Ketika Kita Menyebut Semuanya Sebagai “Jalan”,
Apa Yang Disajikan Al-Qur’an Justru Kehilangan Petanya
ṢIRĀṬ bukan SABĪL, SABĪL bukan ṬARĪQAH, SHARĪ‘AH bukan sekadar “hukum”, MINHĀJ bukan sekadar “metode”, dan ḌARB bahkan bukan jalan
Ketika Kita Menyebut Semuanya Sebagai “Jalan”,
Apa Yang Disajikan Al-Qur’an Justru Kehilangan Petanya
ṢIRĀṬ bukan SABĪL, SABĪL bukan ṬARĪQAH, SHARĪ‘AH bukan sekadar “hukum”, MINHĀJ bukan sekadar “metode”, dan ḌARB bahkan bukan jalan
ABSTRAKSI
Kajian ini berangkat dari satu persoalan yang tampak sederhana: beberapa diksi Al-Qur’an yang berbeda sering diterjemahkan dengan satu kata yang sama, lalu perbedaan fungsinya perlahan menghilang dari pembacaan. Pengalaman yang sama terlihat ketika FAQĪR dan MISKĪN diratakan menjadi dua tingkat “kemiskinan”; begitu pertanyaan khas masing-masing diksi hilang, medan operasionalnya ikut menghilang. Dalam kajian ini, persoalan serupa diuji pada ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQ/ṬARĪQAH, SHIR‘AH/SHARĪ‘AH, MINHĀJ, dan ḌARB. Penelitian tidak dimulai dari asumsi bahwa semuanya adalah variasi dari “jalan”, melainkan dari korpus: bentuk yang muncul, relasi gramatikal, preposisi, modifier, bentuk singular-plural, nilai positif-negatif, ayat kontrol, contoh tandingan, serta uji substitusi antardiksi. Karena itu pertanyaan penelitian, definisi yang sempat diajukan, alasan definisi itu gugur, dan jalan logika menuju kesimpulan tidak dibuang setelah jawaban ditemukan; semuanya justru menjadi bagian dari argumen agar pembaca dapat melihat bagaimana kesimpulan dipaksa lahir dari data.
Hasilnya menunjukkan bahwa Al-Qur’an mempertahankan perbedaan fungsi yang tidak dapat dipulihkan bila seluruh diksi diratakan menjadi “jalan”. ṢIRĀṬ membaca lintasan yang menjadi acuan keselarasan arah perjalanan dan tidak intrinsik berarti jalan yang benar, sebab ia masih memerlukan kualifikasi seperti MUSTAQĪM dan bahkan dapat muncul sebagai ṢIRĀṬ AL-JAḤĪM. SABĪL membaca jalur, cara, atau akses melalui mana gerak, tindakan, dan perjalanan menuju sesuatu dapat berlangsung; ia dapat singular atau plural, dapat positif atau negatif, dapat ditempuh, dicari, diambil, dibuka, dihalangi, atau diputus. ṬARĪQ/ṬARĪQAH membaca lintasan atau pola yang telah mempunyai bentuk sehingga dapat ditempuh, dipertahankan, atau dikenali sebagai pola, tanpa harus dipaksakan sebagai tahap temporal sesudah SABĪL. Dalam konteks DĪN/AMR, SHIR‘AH/SHARĪ‘AH membaca kerangka ketentuan dan batas yang ditetapkan untuk diikuti, tetapi fungsi ini tidak boleh dijadikan batas makna seluruh akar ش ر ع karena QS 7:163 menghadirkan شُرَّعًا pada konteks yang berbeda. MINHĀJ ditempatkan lebih hati-hati: Al-Qur’an hanya menggunakannya sekali, pada QS 5:48, sehingga batas paling aman adalah cara atau jalur yang jelas; pembacaan “metode/tata pelaksanaan” dipakai secara operasional, bukan sebagai penguncian leksikal penuh. ḌARB tidak termasuk sebagai “jalan keenam”; justru ia menjadi kata kontrol yang menunjukkan bahwa tindakan atau operasi berbeda dari lintasan yang sedang ditempuh.
Pembedaan ini mengubah cara memahami ungkapan “jalan menuju Allah”. Jalan menuju Allah tidak harus diwujudkan melalui satu profesi, satu bidang ilmu, satu model karier, atau satu aktivitas yang sama bagi semua orang. Satu keselarasan arah hidup dapat diwujudkan melalui banyak SABĪL: pekerjaan, keluarga, pendidikan, penelitian, pelayanan sosial, usaha, atau medan kontribusi lain. Objek yang sama dapat dibaca sebagai SABĪL ketika yang disoroti adalah jalur akses yang tersedia atau digunakan, dan sebagai ṬARĪQAH ketika yang disoroti adalah pola yang benar-benar terbentuk dan dijalani. SHARĪ‘AH menjaga agar perjalanan tidak menghalalkan segala cara, sedangkan MINHĀJ menanyakan cara yang jelas untuk menjalankannya. Karena itu perubahan profesi dapat berarti perubahan SABĪL tanpa harus berarti perubahan ṢIRĀṬ; kegagalan satu SABĪL tidak otomatis membuktikan arah hidup salah; sebaliknya keberhasilan, keahlian, pola yang mapan, atau metode yang efektif juga tidak otomatis membuktikan arah yang benar.
Pada akhirnya, kajian ini tidak menawarkan urutan mekanis ṢIRĀṬ → SABĪL → ṬARĪQAH → SHARĪ‘AH → MINHĀJ. Kelimanya adalah lensa yang dapat bekerja serentak terhadap perjalanan yang sama: ṢIRĀṬ menanyakan keselarasan arah, SABĪL menanyakan jalur yang memungkinkan gerak dan tindakan, ṬARĪQAH menanyakan pola yang nyata dijalani, SHARĪ‘AH menanyakan batas yang harus dijaga, dan MINHĀJ menanyakan cara yang jelas untuk menjalankannya. Setelah itu masih tersisa lapis tindakan nyata, tetapi lapis itu tidak boleh secara serampangan diberi nama ḌARB. Dengan peta ini, penerjemahan tidak lagi menjadi titik akhir pemahaman, melainkan pintu masuk untuk melihat struktur yang lebih kaya: Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ke mana manusia hendak pergi, tetapi juga melalui apa ia bergerak, pola apa yang ia bentuk, batas apa yang ia jaga, dan bagaimana ia benar-benar menjalani perjalanannya.
Jakarta, 28 September 2026
Deni Setiawan
TESIS UTAMA
Tesis utama kajian ini adalah bahwa Al-Qur’an tidak menyajikan ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQ/ṬARĪQAH, SHIR‘AH/SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ sebagai nama-nama yang bebas dipertukarkan untuk satu konsep tunggal bernama “jalan”, melainkan sebagai lensa yang menyoroti lapisan berbeda dari perjalanan yang sama:
ṢIRĀṬ membaca lintasan yang menjadi acuan keselarasan arah dan menanyakan pada lintasan apa hidup disejajarkan serta ke mana ia membawa;
SABĪL membaca jalur, cara, atau akses melalui mana gerak dan tindakan menuju sesuatu dapat berlangsung;
ṬARĪQ/ṬARĪQAH membaca lintasan atau pola yang telah mempunyai bentuk dan nyata ditempuh;
SHIR‘AH/SHARĪ‘AH, khususnya dalam konteks DĪN/AMR, membaca kerangka ketentuan dan batas yang ditetapkan untuk diikuti; sedangkan
MINHĀJ memberi sisi cara atau jalur yang jelas untuk menjalankannya, dengan kehati-hatian karena bukti internalnya hanya satu kemunculan.
ḌARB tidak menjadi “jalan keenam”, tetapi justru memperlihatkan bahwa tindakan atau operasi adalah lapisan yang berbeda dari lintasan.
Pembedaan ini sekaligus mengubah cara membaca “jalan menuju Allah”: ia bukan satu profesi, satu jurusan ilmu, satu model karier, atau satu aktivitas yang harus sama bagi semua orang, melainkan keseluruhan keselarasan hidup yang dapat diwujudkan melalui banyak SABĪL, melahirkan atau menampakkan berbagai ṬARĪQAH, tetap bergerak dalam batas SHARĪ‘AH, dan dijalankan melalui MINHĀJ yang jelas.
Karena itu seseorang dapat berganti profesi tanpa berganti arah, dapat mempunyai SABĪL yang sama dengan orang lain tetapi berada pada ṢIRĀṬ yang berbeda, dapat memiliki ṬARĪQAH yang mapan dan MINHĀJ yang efektif tetapi tetap menuju arah yang salah, atau sebaliknya memiliki orientasi yang baik tetapi gagal mewujudkannya karena cara pelaksanaannya lemah.
Al-Qur’an dengan demikian tidak hanya mengajarkan manusia untuk mempunyai tujuan; ia mengajarkan manusia membedakan arah yang dituju, jalur yang tersedia, pola yang sedang dibentuk, batas yang harus dijaga, dan cara yang digunakan untuk menjalani perjalanan itu. Tidak semua orang harus berjalan melalui SABĪL yang sama, tetapi setiap orang perlu tahu pada ṢIRĀṬ apa hidupnya sedang disejajarkan.
BAB 1 - PENGANTAR: KETIKA TERJEMAHAN YANG SAMA MENUTUP PERBEDAAN
Ada kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi akibatnya besar: beberapa kata Al-Qur’an diterjemahkan dengan satu kata Indonesia yang sama, lalu perbedaan di antara kata-kata itu perlahan menghilang dari cara kita berpikir. Pada kajian FAQĪR dan MISKĪN, kita melihat bagaimana dua diksi yang menjawab dua pertanyaan berbeda akhirnya diperlakukan hanya sebagai dua tingkat “kemiskinan”. Kekeliruan itu bukan terutama karena terjemahan selalu salah, melainkan karena terjemahan sering diperlakukan sebagai definisi final. Persoalan yang sama muncul ketika ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQ, SHIR‘AH atau SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ dibawa ke dalam satu wadah besar bernama “jalan”.
Tulisan ini berangkat dari pembacaan korpus yang menolak jalan pintas: saya tidak ingin pembaca hanya menerima definisi akhir tanpa melihat bagaimana definisi itu lahir. Karena itu pertanyaan penelitian, ayat yang memicunya, definisi yang sempat diajukan, contoh tandingan yang menggugurkannya, dan alasan perubahan kesimpulan sengaja dipertahankan di dalam narasi. Dengan cara ini, pembaca dapat menguji sendiri apakah kesimpulan yang diajukan benar-benar mampu menanggung keseluruhan data.
Ketika semuanya menjadi “jalan”, kita kehilangan kemampuan untuk bertanya: apakah Al-Qur’an sedang berbicara tentang arah perjalanan, jalur yang tersedia, lintasan yang benar-benar ditempuh, batas yang mengatur perjalanan, atau cara yang jelas untuk menjalankannya? Bahkan ḌARB sering ikut dibayangkan sebagai bagian dari keluarga “jalan”, padahal korpus justru memperlihatkan bahwa ia bekerja sebagai tindakan atau operasi yang berbeda dari nama lintasan itu sendiri.
Mengapa pertanyaan penelitian tidak boleh dihapus
Sesudah sebuah penelitian selesai, ada godaan untuk membuang semua pertanyaan dan hanya menyisakan jawaban. Dalam kajian ini, justru itu yang tidak boleh dilakukan. Pertanyaan adalah jejak bagaimana kesimpulan dipaksa lahir dari data. Ketika kita bertanya, “Jika ṢIRĀṬ sudah berarti jalan lurus, mengapa masih diperlukan kata MUSTAQĪM?” kita sedang menunjukkan alasan mengapa definisi populer harus diuji. Ketika kita bertanya, “Jika SHARĪ‘AH berarti hukum, mengapa ikan pada QS 7:163 dapat disebut شُرَّعًا?” kita sedang memperlihatkan batas sebuah definisi. Tanpa pertanyaan semacam ini, kesimpulan hanya terdengar seperti pendapat baru yang menggantikan pendapat lama.
Karena itu tulisan ini mempertahankan konstruksi pertanyaan, ayat pemicu, definisi yang gagal, dan alasan perubahan rumusan. Pembaca tidak diminta percaya kepada kesimpulan; pembaca diajak melihat mengapa kesimpulan itu lebih mampu menanggung keseluruhan data.
Judul tulisan ini sengaja dibuat provokatif. Al-Qur’an tentu tidak kehilangan peta. Yang hilang adalah bentuk peta itu dari pembacaan kita ketika sejumlah diksi yang berbeda diratakan menjadi satu padanan: “jalan”. Ketika perbedaan itu dihapus, pembaca masih melihat kata-katanya, tetapi tidak lagi melihat fungsi yang dibedakan oleh Al-Qur’an.
Pelajaran metodologis dari Kajian FAQĪR dan MISKĪN
Kajian ini memang bukan pengulangan penelitian FAQĪR dan MISKĪN, tetapi kasus itu menjadi cermin metodologis yang penting. Ketika FAQĪR dan MISKĪN dipahami hanya sebagai dua tingkat “kemiskinan”, pertanyaan khas masing-masing diksi hilang: FAQĪR tidak lagi dibaca sebagai persoalan kecukupan relatif terhadap sesuatu yang dibutuhkan, sedangkan MISKĪN tidak lagi dibaca sebagai persoalan kecukupan kemampuan dan akses untuk menjaga keberfungsian hidup. Kesalahan yang sama dapat terjadi di sini. Jika ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQAH, SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ semuanya selesai diterjemahkan sebagai “jalan”, perbedaan medan operasionalnya ikut menghilang.
Pada FAQĪR, pertanyaan yang akhirnya bertahan bukan “seberapa miskin seseorang?”, melainkan “apa yang dibutuhkan tetapi tidak cukup tersedia pada dirinya sendiri?” QS 35:15 bahkan menyebut seluruh manusia sebagai fuqarā’ kepada Allah, sehingga FAQĪR tidak dapat dipenjarakan di dalam saldo harta. Pada MISKĪN, QS 18:79 menunjukkan orang-orang yang memiliki kapal dan bekerja di laut tetapi tetap disebut masākīn. Karena itu MISKĪN pun tidak dapat disederhanakan sebagai “tidak punya” atau “tidak bekerja”. Pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah kemampuan efektif dan akses yang tersedia cukup untuk menjaga kehidupan tetap berfungsi dalam keadaan yang dihadapi.
Pelajaran dari sana menentukan cara membaca tulisan ini. Respons tidak boleh disamakan dengan definisi: orang miskin dapat diberi makan, tetapi “menerima makanan” bukan definisi MISKĪN; demikian pula sebuah diksi dapat diterjemahkan “jalan”, tetapi padanan terjemahan itu belum tentu merupakan definisi seluruh medan maknanya. Bila pertanyaan khas setiap diksi hilang, kita memang memperoleh bahasa yang lebih sederhana, tetapi sekaligus kehilangan alat diagnosis yang diberikan Al-Qur’an.
Karena itu kritik dalam tulisan ini bukan kritik terhadap penerjemahan sebagai kegiatan. Terjemahan tetap diperlukan. Yang dikritik adalah kebiasaan menjadikan padanan terjemahan sebagai definisi final. Padanan membantu pembaca masuk; korpuslah yang harus menentukan apakah dua diksi yang diterjemahkan sama benar-benar bekerja dengan cara yang sama.
BAB 2 - CARA MEMBACA: KORPUS DAHULU, DEFINISI BELAKANGAN
Penelitian dimulai bukan dari kamus Indonesia dan bukan dari anggapan bahwa semua kata ini adalah “jenis jalan”. Korpus diperlakukan sebagai ruang uji. Setiap diksi ditanya: dalam bentuk apa ia muncul, konstruksi apa yang mengitarinya, apa yang dapat menjadi objek atau subjeknya, preposisi apa yang berulang, apakah nilainya selalu positif, apakah memiliki bentuk plural, dan apa yang terjadi ketika definisi sementara dibawa kepada ayat yang paling sulit.
Korpus yang tidak seimbang ini penting. Kita memiliki 176 kemunculan SABĪL sehingga pola distribusinya dapat diuji keras. Sebaliknya MINHĀJ hanya satu kali muncul; karena itu setiap klaim besar tentang MINHĀJ harus diberi pagar. Satu ayat dapat memberi petunjuk kuat, tetapi tidak memberi ruang falsifikasi internal seluas akar yang muncul puluhan atau ratusan kali.
Enam pertanyaan awal yang menggerakkan penelitian
Penelitian bergerak dari pertanyaan sederhana yang kemudian makin tajam: ketika Al-Qur’an memakai SABĪL, aspek apa yang sedang dibaca? Apa yang membuat sesuatu disebut ṬARĪQ? Mengapa ṢIRĀṬ masih diperlukan jika SABĪL dan ṬARĪQ sudah ada? Apa yang sesungguhnya dilakukan oleh keluarga شرع? Apakah MINHĀJ hanya sinonim lain untuk jalan? Dan apakah ḌARB memang anggota keluarga ini, atau justru sebuah tindakan yang dilakukan terhadap, di dalam, atau untuk menghasilkan suatu lintasan?
Pertanyaan berikutnya lahir ketika ayat-ayat mulai dibandingkan. Mengapa ṬARĪQ juga dapat MUSTAQĪM? Mengapa SUBUL dapat positif maupun negatif? Mengapa SHIR‘AH dan MINHĀJ diletakkan berdampingan dalam satu ayat? Mengapa ṢIRĀṬ tidak mempunyai bentuk plural dalam korpus tetapi QS 7:86 dapat mengatakan “setiap ṣirāṭ”? Mengapa SABĪL sangat sering dapat dihalangi, diputus, dicari, dan diambil? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan ornamen metodologis; di sinilah pembeda antardiksi mulai terlihat.
Pertanyaan itu kemudian diperluas. Siapa yang dapat menjadi penentu atau pemilik suatu SABĪL, ṬARĪQ, ṢIRĀṬ, atau SHARĪ‘AH? Apakah masing-masing mempunyai tujuan, atau sebagian justru membaca cara, lintasan, atau kerangka perjalanan? Mengapa satu diksi produktif dalam bentuk plural sedangkan yang lain tidak? Dapatkah semuanya bernilai positif dan negatif? Modifier apa yang menempel padanya? Kata kerja apa yang berulang di sekelilingnya? Apa perbedaan antara ditunjukkan menuju suatu lintasan, berada di atasnya, mengikutinya, menghalanginya, memutusnya, atau menempuhnya? Pertanyaan-pertanyaan ini diperlukan karena perbedaan fungsi sering justru tampak pada relasi gramatikal, bukan pada terjemahan satu katanya.
Uji substitusi: jika SABĪL dan ṢIRĀṬ benar-benar sama, apakah keduanya dapat saling menggantikan tanpa kehilangan informasi? Jika ṬARĪQ sama dengan SABĪL, mengapa QS 20:77 dapat membuat ṬARĪQ melalui sebuah tindakan, sementara SABĪL di tempat lain dapat dicari, dihalangi, atau diputus? Jika SHARĪ‘AH hanyalah “hukum”, bagaimana keluarga akar yang sama menjelaskan شُرَّعًا pada ikan di QS 7:163? Dan jika ḌARB adalah jalan, mengapa ia justru tampil sebagai verba yang menghasilkan ṬARĪQ atau berlangsung فِي سَبِيلِ اللَّهِ? Pertanyaan semacam inilah yang menjaga penelitian agar tidak sekadar mencari definisi yang terasa cocok, tetapi definisi yang mampu bertahan pada ayat yang paling mengganggu.
BAB 3 — ṢIRĀṬ: BUKAN OTOMATIS “JALAN YANG BENAR”
ṢIRĀṬ tidak dapat dikunci sebagai “jalan yang benar”, “jalan lurus”, atau satu-satunya jalan secara leksikal. Korpus memperlihatkan bahwa nilai ṢIRĀṬ datang dari kualifikasi, atribusi, arah, dan tujuan yang melekat padanya. Ia dapat dikualifikasi MUSTAQĪM atau SAWIYY, dapat dihubungkan kepada Allah, Rabb, al-Ḥamīd, orang-orang yang diberi nikmat, bahkan kepada al-Jaḥīm. Seseorang dapat diarahkan menuju ṢIRĀṬ, berada di atasnya, berjalan di atasnya, mengikutinya, atau menyimpang darinya. Karena itu, rumusan yang paling mampu menanggung keseluruhan data adalah: ṢIRĀṬ merupakan lintasan atau course yang menjadi acuan keselarasan dan arah perjalanan. Dalam medan operasional kehidupan, pertanyaannya bukan pertama-tama “profesi apa yang saya pilih?”, melainkan “pada lintasan apa perjalanan hidup saya sedang disejajarkan, dan ke mana lintasan itu membawa saya?”
Mengapa ṢIRĀṬ perlu dibaca kembali?
Kata ṢIRĀṬ mungkin merupakan salah satu kata Al-Qur’an yang paling akrab di telinga kita. Ia hadir setiap kali Al-Fātiḥah dibaca: ihdinā aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm. Karena begitu sering dibaca bersama kata MUSTAQĪM, keduanya lambat laun hampir melebur dalam pemahaman. ṢIRĀṬ lalu terasa seolah-olah dengan sendirinya sudah berarti “jalan lurus”, “jalan benar”, atau bahkan “satu-satunya jalan yang benar”.
Tetapi justru di sinilah penelitian perlu dimulai dengan pertanyaan yang sederhana tetapi menentukan: jika ṢIRĀṬ sendiri sudah berarti lurus dan benar, mengapa Al-Qur’an masih perlu menambahkan MUSTAQĪM? Pertanyaan itu menjadi lebih keras ketika keseluruhan korpus dibuka. ṢIRĀṬ muncul 45 kali dalam Al-Qur’an, dan seluruh kemunculannya hadir sebagai nomina ṢIRĀṬ. Data yang cukup luas ini memungkinkan kita menguji apakah pengertian populer benar-benar tahan terhadap seluruh penggunaan Qur’ani.
Ketika ṢIRĀṬ dan MUSTAQĪM tidak boleh dilebur
QS Al-Fātiḥah 1:6
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Struktur ayat ini sebenarnya sangat sederhana. ṢIRĀṬ adalah sesuatu yang diminta untuk ditunjukkan, sedangkan MUSTAQĪM mengkualifikasi ṢIRĀṬ tersebut. Secara struktur kita mempunyai ṢIRĀṬ + MUSTAQĪM, bukan satu kata tunggal. Jika sifat “lurus” sudah terkandung secara otomatis di dalam ṢIRĀṬ, kehadiran MUSTAQĪM menjadi sulit dijelaskan.
QS Al-Fātiḥah 1:7
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang sesat.”
Ayat berikutnya memperjelas ṢIRĀṬ bukan dengan mengulang kata MUSTAQĪM, tetapi dengan menghubungkannya kepada orang-orang yang diberi nikmat. Ini memberi petunjuk awal bahwa ṢIRĀṬ tidak hanya berfungsi sebagai nama ruas jalan. Ia dapat menjadi lintasan yang menandai posisi dan perjalanan suatu kelompok. Tetapi petunjuk awal ini belum cukup untuk mengunci makna, karena ayat lain justru memperlihatkan ṢIRĀṬ yang tidak bernilai positif.
ṢIRĀṬ AL-JAḤĪM: falsifikasi yang tidak boleh dilewati
QS Aṣ-Ṣāffāt 37:23
مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْجَحِيمِ
“Selain Allah; maka arahkanlah mereka menuju ṢIRĀṬ al-Jaḥīm.”
Ayat ini merupakan kontrol paling keras terhadap definisi “ṢIRĀṬ = jalan yang benar”. Jika kata ṢIRĀṬ secara leksikal sudah membawa nilai lurus dan benar, ungkapan ṢIRĀṬ al-JaḥĪM menjadi kontradiktif. Al-Qur’an justru menggunakannya tanpa masalah. Maka yang harus dikoreksi bukan ayatnya, melainkan definisi kita.
Dari sini satu hal dapat dikunci: nilai moral tidak melekat otomatis pada kata ṢIRĀṬ. ṢIRĀṬ dapat dikaitkan dengan mereka yang diberi nikmat, dengan Allah, dengan sifat MUSTAQĪM atau SAWIYY, tetapi juga dengan al-Jaḥīm. Nilainya harus dibaca dari arah, atribusi, kualifikasi, dan tujuan yang menyertainya.
