effect pada relasi sosial; tetapi ayat berikutnya menegaskan bahwa Allah menerima tawbah dan “yaʾkhudhu al-ṣadaqāt”. Dalam sintesis struktural, ini membentuk dual-direction architecture: beneficiary berada pada ranah horizontal, sedangkan ultimate acceptance dan evaluasi berada pada Allah. Karena itu pelepasan tidak selesai bila pemberi masih menagih pujian, loyalitas, atau control dari manusia sebagai pengganti resource yang sudah ia keluarkan.
3.5 Recipient spectrum dan consequence map
Korpus juga menunjukkan bahwa recipient atau pihak yang memperoleh manfaat dari Ṣadaqah tidak dapat dibatasi hanya pada “orang miskin”. QS 2:280 memperlihatkan debitur yang mendapat ruang karena claim utang dilepaskan; QS 4:92 menyebut keluarga korban yang dapat melepaskan diyah; QS 5:45 memperlihatkan pelepasan hak qiṣāṣ; QS 9:60 memakai kata al-ṣadaqāt untuk beragam kategori penerima; dan QS 12:88 memperlihatkan saudara-saudara Yusuf meminta agar Yusuf “taṣaddaq ʿalaynā”. Common denominator-nya lebih luas: pihak lain memperoleh benefit atau recovery space karena resource, right, atau claim tidak lagi dipertahankan oleh pelaku.
Outcome Ṣadaqah pun tidak tunggal. QS 2:271 menghubungkannya dengan penghapusan sebagian sayyiʾāt; QS 2:276 dengan growth; QS 5:45 dengan kaffārah; QS 9:103 dengan taṭhīr dan tazkiyah; QS 57:18 dengan multiplication. Karena itu “verification of ṣidq” tetap berguna sebagai dominant functional role, tetapi bukan satu-satunya consequence yang dihasilkan oleh Ṣadaqah.
3.6 Continuity pada penerima
Dari sisi penerima, fungsi Ṣadaqah paling tajam terbaca sebagai removal of constraint atau creation of recovery space. Debitur yang terikat oleh claim memperoleh ruang untuk bernapas ketika sebagian atau seluruh claim diremit. Pihak yang berada di bawah hak tuntutan memperoleh ruang ketika hak itu dilepaskan. Maka Ṣadaqah tidak selalu “memberi modal baru”; kadang ia justru bekerja dengan mengurangi beban yang menahan kehidupan seseorang agar tidak bergerak.
3.7 Contoh kehidupan
4. INFAQ — Membuat Rizq Bekerja
4.1 Akar kata, mekanisme dasar, dan koreksi atas “circulation”
Infaq berasal dari akar نفق (nūn–fāʾ–qāf). Quranic Arabic Corpus mencatat akar ini 111 kali dalam 10 bentuk; Form IV anfaqa muncul 68 kali dan secara dasar digloss sebagai “spend/expend”. Akar yang sama juga melahirkan nafaq, nafaqah, serta cabang nifāq/munāfiq, tetapi kesamaan akar tidak memberi izin untuk menyamakan medan operasionalnya. Dalam kajian ini, Infaq dibaca dari occurrence Form IV dan konteks resource deployment-nya.
Sebelumnya Infaq dirumuskan sebagai “circulation”. Setelah audit, rumusan itu perlu dituning. Circulation bukan arti leksikal langsung anfaqa; ia adalah systemic outcome ketika resource terus keluar dari passive stock, masuk ke proses lain, menumbuhkan capability, lalu menghasilkan resource baru. Inti operasional yang lebih presisi adalah purposeful resource deployment.
Pertanyaan Infaq: “Ke mana dan bagaimana resource yang ada padaku harus dibuat bekerja?”
Gambar 4 — Infaq: Membuat Rizq Bekerja di Luar Diri
Resource melewati quality, capacity, direction, timing, lalu deployment yang menopang continuity dan growth.