ṢIRĀṬ bukan otomatis “jalan benar”. Yang benar atau menyimpang adalah ṢIRĀṬ tertentu ketika arah, atribusi, tujuan, dan kualifikasinya dibaca.
Jika MUSTAQĪM bukan milik eksklusif ṢIRĀṬ
Masalah berikutnya muncul ketika kata MUSTAQĪM ternyata tidak hanya digunakan bersama ṢIRĀṬ. QS Al-Aḥqāf 46:30 menggunakan ṬARĪQ MUSTAQĪM. Ini berarti perbedaan ṢIRĀṬ dan ṬARĪQ tidak dapat dibangun dengan rumus sederhana: ṬARĪQ adalah jalan biasa, sedangkan ṢIRĀṬ adalah jalan lurus.
QS Al-Aḥqāf 46:30
قَالُوا۟ يَـٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَـٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Mereka berkata, ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah Kitab yang diturunkan setelah Musa, membenarkan apa yang sebelumnya, memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada ṬARĪQ yang mustaqīm.’”
Keduanya sama-sama dapat menerima kualifikasi MUSTAQĪM. Keduanya bahkan dapat berada dalam relasi dengan HUDĀ. Maka pertanyaan penelitian berikutnya menjadi penting: jika ṬARĪQ dapat MUSTAQĪM dan dapat menjadi sesuatu yang dituju oleh HUDĀ, mengapa Al-Qur’an masih membutuhkan ṢIRĀṬ? Pertanyaan ini tidak boleh hilang setelah jawaban ditemukan, sebab dari sinilah kita mulai memahami bahwa pembeda ṢIRĀṬ bukan berada pada kata “lurus”, tetapi pada fungsi relasionalnya dalam perjalanan.
ṢIRĀṬ sangat dekat dengan HUDĀ
Salah satu pola yang paling kuat pada ṢIRĀṬ adalah kedekatannya dengan HUDĀ. Al-Fātiḥah sendiri memulai relasi itu melalui permohonan ihdinā aṣ-ṣirāṭ. Dalam ayat lain, manusia diarahkan menuju ṢIRĀṬ, diberi petunjuk kepada ṢIRĀṬ, atau seorang rasul memberi petunjuk menuju ṢIRĀṬ.
QS Ash-Shūrā 42:52
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَـٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَـٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu rūḥ dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa Kitab dan apa iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk menuju ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
Perhatikan preposisinya: إِلَىٰ صِرَاطٍ — menuju suatu ṢIRĀṬ. Pada konstruksi seperti ini subjek belum digambarkan sedang berada di atas lintasan itu; ia sedang diarahkan menuju lintasan tersebut. Ini berbeda dari konstruksi lain yang menempatkan seseorang عَلَىٰ صِرَاطٍ, berada di atas ṢIRĀṬ.
Menuju ṢIRĀṬ tidak sama dengan berada di atas ṢIRĀṬ
QS Al-Mulk 67:22
أَفَمَن يَمْشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِۦٓ أَهْدَىٰٓ أَمَّن يَمْشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Maka apakah orang yang berjalan tersungkur di atas wajahnya lebih mendapatkan petunjuk, atau orang yang berjalan dengan seimbang di atas ṢIRĀṬ yang mustaqīm?”
Sekarang konstruksinya bukan lagi إِلَىٰ صِرَاطٍ, tetapi عَلَىٰ صِرَاطٍ. Ayat juga menambahkan verba يَمْشِي, berjalan. Kita memperoleh dua relasi yang tidak boleh diratakan: seseorang dapat diarahkan menuju ṢIRĀṬ, dan seseorang dapat berjalan di atas ṢIRĀṬ.
Yang pertama membaca orientasi menuju suatu lintasan. Yang kedua membaca posisi dan gerak ketika subjek sudah berada pada lintasan itu. Di sinilah istilah “keselarasan arah” memperoleh dasar: ṢIRĀṬ bukan hanya sesuatu yang berada di depan, tetapi dapat menjadi acuan posisi dan gerak.
ṢIRĀṬ tidak dapat dipenjarakan sebagai jalan fisik
Satu ayat lain memberi tekanan yang lebih besar terhadap bayangan ṢIRĀṬ sebagai jalan fisik. QS Hūd 11:56 menyebut Rabb berada عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ. Jika ṢIRĀṬ hanya dibayangkan sebagai ruas fisik yang diinjak manusia, konstruksi ini menjadi sulit ditanggung.
QS Hūd 11:56
إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu makhluk melata pun melainkan Dia memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di atas ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ṢIRĀṬ harus mampu menanggung makna yang lebih abstrak daripada jalan fisik. Ia dapat menunjuk course yang konsisten, lintasan tindakan, atau arah yang tidak menyimpang. Dalam aplikasi kehidupan, hal ini memungkinkan kita menggunakan ṢIRĀṬ untuk membaca alignment hidup, tetapi tetap dengan pagar penting: “orientasi hidup” adalah medan operasional, bukan terjemahan leksikal tunggal bagi seluruh ṢIRĀṬ.
ṢIRĀṬ dapat diikuti dan dapat disimpangi
QS Al-An‘ām 6:153 memperlihatkan operasi lain terhadap ṢIRĀṬ: ia dapat diikuti. Pada saat yang sama ayat ini mempertemukan ṢIRĀṬ dengan SUBUL dan SABĪL dalam satu argumentasi, sehingga ayat ini menjadi laboratorium penting untuk membedakan fungsi antardiksi.
QS Al-An‘ām 6:153
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa inilah ṢIRĀṬ-Ku dalam keadaan mustaqīm, maka ikutilah ia. Janganlah kalian mengikuti SUBUL sehingga jalur-jalur itu mencerai-beraikan kalian dari SABĪL-Nya. Demikianlah Dia mewasiatkan hal itu kepada kalian agar kalian bertakwa.”
Terhadap ṢIRĀṬ di sini muncul verba فَاتَّبِعُوهُ — ikutilah ia. Dalam ayat lain, seseorang justru digambarkan menyimpang darinya.
QS Al-Mu’minūn 23:74
وَإِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْـَٔاخِرَةِ عَنِ ٱلصِّرَٰطِ لَنَـٰكِبُونَ
“Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar berpaling dari ṢIRĀṬ.”
Sekarang jaringan relasinya semakin lengkap. Seseorang dapat menuju ṢIRĀṬ, berada di atas ṢIRĀṬ, berjalan di atasnya, mengikuti ṢIRĀṬ, atau menyimpang darinya. Maka ṢIRĀṬ bekerja sebagai lintasan acuan yang memungkinkan kita membaca apakah gerak seseorang masih selaras dengan arah tertentu atau telah keluar darinya.
Apakah ṢIRĀṬ secara konseptual hanya satu?
Karena bentuk plural morfologis ṢIRĀṬ tidak muncul dalam korpus, mudah untuk membuat kesimpulan bahwa secara konseptual hanya ada satu ṢIRĀṬ. QS Al-A‘rāf 7:86 menahan kesimpulan itu dengan memakai konstruksi بِكُلِّ صِرَاطٍ — pada setiap ṢIRĀṬ.
QS Al-A‘rāf 7:86
وَلَا تَقْعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَٰطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ
“Dan janganlah kalian duduk pada setiap ṢIRĀṬ dengan mengancam, menghalangi dari SABĪL Allah orang yang beriman kepada-Nya, dan menginginkannya menjadi bengkok. Ingatlah ketika kalian sedikit lalu Dia memperbanyak kalian, dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Tidak adanya bentuk plural morfologis ternyata tidak sama dengan tidak adanya banyak instance secara konseptual. Ayat ini juga sangat menarik karena ṢIRĀṬ dan SABĪL muncul bersama: pihak tertentu duduk pada setiap ṢIRĀṬ dan dari posisi itu menghalangi manusia dari SABĪL Allah. Dengan demikian, ayat ini kembali menolak penyamaan penuh antara keduanya.
ṢIRĀṬ tidak hanya dikualifikasi MUSTAQĪM
Korpus juga menolak kecenderungan untuk menjadikan ṢIRĀṬ-MUSTAQĪM sebagai satu paket makna yang tidak dapat dipisahkan. Dalam beberapa ayat, ṢIRĀṬ menerima kualifikasi lain, antara lain SAWIYY.
QS Maryam 19:43
يَـٰٓأَبَتِ إِنِّى قَدْ جَآءَنِى مِنَ ٱلْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَٱتَّبِعْنِىٓ أَهْدِكَ صِرَٰطًا سَوِيًّا
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu; maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu ṢIRĀṬ yang sawiyy.”
QS Ṭā Hā 20:135
قُلْ كُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا۟ ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَـٰبُ ٱلصِّرَٰطِ ٱلسَّوِىِّ وَمَنِ ٱهْتَدَىٰ
“Katakanlah, masing-masing sedang menunggu; maka tunggulah. Kelak kalian akan mengetahui siapa أصحاب aṣ-ṢIRĀṬ as-sawiyy dan siapa yang mendapat petunjuk.”
Kehadiran SAWIYY memperkuat prinsip yang sama: kualitas lintasan disampaikan oleh qualifier yang menyertainya. Karena itu sifat tidak boleh diam-diam dimasukkan ke dalam definisi dasar ṢIRĀṬ.
Atribusi ṢIRĀṬ: kepada siapa lintasan itu dihubungkan?
Pertanyaan berikutnya adalah: apa informasi yang diberikan ketika ṢIRĀṬ diatribusikan kepada pihak atau tujuan yang berbeda? Al-Fātiḥah mengenal ṢIRĀṬ orang-orang yang diberi nikmat. Al-Qur’an juga mengenal ṢIRĀṬ Allah, ṢIRĀṬ al-Ḥamīd, dan ṢIRĀṬ al-Jaḥīm. Atribusi ini menunjukkan bahwa ṢIRĀṬ tidak cukup dibaca dari nomina saja; kita perlu melihat siapa atau apa yang menjadi referen orientasionalnya.
QS Ash-Shūrā 42:53
صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلْأُمُورُ
“(Yaitu) ṢIRĀṬ Allah, yang milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, kepada Allah segala urusan kembali.”
Struktur ini penting. ṢIRĀṬ diatribusikan kepada Allah, sementara segala urusan kembali kepada Allah. Kita mulai melihat pembedaan antara lintasan acuan dan tujuan akhir. Inilah salah satu dasar mengapa, dalam medan operasional, ṢIRĀṬ lebih dekat dengan alignment keseluruhan daripada dengan satu profesi atau sarana tertentu.
QS Al-Ḥajj 22:24
وَهُدُوٓا۟ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلْقَوْلِ وَهُدُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْحَمِيدِ
“Dan mereka diberi petunjuk kepada perkataan yang baik dan diberi petunjuk kepada ṢIRĀṬ al-Ḥamīd.”
Atribusi kepada al-Ḥamīd kembali menunjukkan bahwa kualitas dan arah ṢIRĀṬ dibaca melalui relasinya. Sebaliknya, QS 37:23 memperlihatkan relasi dengan al-Jaḥīm. Dua kutub ini membuat kita tidak mungkin mengunci nilai positif di dalam kata ṢIRĀṬ itu sendiri.
Mengapa formula RABB → ‘IBĀDAH → ṢIRĀṬ MUSTAQĪM berulang?
Ada pola lain yang terlalu penting untuk diletakkan hanya sebagai catatan tambahan. Beberapa ayat mengulang hubungan Rabb, pengabdian, dan ṢIRĀṬ MUSTAQĪM. Pengulangan ini membantu memahami medan operasional ṢIRĀṬ: lintasan yang lurus tidak dijelaskan melalui profesi tertentu, tetapi melalui orientasi relasional manusia kepada Rabb dan pengabdian kepada-Nya.
QS Āli ‘Imrān 3:51
إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۗ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
“Sesungguhnya Allah adalah Rabb-ku dan Rabb kalian; maka mengabdilah kepada-Nya. Inilah ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
QS Maryam 19:36
وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
“Dan sesungguhnya Allah adalah Rabb-ku dan Rabb kalian; maka mengabdilah kepada-Nya. Inilah ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
QS Yā Sīn 36:61
وَأَنِ ٱعْبُدُونِى ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
“Dan mengabdilah kepada-Ku. Inilah ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
QS Az-Zukhruf 43:64
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
“Sesungguhnya Allah, Dia adalah Rabb-ku dan Rabb kalian; maka mengabdilah kepada-Nya. Inilah ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
Pola berulang ini penting karena menunjukkan bahwa ketika Al-Qur’an berbicara tentang ṢIRĀṬ MUSTAQĪM, relasi Rabb–‘ibādah menjadi salah satu penjelas paling kuat tentang keselarasan lintasan tersebut. Namun hal ini tidak boleh diubah menjadi definisi leksikal “ṢIRĀṬ = orientasi kepada Allah”, sebab korpus juga memiliki ṢIRĀṬ al-Jaḥīm. Yang dapat dikunci adalah bahwa pada ṢIRĀṬ MUSTAQĪM, orientasi pengabdian kepada Rabb merupakan pola Qur’ani yang berulang.
Apakah ṢIRĀṬ sama dengan DĪN?
Pertanyaan ini muncul karena QS Al-An‘ām 6:161 menempatkan ṢIRĀṬ MUSTAQĪM, DĪN QIYAM, dan millat Ibrāhīm dalam satu rangkaian. Kedekatan semacam ini mudah menggoda kita untuk menyamakan semuanya, padahal metode kajian ini justru mengharuskan kita menjaga perbedaan fungsi sampai korpus membuktikan bahwa dua diksi memang identik.
QS Al-An‘ām 6:161
قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah, sesungguhnya Rabb-ku telah memberi petunjuk kepadaku menuju ṢIRĀṬ yang mustaqīm, dīn yang tegak, millah Ibrāhīm yang hanīf, dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik.”
Ayat ini paling aman dibaca sebagai lapisan penjelasan yang saling menerangkan, bukan sebagai bukti bahwa ṢIRĀṬ, DĪN, dan MILLAT adalah sinonim. ṢIRĀṬ menyoroti lintasan keselarasan arah; DĪN menerangkan tata kehidupan yang menyertainya; sedangkan MILLAT menghubungkannya kepada pola Ibrāhīm yang hanīf. Satu ayat dapat mempertemukan beberapa diksi tanpa menghapus identitas masing-masing.
Ayat laboratorium pertama: SUBUL AL-SALĀM dan ṢIRĀṬ MUSTAQĪM dalam satu ayat
QS Al-Mā’idah 5:16
يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dengan itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju SUBUL al-Salām, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan memberi petunjuk kepada mereka menuju ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
Dalam satu ayat, Al-Qur’an memakai SUBUL al-Salām dan ṢIRĀṬ MUSTAQĪM sekaligus, dan keduanya sama-sama berada dalam jaringan HUDĀ. Jika SABĪL dan ṢIRĀṬ merupakan sinonim penuh, penggunaan dua diksi itu menjadi sulit dijelaskan.
Tetapi ayat ini juga tidak memberi izin untuk menyusun hierarki mekanis bahwa SUBUL selalu merupakan jalan kecil sementara ṢIRĀṬ selalu merupakan jalan besar. Yang lebih tahan terhadap data adalah perbedaan fungsi: SABĪL membaca jalur atau avenue yang memungkinkan gerak dan akses berlangsung; ṢIRĀṬ membaca lintasan acuan yang menentukan keselarasan arah perjalanan.
Ayat laboratorium kedua: ṢIRĀṬĪ, SUBUL, dan SABĪLIHI
QS Al-An‘ām 6:153 bahkan lebih keras. Dalam satu ayat muncul ṢIRĀṬĪ, SUBUL, dan SABĪLIHI. Ayat ini menghancurkan dua model sederhana sekaligus: “ṢIRĀṬ tunggal selalu baik, SUBUL plural selalu buruk” dan “ṢIRĀṬ jalan besar, SABĪL hanya cabang kecil”. Di tempat lain Allah sendiri memiliki SUBUL; dan di ayat ini SABĪL-Nya justru tampil sebagai medan luas yang seseorang dapat tercerai darinya.
Perbedaannya karena itu lebih tepat diletakkan pada fungsi pembacaan, bukan ukuran. ṢIRĀṬ membaca keselarasan lintasan; SABĪL membaca avenue atau jalur melalui mana gerak, tindakan, atau akses berlangsung. Kedua lensa dapat bekerja pada perjalanan yang sama tanpa harus menjadi sinonim dan tanpa harus dipaksa ke dalam urutan besar-kecil.
Apa tepatnya yang ditanyakan oleh ṢIRĀṬ?
Setelah seluruh pengujian tersebut, pertanyaan “apa jalan hidup saya?” ternyata masih terlalu kabur. Ketika Al-Qur’an menggunakan ṢIRĀṬ, pertanyaan yang lebih presisi bukan pertama-tama “profesi apa yang saya pilih?”, “bidang apa yang saya tekuni?”, atau “proyek apa yang saya kerjakan?”. Pertanyaan itu penting, tetapi belum menyentuh lapis ṢIRĀṬ.
Pertanyaan ṢIRĀṬ adalah: “Pada lintasan apa keseluruhan perjalanan hidup saya sedang disejajarkan, dan ke mana lintasan itu membawa saya?”
Pertanyaan ini mempunyai dua sisi. Pertama, keselarasan: apakah berbagai pilihan dan tindakan masih berada pada course yang sama? Kedua, arah: ke mana course itu akhirnya membawa? Karena itu seseorang dapat sangat disiplin, sangat konsisten, bahkan sangat berhasil, tetapi belum tentu berada pada ṢIRĀṬ yang benar. Konsistensi tidak menentukan nilai tujuan. Al-Qur’an sendiri mengenal ṢIRĀṬ al-Jaḥīm.
Medan operasional: profesi bukan ṢIRĀṬ
Seseorang dapat menjadi dokter, petani, insinyur, guru, peneliti, pedagang, seniman, atau pengelola organisasi. Kesalahan terjadi bila kita langsung berkata bahwa profesi itulah ṢIRĀṬ-nya. Profesi lebih mungkin dibaca melalui SABĪL ketika pertanyaan kita adalah jalur apa yang digunakan untuk memperoleh penghidupan, bergerak, dan memberi manfaat.
ṢIRĀṬ menanyakan sesuatu yang lebih dalam: ke mana seluruh pemanfaatan profesi itu diarahkan? Dua orang dapat mempunyai profesi yang sama, keahlian yang sama, bahkan metode kerja yang sama, tetapi ṢIRĀṬ yang berbeda. Yang satu dapat mengarahkan seluruh kapasitasnya kepada ego, dominasi, dan kepentingan diri; yang lain menjadikannya bagian dari pengabdian kepada Allah dan kebermanfaatan bagi kehidupan.
SABĪL-nya dapat sama. ṢIRĀṬ-nya belum tentu sama.
Berganti SABĪL tidak harus berarti berganti ṢIRĀṬ
Seseorang mungkin bekerja sebagai insinyur selama dua puluh tahun, kemudian menjadi pengusaha, kemudian lebih banyak mengajar setelah pensiun. Jika pekerjaan dianggap ṢIRĀṬ, kita akan mengatakan bahwa ia mengganti “jalan hidup” berkali-kali. Tetapi ketika ṢIRĀṬ dibedakan dari SABĪL, perubahan profesi dapat dibaca sebagai perubahan jalur operasional tanpa harus mengubah keselarasan arah hidup.
Ini memberi konsekuensi yang penting: kehilangan pekerjaan tidak otomatis berarti kehilangan ṢIRĀṬ. Satu avenue dapat tertutup sementara orientasi keseluruhan tetap utuh. Justru karena ṢIRĀṬ berada pada lapis yang lebih dalam daripada satu profesi, manusia dapat berpindah jalur tanpa harus kehilangan arah.
Satu ṢIRĀṬ dapat dijalani melalui banyak SUBUL
Seseorang tidak hidup hanya melalui profesinya. Ia dapat sekaligus bekerja, belajar, membesarkan anak, menulis, melakukan penelitian, menolong masyarakat, membangun usaha, dan mengajar. Tidak semua aktivitas itu harus dipaksa menjadi satu bentuk kehidupan yang sama. Mereka dapat menjadi SUBUL berbeda dalam satu keselarasan ṢIRĀṬ yang sama.
Di sinilah ungkapan “jalan menuju Allah” menjadi lebih kaya. Ia tidak menuntut semua orang mempunyai profesi atau bentuk kontribusi yang identik. Yang perlu diperiksa bukan apakah setiap orang memakai SABĪL yang sama, tetapi pada ṢIRĀṬ apa seluruh kehidupan itu sedang disejajarkan.
Rumusan yang akhirnya bertahan
Sesudah falsifikasi, perbandingan, dan uji silang, beberapa definisi harus ditinggalkan. ṢIRĀṬ bukan otomatis “jalan benar” karena ada ṢIRĀṬ al-Jaḥīm. ṢIRĀṬ bukan “jalan lurus” secara bawaan karena MUSTAQĪM merupakan kualifikasi tambahan dan ṬARĪQ pun dapat MUSTAQĪM. ṢIRĀṬ bukan satu-satunya instance secara konseptual karena QS 7:86 dapat mengatakan bi-kulli ṣirāṭ. ṢIRĀṬ juga bukan sekadar jalan fisik karena seseorang dapat diarahkan kepadanya, berada di atasnya, berjalan di atasnya, mengikutinya, menyimpang darinya, dan Rabb pun disebut berada ‘alā ṣirāṭ mustaqīm.
ṢIRĀṬ adalah lintasan atau course yang menjadi acuan keselarasan dan arah perjalanan. Nilainya tidak melekat otomatis pada kata ṢIRĀṬ, tetapi ditentukan oleh arah, atribusi, kualifikasi, dan tujuan yang terkait dengannya.
Dalam medan operasional kehidupan, final lock itu diterjemahkan menjadi satu pertanyaan yang lebih tajam daripada “apa jalan hidup saya?”: “Pada lintasan apa perjalanan hidup saya sedang disejajarkan, dan ke mana lintasan itu membawa saya?”
ṢIRĀṬ tidak pertama-tama bertanya apa pekerjaan kita. Ia bertanya ke mana keseluruhan kehidupan kita sedang bergerak. Profesi dapat berubah. SABĪL dapat berganti. ṬARĪQAH dapat berkembang. MINHĀJ dapat diperbaiki. Tetapi selama pertanyaan ṢIRĀṬ tidak pernah diajukan, seseorang dapat bergerak sangat jauh tanpa pernah memastikan apakah arah yang ditempuh memang arah yang ingin dituju.
Itulah sebabnya ṢIRĀṬ tidak cukup dipahami hanya sebagai satu kata Indonesia: “jalan”. Ia adalah lintasan acuan yang membuat kita dapat membaca apakah seluruh gerak kehidupan masih selaras, atau justru telah berjalan jauh ke arah yang salah.
BAB 4 - SABĪL: JALUR AKSES, BUKAN SEKADAR “JALAN”
SABĪL tidak cukup didefinisikan sebagai “jalan”, dan tidak pula dapat dikunci sebagai “pilihan jalan”. Korpusnya adalah yang terbesar di antara diksi-diksi yang sedang dibandingkan: 176 kemunculan, dengan bentuk singular dan plural, penggunaan fisik dan nonfisik, nilai positif dan negatif, relasi dengan HUDĀ, pilihan, penghalangan, pemutusan, kemampuan, izin, tindakan, dan tujuan. Setelah seluruh variasi itu diuji, rumusan yang paling mampu bertahan adalah bahwa SABĪL menunjuk jalur, avenue, atau cara melalui mana gerak, tindakan, akses, atau perjalanan menuju sesuatu dapat berlangsung. Ia dapat tersedia tanpa dipilih, dapat dipilih setelah terlihat, dapat dibuka atau ditutup, dapat ditempuh atau dihalangi, dan dapat menjadi medan di dalam mana tindakan dilakukan. Dalam kehidupan, pertanyaan SABĪL bukan “apa arah hidup saya?”, melainkan “melalui jalur atau cara apa saya dapat bergerak dan bertindak menuju sesuatu?”
Mengapa SABĪL justru perlu dianalisis lebih dalam?
SABĪL adalah keluarga yang paling sering muncul dalam kajian ini. Keluasan itu seharusnya membuat kita lebih berhati-hati, bukan lebih cepat puas. Sebuah kata yang muncul ratusan kali mempunyai kesempatan lebih besar untuk membongkar definisi yang terlalu sempit. Bila satu rumusan hanya cocok untuk ayat tentang jalan fisik tetapi gagal pada ayat tentang akses hukum, tidak adanya jalan tindakan terhadap seseorang, jalan menuju Rabb, atau FĪ SABĪL ALLĀH, maka rumusan itu belum selesai.
Pertanyaan awalnya sederhana: ketika Al-Qur’an memakai SABĪL, aspek apa sebenarnya yang sedang dibaca? Namun setelah korpus diperbandingkan, pertanyaan itu berkembang: mengapa SABĪL dapat dilihat dan diambil? Mengapa ia dapat dihalangi dan diputus? Mengapa ada SABĪL al-rushd dan SABĪL al-ghayy? Mengapa Allah mempunyai SUBUL dalam bentuk plural? Mengapa lebah juga menempuh SUBUL Rabb-nya? Mengapa suatu pihak dapat “tidak mempunyai SABĪL” atas pihak lain? Dan jika SABĪL sama saja dengan ṢIRĀṬ, mengapa keduanya muncul berdampingan dalam QS 5:16 dan QS 6:153?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menjadi catatan kaki setelah jawaban ditemukan. Justru dari pertanyaan itulah medan operasi SABĪL dapat dibedakan dari ṢIRĀṬ, ṬARĪQ, SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ.
Definisi pertama yang gugur: SABĪL bukan otomatis jalan yang benar
Salah satu kesalahan yang mudah muncul adalah menganggap SABĪL sebagai kata yang secara otomatis membawa nilai positif. Korpus segera menggugurkannya. SABĪL dapat diarahkan kepada rushd, tetapi juga kepada ghayy; dapat menjadi jalur yang baik, tetapi juga dapat dinilai buruk.
QS Al-A‘rāf 7:146
سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَـٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا وَكَانُوا۟ عَنْهَا غَـٰفِلِينَ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa hak dari tanda-tanda-Ku. Jika mereka melihat setiap tanda, mereka tidak beriman kepadanya. Jika mereka melihat SABĪL al-rushd, mereka tidak menjadikannya sebagai SABĪL; tetapi jika mereka melihat SABĪL al-ghayy, mereka menjadikannya sebagai SABĪL. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan lalai terhadapnya.”
Ayat ini sangat penting karena SABĪL sendiri tidak menentukan nilai jalurnya. Yang menentukan adalah relasi yang dilekatkan: rushd atau ghayy. Bahkan struktur ayat memperlihatkan dua tahap: suatu SABĪL dapat “terlihat”, lalu “diambil” atau “dijadikan” sebagai SABĪL. Jadi pada manusia, SABĪL memang dapat menjadi objek pilihan. Tetapi pilihan tidak boleh dimasukkan sebagai makna dasar, karena ayat lain akan menggugurkannya.
QS Al-Isrā’ 17:32
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya ia adalah perbuatan keji dan suatu SABĪL yang buruk.”
Ungkapan سَاءَ سَبِيلًا kembali menunjukkan bahwa nilai SABĪL datang dari apa yang dilaluinya dan ke mana ia membawa. SABĪL bukan sinonim nilai moral; ia adalah struktur jalur/cara yang dapat diberi penilaian.
QS An-Naḥl 16:9
وَعَلَى ٱللَّهِ قَصْدُ ٱلسَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَهَدَىٰكُمْ أَجْمَعِينَ
“Dan atas Allah keterangan arah SABĪL; dan di antaranya ada yang menyimpang. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memberi petunjuk kepada kalian semuanya.”
QS 16:9 memperkuat kontrol yang sama: di antara SABĪL ada yang jā’ir—menyimpang. Maka definisi SABĪL tidak boleh menyerap kualitas “benar”, sebagaimana ṢIRĀṬ juga tidak boleh menyerap MUSTAQĪM ke dalam dirinya.
Plural SUBUL bukan tanda penyimpangan
Setelah melihat ayat-ayat tentang jalan yang menyimpang, mudah muncul rumus lain: satu jalan benar, banyak jalan salah. Rumus ini juga tidak bertahan. Al-Qur’an memakai SUBUL dalam bentuk plural secara positif, bahkan mengatribusikannya kepada Allah dan Rabb.
QS Al-‘Ankabūt 29:69
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam Kami, sungguh Kami akan memberi mereka petunjuk kepada SUBUL Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat iḥsān.”
Bentuk سُبُلَنَا — “SUBUL Kami” — menolak anggapan bahwa pluralitas sendiri adalah problem. Banyak jalur dapat berada dalam atribusi ilahiah. Yang menentukan bukan jumlahnya, melainkan atribusi, arah, dan apa yang dilakukan melalui jalur-jalur itu.
QS An-Naḥl 16:69
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Kemudian makanlah dari segala buah-buahan dan tempuhilah SUBUL Rabb-mu yang dimudahkan. Dari perutnya keluar minuman yang berbeda-beda warnanya; di dalamnya terdapat penyembuhan bagi manusia. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.”
Ayat lebah ini menjadi falsifikasi penting terhadap definisi “SABĪL = pilihan jalur”. Lebah diperintahkan menempuh SUBUL Rabb-nya. Ayat tidak sedang membahas deliberasi moral seperti pada manusia. Jadi manusia dapat memilih SABĪL, tetapi “dipilih” bukan unsur definisional SABĪL. Yang lebih dasar adalah bahwa jalur itu tersedia atau dapat ditempuh.
QS An-Naḥl 16:15
وَأَلْقَىٰ فِى ٱلْأَرْضِ رَوَٰسِىَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَـٰرًا وَسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersama kalian, dan sungai-sungai serta SUBUL agar kalian mendapat petunjuk.”
Di sini SUBUL bahkan hadir sebagai bagian dari struktur dunia yang memungkinkan orientasi dan pergerakan. Sekali lagi yang pokok bukan “memilih”, melainkan adanya jalur yang memungkinkan seseorang bergerak dan menemukan arah.
SABĪL dapat diperlihatkan, diambil, dan ditempuh
QS 7:146 memperlihatkan SABĪL sebagai sesuatu yang dapat dilihat dan kemudian diambil. Dua operasi itu perlu dipisahkan. Ketersediaan suatu jalur tidak otomatis berarti seseorang menempuhnya; ada tahap ketika jalur tersedia atau terlihat, lalu subjek mengadopsinya sebagai jalan yang akan ia gunakan.
Karena itu pada manusia, “pilihan” memang menjadi salah satu operasi terhadap SABĪL, tetapi bukan arti kata SABĪL itu sendiri. Perbedaan ini penting: bila pilihan dimasukkan ke dalam definisi, QS 16:69 tentang lebah menjadi sulit dijelaskan; bila pilihan sama sekali diabaikan, QS 7:146 menjadi kehilangan informasi. Rumusan yang lebih stabil adalah bahwa SABĪL adalah jalur yang tersedia/dapat ditempuh, sementara pada subjek tertentu jalur itu kemudian dapat dipilih atau diambil.
QS Al-Insān 76:3
إِنَّا هَدَيْنَـٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya SABĪL; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
Ayat ini memperlihatkan perbedaan antara ditunjukkan kepada jalur dan respons subjek sesudah jalur itu tersedia. HUDĀ kepada SABĪL tidak menghapus kemungkinan penerimaan atau penolakan. Jadi SABĪL dapat tersedia sebagai jalur orientasional/operasional, sementara tindakan manusia terhadapnya tetap menjadi persoalan lain.
SABĪL dan kemampuan untuk mengakses
Kata “akses” mulai menjadi penting ketika SABĪL dipakai pada konteks yang sama sekali tidak dapat dijelaskan sebagai ruas jalan fisik. Salah satu ayat kunci adalah QS Āli ‘Imrān 3:97. Di sana persoalannya bukan sekadar mengetahui lokasi Baitullah, tetapi memiliki kemampuan untuk sampai kepadanya.
QS Āli ‘Imrān 3:97
فِيهِ ءَايَـٰتٌۢ بَيِّنَـٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya maqām Ibrāhīm. Barangsiapa memasukinya menjadi aman. Dan bagi Allah atas manusia kewajiban haji ke Bait, bagi siapa yang mampu mengadakan SABĪL menuju kepadanya. Barangsiapa kufur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari seluruh alam.”
Frasa مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا mengikat kemampuan dengan SABĪL. Seseorang mungkin mengetahui tujuan, tetapi bila tidak ada SABĪL yang dapat diakses, gerak menuju tujuan tidak berlangsung. Ini salah satu alasan mengapa “avenue/jalur akses” lebih kuat daripada sekadar “jalan”.
Ketika SABĪL berarti adanya atau tidak adanya ruang tindakan
Kekuatan lensa akses semakin terlihat pada ayat-ayat di mana SABĪL tidak mungkin dimengerti sebagai jalan fisik. Ada konteks ketika Allah “menjadikan SABĪL” bagi seseorang; ada pula ketika suatu pihak tidak diberi SABĪL atas pihak lain.
QS An-Nisā’ 4:15
وَٱلَّـٰتِى يَأْتِينَ ٱلْفَـٰحِشَةَ مِن نِّسَآئِكُمْ فَٱسْتَشْهِدُوا۟ عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِّنكُمْ ۖ فَإِن شَهِدُوا۟ فَأَمْسِكُوهُنَّ فِى ٱلْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّىٰهُنَّ ٱلْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ ٱللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا
“Dan terhadap perempuan-perempuan yang melakukan perbuatan keji di antara kalian, mintalah kesaksian empat orang dari kalian. Jika mereka bersaksi, tahanlah mereka di rumah sampai kematian mengambil mereka atau Allah menjadikan bagi mereka suatu SABĪL.”
Di sini SABĪL jelas tidak harus berupa ruas fisik. Ia dapat berarti terbukanya jalan keluar atau kemungkinan tindakan yang sebelumnya belum tersedia.
QS An-Nisā’ 4:90
إِلَّا ٱلَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَـٰقٌ أَوْ جَآءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَن يُقَـٰتِلُوكُمْ أَوْ يُقَـٰتِلُوا۟ قَوْمَهُمْ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَـٰتَلُوكُمْ ۚ فَإِنِ ٱعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا۟ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَمَ فَمَا جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا
“Kecuali mereka yang bergabung kepada suatu kaum yang antara kalian dan kaum itu ada perjanjian, atau mereka datang kepada kalian dengan hati yang keberatan memerangi kalian atau kaumnya. Jika Allah menghendaki, Dia dapat memberi mereka kekuasaan atas kalian lalu mereka memerangi kalian. Tetapi jika mereka menjauh dari kalian, tidak memerangi kalian, dan menawarkan perdamaian, maka Allah tidak menjadikan bagi kalian SABĪL atas mereka.”
QS Ash-Shūrā 42:41
وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ
“Dan orang yang membela diri setelah dizalimi, maka terhadap mereka tidak ada SABĪL.”
QS Ash-Shūrā 42:42
إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya SABĪL itu atas orang-orang yang menzalimi manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak. Mereka itulah yang mendapat azab yang pedih.”
Konstruksi “tidak ada SABĪL atas mereka” dan “SABĪL itu atas orang-orang yang menzalimi” memperluas medan makna secara tegas. Yang sedang dibicarakan adalah ruang tindakan, jalur tuntutan, atau avenue yang memungkinkan suatu tindakan terhadap pihak tertentu. Inilah salah satu data terkuat bahwa “akses” bukan sekadar metafora tambahan, tetapi fungsi yang berulang pada SABĪL.
Mengapa SABĪL sering dapat dihalangi dan diputus?
Korpus SABĪL berulang kali memakai pola menghalangi dari SABĪL Allah. Jika yang dihalangi hanya “arah” abstrak, pola ini tidak sejelas ketika SABĪL dibaca sebagai jalur yang memungkinkan seseorang bergerak atau bertindak. Sesuatu yang dapat diblokir adalah sesuatu yang menyediakan akses.
QS Al-‘Ankabūt 29:29
أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ ٱلسَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِى نَادِيكُمُ ٱلْمُنكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوا۟ ٱئْتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ
“Apakah kalian benar-benar mendatangi laki-laki, memutus SABĪL, dan melakukan kemungkaran di tempat pertemuan kalian? Jawaban kaumnya tidak lain hanyalah, ‘Datangkanlah kepada kami azab Allah jika engkau termasuk orang yang benar.’”
Ungkapan تَقْطَعُونَ السَّبِيلَ menunjukkan SABĪL dapat diputus. Ketika jalur diputus, yang hilang bukan semata-mata arah di kepala seseorang, tetapi kemampuan untuk meneruskan perjalanan atau tindakan. Ini menjelaskan mengapa penghalangan terhadap SABĪL Allah dalam banyak ayat dapat dibaca sebagai penghalangan terhadap akses untuk hidup, bergerak, dan bertindak dalam jalur tersebut.
FĪ SABĪL ALLĀH: SABĪL bukan nama satu aktivitas
Salah satu penyempitan paling besar terhadap SABĪL terjadi ketika frasa FĪ SABĪL ALLĀH dilebur menjadi nama satu aktivitas tertentu. Korpus tidak mendukung penyempitan itu. Berbagai tindakan dapat berlangsung FĪ SABĪL ALLĀH. Karena itu SABĪL Allah harus dibedakan dari tindakan yang dilakukan di dalamnya.
QS An-Nisā’ 4:94
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَتَبَيَّنُوا۟ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَـٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فَعِندَ ٱللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan ḌARB dalam SABĪL Allah, maka telitilah. Jangan mengatakan kepada orang yang menyampaikan salam kepada kalian, ‘Engkau bukan mukmin,’ karena menginginkan keuntungan kehidupan dunia. Di sisi Allah ada banyak keuntungan. Demikianlah keadaan kalian dahulu, lalu Allah memberi karunia kepada kalian; maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
QS Al-Baqarah 2:273
لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَـٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terhalang dalam SABĪL Allah; mereka tidak mampu melakukan ḌARB di bumi. Orang yang tidak mengetahui menyangka mereka kaya karena menjaga diri. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya; mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak. Apa pun kebaikan yang kalian infakkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Kedua ayat ini menunjukkan sesuatu yang penting: ḌARB dapat dilakukan FĪ SABĪL ALLĀH, orang dapat terhalang FĪ SABĪL ALLĀH, dan infak dapat diarahkan kepada mereka. SABĪL bukan tindakan itu sendiri. Ia adalah medan/jalur di dalam mana tindakan yang berbeda berlangsung.
Qitāl bukan SABĪL Allah. Infaq bukan SABĪL Allah. Hijrah bukan SABĪL Allah. Tindakan-tindakan itu dapat berlangsung dalam SABĪL Allah. Menyamakan medan dengan salah satu tindakan di dalamnya akan menyempitkan korpus.
SABĪL dapat menjadi cara operasional menuju tujuan
SABĪL tidak hanya menunjukkan akses fisik atau legal. Ia juga dapat menunjuk cara operasional melalui mana seseorang bergerak menuju tujuan yang jelas.
QS Yūsuf 12:108
قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah, ‘Inilah SABĪL-ku: aku menyeru kepada Allah di atas baṣīrah, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.’”
Strukturnya memberi pemisahan yang sangat berguna. Allah adalah tujuan seruan: أَدْعُو إِلَى اللَّهِ. SABĪL adalah jalur/cara yang digunakan untuk bergerak menuju tujuan itu. Karena itu SABĪL tidak identik dengan tujuan; ia adalah avenue yang menghubungkan subjek dengan tujuan melalui tindakan tertentu.
QS Al-Isrā’ 17:110
قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah ar-Raḥmān. Dengan nama apa pun kalian menyeru-Nya, bagi-Nya nama-nama yang terbaik. Jangan mengeraskan salatmu dan jangan pula terlalu merendahkannya; carilah di antara keduanya suatu SABĪL.’”
Di sini SABĪL adalah cara yang dicari di antara dua kemungkinan praktis. Ia bukan tujuan akhir, tetapi jalur operasional yang memungkinkan tindakan dilaksanakan secara tepat.
SABĪL menuju Rabb: jalur dapat diambil menuju tujuan yang sama
Sejumlah ayat menghubungkan SABĪL dengan Rabb melalui konstruksi “mengambil SABĪL menuju Rabb”. Ini menegaskan dua hal sekaligus: SABĪL dapat diambil, dan tujuan tetap berada di luar SABĪL itu sendiri.
QS Al-Furqān 25:57
قُلْ مَآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا
“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian atasnya, kecuali siapa yang menghendaki untuk mengambil SABĪL menuju Rabb-nya.’”
QS Al-Muzzammil 73:19
إِنَّ هَـٰذِهِۦ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا
“Sesungguhnya ini adalah peringatan; maka siapa yang menghendaki, hendaklah ia mengambil SABĪL menuju Rabb-nya.”
QS Al-Insān 76:29
إِنَّ هَـٰذِهِۦ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا
“Sesungguhnya ini adalah peringatan; maka siapa yang menghendaki, hendaklah ia mengambil SABĪL menuju Rabb-nya.”
Konstruksi ini sangat dekat dengan medan operasional kehidupan. Tujuan dapat sama—menuju Rabb—sementara SABĪL sebagai avenue yang ditempuh tidak harus identik untuk setiap orang. Namun kesimpulan ini tetap harus diuji terhadap ṢIRĀṬ agar kita tidak mengubah SABĪL menjadi sinonim orientasi total.
SABĪL dan ṢIRĀṬ: mengapa keduanya dipertahankan dalam ayat yang sama?
Inilah uji silang terpenting. Jika SABĪL sama dengan ṢIRĀṬ, dua ayat menjadi sangat sulit dijelaskan tanpa menganggap Al-Qur’an melakukan pengulangan tanpa fungsi. QS 5:16 dan QS 6:153 mempertahankan keduanya dalam satu struktur argumentatif.
QS Al-Mā’idah 5:16
يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dengan itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju SUBUL al-Salām, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan memberi petunjuk kepada mereka menuju ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
Ayat ini tidak mengizinkan kita menyamakan SUBUL al-Salām dengan ṢIRĀṬ MUSTAQĪM. Keduanya sama-sama berada dalam jaringan HUDĀ tetapi membawa fungsi yang berbeda. SABĪL lebih kuat pada jalur yang memungkinkan gerak/akses berlangsung; ṢIRĀṬ lebih kuat pada course yang menjadi acuan keselarasan arah.
QS Al-An‘ām 6:153
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa inilah ṢIRĀṬ-Ku dalam keadaan mustaqīm, maka ikutilah ia. Janganlah kalian mengikuti SUBUL sehingga jalur-jalur itu mencerai-beraikan kalian dari SABĪL-Nya. Demikianlah Dia mewasiatkan hal itu kepada kalian agar kalian bertakwa.”
Ayat ini mencegah dua model yang terlalu rapi. Pertama, tidak benar bahwa ṢIRĀṬ selalu tunggal dan baik sedangkan SUBUL selalu plural dan buruk, karena QS 29:69 mempunyai SUBULANĀ. Kedua, tidak cukup mengatakan ṢIRĀṬ adalah jalan besar dan SABĪL hanya cabang kecil, karena ayat yang sama menutup dengan SABĪLIHI sebagai sesuatu yang darinya manusia dapat tercerai.
Hubungan ṢIRĀṬ–SABĪL lebih aman dibaca sebagai perbedaan fungsi, bukan hierarki ukuran: ṢIRĀṬ membaca keselarasan course; SABĪL membaca avenue yang memungkinkan perjalanan atau tindakan berlangsung.
SABĪL dan ṬARĪQ: sama-sama “jalan”, tetapi pertanyaannya berbeda
Perbandingan dengan ṬARĪQ juga diperlukan karena keduanya sering diterjemahkan dengan kata yang sama. ṬARĪQ dapat menunjuk lintasan yang mempunyai bentuk dan dapat dilalui; ṬARĪQAH dapat menunjuk pola/course yang dapat dipertahankan. SABĪL, sebaliknya, lebih produktif pada relasi tersedia–diambil–ditempuh–dihalangi–diputus–dibuka, serta pada konstruksi yang berarti ruang tindakan atau akses.
QS Ṭā Hā 20:77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِى فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِى ٱلْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَـٰفُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
“Dan sungguh Kami wahyukan kepada Musa, ‘Berjalanlah pada malam hari bersama hamba-hamba-Ku, lalu buatlah bagi mereka ṬARĪQ yang kering di laut; engkau tidak perlu takut tersusul dan tidak perlu takut.’”
Ayat ini menunjukkan ṬARĪQ sebagai track/lintasan yang mempunyai bentuk dan dapat dihasilkan. SABĪL tidak kehilangan kemungkinan konkret, tetapi pola distribusinya jauh lebih kuat pada fungsi avenue dan akses. Karena itu perbedaan SABĪL–ṬARĪQ bukan fisik versus nonfisik, melainkan aspek apa dari perjalanan yang sedang disorot.
Definisi-definisi SABĪL yang gugur
Setelah seluruh korpus dan ayat kontrol dibandingkan, beberapa definisi tidak dapat dipertahankan sebagai semantic floor atau fungsi yang dikunci.
Pertama, “SABĪL = jalan fisik” gugur karena konstruksi مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ dan إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ jelas berbicara tentang ruang tindakan/tuntutan, bukan ruas jalan.
Kedua, “SABĪL = pilihan” gugur karena lebah menempuh SUBUL Rabb-nya. Pilihan dapat menjadi operasi manusia terhadap SABĪL, tetapi bukan unsur definisional kata itu.
Ketiga, “SABĪL = jalan yang benar” gugur karena ada SABĪL al-ghayy, SABĪL yang jā’ir, dan SABĪL yang dinilai buruk.
Keempat, “SUBUL plural = jalan sesat” gugur karena Allah sendiri mempunyai SUBUL dan lebah diperintahkan menempuh SUBUL Rabb-nya.
Kelima, “SABĪL = tujuan” gugur karena ayat-ayat seperti QS 12:108, 25:57, 73:19, dan 76:29 membedakan SABĪL dari tujuan yang dituju, yaitu Allah atau Rabb.
Keenam, “FĪ SABĪL ALLĀH = satu aktivitas tertentu” gugur karena berbagai tindakan yang berbeda dapat berlangsung di dalam SABĪL Allah. SABĪL adalah medan/jalur, bukan nama salah satu tindakan di dalamnya.
Ketujuh, “SABĪL = cabang kecil dari ṢIRĀṬ” terlalu kaku. QS 6:153 sendiri memakai SABĪLIHI dengan cakupan luas, sehingga relasi ṢIRĀṬ–SABĪL harus dibedakan secara fungsi, bukan skala.
Pertanyaan yang akhirnya dijawab oleh SABĪL
Sesudah definisi-definisi lama gugur, pertanyaan SABĪL menjadi jauh lebih presisi. Ia bukan pertama-tama “ke mana hidup saya diarahkan?”—itu berada pada lapis ṢIRĀṬ. Ia juga bukan “pola apa yang telah terbentuk?”—itu lebih dekat kepada ṬARĪQAH. SABĪL bertanya pada ketersediaan dan penggunaan jalur yang memungkinkan gerak.
Pertanyaan SABĪL: “Melalui jalur, avenue, atau cara apa saya dapat bergerak, bertindak, atau memperoleh akses menuju sesuatu?”
Kata “dapat” penting di sini. SABĪL sering berkaitan bukan hanya dengan niat, tetapi dengan keterhubungan antara subjek dan tujuan. Ada SABĪL yang tersedia tetapi tidak diambil; ada yang ingin ditempuh tetapi dihalangi; ada yang diputus; ada yang tidak tersedia karena subjek tidak mampu; ada pula SABĪL yang dibuka atau dijadikan bagi seseorang.
Medan operasional: pekerjaan dapat menjadi SABĪL, tetapi bukan otomatis ṢIRĀṬ
Dalam kehidupan, pekerjaan merupakan contoh yang mudah dipahami. Seseorang dapat memperoleh penghidupan melalui engineering, perdagangan, pertanian, pendidikan, kedokteran, seni, atau penelitian. Masing-masing dapat menjadi SABĪL: jalur melalui mana ia bergerak, memperoleh penghidupan, mengembangkan kemampuan, dan memberi manfaat.