4.2 QS 2:3 sebagai seed architecture
QS 2:3 sangat penting karena Infaq muncul bukan setelah manusia menjadi kaya, melainkan di awal deskripsi muttaqīn: “wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn”. Ayat itu tidak menentukan penerima, jumlah, atau jenis harta. Yang ditegaskan adalah adanya Rizq yang telah diterima dan adanya bagian dari Rizq itu yang dibuat keluar atau digunakan. Dalam living corpus Pantulan Cermin, struktur ini dibaca berdampingan dengan īmān bil-ghayb dan yuqīmūna ṣ-ṣalāh: visi memberi arah, ṣalāh mengaktifkan daya, dan Infaq menyediakan operating resource agar perjuangan tidak berhenti.
Keterbatasan capital tidak menghapus Infaq. QS 65:7 menyesuaikan deployment dengan actual capacity: yang luas mengeluarkan dari keluasannya, yang rizq-nya dibatasi tetap mengeluarkan dari apa yang Allah berikan. Prinsipnya bukan menunggu ideal, tetapi memulai conscious allocation dari resource yang benar-benar tersedia.
4.3 Berapa yang dideploy? Al-ʿAfw, capacity, dan fear of scarcity
QS 2:219 memuat pertanyaan langsung “mādhā yunfiqūn?” dan menjawab “qul al-ʿafw”. Kajian ini mempertahankan al-ʿafw sebagai istilah Qur’ani dan tidak mengubahnya menjadi formula finansial baku. Dalam berbagai terjemahan ia dibaca sebagai sesuatu yang dapat disisihkan, yang berlebih, atau yang melampaui kebutuhan; tetapi audit akar ʿ-F-W bukan bagian kajian ini. Yang dapat diambil dengan aman adalah bahwa Infaq mengenal persoalan deployable portion, bukan dorongan agar seluruh resource dikeluarkan tanpa kalkulasi.
QS 2:268 memperlihatkan tekanan psikologis di belakang keputusan tersebut: Shayṭān menjanjikan atau menakut-nakuti dengan kemiskinan, sementara Allah menjanjikan maghfirah dan faḍl. Karena itu Infaq juga meng-exercise allocative trust: kemampuan menempatkan resource pada purpose tanpa dikuasai fear of scarcity, tetapi juga tanpa jatuh pada recklessness. QS 65:7 dan QS 25:67 kemudian menjadi guardrail kapasitas dan keseimbangan.
4.4 Hubungan dengan capital/modal
Capital dapat dipahami sebagai resource yang menyimpan kemampuan menghasilkan sesuatu. Infaq mengaktifkan sebagian capability itu dengan menempatkannya pada kebutuhan, proses, manusia, atau mission. Karena itu Infaq bukan destruction of capital; dalam banyak keadaan ia adalah transformation of capital. Financial capital dapat berubah menjadi human capital, knowledge, alat kerja, akses, operating capacity, atau sistem yang terus menghasilkan manfaat.
QS 2:261 memberi metafora yang kuat: amwāl yang diinfaqkan fī sabīl Allāh dibandingkan dengan benih yang menghasilkan banyak bulir. Kajian ini tidak membacanya sebagai formula financial ROI, tetapi sebagai evidence bahwa resource yang keluar dapat mempunyai multiplicative effect. Pada titik ini, stock → productive flow menjadi bahasa sistem yang lebih tepat daripada “uang berkurang”.
Boundary dengan investment perlu dijaga. Ketika Rp10 juta ditempatkan ke bisnis sendiri dengan claim bahwa principal dan return akan kembali kepada pemilik, tindakan itu jelas merupakan capital deployment dan dapat memperlihatkan conviction atau risk-bearing, tetapi ia belum otomatis Ṣadaqah dan belum otomatis positive Qur’anic Infaq. Sebaliknya, mempertahankan sebagian working capital juga tidak otomatis berarti bakhil: bila capital tersebut diperlukan agar future productive flow tetap hidup, preservation of source justru dapat menjadi bagian dari tata kelola resource yang bertanggung jawab. Infaq menuntut keputusan tentang apa yang harus keluar, apa yang harus tetap dioperasikan, dan untuk purpose apa keduanya dikelola.
4.5 Orientasi: flow tidak otomatis bernilai baik
Salah satu temuan paling penting adalah bahwa Infaq secara mekanisme tidak otomatis baik. QS 8:36 memakai yunfiqūna amwālahum untuk orang-orang yang mengeluarkan harta agar menghalangi dari Sabīl Allah. Artinya, flow adalah mekanisme; direction menentukan nilainya. Positive Qur’anic orientation muncul melalui Sabīl Allah, ibtighāʾ Marḍāt Allah, dan ibtighāʾ Wajh Allah. Karena itu ultimate orientation bukan dekorasi spiritual di akhir, tetapi governance criterion sejak resource mulai dialokasikan.
Dengan formula ringkas: flow adalah mekanismenya; direction menentukan nilainya; sustainment/growth adalah objective sistemiknya. Ini juga menjelaskan mengapa resource deployment yang sophisticated belum tentu benar. Seseorang dapat sangat efektif melakukan fundraising, budgeting, timing, dan network building untuk tujuan yang salah. Qur’an tidak hanya mengaudit kemampuan menggerakkan capital, tetapi arah yang diberi kehidupan oleh capital itu.
4.6 Quality, cadence, collective governance, dan conservation principle
QS 2:267 menambahkan quality gate: yang dikeluarkan berasal dari ṭayyibāt, bukan resource buruk yang kita sendiri enggan menerimanya. QS 25:67 menambahkan discipline gate: tidak isrāf dan tidak qatr. Dari sudut capital management, ini berarti maksimum outflow tidak sama dengan maksimum kualitas Infaq. Productive source tidak boleh dihancurkan oleh deployment yang impulsif, karena runtuhnya source akan memutus future flow.
QS 2:274 memperlihatkan cadence: resource dikeluarkan malam dan siang, secara tersembunyi maupun terbuka. Ayat ini tidak harus dibaca sebagai kewajiban literal bertransaksi tanpa henti, tetapi ia kuat sebagai gambaran bahwa Infaq dapat menjadi rhythm of life, bukan one-off donation event. Pada maturity tertentu, allocation untuk purpose tidak menunggu kebetulan “ada sisa”; ia sudah masuk ke operating system kehidupan.
QS 42:38 menempatkan “wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn” berdampingan dengan “wa amruhum shūrā baynahum”. Secara tekstual, ayat itu tidak sedang memberi teori budgeting organisasi; tetapi secara struktural ia membuka ruang bahwa deployment resource dapat menjadi urusan collective governance, bukan hanya keputusan personal. Pada skala organisasi dan komunitas, pertanyaannya berubah dari “berapa yang saya keluarkan?” menjadi “bagaimana kita bersama-sama menentukan priority, timing, dan direction resource?”
Karena itu Infaq adalah disciplined resource governance. Ia menanyakan source, quality, quantity, direction, timing/cadence, channel deployment, dan outcome. Pada skala individu, ini tampak sebagai alokasi penghasilan, waktu, skill, dan akses. Pada skala organisasi, ia bergerak menjadi budgeting, capability building, dan strategic allocation. Pada skala sistem, ia bergerak menuju regeneration dan succession.
4.7 Tujuh layer maturity of resource deployment
Setelah recheck, model tujuh layer dapat dipertahankan dengan satu guardrail penting: Al-Qur’an tidak memberi penomoran L1–L7. Tujuh layer adalah model Pantulan Cermin untuk mengorganisasikan konfigurasi Infaq berdasarkan maturity of resource deployment, bukan “tujuh tingkatan Infaq” yang dinyatakan literal oleh Qur’an.
Gambar 5 — Tujuh Layer Infaq
Maturity resource deployment dari foundational allocation sampai stewardship dan succession.
Dua axis menembus seluruh layer. Orientation axis: Wajh Allah, Marḍāt Allah, Sabīl Allah. Outcome axis: continuity, capability, growth, multiplication. Dengan demikian L7 bukan titik pertama ketika manusia baru mengingat Allah; orientasi harus hadir sejak L1. Yang berkembang dari layer ke layer adalah radius, sophistication, leverage, dan consciousness of stewardship.