Tetapi profesi itu belum menjawab ke mana keseluruhan hidup diarahkan. Dua orang dapat menggunakan SABĪL yang sama—misalnya sama-sama dokter—namun mempunyai ṢIRĀṬ berbeda. Yang satu dapat mengarahkan seluruh kapasitasnya kepada status dan dominasi; yang lain mengarahkannya sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah. Kesamaan SABĪL tidak menjamin kesamaan ṢIRĀṬ.
Bidang ilmu sebagai SABĪL
Hal yang sama berlaku pada pilihan major atau bidang ilmu. Teknik, biologi, matematika, bahasa, hukum, komputer, atau pertanian dapat menjadi SUBUL yang tersedia. Ketika seseorang memilih salah satunya, ia mengadopsi satu avenue untuk memperoleh pengetahuan dan memberi kontribusi. Setelah bertahun-tahun, pola yang terbentuk dalam cara belajar dan bekerja dapat dibaca melalui ṬARĪQAH, sementara batas penggunaannya dibaca melalui SHARĪ‘AH dan cara pelaksanaannya melalui MINHĀJ.
Pembedaan ini mencegah kesalahan besar: major tidak otomatis menjadi ṢIRĀṬ. Jurusan ilmu adalah jalur; arah hidup tetap pertanyaan yang berbeda.
Berganti pekerjaan dapat berarti berganti SABĪL tanpa berganti ṢIRĀṬ
Seseorang dapat bekerja lima belas tahun sebagai akuntan, kemudian menjadi pengusaha, lalu lebih banyak mengajar ketika usianya bertambah. Yang berubah dapat saja SABĪL. Orientasi atau keselarasan arah hidupnya tidak harus berubah. Ini memberi jarak sehat antara identitas hidup dan jabatan.
Karena itu kehilangan pekerjaan berarti kehilangan satu SABĪL, bukan otomatis kehilangan arah hidup. Pensiun menutup satu avenue, tetapi dapat membuka avenue lain melalui mentoring, keluarga, riset, pendidikan, atau pelayanan sosial.
Satu ṢIRĀṬ, banyak SUBUL
Dalam satu periode kehidupan seseorang dapat bekerja, belajar, membesarkan anak, menulis, melakukan riset, merawat orang tua, membangun usaha, dan melayani masyarakat. Tidak harus ada satu “profesi suci” yang menjadi satu-satunya jalan kepada Allah. Banyak SUBUL dapat berada dalam satu keselarasan arah, selama masing-masing tidak menggeser kehidupan dari ṢIRĀṬ yang dituju.
QS 29:69 tentang SUBULANĀ memberikan kontrol penting: pluralitas jalur tidak otomatis berarti penyimpangan. Yang harus diperiksa adalah atribusi, arah, ketentuan yang mengaturnya, dan bagaimana jalur itu benar-benar dijalani.
Ketika satu SABĪL tertutup
Seseorang ingin menjadi dokter tetapi tidak lolos. Jika profesi itu dianggap satu-satunya “jalan hidup”, kegagalan tersebut dapat terasa seperti runtuhnya seluruh arah hidup. Tetapi jika profesi dibaca sebagai SABĪL, tertutupnya satu avenue tidak sama dengan tertutupnya seluruh tujuan. Ia dapat menemukan jalur lain: kesehatan masyarakat, riset, biologi, pendidikan, farmasi, atau bidang lain yang tetap memungkinkan kontribusi menuju orientasi yang sama.
Inilah kekuatan praktis pembeda ṢIRĀṬ–SABĪL: tujuan dan alignment tidak disandera oleh satu jalur tertentu.
DEFINISI SABĪL
SABĪL — FUNCTIONAL LOCK WITH BOUNDARY: jalur, avenue, atau cara melalui mana gerak, tindakan, akses, atau perjalanan menuju sesuatu dapat berlangsung. SABĪL dapat tersedia, dilihat, diambil, ditempuh, dicari, dibuka, dihalangi, diputus, atau tidak tersedia sebagai ruang tindakan. Ia dapat bernilai positif atau negatif dan dapat muncul dalam bentuk singular maupun plural. “Pilihan” bukan semantic floor; “jalan yang benar” bukan semantic floor; dan SABĪL tidak boleh direduksi menjadi satu aktivitas tertentu dalam frasa FĪ SABĪL ALLĀH.
Pertanyaan operasional akhirnya adalah: “Melalui jalur atau cara apa saya dapat bergerak atau bertindak menuju sesuatu?” Pertanyaan itu sengaja berbeda dari pertanyaan ṢIRĀṬ: “Pada lintasan apa keseluruhan hidup saya disejajarkan, dan ke mana lintasan itu membawa?”
Dengan pembedaan ini, SABĪL berhenti menjadi sekadar sinonim “jalan”. Ia menjadi lensa untuk membaca akses dan kemungkinan gerak: jalur apa yang tersedia, jalur apa yang kita ambil, jalur apa yang terhalang, jalur apa yang harus dibuka, dan melalui jalur apa suatu orientasi benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan dalam kehidupan.
BAB 5 - ṬARĪQ DAN ṬARĪQAH: LINTASAN DAN POLA YANG MEMPUNYAI BENTUK
ṬARĪQ dan ṬARĪQAH tidak cukup dipahami sebagai “jalan” dalam arti fisik, dan tidak pula identik dengan SABĪL atau ṢIRĀṬ. Korpus akar طرق hanya sebelas kemunculan, tetapi justru keragamannya memaksa pembacaan yang lebih hati-hati. ṬARĪQ dapat berupa lintasan yang dibuat, dapat diarahkan oleh HUDĀ, dapat menuju Jahannam, dan dapat dikualifikasi MUSTAQĪM. ṬARĪQAH dapat menunjuk pola atau course yang dikenali, dinilai, dipertahankan, atau dilekatkan pada suatu kelompok; ṬARĀ’IQ dapat menyatakan pluralitas konfigurasi, bahkan pada struktur kosmik; sedangkan ṬĀRIQ pada QS 86:1–2 mengingatkan bahwa seluruh akar tidak boleh dipaksa masuk ke satu definisi “lintasan”. Karena itu yang dapat dikunci secara bertanggung jawab adalah fungsi ṬARĪQ/ṬARĪQAH dalam arsitektur perjalanan: lintasan atau pola yang mempunyai bentuk sehingga dapat ditempuh, dipertahankan, dikenali, atau menjadi course yang nyata dijalani. Pertanyaan operasionalnya adalah: “lintasan atau pola apa yang benar-benar sedang saya tempuh dan bentuk?”
Mengapa ṬARĪQ perlu dipisahkan dari kata “jalan”?
Pada pandangan pertama, ṬARĪQ tampak mudah. Terjemahan “jalan” terasa cukup, terutama ketika QS 20:77 berbicara tentang lintasan kering di laut. Tetapi begitu seluruh keluarga katanya diletakkan berdampingan, pengertian itu segera tidak memadai. Ada ṬARĪQ yang sangat konkret, ada ṬARĪQAH yang melekat pada pola atau cara suatu kelompok, ada ṬARĀ’IQ dalam bentuk plural yang dapat menunjuk keragaman susunan, dan ada ṬĀRIQ yang pada QS 86 dijelaskan oleh Al-Qur’an sebagai an-najm ats-tsāqib. Kecilnya korpus tidak membuat persoalannya lebih sederhana; justru setiap kemunculan menjadi sangat penting karena satu ayat dapat menggugurkan definisi yang terlalu cepat.
Pertanyaan awalnya karena itu bukan “apa arti ṬARĪQ dalam kamus?”, melainkan: apa yang membuat sesuatu layak disebut ṬARĪQ atau ṬARĪQAH dalam Al-Qur’an? Apakah inti keluarga طرق terletak pada benda bernama jalan, pada lintasan yang mempunyai bentuk, pada pola yang dapat dikenali, atau pada sesuatu yang lebih dasar? Mengapa ṬARĪQ dapat fisik sementara ṬARĪQAH dapat menjadi atribut pola? Mengapa ada ṬARĪQ MUSTAQĪM bila ṢIRĀṬ MUSTAQĪM sudah tersedia? Dan apa yang harus dilakukan terhadap ṬĀRIQ yang tidak dapat langsung dimasukkan ke dalam pengertian “jalan”? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dipertahankan karena dari sanalah batas kesimpulan dibangun.
Korpus kecil, tetapi tiga keluarga bentuk yang tidak boleh dicampur
Akar طرق muncul sebelas kali dalam tiga kelompok bentuk: ṬARĪQ, ṬARĪQAH/ṬARĀ’IQ, dan ṬĀRIQ. Ketiganya masih satu keluarga akar, tetapi kesamaan akar tidak memberi izin untuk menganggap seluruh derivatif sebagai sinonim. Metode yang lebih aman adalah membaca setiap bentuk dalam konstruksinya, kemudian mencari bagian mana yang benar-benar bertahan saat bentuk-bentuk itu dibandingkan.
ṬARĪQ dapat menjadi tujuan HUDĀ, tetapi nilainya tidak otomatis positif
QS An-Nisā’ 4:168
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَظَلَمُوا۟ لَمْ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula akan menunjukkan ṬARĪQ kepada mereka,”
QS An-Nisā’ 4:169
إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا
“Kecuali ṬARĪQ Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”
Pasangan dua ayat ini segera memberi dua informasi. Pertama, ṬARĪQ dapat berada dalam relasi dengan HUDĀ: manusia dapat “ditunjukkan” atau “diarahkan” kepada ṬARĪQ. Kedua, ṬARĪQ tidak membawa nilai positif secara otomatis, sebab Al-Qur’an mengenal ṬARĪQ Jahannam. Dengan demikian definisi “ṬARĪQ = jalan benar” gugur sejak awal. Seperti ṢIRĀṬ, nilai moral suatu ṬARĪQ datang dari tujuan, kualifikasi, dan konteksnya, bukan dari kata ṬARĪQ itu sendiri.
ṬARĪQ bukan otomatis lintasan yang benar. Ia adalah lintasan yang dapat mengarah kepada tujuan yang berbeda; nilai lintasan dibaca dari ke mana ia membawa dan bagaimana ia dikualifikasi.
Sebuah ṬARĪQ dapat dibuat: QS 20:77 dan pertanyaan tentang terbentuknya lintasan
QS Ṭā Hā 20:77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِى فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِى ٱلْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَـٰفُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pergilah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, maka buatlah bagi mereka ṬARĪQ yang kering di laut itu; kamu tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu takut tenggelam.’”
Ayat ini sangat penting karena ṬARĪQ bukan sekadar lintasan yang sudah tersedia. Dalam narasi Musa, suatu ṬARĪQ dapat dihasilkan melalui tindakan. Ini membatalkan anggapan bahwa “jalan” selalu harus ada terlebih dahulu lalu manusia tinggal memilihnya. Pada sebagian keadaan, lintasan baru menjadi nyata setelah suatu operasi dilakukan.
Tetapi ayat ini juga memberi pagar terhadap ḌARB. Konstruksi فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا menunjukkan ḌARB sebagai operasi yang menghasilkan atau membuat ṬARĪQ tersedia dalam konteks ini; ia tidak memberi izin untuk menyimpulkan bahwa setiap ḌARB berarti “membuat jalan”, apalagi bahwa semua tindakan adalah ḌARB. Justru ayat ini membantu memisahkan dua lapisan: tindakan yang dilakukan dan lintasan yang menjadi hasil atau medan tindakan tersebut.
Dari sini lahir pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ṬARĪQ terutama menandai sesuatu yang “telah mempunyai bentuk”? QS 20:77 mendukung arah itu karena setelah operasi dilakukan, muncul lintasan yang dapat ditempuh oleh suatu kelompok. Namun hipotesis ini masih harus diuji terhadap ṬARĪQAH dan ṬARĀ’IQ.
ṬARĪQ MUSTAQĪM: mengapa masih diperlukan jika ṢIRĀṬ MUSTAQĪM sudah ada?
QS Al-Aḥqāf 46:30
قَالُوا۟ يَـٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَـٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Mereka berkata: ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan sebuah Kitab yang diturunkan sesudah Musa, membenarkan apa yang sebelumnya, memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada ṬARĪQ yang mustaqīm.’”
Ayat ini merupakan kontrol penting terhadap cara kita membedakan diksi. MUSTAQĪM tidak eksklusif bagi ṢIRĀṬ. ṬARĪQ pun dapat MUSTAQĪM dan dapat menjadi objek HUDĀ. Karena itu perbedaan antara ṢIRĀṬ dan ṬARĪQ tidak dapat dirumuskan sebagai “ṢIRĀṬ adalah jalan lurus, ṬARĪQ adalah jalan biasa”. Korpus menolaknya.
Yang lebih menjanjikan adalah membedakan sisi yang disorot. Dalam seluruh uji terhadap ṢIRĀṬ, diksi itu kuat pada relasi keselarasan arah: menuju ṢIRĀṬ, berada di atas ṢIRĀṬ, berjalan di atasnya, mengikuti, atau menyimpang darinya. ṬARĪQ, sebaliknya, pada korpus kecil ini lebih kuat menunjukkan lintasan atau pola yang telah mempunyai konfigurasi sehingga dapat ditempuh atau dikenali. Perbedaan ini bukan arti kamus mutlak, melainkan functional distinction yang paling tahan ketika dua korpus disandingkan.
ṢIRĀṬ bertanya pada keselarasan arah perjalanan; ṬARĪQ bertanya pada lintasan atau pola yang benar-benar mempunyai bentuk untuk ditempuh.
Dari lintasan fisik menuju ṬARĪQAH: kapan “jalan” berubah menjadi pola?
Perubahan bentuk dari ṬARĪQ menjadi ṬARĪQAH tidak boleh dianggap sekadar perubahan gramatikal tanpa konsekuensi. QS 20:63 dan 20:104 menunjukkan bahwa ṬARĪQAH dapat dilekatkan pada cara atau pola yang dinilai. Ini memaksa kita keluar dari jalan fisik.
QS Ṭā Hā 20:63
قَالُوٓا۟ إِنْ هَـٰذَٰنِ لَسَـٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلْمُثْلَىٰ
“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya dua orang ini benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihir keduanya dan hendak melenyapkan ṬARĪQAH kalian yang dianggap paling utama.’”
Ayat ini menarik karena yang dikhawatirkan bukan hilangnya sebuah jalan fisik, melainkan hilangnya ṬARĪQAH yang mereka anggap al-muthlā. Terjemahan populer kadang membawanya kepada “kedudukan”, “cara hidup”, atau “tata kehidupan”. Korpus internal saja tidak cukup untuk memilih satu padanan modern secara mutlak. Tetapi satu hal dapat dikatakan dengan aman: ṬARĪQAH di sini adalah sesuatu yang dimiliki atau dilekatkan pada suatu komunitas dan mempunyai bentuk yang cukup jelas untuk dianggap dapat hilang atau digantikan.
Ini memperluas medan dari lintasan ruang menjadi pola sosial atau course yang dikenali. Karena itulah kita tidak boleh mereduksi ṬARĪQAH menjadi “kebiasaan pribadi”. Ia dapat merujuk pada pola yang lebih luas daripada individu.
QS Ṭā Hā 20:104
نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا
“Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika berkata orang yang paling baik/lurus ṬARĪQAH-nya di antara mereka: ‘Kalian tidak tinggal kecuali hanya sehari.’”
Di sini ṬARĪQAH menjadi sesuatu yang dapat dinilai melalui AMTHALUHUM ṬARĪQAH. Sekali lagi, yang dinilai bukan panjang jalan secara fisik. Ayat ini menunjukkan bahwa ṬARĪQAH dapat berfungsi sebagai atribut terhadap cara, pola, atau konfigurasi berpikir/bertindak suatu subjek. Itulah salah satu alasan mengapa final lock tidak berhenti pada “lintasan”, tetapi memakai pasangan “lintasan atau pola”.
ṬARĀ’IQ: pluralitas pola dan bahaya definisi yang terlalu antropologis
QS Al-Mu’minūn 23:17
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلْخَلْقِ غَـٰفِلِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh ṬARĀ’IQ, dan Kami tidak lengah terhadap ciptaan.”
Ayat ini menjadi counterexample bagi definisi yang terlalu berpusat pada perilaku manusia. ṬARĀ’IQ di sini berada pada ciptaan di atas manusia. Apa pun rincian referennya, ia menunjukkan bahwa plural ṬARĀ’IQ dapat menunjuk susunan atau lintasan yang berlapis/berkonfigurasi, bukan hanya “cara hidup manusia”. Karena itu, jika kita mengunci ṬARĪQAH sebagai “habit” atau “gaya hidup”, QS 23:17 langsung membuat definisi itu terlalu sempit.
QS Al-Jinn 72:11
وَأَنَّا مِنَّا ٱلصَّـٰلِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا
“Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada pula yang tidak demikian. Kami adalah ṬARĀ’IQ yang beragam.”
QS 72:11 memberi bentuk plural pada subjek sosial: ada keragaman ṬARĀ’IQ. Kata QIDADAN menegaskan keberagaman atau keterpisahan konfigurasi. Data ini memperkuat bahwa ṬARĀ’IQ dapat dipakai ketika perbedaan pola sudah cukup terbentuk untuk dikenali sebagai konfigurasi yang berbeda.
Dua ayat plural itu bekerja seperti dua kutub kontrol. QS 23:17 mencegah kita membuat definisi terlalu antropologis; QS 72:11 mencegah kita membuatnya terlalu fisik. Yang bertahan di antara keduanya adalah gagasan tentang konfigurasi atau course yang mempunyai bentuk.
“Berada di atas ṬARĪQAH”: pola yang dapat dipertahankan
QS Al-Jinn 72:16
وَأَلَّوِ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَـٰهُم مَّآءً غَدَقًا
“Dan sekiranya mereka tetap istiqāmah di atas ṬARĪQAH itu, niscaya Kami benar-benar memberi mereka air yang melimpah.”
Konstruksi عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ sangat penting. Ia memperlihatkan ṬARĪQAH sebagai sesuatu yang dapat menjadi medan posisi dan kesinambungan: subjek dapat berada “di atas” ṬARĪQAH dan beristiqāmah di atasnya. Ini menguatkan pembacaan ṬARĪQAH sebagai course atau pola yang dapat dipertahankan.
Tetapi ayat ini tidak memberi izin untuk mendefinisikan ṬARĪQAH sebagai “sesuatu yang sudah lama dilakukan”. Lama waktu bukan unsur yang disebut. Sebuah pola dapat sudah mempunyai bentuk sebelum seseorang menjalaninya bertahun-tahun. Karena itu kita harus membedakan “mempunyai bentuk dan dapat dipertahankan” dari “baru menjadi ṬARĪQAH setelah diulang lama”. Yang kedua adalah cerita modern yang terlalu rapi, bukan tuntutan korpus.
ṬĀRIQ: pagar yang mencegah root determinism
QS Aṭ-Ṭāriq 86:1
وَٱلسَّمَآءِ وَٱلطَّارِقِ
“Demi langit dan aṭ-Ṭāriq.”
QS Aṭ-Ṭāriq 86:2
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلطَّارِقُ
“Dan tahukah engkau apakah aṭ-Ṭāriq itu?”
QS Aṭ-Ṭāriq 86:3
ٱلنَّجْمُ ٱلثَّاقِبُ
“(Yaitu) bintang yang cahayanya menembus.”
QS 86:3 bukan kemunculan tambahan akar طرق, tetapi menjadi penjelas langsung bagi aṭ-Ṭāriq pada dua ayat sebelumnya. Justru di sinilah batas akar menjadi penting. Bila kita memaksa seluruh keluarga طرق menjadi “jalan”, ṬĀRIQ sulit dijelaskan. Bila kita sebaliknya memaksa satu abstraksi yang sangat luas agar dapat memuat semuanya, definisinya berisiko kehilangan daya pembeda.
Pertanyaan T01—apakah semantic floor akar ini terletak pada aktivitas melintas, menembus, atau membentuk lintasan—tetap menarik, tetapi belum layak dikunci dari data internal yang ada. Korpus memberi petunjuk, tetapi tidak cukup untuk mengubah hipotesis itu menjadi final lexical lock. Karena itu hasil penelitian harus dibatasi: yang dikunci adalah fungsi ṬARĪQ/ṬARĪQAH dalam arsitektur perjalanan, bukan satu definisi mutlak seluruh akar طرق.
Kesamaan akar menentukan medan yang harus dihormati, tetapi tidak memberi izin untuk memaksa setiap derivatif memiliki definisi operasional yang identik.
Definisi-definisi yang gugur
Beberapa rumusan terdengar intuitif, tetapi tidak mampu menanggung seluruh data. “ṬARĪQ adalah jalan fisik” gugur karena ṬARĪQAH pada QS 20:63 dan 20:104 jelas bekerja sebagai pola atau cara yang dinilai, sedangkan ṬARĀ’IQ pada QS 72:11 menunjuk keragaman konfigurasi. “ṬARĪQ adalah jalan yang benar” gugur karena QS 4:169 menyebut ṬARĪQ Jahannam. “ṬARĪQ adalah jalan lurus” juga tidak bertahan sebagai pembeda karena QS 46:30 harus menambahkan MUSTAQĪM, dan ṢIRĀṬ pun dapat menerima qualifier yang sama.
Rumusan lain yang juga harus ditolak adalah “ṬARĪQAH = kebiasaan”. Kebiasaan terlalu sempit: QS 23:17 memakai ṬARĀ’IQ untuk struktur di atas manusia, sementara QS 20:63 menunjukkan ṬARĪQAH yang dilekatkan pada pola suatu komunitas. Demikian pula “ṬARĪQAH = profesi” tidak cukup, sebab profesi hanya salah satu medan di mana pola perjalanan dapat terbentuk.
Terakhir, model temporal “SABĪL dipilih, kemudian setelah lama dijalani berubah menjadi ṬARĪQAH” juga harus ditolak sebagai hukum umum. Korpus tidak menampilkan urutan wajib seperti itu. SABĪL dan ṬARĪQAH dapat membaca objek yang sama dari dua sudut berbeda pada waktu yang sama.
ṬARĪQ dan SABĪL: sama-sama bisa “jalan”, tetapi pertanyaannya berbeda
SABĪL dan ṬARĪQ dapat sama-sama hadir dalam konteks konkret maupun nonfisik. Karena itu pembeda keduanya tidak boleh dicari hanya dari “fisik versus abstrak”. Dalam korpus SABĪL, pola yang paling kuat adalah avenue atau jalur akses: ia dapat tersedia, diambil, dicari, ditempuh, dihalangi, diputus, dan menjadi medan tindakan. Dalam korpus ṬARĪQ/ṬARĪQAH, pola yang lebih kuat adalah lintasan atau konfigurasi yang mempunyai bentuk sehingga dapat ditempuh, dikenali, dinilai, atau dipertahankan.
Objek yang sama karena itu dapat dibaca melalui dua lensa sekaligus. Sebuah profesi, misalnya, dapat menjadi SABĪL ketika pertanyaannya adalah “melalui jalur apa saya memperoleh penghidupan dan memberi kontribusi?” Tetapi profesi yang sama dapat dibaca sebagai ṬARĪQAH ketika pertanyaannya menjadi “pola profesional apa yang benar-benar saya bentuk dan jalani di dalam profesi itu?” Perbedaannya adalah sudut pembacaan, bukan usia objek.
SABĪL menyoroti akses atau avenue yang memungkinkan gerak; ṬARĪQAH menyoroti course atau pola yang sudah mempunyai bentuk untuk dijalani.
ṬARĪQ dan ṢIRĀṬ: lintasan yang ditempuh versus keselarasan arah
QS 46:30 memaksa kita membedakan ṬARĪQ dari ṢIRĀṬ tanpa bergantung pada MUSTAQĪM. Keduanya dapat lurus; keduanya dapat berada dalam jaringan HUDĀ. Namun keseluruhan distribusi menunjukkan titik tekan yang berbeda. ṢIRĀṬ kuat sebagai lintasan acuan yang menguji alignment: seseorang menuju, berada di atas, berjalan, mengikuti, atau menyimpang darinya. ṬARĪQ/ṬARĪQAH lebih kuat pada bentuk course atau pola yang ditempuh dan dikenali.
Dalam kehidupan, seseorang dapat mempunyai ṬARĪQAH kerja yang sangat disiplin—misalnya pola menganalisis, menguji, memperbaiki, dan mengevaluasi—tetapi ṢIRĀṬ keseluruhan hidupnya tetap harus diperiksa terpisah. Pola kerja yang efektif tidak otomatis membuktikan arah hidup yang benar. Sebaliknya, arah yang baik juga tidak otomatis menghasilkan pola kerja yang matang.