4.8 Contoh kehidupan dari resource minimum sampai stewardship
5. Tiga Governance, Bukan Tiga Tingkatan Linear
Zakat bukan exercise untuk beginner yang kemudian ditinggalkan ketika seseorang “naik kelas” menjadi Ṣadaqah dan Infaq. Ketiganya bekerja paralel. Setiap kali Rizq masuk atau skala capital berubah, tiga pertanyaan kembali hidup. Zakat bertanya tentang status ownership; Ṣadaqah menguji attachment dan truthfulness; Infaq menilai allocation dan direction. Karena itu perjalanan yang lebih tepat bukan tangga linear, melainkan spiral maturity.
Seseorang yang mulai dengan resource kecil tetap belajar ketiganya. Ketika capital menjadi jauh lebih besar, Zakat tetap mengaudit apakah abundance membuat ownership diabsolutkan; Ṣadaqah tetap menguji apakah legitimate entitlement masih dapat dilepas tanpa reclamation; Infaq berkembang dari personal allocation menuju systemic, regenerative, catalytic, dan succession-oriented deployment. Ultimate maturity bukan pindah dari satu istilah ke istilah lain, tetapi integrasi ketiganya dalam consciousness stewardship.
Gambar 6 — Zakat, Ṣadaqah, Infaq: Tiga Exercise, Tiga Governance
Perbandingan objek, exercise, impact penerima, objective, dan maturity masing-masing diksi.
6. Continuity dari Sisi Penerima
Ketika sudut pandang dipindah dari pemberi ke penerima, ketiga diksi membentuk continuity architecture. Zakat memulihkan floor: pihak yang rapuh tidak dibiarkan kehilangan pijakan hanya karena resource terkunci di tempat lain. Ṣadaqah menciptakan recovery space: claim, burden, atau constraint yang sebenarnya dapat dipertahankan oleh pihak lain dilepaskan sehingga penerima dapat bernapas dan bergerak kembali. Infaq menyediakan continuity capital: resource tidak berhenti pada rescue, tetapi masuk ke kebutuhan, learning, tools, network, dan capability yang memungkinkan kehidupan terus berjalan.
Outcome terbaik bukan dependency. Arsitektur idealnya bergerak FRAGILITY → RESTORE FOOTING → RELEASE CONSTRAINT → FUND THE JOURNEY → BUILD CAPABILITY → PRODUCTIVITY → NEW RIZQ → NEXT STEWARD. Dengan kata lain, penerima hari ini tidak diproyeksikan menjadi penerima selamanya. Ketika capability tumbuh dan Rizq baru terbentuk, ia dapat menjadi node baru dalam circulation: former recipient menjadi contributor, lalu steward bagi kehidupan berikutnya.
Recipient-side synthesis: ZAKAT = restore the floor; ṢADAQAH = create recovery space; INFAQ = provide continuity capital. Ultimate outcome: FROM RECIPIENT TO STEWARD.
7. Dari Shukr menuju Stewardship: posisi ketiga diksi setelah Rizq diterima
Living corpus Pantulan Cermin menempatkan Zakat, Ṣadaqah, dan Infaq sebagai tiga outbound modes setelah Rizq aktual hadir. QS 34:13 memberi satu anchor penting melalui perintah “iʿmalū āla Dāwūda shukran” — bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai syukur. Dalam kerangka ini, Shukr tidak dipahami hanya sebagai ekspresi verbal, melainkan sebagai productive transformation of gift: pemberian yang diterima diubah menjadi tindakan, manfaat, capability, dan nilai yang terus bekerja.
Karena itu ketiganya dapat dibaca sebagai satu alur tanpa dijadikan sinonim. Zakat menata status Rizq yang telah masuk ke dalam possession; Ṣadaqah menguji apakah pengakuan terhadap kebaikan dan non-absolutnya ownership sungguh mempunyai cost; Infaq mengatur bagaimana resource yang tetap berada dalam penguasaan dikerahkan agar memberi continuity dan pertumbuhan. Alurnya bukan wajib temporal, tetapi secara sistem dapat digambarkan RIZQ DITERIMA → SHUKR → OWNERSHIP AUDIT / TRUTH VERIFICATION / RESOURCE DEPLOYMENT → MANFAAT & PERTUMBUHAN → STEWARDSHIP.
Shukr menjadi jembatan: Rizq tidak berhenti sebagai sesuatu yang “saya terima”, tetapi berubah menjadi sesuatu yang saya tata, saya buktikan, dan saya operasikan untuk menghasilkan kebaikan.
Gambar 7 — Dari Recipient menjadi Steward
Continuity dari sisi penerima: restore footing, remove barrier, fund the journey, build capability, lalu menjadi steward.
8. Satu Tindakan Dapat Memuat Ketiganya
Perbedaan terminologi tidak berarti setiap tindakan harus ditempatkan hanya pada satu kotak. Satu movement resource dapat mengandung tiga dimensi sekaligus. Misalnya seseorang memiliki Rp100 juta. Ia terlebih dahulu memisahkan bagian yang tidak layak diabsolutkan sebagai entitlement pribadi: dimensi Zakat. Dari legitimate entitlement yang masih berada padanya, ia kemudian melepaskan Rp10 juta untuk suatu kebaikan tanpa menuntut repayment atau control: dimensi Ṣadaqah. Resource lain ia deploy untuk pendidikan, alat kerja, training, dan pembangunan capability: dimensi Infaq.
Karena itu pembeda yang paling aman bukan “uangnya diberikan kepada siapa”, melainkan “problem apa yang sedang dikoreksi oleh tindakan tersebut”. Zakat mengoreksi ownership. Ṣadaqah menguji truthfulness dan attachment. Infaq mengatur allocation, direction, dan continuity. Dengan cara ini, tindakan fisik yang sama dapat dianalisis secara lebih presisi tanpa menjadikan tiga diksi sebagai sinonim.
9. Batas dan Guardrail Kajian
Pertama, kajian ini tidak menetapkan kadar, nisab, haul, atau formula kuantitatif Zakat. Ayat tentang ḥaqq di dalam amwāl dipakai sebagai resonansi arsitektur ownership, bukan sebagai bukti bahwa ḥaqq maʿlūm secara leksikal identik dengan zakat. Kedua, perluasan Infaq kepada waktu, ilmu, skill, network, teknologi, dan opportunity adalah structural extension dari konsep Rizq/resource, bukan daftar objek yang selalu muncul eksplisit setelah verba anfaqa. Ketiga, risk-taking ditempatkan terutama di medan ṢIDQ; ia baru mendekati Ṣadaqah ketika ada genuine relinquishment, bukan sekadar risk untuk return pribadi.
Keempat, tujuh layer Infaq adalah model analitis Pantulan Cermin, bukan penomoran Qur’ani. Kelima, al-ʿafw pada QS 2:219 dipertahankan sebagai diksi Qur’ani dan tidak dijadikan persentase atau formula finansial sebelum akar ʿ-F-W diaudit tersendiri. Keenam, public/private pada Ṣadaqah adalah kondisi visibility, bukan label otomatis bagi riyāʾ atau ikhlāṣ. Ketujuh, istilah modern seperti ownership governance, truthful release, capital deployment, recovery space, collective governance, dan stewardship digunakan untuk menjelaskan pola yang ditemukan, bukan untuk mengganti bahasa Qur’an. Guardrail ini penting agar sintesis tetap produktif tanpa berubah menjadi klaim leksikal yang melampaui evidence.
Gambar 8 — Spiral Rizq Stewardship
Ketiganya bukan tangga yang ditinggalkan, tetapi spiral yang terus berulang pada skala Rizq dan maturity yang lebih besar.
Kesimpulan Kajian
PUTUSAN KAJIAN: Zakat, Ṣadaqah, dan Infaq dinyatakan memiliki fungsi dominan yang berbeda namun saling beririsan. ZAKAT diputuskan sebagai exercise tazkiyah yang menata hubungan manusia dengan possession—mencegah absolutisasi ownership dan mendorong rightful release. ṢADAQAH diputuskan sebagai manifestasi ṣidq melalui cost-bearing relinquishment—kebenaran yang keluar dari wilayah claim dan memperoleh bukti dalam real action, tanpa reclamation melalui kontrol, penghinaan, hutang budi, atau recognition. INFAQ diputuskan sebagai purposeful resource deployment—mekanisme mengeluarkan dan mengalokasikan Rizq agar menjadi operating flow yang menopang continuity, capability, growth, regeneration, dan stewardship; nilai moral flow tersebut ditentukan oleh direction-nya terhadap Wajh/Marḍāt/Sabīl Allah.