ṬARĪQAH dan MINHĀJ: pola yang dijalani tidak sama dengan cara yang jelas
Hubungan ini harus diberi batas karena MINHĀJ hanya satu kali muncul dalam Al-Qur’an. Namun secara operasional, perbedaannya tetap berguna. ṬARĪQAH menyoroti pola atau course yang benar-benar mempunyai bentuk dan dijalani; MINHĀJ pada QS 5:48 memberi sisi “cara/jalur yang jelas”, yang secara operasional dapat dipakai untuk membaca tata pelaksanaan.
Dengan demikian seseorang dapat mempunyai MINHĀJ yang dirancang dengan baik tetapi belum membentuk ṬARĪQAH yang stabil, atau sebaliknya menjalani ṬARĪQAH tertentu tanpa pernah merumuskan MINHĀJ-nya secara sadar. Ini adalah pembacaan operasional, bukan klaim bahwa Qur’an mengajarkan urutan temporal MINHĀJ lalu ṬARĪQAH.
Apa tepatnya yang ditanyakan oleh ṬARĪQ/ṬARĪQAH?
Setelah seluruh uji, pertanyaan yang paling mampu membedakan ṬARĪQ/ṬARĪQAH dari diksi lain bukan “jalan apa yang tersedia?”—itu lebih dekat kepada SABĪL—dan bukan “ke arah mana keseluruhan hidup disejajarkan?”—itu lebih dekat kepada ṢIRĀṬ. Pertanyaan ṬARĪQAH adalah:
“Lintasan atau pola apa yang benar-benar sedang saya tempuh dan bentuk?”
Kata “benar-benar” penting. ṬARĪQAH membawa perhatian dari niat dan pilihan abstrak kepada konfigurasi perjalanan yang nyata. Apa yang berulang dalam keputusan? Bagaimana masalah diselesaikan? Bagaimana relasi dibangun? Bagaimana ilmu digunakan? Pola apa yang dapat dilihat bila perjalanan seseorang dibaca bukan dari satu tindakan, melainkan dari course yang mulai mempunyai bentuk?
Medan operasional: dua orang pada SABĪL yang sama dapat membentuk ṬARĪQAH berbeda
Ambil dua dokter. Keduanya berada pada SABĪL profesi yang sama. Keduanya memiliki izin, pengetahuan dasar, dan akses kerja yang mirip. Tetapi pola yang terbentuk dapat sangat berbeda. Dokter pertama membangun course yang serba cepat: pasien datang, gejala dicatat, resep diberikan, selesai. Dokter kedua membentuk pola mendengar, memahami konteks, memeriksa, menjelaskan, merancang terapi, menilai hasil, dan terus belajar. SABĪL-nya dapat sama; ṬARĪQAH profesionalnya berbeda.
Hal yang sama berlaku pada guru, peneliti, pedagang, pemimpin, atau orang tua. ṬARĪQAH bukan nama profesinya, melainkan pola perjalanan yang benar-benar mempunyai bentuk di dalam profesi atau peran tersebut.
Major keilmuan: bidang ilmu sebagai SABĪL, pola keilmuan sebagai ṬARĪQAH
Seseorang memilih teknik, biologi, bahasa, atau ilmu komputer. Pilihan bidang itu dapat dibaca sebagai SABĪL keilmuan. Tetapi beberapa tahun kemudian akan terlihat pola yang terbentuk: apakah ia membaca data dengan teliti, mencari contoh tandingan, menguji asumsi, belajar dari kegagalan, atau justru hanya mengejar pembenaran terhadap kesimpulan awal? Pola inilah yang lebih tepat dibaca melalui ṬARĪQAH.
Karena itu dua orang dapat lulus dari jurusan yang sama, bekerja di laboratorium yang sama, bahkan memakai MINHĀJ penelitian yang sama di atas kertas, tetapi membentuk ṬARĪQAH keilmuan yang berbeda dalam praktik. Satu orang membangun pola keterbukaan terhadap koreksi; yang lain membangun pola defensif terhadap data yang tidak sesuai harapan.
Organisasi dan keluarga: ṬARĪQAH dapat bersifat kolektif
QS 20:63 penting karena ṬARĪQAH di sana bukan milik satu individu. Ini membuka medan operasional kolektif. Organisasi dapat mempunyai pola yang nyata: setiap masalah diselesaikan dengan menyembunyikan informasi, atau sebaliknya dengan membuka data dan mencari solusi bersama. Keluarga pun dapat mempunyai pola: konflik selalu dihindari, atau selalu dibicarakan; kesalahan selalu dihukum, atau digunakan untuk belajar. Pola-pola tersebut bukan sekadar satu keputusan, tetapi course yang mulai dapat dikenali.
Pembacaan kolektif ini juga mencegah kita mempersempit ṬARĪQAH menjadi “rutinitas personal”. Ia dapat menjadi struktur perilaku suatu komunitas selama pola itu benar-benar mempunyai bentuk yang dapat dikenali.
ṬARĪQAH yang mapan tidak otomatis berarti ṢIRĀṬ benar
Korpus menolak pengertian moral otomatis. Ada ṬARĪQ Jahannam. Maka pola yang sangat konsisten dapat tetap membawa kepada tujuan yang salah. Dalam kehidupan, seseorang dapat mempunyai sistem kerja yang efisien, disiplin tinggi, dan kebiasaan yang sangat stabil, tetapi menggunakan semua itu untuk manipulasi, eksploitasi, atau tujuan yang salah. Ketertiban pola tidak sama dengan kebenaran arah.
Inilah alasan mengapa lima lensa tidak boleh disusun sebagai ranking atau urutan. ṢIRĀṬ tetap memeriksa alignment; SABĪL memeriksa avenue; ṬARĪQAH memeriksa pola; SHARĪ‘AH memeriksa batas; MINHĀJ memeriksa cara yang jelas. Satu lensa tidak menggantikan yang lain.
Batas akar: apa yang belum boleh kita klaim
Ada satu godaan metodologis yang harus ditahan. Karena ṬARĪQ, ṬARĪQAH, ṬARĀ’IQ, dan ṬĀRIQ berasal dari akar yang sama, kita mungkin ingin mencari satu kalimat pendek yang menjelaskan semuanya. Tetapi korpus tidak memberi cukup data untuk mengunci satu semantic floor yang menelan seluruh derivatif tanpa sisa. ṬĀRIQ pada QS 86 menjadi pagar terpenting terhadap root determinism.
Karena itu final lock bab ini bersifat functional lock with root boundary. Yang dikunci bukan arti seluruh طرق, melainkan fungsi ṬARĪQ/ṬARĪQAH dalam arsitektur perjalanan. Pertanyaan tentang hubungan terdalam antara ṬĀRIQ dan konsep lintasan tetap terbuka untuk penelitian lebih lanjut dan tidak boleh ditutup hanya demi membuat model terlihat lebih rapi.
Rumusan yang akhirnya bertahan
Setelah seluruh pertanyaan, counterexample, dan uji silang dijalankan, rumusan yang paling tahan adalah: ṬARĪQ/ṬARĪQAH menyoroti lintasan, course, atau pola yang mempunyai bentuk sehingga dapat ditempuh, dipertahankan, dikenali, atau menjadi konfigurasi perjalanan yang nyata. Nilai moral tidak melekat otomatis; qualifier dan tujuan tetap menentukan. Rumusan ini sengaja tidak diperluas menjadi definisi seluruh akar طرق.
ṬARĪQ / ṬARĪQAH — lintasan atau pola yang mempunyai bentuk sehingga dapat ditempuh, dipertahankan, atau dikenali sebagai course/pola. Pertanyaan operasionalnya: “Lintasan atau pola apa yang benar-benar sedang saya tempuh dan bentuk?”
Kesimpulan ini juga membawa satu koreksi penting terhadap cara kita menceritakan perjalanan hidup. SABĪL tidak otomatis berubah menjadi ṬARĪQAH hanya karena sudah dijalani lama. Sebuah objek dapat sekaligus menjadi SABĪL dan ṬARĪQAH dari dua sudut pembacaan berbeda: sebagai SABĪL ketika ia dibaca sebagai jalur akses yang digunakan, dan sebagai ṬARĪQAH ketika ia dibaca sebagai pola atau course yang telah mempunyai bentuk.
Dengan demikian, ṬARĪQAH mengajarkan satu pertanyaan yang sering terlewat ketika manusia hanya berbicara tentang tujuan dan pilihan: bukan hanya ke mana kita ingin pergi dan melalui jalur apa kita memilih bergerak, tetapi pola seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun melalui cara hidup yang kita jalani setiap hari.
BAB 6 - SHARĪ‘AH, “SYAR‘I”, DAN MINHĀJ: KETENTUAN BUKAN METODE
Kajian ini membedakan tiga hal yang dalam bahasa sehari-hari sering bercampur: keluarga akar شرع, fungsi khusus SHIR‘AH/SHARĪ‘AH pada konteks DĪN dan AMR, serta istilah modern “syar‘i”. Korpus tidak mendukung penyamaan seluruh akar شرع dengan “hukum”, sebab QS Al-A‘rāf 7:163 memakai شُرَّعًا untuk ikan. Namun pada QS Ash-Shūrā 42:13, 42:21, QS Al-Mā’idah 5:48, dan QS Al-Jāthiyah 45:18, derivatif normatifnya menunjukkan fungsi yang stabil: sesuatu ditetapkan, ditempatkan sebagai kerangka, lalu diikuti. Karena itu SHIR‘AH/SHARĪ‘AH dalam konteks DĪN/AMR paling kuat dibaca sebagai kerangka ketentuan dan batas yang mengatur bagaimana suatu perjalanan dijalani. Istilah “syar‘i” bukan diksi Qur’ani langsung; secara operasional ia menunjuk kesesuaian suatu cara menjalani sesuatu terhadap kerangka itu. MINHĀJ harus dibedakan dari SHIR‘AH: ia hanya muncul sekali, berdampingan dengan SHIR‘AH pada QS 5:48, sehingga batas Qur’ani yang paling aman adalah “cara/jalur yang jelas”; pembacaan “metode pelaksanaan” berguna secara operasional, tetapi tidak boleh dinaikkan menjadi definisi leksikal mutlak.
Mengapa bagian ini harus dibaca lebih hati-hati?
Istilah “syariah” sudah sangat penuh oleh muatan modern. Ia dapat dipakai untuk hukum, ekonomi, pakaian, lembaga, produk, profesi, bahkan gaya hidup. Karena pemakaiannya begitu luas, ada bahaya besar: pemakaian modern dibawa kembali ke Al-Qur’an, lalu dianggap sebagai makna asal setiap kemunculan akar شرع. Kajian ini mengambil arah sebaliknya. Korpus dibaca terlebih dahulu, baru kemudian fungsi operasional ditarik keluar.
Pertanyaan awalnya sederhana: apa yang sesungguhnya dilakukan oleh شرع? Apakah ia memang berarti “hukum”? Jika iya, mengapa verba yang sama dapat digunakan bagi ketetapan yang tidak diizinkan Allah? Mengapa SHIR‘AH berdampingan dengan MINHĀJ? Bagaimana menjelaskan ikan yang datang شُرَّعًا? Dan jika “syar‘i” bukan bentuk Qur’ani, apa sebenarnya yang boleh kita maksud ketika menggunakan istilah itu?
Lima kemunculan keluarga شرع: korpus kecil yang justru menuntut disiplin
Akar شرع hanya muncul lima kali dalam Al-Qur’an, tetapi muncul dalam beberapa bentuk yang tidak semuanya normatif: شَرَعَ, شَرَعُوا, شِرْعَةً, شَرِيعَةٍ, dan شُرَّعًا. Karena korpusnya kecil, setiap kemunculan harus diperlakukan sebagai kontrol penting. Kita tidak boleh memilih empat ayat yang mendukung satu kesimpulan lalu mengabaikan ayat kelima yang membuat kesimpulan itu tidak nyaman.
QS Ash-Shūrā 42:13
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
“Dia telah menetapkan bagi kalian dari DĪN apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nūḥ, apa yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrāhīm, Mūsā, dan ‘Īsā: tegakkanlah DĪN dan janganlah berpecah-belah di dalamnya. Berat bagi orang-orang musyrik apa yang engkau serukan kepada mereka. Allah memilih kepada-Nya siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada-Nya siapa yang kembali.”
QS Ash-Shūrā 42:21
أَمْ لَهُمْ شُرَكَـٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ ٱلْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱلظَّـٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan bagi mereka dari DĪN sesuatu yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan pemisah, tentu telah diputuskan perkara di antara mereka. Dan sungguh, bagi orang-orang zalim ada azab yang pedih.”
QS Al-Mā’idah 5:48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya dari Kitab dan menjadi penjaga atasnya. Maka putuskanlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan jangan mengikuti hawa mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk masing-masing di antara kalian Kami jadikan SHIR‘AH dan MINHĀJ. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat, tetapi Dia hendak menguji kalian dalam apa yang telah diberikan kepada kalian. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kepada Allah kalian semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan.”
QS Al-Jāthiyah 45:18
ثُمَّ جَعَلْنَـٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami menempatkan engkau di atas suatu SHARĪ‘AH dari AMR; maka ikutilah ia dan jangan mengikuti hawa orang-orang yang tidak mengetahui.”
QS Al-A‘rāf 7:163
وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِى كَانَتْ حَاضِرَةَ ٱلْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِى ٱلسَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ
“Tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang berada di tepi laut ketika mereka melanggar pada hari Sabtu, ketika ikan-ikan mereka datang kepada mereka pada hari Sabtu dalam keadaan شُرَّعًا, sedangkan pada hari mereka tidak menjalankan Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka karena mereka berlaku fasik.”
Ayat kontrol: mengapa “SHARĪ‘AH = hukum” terlalu sempit
QS Al-A‘rāf 7:163 adalah pagar yang tidak boleh dilewati. Bila seluruh akar شرع didefinisikan sebagai “hukum”, bentuk شُرَّعًا pada ikan tidak dapat dijelaskan. Ikan-ikan itu tidak datang sebagai “hukum”. Karena itu, “hukum” mungkin menjadi salah satu medan penggunaan derivatif tertentu, tetapi tidak dapat dinaikkan menjadi batas makna dasar seluruh keluarga akar.
Di sinilah pentingnya membedakan semantic floor akar dari fungsi derivatif. Kajian ini tidak memaksa SHARĪ‘AH, SHIR‘AH, verba شَرَعَ, dan شُرَّعًا masuk ke satu definisi sempit. Yang dapat dikunci dengan cukup kuat justru fungsi derivatif normatifnya pada konteks DĪN/AMR. Dengan demikian kita menghindari dua kesalahan sekaligus: tidak mereduksi seluruh akar menjadi “hukum”, tetapi juga tidak kehilangan pola normatif yang memang nyata pada QS 42:13, 42:21, 5:48, dan 45:18.
Apa yang sesungguhnya dilakukan oleh شَرَعَ?
QS 42:13 dan 42:21 memberikan uji silang yang sangat penting. Pada QS 42:13, Allah menjadi subjek: شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ. Pada QS 42:21, pihak lain menjadi subjek: شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ. Verba yang sama dapat digunakan untuk sesuatu yang memperoleh otoritas ilahiah maupun sesuatu yang justru tidak diizinkan Allah.
Ini berarti kata شَرَعَ sendiri tidak menjamin kebenaran atau legitimasi. Yang menentukan adalah sumber, izin, dan otoritasnya. Dengan kata lain, tindakan ‘menetapkan suatu kerangka bagi DĪN’ dapat dilakukan oleh pihak berbeda; nilai normatifnya tidak terkandung otomatis dalam verba.
Korpus memaksa kita membedakan antara tindakan menetapkan kerangka dengan legitimasi kerangka itu. SHARĪ‘AH tidak menjadi sah hanya karena sesuatu telah ‘ditetapkan’; sumber dan otoritas penetapan tetap menentukan.
Dari penetapan menuju sesuatu yang harus ditegakkan
QS 42:13 tidak berhenti pada شَرَعَ. Setelah menyebut apa yang ditetapkan dari DĪN, ayat bergerak kepada perintah أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ — tegakkanlah DĪN — dan larangan وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ — jangan berpecah-belah di dalamnya. Struktur ini menunjukkan bahwa yang ditetapkan bukan sekadar informasi pasif. Ia memiliki konsekuensi praktis: ada sesuatu yang harus diwujudkan, dijaga, dan tidak dipecah.
Inilah alasan mengapa “kerangka pengatur” lebih kuat daripada sekadar “aturan”. Aturan dapat dibayangkan sebagai satu ketentuan tunggal. Kerangka pengatur memberi ruang bagi sekumpulan batas, arah, dan ketentuan yang memengaruhi cara sebuah urusan dijalankan dari awal sampai akhir.
SHARΑAH pada QS 45:18: berada di atas suatu kerangka dan diperintah mengikutinya
QS 45:18 memberikan pola yang sangat diagnostik: جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ — engkau ditempatkan di atas suatu SHARĪ‘AH — lalu فَٱتَّبِعْهَا — ikutilah ia. Ini bukan gambaran tentang satu syarat di pintu masuk, melainkan tentang suatu kerangka yang menjadi acuan sepanjang perjalanan.
Ayat itu juga memberi lawan operasionalnya: وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ. Dengan demikian, SHARĪ‘AH berfungsi sebagai acuan yang menahan perjalanan agar tidak digerakkan semata oleh hawa. Karena itu, dalam konteks ini, pembacaan ‘governing framework’ atau ‘kerangka pengatur’ mempunyai daya jelaskan yang kuat: ada sesuatu yang dijadikan acuan, diikuti, dan dipertentangkan dengan mengikuti hawa.
Apakah SHARΑAH lebih tepat dibaca sebagai kerangka perjalanan daripada tujuan perjalanan?
Pertanyaan ini muncul karena QS 5:48 dan QS 45:18 sama-sama menempatkan SHIR‘AH/SHARĪ‘AH pada sisi bagaimana sebuah urusan dijalani, bukan sebagai tujuan final perjalanan. QS 5:48 bahkan menegaskan di bagian akhir: إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا — kepada Allah kalian semua kembali. Jika Allah merupakan tempat kembali, maka SHIR‘AH dan MINHĀJ tidak perlu dibaca sebagai tujuan akhir; keduanya bekerja di dalam arsitektur perjalanan menuju tujuan tersebut.
Dengan demikian, SHARĪ‘AH bukan jawaban terhadap pertanyaan ‘ke mana saya menuju?’ Pertanyaan itu lebih dekat kepada ṢIRĀṬ. SHARĪ‘AH menjawab pertanyaan yang berbeda: dalam ketentuan dan batas apa perjalanan ini harus tetap dijalani?
Apakah “syar‘i” berarti “syarat”?
Tidak. Kesamaan bunyi dalam bahasa Indonesia mudah menyesatkan, tetapi “syar‘i” dan “syarat” tidak boleh disamakan. Dalam tulisan ini, akar kata cukup dibedakan pada level Arab: شرع dan شرط. Karena berbeda akar, tidak ada dasar untuk mendefinisikan “syar‘i” sebagai “sesuatu yang memenuhi syarat” hanya karena bunyinya berdekatan.
Namun gagasan ‘ketentuan yang harus dipenuhi ketika menjalani sesuatu’ memang berguna untuk menjelaskan fungsi SHARĪ‘AH. Bedanya harus dijaga. Syarat biasanya dibayangkan sebagai prasyarat yang harus dipenuhi agar sesuatu dapat dimulai atau dianggap sah. SHARĪ‘AH, dalam pembacaan operasional yang dibangun dari QS 45:18 dan QS 5:48, lebih luas: ia menjadi kerangka ketentuan yang terus membatasi dan mengarahkan cara suatu perjalanan dijalani.
Lalu apa sebenarnya yang dimaksud “syar‘i”?
Istilah “syar‘i” bukan bentuk yang muncul di dalam Al-Qur’an. Karena itu ia tidak boleh diperlakukan sebagai diksi Qur’ani yang memiliki definisi korpus tersendiri. Dalam tulisan ini, istilah tersebut hanya dipakai sebagai istilah operasional untuk menunjuk kesesuaian terhadap SHARĪ‘AH.
Syar‘i bukan nama benda, profesi, lembaga, atau produk. Syar‘i adalah status kesesuaian cara menjalani sesuatu terhadap kerangka SHARĪ‘AH yang menjadi acuannya.
Rumusan ini menghasilkan konsekuensi yang penting. Sebuah kegiatan tidak menjadi syar‘i hanya karena memakai nama Arab, simbol agama, atau label religius. Sebaliknya, aktivitas yang namanya sama sekali tidak religius tidak otomatis menjadi ‘tidak syar‘i’. Yang diuji adalah cara aktivitas itu dijalankan: apakah ia tunduk pada kerangka ketentuan yang menjadi acuannya.
Apakah SHARΑAH dapat disebut code of conduct?
Sebagai analogi fungsi, ungkapan ‘code of conduct’ atau ‘kode tata laku’ cukup membantu. Ia menangkap gagasan bahwa ada kerangka yang mengatur bagaimana suatu urusan dijalankan. Namun ‘kode etik’ terlalu sempit. Etika biasanya terdengar hanya menyangkut baik-buruk perilaku pribadi, sedangkan konteks DĪN/AMR pada QS 42:13 dan 45:18 lebih luas daripada etiket atau moralitas individual.
Karena itu istilah yang lebih aman dalam bahasa Indonesia adalah ‘kerangka ketentuan’, ‘kerangka pengatur’, atau ‘kode tata laku’ bila dipakai sebagai analogi. Tetapi analogi tidak boleh diubah menjadi terjemahan leksikal final. Yang dikunci adalah fungsinya, bukan satu padanan bahasa modern.
Mengapa SHIR‘AH dan MINHĀJ harus dibedakan?
QS 5:48 menjadi laboratorium utama. Ayat tidak mengatakan hanya شِرْعَةً, tetapi شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا. Dua nomina dipertahankan dalam konstruksi yang sama. Jika keduanya identik sepenuhnya, pertanyaan segera muncul: informasi apa yang diberikan MINHĀJ yang belum diberikan SHIR‘AH?
Di sinilah perbedaan fungsional mulai terlihat. SHIR‘AH paling kuat dibaca sebagai kerangka pengatur: ketentuan dan batas yang menata perjalanan. MINHĀJ memberi sisi ‘cara/jalur yang jelas’ untuk menjalankan perjalanan tersebut. Keduanya dapat bekerja bersama tanpa harus menjadi sinonim.
MINHĀJ: hanya satu kemunculan
Namun kehati-hatian pada MINHĀJ harus lebih besar daripada pada SABĪL atau ṢIRĀṬ. Akar نهج hanya muncul sekali dalam Al-Qur’an, yakni pada QS 5:48. Satu kemunculan dapat memberi petunjuk, tetapi tidak menyediakan ruang falsifikasi internal yang luas.
Karena itu ‘MINHĀJ = metode’ tidak boleh dikunci sebagai definisi leksikal final. Batas yang lebih aman adalah ‘cara/jalur yang jelas’. Dalam medan operasional, kata ‘metode’ dapat dipakai untuk membantu pembaca memahami fungsinya, tetapi harus selalu disebut sebagai pembacaan fungsional yang dibatasi bukti.
MINHĀJ bukan ṬARĪQAH, SABĪL, atau ṢIRĀṬ
MINHĀJ mudah tertukar dengan ṬARĪQAH karena keduanya sama-sama dapat diterjemahkan sebagai ‘cara’. Perbedaannya dapat dijaga secara fungsional: ṬARĪQAH menyoroti pola atau lintasan yang nyata dijalani dan mempunyai bentuk; MINHĀJ menyoroti cara yang jelas untuk menjalankan suatu urusan.
MINHĀJ juga tidak identik dengan SABĪL. SABĪL menjawab jalur akses atau avenue melalui mana gerak dan tindakan berlangsung. MINHĀJ menyoroti bagaimana jalur itu dijalankan dengan cara yang jelas. Seseorang dapat mempunyai SABĪL yang sama dengan orang lain, tetapi menggunakan MINHĀJ yang berbeda.