Ketiganya tidak membentuk urutan Zakat → Ṣadaqah → Infaq sebagai beginner–intermediate–advanced, melainkan tiga governance paralel yang terus berulang dalam spiral pengelolaan Rizq. Pada sisi pemberi, spiral itu bekerja sebagai purify ownership → verify truth → deploy resource; pada sisi penerima ia bekerja sebagai restore footing → create recovery space → sustain and build capability → regenerate. Ultimate convergence-nya adalah stewardship: manusia mampu memiliki tanpa mengabsolutkan, melepaskan tanpa menagih kembali, dan mengelola apa yang tetap berada padanya agar manfaatnya terus hidup melampaui dirinya.
Lampiran — Korpus Ayat Rujukan Utama
Catatan: ayat-ayat berikut adalah ayat yang secara langsung dipakai sebagai jangkar argumentasi dalam dokumen ini. Terjemahan disajikan sebagai terjemahan kerja Bahasa Indonesia yang dibuat literal-kontekstual untuk menjaga konsistensi istilah kajian. Rujukan morfologi dan occurrence mengacu pada Quranic Arabic Corpus.
QS Al-Baqarah 2:3
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Terjemahan: (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.
QS Al-Baqarah 2:177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Terjemahan: Kebajikan bukanlah menghadapkan wajah ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ada pada orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, Kitab, dan para nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta, dan untuk memerdekakan; menegakkan salat dan menunaikan zakat; menepati janji ketika berjanji; serta bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan ketika menghadapi kesulitan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
QS Al-Baqarah 2:232
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Terjemahan: Apabila kamu menceraikan perempuan lalu mereka mencapai akhir masa tunggunya, janganlah kamu menghalangi mereka menikah kembali dengan calon suaminya apabila mereka telah saling meridai dengan cara yang patut. Itulah yang dinasihatkan kepada orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih azkā bagi kamu dan lebih aṭhar. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
QS Al-Baqarah 2:195
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan: Berinfaklah di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Berbuatlah ihsan; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
QS Al-Baqarah 2:215
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Terjemahan: Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Apa pun kebaikan yang kamu infakkan, maka untuk kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan musafir.” Apa pun kebaikan yang kamu lakukan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.
QS Al-Baqarah 2:219
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Terjemahan: Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan perjudian. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” Mereka bertanya kepadamu apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “al-ʿafw — yang dapat disisihkan atau yang berlebih.” Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat kepada kamu agar kamu berpikir.
QS Al-Baqarah 2:261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
QS Al-Baqarah 2:263–264
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Terjemahan: Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada ṣadaqah yang diikuti dengan menyakiti. Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan ṣadaqahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ingin dilihat manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu ditimpa hujan lebat sehingga batu itu menjadi bersih licin. Mereka tidak memperoleh sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
QS Al-Baqarah 2:265
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemahan: Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka untuk mencari keridaan Allah dan untuk meneguhkan diri mereka seperti sebuah kebun di dataran tinggi yang disiram hujan lebat lalu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak mengenainya, gerimis pun memadai. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
QS Al-Baqarah 2:267
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari yang baik dari hasil usahamu dan dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Jangan sengaja memilih yang buruk darinya untuk kamu infakkan, sedangkan kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.
QS Al-Baqarah 2:268
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: Shayṭān menjanjikan atau menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan memerintahkan kamu kepada perbuatan keji; sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dari-Nya dan karunia. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
QS Al-Baqarah 2:271
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Terjemahan: Jika kamu menampakkan ṣadaqah, itu baik. Jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu dan Dia akan menghapus sebagian keburukanmu. Allah Maha Mengetahui secara mendalam apa yang kamu kerjakan.
QS Al-Baqarah 2:272
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Terjemahan: Bukan kewajibanmu memberi mereka petunjuk, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun kebaikan yang kamu infakkan, manfaatnya untuk dirimu sendiri; dan janganlah kamu menginfakkan kecuali dengan mencari Wajah Allah. Apa pun kebaikan yang kamu infakkan akan dipenuhi kembali kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.