Dan MINHĀJ tidak menjawab pertanyaan ṢIRĀṬ. ṢIRĀṬ bertanya pada lintasan apa keseluruhan hidup disejajarkan dan ke mana ia membawa. MINHĀJ bertanya bagaimana perjalanan itu dikerjakan. Metode yang sangat baik tidak menjamin arah yang benar.
SHIR‘AH tanpa MINHĀJ, MINHĀJ tanpa SHIR‘AH
Pasangan شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا memungkinkan satu inferensi operasional yang penting. Jika seseorang hanya mempunyai SHIR‘AH, ia dapat mengetahui batas dan ketentuan tetapi belum tentu mempunyai cara yang jelas untuk mewujudkannya. Sebaliknya, seseorang dapat mempunyai MINHĀJ yang sangat rapi, sistematis, dan efektif, tetapi tanpa SHIR‘AH ia tidak mempunyai pagar yang menentukan apakah cara itu layak dijalankan.
Ini bukan terjemahan literal QS 5:48, melainkan pembacaan fungsi yang dibangun dari fakta bahwa Al-Qur’an mempertahankan dua nomina berbeda. Karena itu inferensi ini berguna untuk medan kehidupan, tetapi harus tetap disebut sebagai aplikasi operasional, bukan arti kamus.
Ketentuan tanpa cara pelaksanaan dapat berhenti sebagai daftar. Cara pelaksanaan tanpa ketentuan dapat menjadi sangat efektif, tetapi efektif menuju hal yang salah.
Satu SABĪL dapat berada di bawah kerangka SHARĪ‘AH yang berbeda
Perbedaan fungsi ini membantu membaca kehidupan dengan lebih tajam. Ambil satu SABĪL yang sama, misalnya bisnis. Dua orang dapat berada pada jalur bisnis yang sama, menjual produk serupa, memakai teknologi serupa, dan bahkan mempunyai ṬARĪQ profesional yang mirip. Tetapi cara mereka menjalankan bisnis dapat tunduk pada kerangka ketentuan yang berbeda.
Dengan demikian, ‘bisnis syar‘i’ tidak berarti bahwa benda bernama bisnis itu sendiri berubah menjadi objek religius. Pertanyaannya adalah apakah cara menjalankan bisnis itu sesuai dengan kerangka SHARĪ‘AH yang menjadi acuannya. Label tidak cukup; proses, batas, dan cara menjalankannya yang harus diperiksa.
Contoh: penelitian ilmiah
Dalam penelitian, SHARĪ‘AH dapat dibaca secara operasional sebagai batas pengatur: jangan memalsukan data, jangan mengklaim melebihi bukti, jangan menipu peserta, jangan mengorbankan hak tanpa dasar. MINHĀJ berada pada sisi berbeda: bagaimana pertanyaan dirumuskan, bagaimana data dikumpulkan, bagaimana hipotesis diuji, bagaimana contoh tandingan dicari, dan bagaimana kesimpulan ditarik.
Seorang peneliti dapat mempunyai MINHĀJ yang canggih tetapi melanggar kerangka pengatur. Ia mungkin menghasilkan penelitian yang efektif tetapi tidak dapat disebut selaras dengan kerangka yang dipersyaratkan. Sebaliknya, niat baik dan kepatuhan pada batas tidak otomatis menghasilkan penelitian yang baik bila MINHĀJ-nya buruk.
Contoh: pekerjaan dan organisasi
Dalam organisasi, SHARĪ‘AH tidak identik dengan SOP. SOP lebih dekat kepada prosedur, sedangkan SHARĪ‘AH berada pada tingkat batas dan ketentuan yang menentukan apakah suatu prosedur boleh dipakai. MINHĀJ dapat muncul sebagai cara yang jelas untuk menjalankan strategi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, atau mengevaluasi hasil.
Sebuah organisasi dapat mempunyai proses yang sangat efisien tetapi tetap bermasalah bila kerangka pengaturnya salah. Sebaliknya, organisasi dapat mempunyai nilai-nilai yang benar tetapi gagal menghasilkan manfaat karena cara pelaksanaannya tidak jelas. Perbedaan SHARĪ‘AH–MINHĀJ membuat kita dapat mengaudit kedua lapisan itu tanpa mencampurnya.
Contoh: keluarga dan pendidikan
Dalam keluarga, SHARĪ‘AH dapat dibaca melalui batas-batas yang menjaga hak, keadilan, amanah, dan larangan berbuat zalim. MINHĀJ berada pada sisi bagaimana pendidikan, komunikasi, pembagian tanggung jawab, dan penyelesaian konflik dijalankan.
Dua keluarga dapat mempunyai orientasi ṢIRĀṬ yang sama tetapi MINHĀJ pendidikan yang berbeda. Dua keluarga juga dapat memakai teknik pendidikan yang sama, tetapi kerangka nilai dan batas yang memandunya berbeda. Sekali lagi, metode tidak identik dengan ketentuan.
Mengapa model urutan waktu harus ditolak
Pada tahap awal mudah muncul model yang tampak rapi: ṢIRĀṬ dulu, lalu SABĪL, lalu ṬARĪQAH, kemudian SHARĪ‘AH, lalu MINHĀJ. Korpus tidak mendukung urutan wajib seperti itu.
SHARĪ‘AH dapat mengatur sebelum SABĪL dipilih dan selama SABĪL dijalani. MINHĀJ dapat diperbaiki di tengah perjalanan. ṬARĪQAH dapat berupa pola yang sudah tersedia dan dipilih, bukan selalu hasil akhir dari SABĪL yang dilakukan lama. SABĪL dapat berubah tanpa mengubah ṢIRĀṬ. Karena itu kelima lensa harus dibaca sebagai dimensi yang bekerja serentak, bukan anak tangga.
Apa yang sebenarnya ditanyakan oleh SHARĪ‘AH dan MINHĀJ?
Sesudah seluruh pengujian, pertanyaan SHARĪ‘AH menjadi lebih presisi. Ia tidak bertanya ‘ke mana saya menuju?’ dan tidak bertanya ‘jalur apa yang tersedia?’. Ia bertanya: dalam batas dan ketentuan apa perjalanan ini harus dijalani?
Pertanyaan SHARĪ‘AH: “Dalam batas dan ketentuan apa perjalanan ini harus dijalani?”
MINHĀJ menjawab pertanyaan yang berbeda. Ia tidak menentukan legitimasi kerangka, dan tidak menentukan orientasi akhir. Ia bertanya bagaimana perjalanan itu dikerjakan secara jelas.
Pertanyaan MINHĀJ: “Cara yang jelas seperti apa yang saya gunakan untuk menjalankannya?”
Apa yang sebenarnya dimaksud “syar‘i” dalam tulisan ini?
Karena ‘syar‘i’ bukan diksi Qur’ani langsung, istilah ini harus dipakai dengan disiplin. Ia tidak berarti ‘bernama Islam’, tidak berarti ‘memakai bahasa Arab’, tidak berarti ‘dijalankan oleh lembaga agama’, dan tidak otomatis berarti ‘memenuhi syarat administratif tertentu’.
Dalam kerangka kajian ini, ‘syar‘i’ hanya dipakai sebagai status kesesuaian: apakah cara menjalani suatu urusan tetap berada dalam SHARĪ‘AH yang menjadi kerangka pengaturnya. Dengan demikian, penilaiannya berada pada proses dan conformity, bukan pada label.
Definisi-definisi yang akhirnya gugur
Beberapa definisi tidak mampu bertahan ketika dibawa kepada seluruh data. Pertama, ‘SHARĪ‘AH = hukum’ terlalu sempit karena tidak menjelaskan شُرَّعًا pada QS 7:163. Kedua, ‘شَرَعَ = menetapkan hukum Allah’ gagal karena QS 42:21 menggunakan شَرَعُوا untuk sesuatu yang justru tidak diizinkan Allah. Ketiga, ‘syar‘i = syarat’ tidak dapat dipertahankan karena berbeda akar. Keempat, ‘SHARĪ‘AH = kode etik’ terlalu sempit karena konteks DĪN/AMR melampaui moralitas pribadi. Kelima, ‘MINHĀJ = metode’ terlalu keras sebagai definisi leksikal karena hanya satu occurrence.
Rumusan yang akhirnya bertahan
SHIR‘AH / SHARĪ‘AH — Dalam konteks DĪN/AMR, SHIR‘AH/SHARĪ‘AH berfungsi sebagai kerangka ketentuan dan batas yang ditetapkan untuk diikuti ketika suatu perjalanan dijalani. Ini adalah penguncian khusus derivatif, bukan definisi seluruh akar شرع.
“SYAR‘I” — Bukan diksi Qur’ani langsung. Dalam tulisan ini, ‘syar‘i’ dipakai secara operasional untuk menunjuk kesesuaian suatu cara menjalani sesuatu terhadap kerangka SHARĪ‘AH.
MINHĀJ — Batas Qur’ani yang paling aman adalah cara/jalur yang jelas. Pembacaan ‘metode atau tata cara pelaksanaan’ berguna secara operasional, tetapi tidak boleh dinaikkan menjadi definisi leksikal penuh karena bukti internalnya hanya satu kemunculan.
Kesimpulan Bab
SHARĪ‘AH dan MINHĀJ menjawab dua pertanyaan yang berbeda. SHARĪ‘AH menjaga batas perjalanan; MINHĀJ membantu menjelaskan cara menjalankannya. Syar‘i bukan label benda, tetapi status kesesuaian terhadap kerangka pengatur. Karena itu, satu aktivitas yang sama dapat memakai SABĪL yang sama dan bahkan ṬARĪQAH yang mirip, tetapi berbeda dalam kesesuaian terhadap SHARĪ‘AH dan berbeda dalam MINHĀJ yang dipakai.
Pembedaan ini penting karena manusia dapat sangat efektif tanpa berada dalam batas yang benar, dan dapat mempunyai batas yang benar tanpa mampu mewujudkannya secara baik. Dengan memisahkan ketentuan dari cara pelaksanaan, Al-Qur’an tidak hanya memberi bahasa untuk menilai apa yang dilakukan, tetapi juga bagaimana suatu perjalanan dijaga agar tidak kehilangan batas sekaligus tidak kehilangan kemampuan untuk diwujudkan.
BAB 7 - ḌARB: BUKAN “JALAN KEENAM”
ḌARB semula ikut diuji karena beberapa konstruksinya berada sangat dekat dengan bahasa perjalanan. Namun justru kedekatan itu akhirnya menunjukkan bahwa ia bukan anggota keenam dari keluarga ṢIRĀṬ–SABĪL–ṬARĪQAH–SHARĪ‘AH–MINHĀJ. Akar ضرب muncul 58 kali dalam Al-Qur’an dan menyebar pada konstruksi yang sangat beragam: memukul objek, menghadirkan perumpamaan, bergerak di bumi, memberlakukan suatu keadaan atas subjek, menutup atau memasang sesuatu, membentuk pembatas, menutupkan kain, hingga membentuk ṬARĪQ. Tidak ada satu padanan sederhana—‘memukul’, ‘berjalan’, ‘membuat’, atau bahkan ‘mengaktualkan’—yang mampu menjelaskan seluruh data tanpa menjadi terlalu sempit atau terlalu abstrak. Karena itu hasil akhirnya sengaja lebih disiplin: ḌARB bukan jenis jalan dan bukan nama semua tindakan; ia adalah keluarga tindakan/operasi yang manifestasi maknanya sangat ditentukan oleh konstruksi, objek, dan preposisi. Dalam arsitektur perjalanan hidup, ḌARB berfungsi sebagai diksi kontrol yang memisahkan ‘struktur perjalanan’ dari ‘operasi konkret yang terjadi di dalamnya’.
Mengapa ḌARB semula ikut masuk ke penelitian tentang ‘jalan’?
Alasannya bukan karena ḌARB tampak sama dengan ṢIRĀṬ atau SABĪL, melainkan karena beberapa ayat menempatkannya sangat dekat dengan istilah perjalanan. QS Ṭā Hā 20:77 mengatakan فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا. QS An-Nisā’ 4:94 menempatkan ضَرَبْتُمْ di dalam فِي سَبِيلِ اللَّهِ. QS Al-Baqarah 2:273 menyebut ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ. Jika pembacaan hanya berhenti pada terjemahan, mudah muncul kesan bahwa ḌARB adalah salah satu bentuk ‘jalan’ atau ‘perjalanan’.
Justru dari sinilah pertanyaan penelitian lahir: dalam konstruksi perjalanan, apakah ḌARB adalah jalan yang ditempuh, atau tindakan yang dilakukan? Jika ia jalan, mengapa QS 20:77 masih memerlukan ṬARĪQ sebagai objek? Jika ia SABĪL, mengapa QS 4:94 menempatkan ḌARB di dalam SABĪL? Dan jika ia sekadar berarti perjalanan, bagaimana kita menjelaskan puluhan ayat lain yang sama sekali tidak berbicara tentang berpindah tempat?
Tiga ayat kontrol yang memisahkan operasi dari jalan
QS Ṭā Hā 20:77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِى فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِى ٱلْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَـٰفُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
“Dan sungguh Kami wahyukan kepada Mūsā: pergilah pada malam hari bersama hamba-hamba-Ku, lalu buatlah bagi mereka ṬARĪQ yang kering di laut; engkau tidak perlu takut tersusul dan tidak perlu takut tenggelam.”
Ayat ini merupakan kontrol paling jelas. Verba ḌARB dan nomina ṬARĪQ hadir dalam satu konstruksi, tetapi keduanya tidak identik. ḌARB adalah operasi yang dilakukan; ṬARĪQ adalah lintasan yang menjadi objek atau hasil yang disediakan melalui operasi tersebut. Kalau ḌARB sendiri sudah berarti ‘jalan’, struktur فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا menjadi sulit dijelaskan.
QS An-Nisā’ 4:94
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَتَبَيَّنُوا۟ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَـٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فَعِندَ ٱللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bergerak di dalam SABĪL Allah, maka telitilah. Jangan berkata kepada orang yang mengucapkan salam kepada kalian, ‘Engkau bukan seorang mukmin’, karena kalian menginginkan keuntungan kehidupan dunia. Di sisi Allah terdapat banyak keuntungan. Demikian pula keadaan kalian dahulu, lalu Allah menganugerahkan karunia-Nya kepada kalian; maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Di sini ḌARB ditempatkan فِي سَبِيلِ اللَّهِ. Preposisi فِي penting: operasi berlangsung di dalam suatu SABĪL. Jadi SABĪL menjadi medan atau jalur yang menaungi tindakan, sedangkan ḌARB adalah tindakan yang terjadi di dalamnya. Ayat ini sendirian sudah cukup untuk menolak penyamaan ḌARB dengan SABĪL.
QS Al-Baqarah 2:273
لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَـٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
“(Infak itu) bagi orang-orang faqīr yang terhalang di dalam SABĪL Allah; mereka tidak mampu melakukan ḌARB di bumi. Orang yang tidak mengetahui menyangka mereka berkecukupan karena mereka menjaga diri. Engkau mengenali mereka dari tanda-tandanya; mereka tidak meminta kepada manusia dengan mendesak. Apa pun kebaikan yang kalian infakkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Konstruksi ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ menunjukkan ḌARB sebagai aktivitas yang seseorang mungkin mampu atau tidak mampu lakukan. Bumi bukan ḌARB; bumi adalah medan gerak. Begitu pula SABĪL Allah pada bagian awal ayat bukan ḌARB. Ketiga ayat kontrol ini bersama-sama memberi keputusan awal yang kuat: ḌARB bukan ṬARĪQ, bukan SABĪL, dan bukan nama jalan.
Jalan adalah struktur yang ditempuh atau menjadi medan. ḌARB, pada konstruksi-konstruksi ini, adalah operasi yang terjadi terhadap, di dalam, atau untuk menghasilkan struktur tersebut.
Pertanyaan yang memaksa definisi ḌARB terus diperbaiki
Setelah posisi ḌARB sebagai ‘jalan keenam’ mulai runtuh, masalah berikutnya justru lebih sulit: lalu apa batas makna yang dapat menaungi seluruh akar ضرب? Delapan pertanyaan digunakan sebagai rem. Jika ḌARB berarti ‘memukul’, bagaimana menjelaskan ضَرَبَ مَثَلًا? Jika ia berarti ‘perjalanan’, bagaimana menjelaskan ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ? Jika ia berarti ‘jalan’, mengapa QS 20:77 masih mengatakan فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا? Mengapa QS 4:94 dapat menempatkan ضَرَبْتُمْ di dalam فِي سَبِيلِ اللَّهِ? Mengapa QS 2:273 menjadikannya aktivitas yang mungkin tidak mampu dilakukan seseorang? Apa peran preposisi فِي, عَلَىٰ, عَنْ, بَيْنَ, instrumen بِـ, objek langsung, dan konstruksi مَثَلًا dalam mengubah manifestasinya? Dan akhirnya: apakah denominator abstrak seperti ‘membuat dampak atau konfigurasi menjadi berlaku’ justru terlalu luas sehingga hampir semua verba tindakan dapat dimasukkan ke dalamnya?
Mengapa “ḌARB = memukul” gagal
QS Al-Baqarah 2:26
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلْفَـٰسِقِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak segan menghadirkan suatu perumpamaan, berupa nyamuk atau yang lebih dari itu. Orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dari Rabb mereka, sedangkan orang-orang kafir berkata, ‘Apa yang Allah maksud dengan perumpamaan ini?’ Dengan itu banyak orang dibiarkan sesat dan banyak pula diberi petunjuk; dan tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali orang-orang fasik.”
Konstruksi يَضْرِبَ مَثَلًا tidak dapat dipadatkan menjadi ‘memukul perumpamaan’. Yang bekerja di sini adalah satu konstruksi idiomatik: ḌARB dengan objek مَثَلًا menghasilkan makna menghadirkan, mengemukakan, atau menetapkan perumpamaan dalam wacana. Ini adalah contoh pertama bahwa objek yang mengikuti verba sangat menentukan manifestasi maknanya.
QS Al-Baqarah 2:60
وَإِذِ ٱسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ فَقُلْنَا ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنفَجَرَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ مِن رِّزْقِ ٱللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
“Ketika Mūsā memohon air bagi kaumnya, Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah darinya dua belas mata air. Setiap kelompok telah mengetahui tempat minumnya. Makan dan minumlah dari rezeki Allah dan jangan berkeliaran di bumi dengan membuat kerusakan.”
Pada ayat ini, arti fisik ‘memukul’ memang bekerja. Ada objek langsung الْحَجَرَ dan instrumen بِعَصَاكَ. Tetapi justru karena makna fisik ini begitu jelas, ia menjadi kontrol yang baik: makna ‘memukul’ adalah salah satu manifestasi ḌARB, bukan batas yang menelan seluruh keluarga.
Ketika keadaan ‘diberlakukan’ atas subjek
QS Al-Baqarah 2:61
وَإِذْ قُلْتُمْ يَـٰمُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَٰحِدٍ فَٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ مِنۢ بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ ٱلَّذِى هُوَ أَدْنَىٰ بِٱلَّذِى هُوَ خَيْرٌ ۚ ٱهْبِطُوا۟ مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلْمَسْكَنَةُ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
“Ketika kalian berkata, ‘Wahai Mūsā, kami tidak akan sabar dengan satu macam makanan; maka mohonkanlah kepada Rabb-mu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi: sayurannya, mentimunnya, biji-bijiannya, kacang adasnya, dan bawangnya.’ Ia berkata, ‘Apakah kalian hendak mengganti yang lebih baik dengan yang lebih rendah? Turunlah ke suatu kota, maka kalian akan memperoleh apa yang kalian minta.’ Lalu dikenakan kepada mereka kehinaan dan maskanah, dan mereka kembali dengan kemurkaan dari Allah. Itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak; demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
Konstruksi وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ menggunakan preposisi عَلَىٰ dan bentuk pasif. Tidak ada objek yang sedang dipukul secara fisik. Yang tampil adalah suatu keadaan yang dikenakan, dilekatkan, atau diberlakukan atas subjek. Ini menunjukkan bahwa preposisi dan pola gramatikal mengubah medan manifestasi verba secara mendasar.
QS Āli ‘Imrān 3:112
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلْأَنۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
“Dikenakan kepada mereka kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali dengan ikatan dari Allah dan ikatan dari manusia. Mereka kembali dengan kemurkaan dari Allah dan dikenakan kepada mereka maskanah. Itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak. Demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
Ayat ini memperkuat keluarga konstruksi ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ. Kita tidak perlu memaksa semua kejadian ḌARB kembali kepada tindakan fisik. Korpus sendiri memperlihatkan bahwa verba dapat berfungsi untuk memberlakukan suatu konfigurasi keadaan atas subjek.
ḌARB dengan عَلَىٰ tidak selalu berarti keadaan sosial
QS Al-Kahf 18:11
فَضَرَبْنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمْ فِى ٱلْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا
“Maka Kami mengenakan/menutup atas telinga mereka di dalam gua selama beberapa tahun.”
Di sini kembali muncul عَلَىٰ, tetapi objek relasionalnya adalah telinga. Terjemahan literal ‘Kami memukul atas telinga mereka’ tidak bekerja. Konstruksi menghasilkan makna menutup atau membuat fungsi pendengaran tidak bekerja dalam periode tertentu. Ini membuktikan bahwa bahkan preposisi yang sama tidak cukup untuk menghasilkan satu arti tunggal; objek dan konteks tetap menentukan.
ḌARB dengan بَيْنَ: membuat pemisah menjadi berlaku
QS Al-Ḥadīd 57:13
يَوْمَ يَقُولُ ٱلْمُنَـٰفِقُونَ وَٱلْمُنَـٰفِقَـٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱنظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ٱرْجِعُوا۟ وَرَآءَكُمْ فَٱلْتَمِسُوا۟ نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُۥ بَابٌۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَـٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman, ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dikatakan, ‘Kembalilah ke belakang dan carilah cahaya.’ Lalu dipasang di antara mereka sebuah dinding yang mempunyai pintu; bagian dalamnya terdapat rahmat dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”
Konstruksi فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ memperlihatkan ḌARB bersama بَيْنَ dan instrumen/medium بِسُورٍ. Manifestasinya bukan pukulan dan bukan perjalanan, melainkan dibentuknya pemisah yang membuat dua sisi terpisah secara efektif.
ḌARB dengan عَنْ: menghentikan atau menyingkirkan dari jangkauan
QS Az-Zukhruf 43:5
أَفَنَضْرِبُ عَنكُمُ ٱلذِّكْرَ صَفْحًا أَن كُنتُمْ قَوْمًا مُّسْرِفِينَ
“Apakah Kami akan menyingkirkan dari kalian al-dhikr sama sekali hanya karena kalian adalah kaum yang melampaui batas?”
Di sini ḌARB berhubungan dengan عَنْ. Konstruksi bergerak pada gagasan menyingkirkan, memalingkan, atau menghentikan sesuatu dari menjangkau pihak tertentu. Lagi-lagi, makna tidak dapat diperoleh dari verba secara terisolasi; preposisi ikut membentuk struktur tindakan.
ḌARB dengan بِـ dan عَلَىٰ: menutupkan, bukan memukul
QS An-Nūr 24:31
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَـٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَـٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada perempuan-perempuan beriman agar mereka menahan pandangan, menjaga kehormatan, dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak; hendaklah mereka menutupkan kain penutup kepala mereka atas bagian dada mereka, dan tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada pihak-pihak yang disebutkan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.”
Ayat ini bahkan memuat dua konstruksi ḌARB yang berbeda. وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ berarti menutupkan atau menjulurkan kain atas bagian dada. Sementara وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ kembali mendekati tindakan menghentakkan kaki. Objek, instrumen, dan preposisi membuat dua manifestasi dalam satu ayat tidak identik.