QS Al-Baqarah 2:274
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Terjemahan: Orang-orang yang menginfakkan harta mereka pada malam dan siang, secara tersembunyi maupun terbuka, bagi mereka pahala di sisi Rabb mereka; tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih.
QS Al-Baqarah 2:276
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Terjemahan: Allah memusnahkan riba dan menumbuhkan ṣadaqāt. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi berdosa.
QS Al-Baqarah 2:280
وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Terjemahan: Jika orang yang berutang berada dalam kesulitan, berilah penangguhan sampai ia memperoleh kelapangan. Jika kamu meremitnya sebagai ṣadaqah, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
QS Al-Furqan 25:67
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Terjemahan: Dan orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebih-lebihan dan tidak pula terlalu menahan, dan berada di antara keduanya secara seimbang.
QS Ali ‘Imran 3:134
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan: (Yaitu) orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
QS An-Nisa 4:92
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Terjemahan: Tidak patut bagi seorang mukmin membunuh mukmin yang lain kecuali karena tersalah. Siapa yang membunuh seorang mukmin karena tersalah, maka ia harus memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman dan menyerahkan diyah kepada keluarganya, kecuali jika mereka melepaskannya sebagai ṣadaqah. Jika yang terbunuh berasal dari kaum yang memusuhi kamu padahal ia seorang mukmin, maka memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman. Jika ia berasal dari kaum yang antara kamu dan mereka ada perjanjian, maka diyah diserahkan kepada keluarganya dan memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman. Siapa yang tidak mendapatkannya, maka berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tawbah kepada Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
QS Al-Ma’idah 5:45
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Terjemahan: Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka pun ada qiṣāṣnya. Barang siapa melepaskan hak itu sebagai ṣadaqah, maka itu menjadi kaffārah baginya. Siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang Allah turunkan, mereka itulah orang-orang zalim.
QS Al-An‘am 6:141
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Terjemahan: Dialah yang menumbuhkan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman yang beraneka hasilnya, zaitun dan delima yang serupa dan tidak serupa. Makanlah dari buahnya ketika berbuah dan berikanlah ḥaqq-nya pada hari panennya; jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
QS Al-Anfal 8:36
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk menghalangi dari jalan Allah. Mereka akan terus menginfakkannya, kemudian itu menjadi penyesalan bagi mereka, lalu mereka dikalahkan. Orang-orang kafir akan dikumpulkan ke Jahannam.
QS Al-Anfal 8:60
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Terjemahan: Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan semampu kamu dan kuda-kuda yang ditambatkan, yang dengannya kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan selain mereka yang tidak kamu ketahui tetapi Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah akan dipenuhi kembali kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.
QS At-Taubah 9:60
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Terjemahan: Sesungguhnya al-ṣadaqāt adalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, mereka yang mengelolanya, mereka yang dilunakkan hatinya, untuk pembebasan, orang-orang yang dibebani utang, di jalan Allah, dan ibn al-sabīl; sebagai ketetapan dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
QS At-Taubah 9:75–77
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Terjemahan: Di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah, “Jika Dia memberi kami dari karunia-Nya, sungguh kami akan bersadaqah dan sungguh kami akan menjadi orang-orang yang saleh.” Namun ketika Dia memberi mereka dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir terhadapnya, berpaling, dan terus menjauh. Maka Dia menimbulkan nifaq dalam hati mereka sampai hari mereka menemui-Nya, karena mereka menyalahi apa yang mereka janjikan kepada Allah dan karena mereka terus berdusta.
QS At-Taubah 9:103–104
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Terjemahan: Ambillah dari harta mereka suatu ṣadaqah yang dengannya engkau membersihkan dan men-zakkā mereka, dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doamu menjadi ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah-lah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima ṣadaqāt, dan bahwa Allah-lah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang?
QS At-Taubah 9:99
وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Terjemahan: Di antara orang-orang Arab Badui ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta menjadikan apa yang ia infakkan sebagai sarana kedekatan di sisi Allah dan memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, itu benar-benar suatu kedekatan bagi mereka. Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS Yusuf 12:88
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ
Terjemahan: Ketika mereka masuk menghadapnya, mereka berkata, “Wahai al-ʿAzīz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesulitan dan kami datang membawa barang yang rendah nilainya. Maka sempurnakanlah takaran untuk kami dan bersadaqahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersadaqah.”
QS Ar-Rum 30:39
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ
Terjemahan: Apa pun riba yang kamu berikan agar bertambah dalam harta manusia, maka ia tidak bertambah di sisi Allah. Adapun apa yang kamu berikan berupa zakat dengan menghendaki Wajah Allah, maka mereka itulah orang-orang yang melipatgandakan.
QS Al-Ahzab 33:23
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
Terjemahan: Di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang benar terhadap apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah menunaikan ketetapannya dan di antara mereka ada yang masih menunggu; mereka tidak mengubahnya sedikit pun.
QS Saba 34:13
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Terjemahan: Mereka bekerja untuknya apa yang ia kehendaki berupa bangunan-bangunan, bentuk-bentuk, bejana-bejana besar seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap. Bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai syukur. Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang sungguh bersyukur.
QS Asy-Syura 42:38
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Terjemahan: Dan orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka, menegakkan salat, urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka.
QS Muhammad 47:38
هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Terjemahan: Inilah kamu, orang-orang yang dipanggil untuk berinfak di jalan Allah. Di antara kamu ada yang kikir; siapa yang kikir, sesungguhnya ia hanya kikir terhadap dirinya sendiri. Allah Mahakaya, sedangkan kamulah yang membutuhkan. Jika kamu berpaling, Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kamu.
QS Al-Hujurat 49:15
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu, dan berjuang dengan harta serta diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
QS Adz-Dzariyat 51:19
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Terjemahan: Dan dalam harta mereka terdapat suatu hak bagi orang yang meminta dan orang yang terhalang.
QS Al-Hadid 57:7
آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
Terjemahan: Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari apa yang Dia menjadikan kamu sebagai mustakhlafīn di dalamnya. Maka orang-orang di antara kamu yang beriman dan berinfak memperoleh pahala yang besar.
QS Al-Hadid 57:10
وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Terjemahan: Mengapa kamu tidak berinfak di jalan Allah, padahal milik Allah warisan langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang berinfak dan berjuang sebelum al-fatḥ. Mereka lebih besar derajatnya daripada orang-orang yang berinfak dan berjuang sesudahnya. Kepada masing-masing Allah menjanjikan kebaikan. Allah Maha Mengetahui secara mendalam apa yang kamu kerjakan.
QS Al-Hadid 57:18
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
Terjemahan: Sesungguhnya laki-laki yang bersadaqah dan perempuan yang bersadaqah, serta mereka yang memberikan kepada Allah qarḍ ḥasan, akan dilipatgandakan bagi mereka dan bagi mereka pahala yang mulia.
QS Al-Mujadilah 58:12–13
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ذَٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ أَأَشْفَقْتُمْ أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, dahulukanlah suatu ṣadaqah sebelum pembicaraanmu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih membersihkan. Jika kamu tidak memperoleh sesuatu, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apakah kamu takut untuk mendahulukan ṣadaqāt sebelum pembicaraan khususmu? Jika kamu tidak melakukannya dan Allah menerima tobatmu, maka tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Mengetahui secara mendalam apa yang kamu kerjakan.
QS Al-Munafiqun 63:10
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
Terjemahan: Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu lalu ia berkata, “Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersadaqah dan menjadi bagian dari orang-orang saleh.”
QS At-Talaq 65:7
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Terjemahan: Hendaklah orang yang mempunyai kelapangan berinfak menurut kelapangannya. Siapa yang dibatasi rezekinya, hendaklah ia berinfak dari apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani suatu nafs kecuali menurut apa yang telah Dia berikan kepadanya. Allah akan menjadikan setelah kesulitan suatu kemudahan.
QS Al-Ma‘arij 70:24–25
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Terjemahan: Dan orang-orang yang dalam harta mereka terdapat hak yang diketahui, bagi orang yang meminta dan orang yang terhalang.
QS Al-Lail 92:18
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ
Terjemahan: (Yaitu) orang yang memberikan hartanya untuk mengalami tazakkā.