ḌARB di bumi: gerak, kerja, dan mencari karunia
QS Al-Muzzammil 73:20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَىِ ٱلَّيْلِ وَنِصْفَهُۥ وَثُلُثَهُۥ وَطَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَٱللَّهُ يُقَدِّرُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِى ٱلْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَءَاخَرُونَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
“Sesungguhnya Rabb-mu mengetahui bahwa engkau berdiri kurang dari dua pertiga malam, atau separuhnya, atau sepertiganya, demikian pula sekelompok orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kalian tidak akan mampu menghitungnya dengan tepat, lalu Dia memberi keringanan kepada kalian. Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa di antara kalian akan ada yang sakit, yang lain bergerak di bumi mencari sebagian karunia Allah, dan yang lain berperang di dalam SABĪL Allah. Maka bacalah apa yang mudah darinya, tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. Apa pun kebaikan yang kalian dahulukan untuk diri kalian, kalian akan mendapatinya di sisi Allah lebih baik dan lebih besar pahalanya. Mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Konstruksi يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ memperlihatkan salah satu medan ḌARB yang paling dekat dengan perjalanan: bergerak di bumi untuk mencari karunia Allah. Namun ayat yang sama justru membantu menjaga batas. Ia menyebut kelompok lain يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. Gerak di bumi, qitāl, SABĪL, dan ḌARB tidak dilebur menjadi satu kata; masing-masing mempertahankan fungsi gramatikalnya.
Mengapa “ḌARB = perjalanan” juga gagal
Setelah melihat QS 2:273 dan 73:20, orang dapat tergoda mengganti definisi ‘memukul’ dengan ‘bergerak/perjalanan’. Tetapi solusi ini tidak bertahan. Ia tidak dapat menjelaskan ضرب مثلا, ضرب عليهم الذلة, فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ, atau فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ. Satu subset penggunaan tidak boleh dinaikkan menjadi arti seluruh akar.
Kesalahan metodologisnya sama dengan ketika SHARĪ‘AH langsung disamakan dengan ‘hukum’: salah satu medan penggunaan memang nyata, tetapi tidak cukup untuk menelan seluruh keluarga.
Mengapa denominator ‘aktualisasi’ akhirnya juga ditolak
Pada tahap tertentu kita sempat menguji rumusan yang lebih abstrak: mungkin ḌARB berhubungan dengan membuat suatu dampak, konfigurasi, atau keadaan menjadi berlaku. Rumusan ini tampak menarik karena dapat menjembatani memukul batu, menghadirkan perumpamaan, memberlakukan maskanah, memasang dinding, menutup telinga, dan membentuk ṬARĪQ.
Tetapi justru karena dapat menjelaskan terlalu banyak, rumusan itu kehilangan daya falsifikasi. Hampir setiap verba tindakan dapat digambarkan sebagai ‘membuat sesuatu menjadi berlaku’. Jika sebuah definisi dapat menjelaskan hampir semua hal, ia tidak lagi cukup tajam untuk membedakan ḌARB dari verba lain. Karena itu falsifikasi terakhir menolak ‘aktualisasi’ sebagai FINAL LOCK.
Definisi yang terlalu abstrak dapat terasa elegan, tetapi bila ia tidak lagi dapat gagal, ia berhenti menjadi alat analisis.
Peran konstruksi: objek dan preposisi bukan aksesori
Korpus ḌARB menunjukkan bahwa objek dan preposisi bukan sekadar tambahan gramatikal. Mereka ikut menentukan manifestasi makna. Dengan objek مَثَلًا, ḌARB menghadirkan perumpamaan. Dengan objek fisik dan instrumen بِعَصَاكَ, ia menjadi pukulan. Dengan عَلَىٰ dan keadaan seperti الذِّلَّة atau الْمَسْكَنَة, ia memberlakukan keadaan atas subjek. Dengan عَلَىٰ آذَانِهِمْ, ia menghasilkan penutupan fungsi. Dengan بَيْنَهُم dan بِسُورٍ, ia membentuk pemisah. Dengan عَنْ, ia menyingkirkan sesuatu dari jangkauan. Dengan فِي الْأَرْضِ, ia menjadi gerak di bumi. Dengan فِي سَبِيلِ اللَّهِ, ia adalah operasi yang berlangsung di dalam suatu SABĪL. Dengan طَرِيقًا sebagai objek pada QS 20:77, ia berhubungan dengan terbentuknya lintasan.
Karena itu pertanyaan yang paling bertanggung jawab terhadap ḌARB bukan ‘apa arti tunggal kata ini di semua tempat?’, melainkan ‘konstruksi apa yang sedang dibangun di ayat ini, objek apa yang terlibat, preposisi apa yang menghubungkan unsur-unsurnya, dan operasi apa yang dihasilkan oleh konfigurasi itu?’
ḌARB dan ṬARĪQ: tindakan dapat berhubungan dengan terbentuknya lintasan
QS 20:77 tetap memberi satu wawasan operasional yang sangat penting. Mūsā diperintahkan فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا. Tindakan dan ṬARĪQ hadir dalam satu konstruksi, tetapi tidak identik. Ini berarti suatu lintasan tidak selalu harus tersedia sebagai peta yang sudah selesai sebelum tindakan dimulai; dalam konteks tertentu, operasi nyata dapat ikut membuat lintasan menjadi tersedia.
Dalam kehidupan, wawasan ini dapat dibawa secara hati-hati: ada masa ketika seseorang belum melihat pola jalannya dengan lengkap, tetapi melalui kerja nyata, pengujian, keputusan, kegagalan, dan perbaikan, suatu ṬARĪQ mulai mempunyai bentuk. Namun aplikasi ini tidak boleh dibalik menjadi definisi bahwa setiap tindakan adalah ḌARB atau bahwa ḌARB selalu berarti ‘menciptakan jalan’.
ḌARB dan SABĪL: tindakan berlangsung di dalam jalur, bukan menjadi jalurnya
QS 4:94 memberi pembeda lain yang sangat berguna. SABĪL adalah medan jalur; ḌARB adalah operasi yang dilakukan di dalamnya. Ini menegaskan bahwa mengetahui SABĪL belum sama dengan bertindak. Seseorang dapat mengetahui jalur yang tersedia, tetapi belum tentu melakukan tindakan yang diperlukan di dalam jalur itu.
Sebaliknya, tindakan juga tidak otomatis menentukan kebenaran SABĪL. Operasi dapat sangat efektif, tetapi ia tetap harus dibaca bersama ṢIRĀṬ, SABĪL, SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ agar arah, jalur, batas, dan cara pelaksanaannya tidak hilang.
Mengapa ḌARB bukan ‘nama semua tindakan’
Setelah ḌARB dikeluarkan dari keluarga nama-jalan, muncul godaan baru: menjadikannya nama umum bagi ‘action’. Itu pun terlalu jauh. Al-Qur’an mempunyai banyak verba tindakan lain. Tidak ada dasar untuk mengganti seluruh lapisan tindakan manusia dengan satu akar ضرب.
Karena itu posisi ḌARB dalam arsitektur kajian ini bersifat kontrol, bukan universalisasi. Ia menunjukkan secara sangat jelas bahwa tindakan/operasi berbeda dari struktur perjalanan, tetapi tidak berarti setiap tindakan manusia harus diberi label ḌARB.
Apa yang sebenarnya ditanyakan oleh ḌARB?
Berbeda dari lima lensa utama, ḌARB tidak diberikan satu pertanyaan diagnostik yang sejajar dengan ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQAH, SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ. Jika kita memaksanya menjadi pertanyaan keenam—misalnya ‘apa yang benar-benar saya lakukan?’—kita berisiko menyamakan seluruh tindakan dengan ḌARB.
Pertanyaan ‘apa yang sungguh dikerjakan?’ tetap penting pada lapis kehidupan, tetapi itu adalah pertanyaan umum tentang tindakan aktual. Untuk ḌARB sendiri, pertanyaan penelitian yang lebih aman adalah: ‘operasi apa yang sedang diwujudkan oleh konstruksi ضرب pada ayat ini, melalui objek dan relasi gramatikal apa?’
ḌARB bukan lensa keenam perjalanan. Ia adalah pengingat bahwa peta perjalanan dan operasi konkret di dalam peta itu bukan hal yang sama.
Medan operasional: rencana tidak sama dengan tindakan
Seseorang dapat mempunyai ṢIRĀṬ yang jelas, SABĪL yang tersedia, ṬARĪQAH yang ingin dibangun, batas SHARĪ‘AH yang ia pahami, dan MINHĀJ yang rapi. Tetapi seluruh struktur itu belum identik dengan tindakan nyata. Ia masih perlu belajar, bekerja, menguji, menolong, merancang, menulis, memperbaiki, atau melakukan operasi konkret lain.
Di sini ḌARB berguna sebagai kontrol konseptual. Ia mengingatkan bahwa kajian ‘jalan’ tidak boleh berhenti menjadi peta yang indah. Namun kita tetap tidak mengatakan bahwa semua kerja nyata tersebut adalah ḌARB. Yang kita ambil adalah pembedaan lapis: struktur perjalanan berbeda dari tindakan aktual.
Contoh: pekerjaan dan profesi
Seorang insinyur dapat menjadikan profesinya sebagai SABĪL. Pola pemecahan masalah yang terbentuk dapat dibaca sebagai ṬARĪQAH. SHARĪ‘AH menjaga batas yang tidak boleh dilanggar, dan MINHĀJ menata cara kerja. Tetapi pekerjaan baru menghasilkan sesuatu ketika ada operasi konkret: mengumpulkan data, menguji desain, memperbaiki sistem, atau menyelesaikan masalah.
Pembedaan ini penting karena orang dapat mempunyai strategi yang bagus tanpa pernah mengeksekusinya. Dalam bahasa kajian ini, peta perjalanan tidak boleh disamakan dengan operasi yang membuat perubahan benar-benar terjadi.
Contoh: bidang ilmu dan penelitian
Seseorang dapat memilih ilmu sebagai SABĪL dan membentuk ṬARĪQAH belajar tertentu. Ia dapat memiliki MINHĀJ riset yang jelas dan batas SHARĪ‘AH yang kuat. Tetapi ilmu berkembang melalui operasi konkret: membaca, menguji, mengukur, memeriksa contoh tandingan, menulis, dan merevisi. Sekali lagi, ḌARB tidak menjadi nama bagi seluruh operasi itu; ia hanya membantu kita menyadari bahwa metode dan pelaksanaan bukan lapisan yang sama.
Contoh: ketika jalan justru terbentuk sambil berjalan
Ada fase hidup ketika manusia mengetahui arah besar tetapi belum mempunyai lintasan yang matang. Seorang peneliti memasuki bidang baru, seorang pekerja membangun profesi baru, atau sebuah organisasi masuk ke pasar baru. SABĪL mungkin sudah terlihat, tetapi ṬARĪQAH belum mempunyai bentuk yang stabil.
QS 20:77 memberi analogi operasional yang kuat: tindakan dapat berhubungan dengan tersedianya ṬARĪQ. Dalam kehidupan, kerja nyata dapat membentuk pola yang sebelumnya belum terlihat. Namun ketelitian metodologis tetap harus dijaga: ini adalah wawasan aplikasi dari relasi ḌARB–ṬARĪQ pada satu ayat, bukan definisi universal akar ضرب.
Definisi-definisi yang akhirnya gugur
Pertama, ‘ḌARB = jalan’ gugur karena QS 20:77 memisahkan verba ḌARB dari objek ṬARĪQ dan QS 4:94 menempatkannya di dalam SABĪL. Kedua, ‘ḌARB = memukul’ gugur karena tidak dapat menjelaskan ضرب مثلا, ضرب عليهم, ضرب على آذانهم, ضرب بينهم بسور, atau ضرب في الأرض. Ketiga, ‘ḌARB = perjalanan’ gugur karena tidak dapat menjelaskan konstruksi perumpamaan, pemukulan batu, pemberlakuan keadaan, dan pemasangan pembatas. Keempat, ‘ḌARB = aktualisasi’ ditolak sebagai final lock karena terlalu abstrak dan hampir tidak dapat difalsifikasi.
Rumusan yang akhirnya bertahan
FINAL LOCK ḌARB — ḌARB bukan jenis jalan dan bukan nama semua tindakan. Ia adalah keluarga tindakan/operasi yang manifestasi maknanya sangat ditentukan oleh konstruksi, objek, preposisi, dan relasi gramatikal.
Konsekuensinya bagi arsitektur kajian juga dikunci: ḌARB dikeluarkan dari lima lensa utama. ṢIRĀṬ membaca keselarasan arah; SABĪL membaca jalur akses; ṬARĪQAH membaca lintasan/pola yang mempunyai bentuk; SHARĪ‘AH membaca kerangka ketentuan; MINHĀJ membaca cara yang jelas. ḌARB tidak menjadi ‘jalan keenam’. Ia menjadi kontrol yang menegaskan bahwa operasi aktual berada pada lapis yang berbeda dari peta perjalanan.
Kajian ḌARB justru memberi pelajaran metodologis yang penting: tidak setiap kata yang muncul di dekat istilah perjalanan harus dipaksa masuk ke keluarga ‘jalan’. QS 20:77, 4:94, dan 2:273 memisahkan operasi dari ṬARĪQ, SABĪL, dan medan bumi. Korpus yang lebih luas kemudian memperlihatkan betapa bergantungnya ضرب pada konstruksi: ia dapat memukul, menghadirkan perumpamaan, memberlakukan keadaan, menutup, memasang pemisah, bergerak di bumi, atau berhubungan dengan terbentuknya lintasan.
Karena itu keberhasilan kajian ini bukan menemukan satu arti yang memaksa semua ayat masuk ke satu kotak. Keberhasilannya justru terletak pada kemampuan menerima bahwa satu akar dapat mempunyai manifestasi yang harus dibaca melalui konstruksi, dan bahwa batas terbaik kadang bukan definisi yang paling luas, melainkan keputusan tentang apa yang tidak boleh kita klaim.
Setelah arah, jalur, pola, batas, dan cara dipahami, manusia tetap harus bertindak. Tetapi tindakan tidak boleh dicampur dengan jalan, dan ḌARB tidak boleh dipaksa menjadi nama bagi seluruh tindakan.
BAB 8 - UJI SILANG: KETIKA DIKSI-DIKSI ITU BERTEMU
Makna sebuah diksi paling mudah terasa meyakinkan ketika ia dibaca sendirian. Ujian yang lebih keras justru datang ketika dua atau lebih diksi muncul dalam lingkungan semantik yang sama. Pada titik itulah Al-Qur’an sendiri menjadi penguji terhadap definisi yang kita bangun. Jika ṢIRĀṬ dan SABĪL benar-benar sinonim, mengapa keduanya dipertahankan dalam satu ayat? Jika SHIR‘AH dan MINHĀJ sama-sama hanya berarti ‘jalan’ atau ‘aturan’, mengapa keduanya diletakkan berdampingan? Jika ḌARB adalah salah satu jenis jalan, mengapa ia justru menjadi verba yang bekerja terhadap ṬARĪQ atau berlangsung di dalam SABĪL? Uji silang menghasilkan satu kesimpulan besar: ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQ/ṬARĪQAH, SHIR‘AH/SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ lebih tepat dibaca sebagai lensa yang berbeda terhadap perjalanan yang sama, bukan sebagai tahapan waktu yang wajib dan bukan pula sebagai sinonim yang dapat saling menggantikan. ḌARB berada di lapis operasi, bukan sebagai lensa jalan keenam.
Mengapa uji silang diperlukan?
Pada bab-bab sebelumnya setiap diksi diuji terhadap korpusnya sendiri. Cara itu penting, tetapi belum cukup. Definisi yang tampak kokoh ketika berdiri sendiri masih bisa runtuh ketika berhadapan dengan diksi lain dalam satu ayat. Ayat yang mempertemukan beberapa diksi adalah laboratorium minimal yang sangat kuat: Al-Qur’an sendiri mempertahankan perbedaan kata di dalam konteks yang sama.
Karena itu pertanyaan pada tahap ini berubah. Kita tidak lagi hanya bertanya ‘apa arti ṢIRĀṬ?’ atau ‘apa arti SABĪL?’. Kita bertanya: apa informasi yang masih diberikan oleh satu diksi setelah diksi lain sudah hadir? Jika dua kata dapat dipertukarkan tanpa mengubah struktur makna, pembedaan kita mungkin semu. Jika pertukaran itu membuat ayat kehilangan nuansa atau menjadi janggal, berarti masing-masing membawa fungsi yang tidak sama.
Hipotesis awal yang harus diuji, bukan dipercayai
Pada tahap awal sempat muncul model yang tampak rapi: orientasi → pilihan akses → lintasan yang dijalani → ketentuan perjalanan → metode. Model ini menarik karena mudah divisualkan, tetapi justru karena terlalu rapi ia harus dicurigai. Al-Qur’an tidak pernah mengatakan bahwa manusia harus melewati lima istilah itu dalam urutan waktu yang tetap.
Uji silang harus menjawab dua pertanyaan sekaligus. Pertama, apakah pembedaan fungsi antar-diksi bertahan? Kedua, apakah hubungan antar-diksi memang linear, atau justru bekerja serentak pada objek dan perjalanan yang sama?
Uji 1 — QS 5:16: SUBUL AL-SALĀM dan ṢIRĀṬ MUSTAQĪM berada dalam satu ayat
QS Al-Mā’idah 5:16
يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dengan itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju SUBUL al-Salām, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan memberi petunjuk kepada mereka menuju ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
Ayat ini segera menggagalkan penyamaan SABĪL dan ṢIRĀṬ. Dalam satu rangkaian HUDĀ, Allah menunjuki manusia kepada SUBUL al-Salām dan juga kepada ṢIRĀṬ mustaqīm. Jika keduanya sinonim penuh, pengulangan dua diksi berbeda dalam satu kalimat menjadi sulit dijelaskan.
Namun ayat ini juga mencegah model hierarkis yang terlalu cepat. Kita belum boleh mengatakan bahwa SUBUL adalah jalan kecil yang pasti bermuara kepada satu ṢIRĀṬ besar. Korpus tidak memberi rumus ukuran seperti itu. Yang lebih bertahan adalah perbedaan fungsi: SABĪL menyoroti jalur akses atau avenue melalui mana gerak berlangsung; ṢIRĀṬ menyoroti lintasan acuan yang membaca keselarasan arah.
Hasil uji QS 5:16: SABĪL dan ṢIRĀṬ dapat berada dalam satu perjalanan tanpa menjadi sinonim. Perbedaannya lebih kuat pada fungsi pembacaan daripada pada ukuran besar-kecil.
Uji 2 — QS 6:153: ṢIRĀṬĪ, SUBUL, dan SABĪLIHI dalam satu argumentasi
QS Al-An‘ām 6:153
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa inilah ṢIRĀṬ-Ku dalam keadaan mustaqīm, maka ikutilah ia. Janganlah kalian mengikuti SUBUL sehingga jalur-jalur itu mencerai-beraikan kalian dari SABĪL-Nya. Demikianlah Dia mewasiatkan hal itu kepada kalian agar kalian bertakwa.”
Ayat ini lebih sulit daripada QS 5:16 karena dalam satu ayat muncul tiga konstruksi: ṢIRĀṬĪ, SUBUL, dan SABĪLIHI. Ia menolak dua simplifikasi sekaligus. Pertama, tidak benar bahwa ṢIRĀṬ selalu tunggal dan baik sedangkan SUBUL selalu plural dan buruk, karena QS 29:69 justru berbicara tentang SUBULANĀ—jalan-jalan Kami. Kedua, tidak aman mengatakan ṢIRĀṬ adalah jalan besar dan SABĪL adalah cabang kecil, sebab ayat ini menutup dengan SABĪLIHI sebagai sesuatu yang manusia dapat tercerai darinya.
Perbedaan yang bertahan kembali bersifat fungsi. ṢIRĀṬ menyoroti course yang harus diikuti sebagai acuan alignment. SUBUL menyoroti jalur-jalur yang dapat ditempuh dan, pada ayat ini, dapat memecah. SABĪLIHI menyoroti medan jalur yang seseorang dapat tetap berada di dalamnya atau tercerai darinya.
Hasil uji QS 6:153: hubungan ṢIRĀṬ–SABĪL tidak boleh diringkas menjadi tunggal-jamak, besar-kecil, atau utama-cabang. Yang bertahan adalah perbedaan fungsi.
Uji 3 — QS 12:108: SABĪL sebagai cara operasional menuju Allah
QS Yūsuf 12:108
قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: inilah SABĪL-ku; aku mengajak kepada Allah di atas baṣīrah, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”
Ayat ini penting karena memisahkan jalur dari tujuan. Allah disebut sebagai arah seruan—أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ—sementara ‘inilah SABĪL-ku’ memberi sisi cara atau avenue melalui mana seruan itu dijalankan. Dengan demikian SABĪL tidak perlu disamakan dengan tujuan akhir. Ia lebih kuat sebagai jalan operasional menuju sesuatu.
Uji ini juga memperkuat pembedaan dengan ṢIRĀṬ. ṢIRĀṬ menanyakan alignment keseluruhan perjalanan; SABĪL dapat menjelaskan channel konkret yang dipakai untuk bergerak atau mengajak menuju tujuan tersebut.
Uji 4 — QS 16:9: SABĪL memiliki nilai arah, tetapi tidak intrinsik selalu lurus
QS An-Naḥl 16:9
وَعَلَى ٱللَّهِ قَصْدُ ٱلسَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَهَدَىٰكُمْ أَجْمَعِينَ
“Dan atas Allah penjelasan arah SABĪL, dan di antaranya ada yang menyimpang. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memberi petunjuk kepada kalian semuanya.”
Ayat ini menjadi kontrol terhadap anggapan bahwa SABĪL sendiri selalu positif. Di antara SABĪL ada yang jair—menyimpang. Maka nilai moral dan directional tidak boleh diselundupkan ke dalam kata SABĪL sebagai definisi bawaan.
Konstruksi ini juga memperlihatkan bahwa SABĪL dapat berbicara tentang avenue yang mempunyai kualitas arah. Ini tidak membuatnya identik dengan ṢIRĀṬ; justru mengingatkan bahwa beberapa lensa dapat menyinggung medan yang sama dari sudut berbeda.
Uji 5 — QS 16:69: plural SUBUL tidak identik dengan pilihan moral manusia
QS An-Naḥl 16:69
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Kemudian makanlah dari berbagai buah-buahan dan tempuhlah SUBUL Rabb-mu yang dimudahkan. Dari perutnya keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat penyembuhan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.”
Ayat ini menggugurkan definisi SABĪL sebagai ‘pilihan’. Lebah menempuh SUBUL Rabb-nya, tetapi ayat tidak sedang membahas deliberasi moral seperti pada manusia. Maka unsur yang lebih dasar adalah adanya jalur yang dapat ditempuh, bukan proses memilih.
Ayat ini juga menghancurkan anggapan bahwa pluralitas jalur adalah tanda penyimpangan. SUBUL dapat diatribusikan kepada Rabb dan tetap plural.
Uji 6 — QS 29:69: satu orientasi tidak memerlukan hanya satu SABĪL
QS Al-‘Ankabūt 29:69
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka SUBUL Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.”
SUBULANĀ adalah salah satu ayat paling penting untuk menolak narasi ‘satu jalan benar versus banyak jalan salah’. Allah sendiri menyebut SUBUL dalam bentuk plural sebagai jalur yang akan ditunjukkan.
Dalam medan operasional, ayat ini membuka ruang untuk memahami bahwa satu alignment kepada Allah dapat diwujudkan melalui banyak jalur kontribusi. Pekerjaan, pendidikan, keluarga, riset, pelayanan, dan bentuk kontribusi lain dapat menjadi SABĪL berbeda tanpa harus mengubah ṢIRĀṬ.
Uji 7 — QS 5:48: SHIR‘AH dan MINHĀJ sengaja dipertahankan berdampingan
QS Al-Mā’idah 5:48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya dari Kitab dan menjadi penjaga atasnya. Maka putuskanlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan jangan mengikuti hawa mereka dari kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk masing-masing di antara kalian Kami jadikan SHIR‘AH dan MINHĀJ. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat, tetapi Dia hendak menguji kalian dalam apa yang telah diberikan kepada kalian. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kepada Allah kalian semua kembali, lalu Dia memberitahukan apa yang dahulu kalian perselisihkan.”
Konstruksi شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا adalah bukti langsung bahwa dua istilah ini tidak boleh ditelan menjadi satu. Jika SHIR‘AH sudah cukup untuk memberi seluruh informasi tentang ‘cara’, MINHĀJ menjadi tidak diperlukan. Sebaliknya, jika MINHĀJ sudah berarti seluruh sistem aturan, SHIR‘AH kehilangan fungsi.
Pembedaan fungsional yang paling aman adalah: SHIR‘AH memberi sisi kerangka pengatur—batas dan ketentuan—sedangkan MINHĀJ memberi sisi cara/jalur yang jelas untuk menjalankannya. Namun batas bukti tetap penting: MINHĀJ hanya muncul sekali, sehingga ‘metode’ dipakai sebagai pembacaan operasional, bukan definisi leksikal mutlak.
Ayat ini juga memberi kontrol terhadap tujuan akhir: setelah menyebut SHIR‘AH dan MINHĀJ, ayat tetap menegaskan إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا. Keduanya bukan tujuan final; keduanya bekerja di dalam cara perjalanan dijalani.
Uji 8 — QS 42:13: SHARĪ‘AH bekerja sebagai kerangka dalam DĪN, bukan tujuan
QS Ash-Shūrā 42:13
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
“Dia telah menetapkan bagi kalian dari DĪN apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nūḥ, apa yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrāhīm, Mūsā, dan ‘Īsā: tegakkanlah DĪN dan jangan berpecah-belah di dalamnya. Berat bagi orang-orang musyrik apa yang engkau serukan kepada mereka. Allah memilih kepada-Nya siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada-Nya siapa yang kembali.”
Ayat ini menempatkan شَرَعَ pada relasi dengan DĪN dan kemudian memerintahkan penegakannya. Yang disorot bukan pilihan channel seperti SABĪL dan bukan alignment seperti ṢIRĀṬ, melainkan sesuatu yang ditetapkan sebagai kerangka untuk dijalani.
Uji silang dengan QS 42:21—yang menggunakan شَرَعُوا untuk sesuatu yang tidak diizinkan Allah—menunjukkan bahwa tindakan menetapkan kerangka tidak otomatis menjamin legitimasi. Sumber dan otoritasnya tetap menentukan.
Uji 9 — QS 45:18: SHARĪ‘AH sebagai acuan yang diikuti, bukan sekadar syarat awal
QS Al-Jāthiyah 45:18
ثُمَّ جَعَلْنَـٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami menempatkan engkau di atas suatu SHARĪ‘AH dari AMR; maka ikutilah ia dan jangan mengikuti hawa orang-orang yang tidak mengetahui.”
Konstruksi عَلَىٰ شَرِيعَةٍ lalu فَٱتَّبِعْهَا menegaskan bahwa SHARĪ‘AH bukan sekadar prasyarat sebelum perjalanan dimulai. Ia menjadi acuan yang diikuti selama perjalanan. Karena itu istilah ‘syar‘i’ lebih tepat dipakai sebagai status conformity—kesesuaian cara menjalani sesuatu dengan kerangka tersebut—bukan sebagai sinonim ‘syarat’.
Uji 10 — QS 20:77: ḌARB dan ṬARĪQ berada dalam satu konstruksi tetapi tidak identik
QS Ṭā Hā 20:77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِى فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِى ٱلْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَـٰفُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
“Dan sungguh Kami wahyukan kepada Mūsā: pergilah pada malam hari bersama hamba-hamba-Ku, lalu buatlah bagi mereka ṬARĪQ yang kering di laut; engkau tidak perlu takut tersusul dan tidak perlu takut tenggelam.”
Ayat ini memberi uji silang yang sangat bersih. ḌARB adalah verba yang dilakukan; ṬARĪQ menjadi lintasan yang disediakan/dihasilkan. Dengan demikian ḌARB tidak dapat dimasukkan sebagai jenis jalan keenam.
Namun ayat ini tetap memberi wawasan operasional: lintasan tertentu dapat menjadi nyata melalui tindakan. Ini tidak berarti SABĪL berubah menjadi ṬARĪQAH setelah waktu tertentu, tetapi menunjukkan bahwa struktur perjalanan dan operasi aktual dapat saling berinteraksi.
Apa yang gugur setelah uji silang?
Uji silang bukan sekadar mengonfirmasi definisi yang sudah disukai. Beberapa model harus ditinggalkan. Model ‘ṢIRĀṬ = jalan benar dan SUBUL = jalan salah’ gugur karena Allah mempunyai SUBUL. Model ‘ṢIRĀṬ = jalan besar, SABĪL = jalan kecil’ tidak tahan pada QS 6:153. Model ‘SABĪL = pilihan’ gugur pada lebah. Model ‘ṬARĪQ = jalan lurus’ gugur karena ada ṬARĪQ Jahannam dan karena MUSTAQĪM adalah qualifier. Model ‘SHARĪ‘AH = hukum’ terlalu sempit terhadap keseluruhan akar شرع. Model ‘MINHĀJ = metode’ terlalu keras karena hanya satu occurrence. Model ‘ḌARB = aktualisasi’ terlalu abstrak dan kehilangan daya falsifikasi.
Koreksi-koreksi ini bukan tanda penelitian gagal. Justru di sinilah korpus mencegah model kita menjadi lebih rapi daripada bahasa Al-Qur’an.
Mengapa model linear akhirnya ditolak?
Setelah definisi masing-masing menjadi lebih jelas, muncul godaan untuk menyusun sequence: ṢIRĀṬ → SABĪL → ṬARĪQAH → SHARĪ‘AH → MINHĀJ. Sequence ini intuitif, tetapi tidak didukung sebagai urutan waktu wajib.
Seseorang dapat mempunyai beberapa SABĪL sekaligus. SHARĪ‘AH dapat bekerja sebelum seseorang memilih channel dan terus mengatur selama channel itu dijalani. ṬARĪQAH dapat berupa pola yang sudah tersedia dan diadopsi, bukan selalu hasil yang baru lahir setelah SABĪL dipakai lama. MINHĀJ dapat diperbaiki tanpa mengganti SABĪL. SABĪL dapat berganti tanpa mengubah ṢIRĀṬ. Karena itu hubungan yang lebih bertanggung jawab adalah hubungan antar-lensa yang bekerja serentak.
Lima diksi utama bukan anak tangga. Mereka adalah lima pertanyaan berbeda yang dapat diajukan pada perjalanan yang sama pada saat yang sama.
Peta yang bertahan: lima lensa, satu perjalanan
Setelah uji silang, setiap diksi mempertahankan pertanyaan diagnostiknya sendiri. Pembedaan ini menjadi penting justru karena satu peristiwa kehidupan dapat dibaca melalui kelima lensa sekaligus.
ṢIRĀṬ — Pada lintasan apa perjalanan hidup saya disejajarkan, dan ke mana lintasan itu membawa?
SABĪL — Melalui jalur akses atau cara apa saya dapat bergerak atau bertindak menuju sesuatu?
ṬARĪQ / ṬARĪQAH — Lintasan atau pola apa yang benar-benar sedang saya tempuh dan bentuk?
SHIR‘AH / SHARĪ‘AH — Dalam batas dan ketentuan apa perjalanan ini harus dijalani?
MINHĀJ — Cara yang jelas seperti apa yang saya gunakan untuk menjalankannya?
ḌARB tidak ditempatkan sebagai pertanyaan keenam yang setara. Ia menjadi kontrol bahwa tindakan aktual berbeda dari arah, jalur akses, pola, ketentuan, dan cara yang sedang dibaca.
Satu contoh kehidupan dibaca dengan seluruh lensa sekaligus
Ambil contoh seseorang yang memilih bidang teknik sebagai pekerjaan dan sumber penghidupan. Jika semua istilah diterjemahkan sebagai ‘jalan’, kita hanya memperoleh kalimat kabur: teknik adalah jalan hidupnya. Setelah uji silang, kalimat itu dapat diurai.
ṢIRĀṬ bertanya: untuk apa keseluruhan hidup dan kapasitasnya diarahkan? SABĪL bertanya: apakah teknik adalah salah satu avenue yang ia gunakan untuk bekerja, memperoleh penghidupan, dan memberi manfaat? ṬARĪQAH bertanya: pola profesional apa yang nyata terbentuk—bagaimana ia membaca masalah, mengambil keputusan, menguji, memperbaiki, dan belajar? SHARĪ‘AH bertanya: batas apa yang tidak boleh dilanggar ketika ia menjalani profesi itu? MINHĀJ bertanya: cara jelas apa yang ia gunakan untuk mengerjakan pekerjaannya? Lalu lapis tindakan aktual bertanya: apa yang benar-benar ia kerjakan hari ini? Pertanyaan terakhir penting, tetapi tidak otomatis dinamai ḌARB.
Contoh kedua: satu SABĪL yang sama, hasil pembacaan berbeda
Dua orang dapat berada pada SABĪL yang sama—misalnya bisnis—dan bahkan memakai MINHĀJ manajemen yang sama. Tetapi ṬARĪQAH yang terbentuk bisa berbeda, batas SHARĪ‘AH yang mereka patuhi bisa berbeda, dan ṢIRĀṬ keseluruhan hidup mereka pun dapat berbeda. Kesamaan profesi tidak membuktikan kesamaan arah.
Sebaliknya, dua orang yang mempunyai ṢIRĀṬ sama tidak harus memakai SABĪL yang sama. Satu orang berkontribusi melalui pendidikan, yang lain melalui kesehatan, riset, pertanian, atau teknologi. Uji silang terhadap SUBULANĀ membuat pluralitas semacam ini tidak perlu dicurigai sebagai penyimpangan.
Apa yang sebenarnya diuji oleh setiap ayat silang?
QS 5:16 menguji apakah SABĪL dan ṢIRĀṬ identik. QS 6:153 menguji apakah hubungan keduanya dapat dipaksa menjadi tunggal-jamak atau besar-kecil. QS 12:108 menguji apakah SABĪL dapat menjadi cara operasional menuju Allah. QS 16:9 menguji apakah SABĪL intrinsik selalu lurus. QS 16:69 dan 29:69 menguji apakah plural SUBUL berarti salah atau harus lahir dari pilihan moral manusia. QS 5:48 menguji apakah SHIR‘AH dan MINHĀJ identik. QS 42:13 dan 45:18 menguji apakah SHARĪ‘AH lebih dekat kepada kerangka yang ditetapkan dan diikuti. QS 20:77 menguji apakah ḌARB adalah jalan atau operasi yang bekerja terhadap lintasan.
FINAL CROSS-TEST
Setelah seluruh ayat kunci dibawa ke dalam satu meja, arsitektur yang bertahan bukan urutan ‘orientasi → pilihan akses → lintasan → ketentuan → metode’ sebagai sequence wajib. Yang bertahan adalah pembeda fungsional: ṢIRĀṬ membaca keselarasan arah, SABĪL membaca avenue atau jalur akses, ṬARĪQAH membaca pola/lintasan yang mempunyai bentuk, SHARĪ‘AH membaca kerangka ketentuan, dan MINHĀJ membaca cara/jalur yang jelas. ḌARB berada di luar arsitektur nama-jalan sebagai keluarga operasi yang bergantung konstruksi.
UJI SILANG — Kelima lensa dapat bekerja serentak terhadap perjalanan yang sama. Tidak ada sequence temporal wajib. Perbedaan utama mereka bukan ‘mana yang lebih besar’ atau ‘mana yang datang lebih dahulu’, melainkan pertanyaan apa yang masing-masing bantu jawab.
Bab ini mengubah peta penelitian dari kumpulan definisi menjadi arsitektur relasional. Makna tidak lagi dibangun hanya dari satu kata yang dibaca sendirian, tetapi dari cara kata itu bertemu, berbeda, dan menolak saling menggantikan di dalam ayat yang sama.
Hasilnya membuat ungkapan ‘jalan menuju Allah’ jauh lebih kaya. Ia bukan satu profesi, satu aktivitas, satu cara hidup, atau satu prosedur yang harus sama bagi semua orang. Ia adalah perjalanan yang dapat mempunyai satu alignment, banyak jalur akses, pola yang berbeda, batas yang dijaga, dan cara pelaksanaan yang terus diperbaiki.
Ketika diksi-diksi itu dibiarkan mempertahankan pertanyaannya masing-masing, peta Al-Qur’an tidak lagi tampak sebagai satu garis bernama ‘jalan’. Ia menjadi arsitektur perjalanan: arah, akses, pola, batas, cara, dan tindakan—masing-masing berbeda, tetapi saling berhubungan.
BAB 9 - MEDAN OPERASIONAL: MEMBACA KEHIDUPAN DENGAN LIMA LENSA
Lima diksi yang telah diuji pada bab-bab sebelumnya tidak berhenti sebagai persoalan kosa kata. Nilai terpentingnya justru muncul ketika ia dipakai untuk membaca kehidupan tanpa mencampur lapisan-lapisan yang berbeda. ṢIRĀṬ menanyakan keselarasan arah keseluruhan; SABĪL menanyakan jalur akses atau cara melalui mana seseorang dapat bergerak dan bertindak; ṬARĪQ/ṬARĪQAH menanyakan lintasan atau pola yang benar-benar sedang dijalani dan dibentuk; SHARĪ‘AH menanyakan kerangka ketentuan dan batas yang harus dijaga; MINHĀJ menanyakan cara yang jelas untuk menjalankan perjalanan itu. ḌARB tidak menjadi lensa keenam, tetapi mengingatkan bahwa semua peta tersebut masih harus dibedakan dari tindakan konkret. Karena itu “jalan menuju Allah” tidak dapat direduksi menjadi satu profesi, satu jurusan, satu lembaga, satu aktivitas, atau satu model kehidupan. Ia adalah keseluruhan keselarasan hidup yang dapat diwujudkan melalui banyak SABĪL, membentuk berbagai ṬARĪQAH, tetap dijaga dalam kerangka SHARĪ‘AH, dan dikerjakan dengan MINHĀJ yang jelas.
Sebelum masuk ke contoh: medan operasional bukan sumber definisi
Ada pagar metodologis yang harus dijaga. Contoh-contoh kehidupan dalam bab ini tidak dipakai untuk menciptakan arti diksi. Makna fungsional telah dibangun dari korpus, pertanyaan penelitian, falsifikasi, dan uji silang. Kehidupan nyata dipakai sebagai medan uji: apakah pembedaan yang telah dibangun benar-benar membantu kita membaca keadaan dengan lebih presisi.
Karena itu sebuah profesi tidak otomatis disebut SABĪL, sebuah kebiasaan tidak otomatis disebut ṬARĪQAH, sebuah aturan tidak otomatis disebut SHARĪ‘AH, sebuah prosedur tidak otomatis disebut MINHĀJ, dan setiap tindakan tidak otomatis disebut ḌARB. Istilah-istilah itu dipakai sebagai lensa analitis ketika fungsi yang sedang dibaca memang sesuai.
Lima pertanyaan yang dibawa ke kehidupan
ṢIRĀṬ — Pada lintasan apa hidup saya sedang disejajarkan, dan ke mana lintasan itu membawa?
SABĪL — Melalui jalur akses atau cara apa saya dapat bergerak atau bertindak menuju sesuatu?
ṬARĪQ / ṬARĪQAH — Lintasan atau pola apa yang benar-benar sedang saya tempuh dan bentuk?
SHARĪ‘AH — Dalam batas dan ketentuan apa perjalanan ini harus dijalani?
MINHĀJ — Cara yang jelas seperti apa yang saya gunakan untuk menjalankannya?
Sesudah lima pertanyaan itu masih tersisa satu pertanyaan praktis yang tidak kalah penting: apa yang sungguh saya kerjakan? Pertanyaan terakhir berada pada lapis tindakan. Tetapi karena ḌARB bukan nama umum bagi seluruh tindakan, kita tidak memberi semua tindakan label ḌARB. Kita hanya menjaga kesadaran bahwa peta, cara, dan batas belum sama dengan eksekusi.
Landasan Qur’ani bagi pluralitas jalur
QS Al-‘Ankabūt 29:69
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka SUBUL Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.”
Ayat ini penting bagi seluruh bab operasional. Ia mencegah kita menganggap bahwa keselarasan kepada Allah harus tampil sebagai satu bentuk profesi atau satu jalur hidup yang seragam. SUBUL muncul dalam bentuk plural dan diatribusikan kepada Allah. Pluralitas jalan akses tidak otomatis berarti penyimpangan.
QS Yūsuf 12:108
قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: inilah SABĪL-ku; aku mengajak kepada Allah di atas baṣīrah, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”
Ayat ini membantu memisahkan tujuan dan jalur. Allah menjadi arah seruan; SABĪL menjadi jalur operasionalnya. Dalam kehidupan modern, perbedaan ini penting agar pekerjaan, ilmu, organisasi, dan peran sosial tidak diperlakukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jalur yang nilainya tetap bergantung pada arah dan cara menjalankannya.
1. Pekerjaan sebagai sumber penghidupan: profesi bukan ṢIRĀṬ
Seseorang bekerja sebagai insinyur. Bila kita langsung mengatakan ‘keinsinyuran adalah jalan hidupnya’, lima lapisan yang berbeda masuk ke dalam satu kata. Keinsinyuran dapat dibaca sebagai SABĪL ketika ia menjadi jalur memperoleh penghidupan, memecahkan masalah, membangun sarana, atau memberi manfaat.
Tetapi SABĪL belum menjawab untuk apa kemampuan itu diarahkan. Di situlah pertanyaan ṢIRĀṬ masuk. Seorang insinyur dapat sangat ahli, mendapat pendapatan tinggi, dan menyelesaikan proyek besar, tetapi seluruh kapasitas itu dapat diarahkan kepada ego, dominasi, atau manipulasi. Orang lain memakai profesi yang sama untuk menjaga amanah, memberi manfaat, dan mewujudkan pengabdian kepada Allah. SABĪL dapat sama; ṢIRĀṬ belum tentu.
ṬARĪQAH profesional terlihat dari pola yang benar-benar terbentuk: bagaimana ia membaca masalah, mengumpulkan data, mengambil keputusan, berkomunikasi, menguji, memperbaiki, dan belajar. SHARĪ‘AH menjaga batas: bolehkah data dimanipulasi, keselamatan dikorbankan, pelanggan ditipu, atau amanah dikhianati? MINHĀJ menanyakan cara kerja yang jelas: bagaimana proyek dirancang, diuji, dievaluasi, dan diperbaiki.
Pekerjaan dapat menjadi SABĪL menuju Allah; ia bukan otomatis ṢIRĀṬ. ṢIRĀṬ tetap bertanya ke mana seluruh penggunaan kemampuan itu diarahkan.
2. Memilih jurusan atau bidang ilmu: major adalah jalur, bukan arah akhir
Seorang mahasiswa dihadapkan pada banyak kemungkinan: teknik, kedokteran, biologi, pertanian, matematika, bahasa, hukum, komputer, dan lain-lain. Dalam konteks tertentu, kemungkinan-kemungkinan itu dapat dibaca sebagai SUBUL yang tersedia.
Ia memilih biologi. Biologi menjadi SABĪL keilmuan yang dipakai untuk belajar dan berkontribusi. Setelah bertahun-tahun, cara membaca data, kebiasaan memeriksa bukti, pola eksperimen, cara bertanya, dan disiplin ilmiah membentuk ṬARĪQAH keilmuan. SHARĪ‘AH menjaga batas penggunaan ilmu; MINHĀJ menata cara riset.
Namun jurusan yang sama tidak menjamin ṢIRĀṬ yang sama. Ilmu yang sama dapat dipakai untuk melayani kehidupan atau untuk manipulasi; untuk memperluas manfaat atau hanya memperbesar ego. Karena itu major bukan destinasi spiritual. Ia adalah salah satu SABĪL.
3. Berganti pekerjaan tanpa berganti ṢIRĀṬ
Seseorang bekerja lima belas tahun sebagai akuntan, kemudian menjadi pengusaha, lalu pada usia berikutnya lebih banyak mengajar. Jika profesi disamakan dengan ṢIRĀṬ, ia tampak seperti mengganti ‘jalan hidup’ tiga kali. Pembacaan lima lensa memberi gambaran yang lebih tenang.
Yang berubah dapat saja SABĪL. Jalur kontribusi berubah, tetapi keselarasan arah keseluruhan dapat tetap. ṬARĪQAH juga berubah karena pola kerja sebagai akuntan tidak sama dengan pengusaha atau pengajar. MINHĀJ perlu disesuaikan, tetapi SHARĪ‘AH dapat tetap menjadi pagar.
Pembedaan ini memberi jarak sehat antara identitas manusia dan jabatannya. Kita bekerja melalui suatu profesi; kita tidak harus menjadikan profesi sebagai keseluruhan makna diri.
4. Satu ṢIRĀṬ, banyak SUBUL
Dalam satu masa kehidupan seseorang dapat bekerja, membesarkan anak, belajar, menulis, melakukan riset, membangun bisnis, merawat orang tua, dan melayani komunitas. Tidak harus ada satu aktivitas yang diberi status sebagai satu-satunya ‘jalan suci’ sementara aktivitas lain dianggap sekadar urusan dunia.
Banyak aktivitas tersebut dapat menjadi SABĪL berbeda di dalam satu keselarasan arah. Justru QS 29:69 memberi ruang Qur’ani untuk SUBUL yang plural. Yang perlu diperiksa bukan apakah semua jalur sama, melainkan apakah jalur-jalur itu masih selaras dengan ṢIRĀṬ yang sama dan dijalankan di dalam batas yang benar.
5. SABĪL sama, ṢIRĀṬ berbeda
Dua orang sama-sama berdagang. Mereka dapat menjual produk yang sama, memakai teknologi yang sama, memakai kanal yang sama, bahkan menggunakan proses manajemen yang sama efektifnya. Pada lapis SABĪL dan sebagian MINHĀJ, keduanya bisa tampak identik.
Tetapi satu orang membangun seluruh bisnis melalui manipulasi, eksploitasi, dan kepentingan diri; yang lain menjaga amanah, keterbukaan, hak pelanggan, dan manfaat. Perbedaan yang paling dalam tidak lagi terletak pada profesinya, tetapi pada keselarasan arah dan kerangka yang membatasi cara profesi itu dijalankan.
Kesamaan SABĪL tidak menjamin kesamaan ṢIRĀṬ. Efektivitas MINHĀJ juga tidak membuktikan kebenaran arah.
6. ṬARĪQAH bukan nama profesi
Dua dokter dapat berada pada SABĪL profesional yang sama, tetapi membentuk ṬARĪQAH berbeda. Dokter pertama membangun pola: pasien datang, diagnosis secepat mungkin, resep, selesai. Dokter kedua membangun pola: mendengar, memahami konteks, memeriksa, menjelaskan, menyusun terapi, mengevaluasi, dan belajar dari hasil.
Yang membedakan bukan nama profesinya, tetapi pola yang nyata dijalani. Itulah kekuatan lensa ṬARĪQAH: ia memaksa kita melihat apa yang terus-menerus kita bentuk melalui pengulangan.
Pertanyaan ini juga berlaku di luar profesi. Cara seseorang menghadapi konflik, belajar, memimpin, menggunakan uang, atau merespons kegagalan dapat membentuk pola. Namun setiap kebiasaan tidak otomatis kita labeli ṬARĪQAH; istilah ini dipakai ketika kita memang sedang membaca lintasan/pola yang sudah mempunyai bentuk.
7. SHARĪ‘AH dan MINHĀJ: batas tidak sama dengan metode
QS Al-Mā’idah 5:48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya dari Kitab dan menjadi penjaga atasnya. Maka putuskanlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan jangan mengikuti hawa mereka dari kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk masing-masing di antara kalian Kami jadikan SHIR‘AH dan MINHĀJ. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat, tetapi Dia hendak menguji kalian dalam apa yang telah diberikan kepada kalian. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kepada Allah kalian semua kembali, lalu Dia memberitahukan apa yang dahulu kalian perselisihkan.”
Dalam penelitian ilmiah, pembedaan ini sangat mudah terlihat. SHARĪ‘AH dapat dibaca pada level batas pengatur: jangan memalsukan data, jangan mengklaim melampaui bukti, jangan merugikan pihak lain tanpa hak. MINHĀJ berada pada sisi cara: bagaimana masalah dirumuskan, data dikumpulkan, hipotesis dibuat, contoh tandingan dicari, falsifikasi dilakukan, dan kesimpulan ditarik.
Metode yang hebat tidak membuat pelanggaran menjadi benar. Sebaliknya batas yang benar tidak otomatis menghasilkan pekerjaan berkualitas jika cara pelaksanaannya lemah.
8. “Syar‘i” bukan label agama
Sebuah aktivitas tidak otomatis menjadi ‘syar‘i’ karena memakai nama Arab, simbol agama, atau dilakukan oleh lembaga yang berlabel religius. Istilah ‘syar‘i’ dalam kajian ini bukan diksi Qur’ani langsung; ia digunakan secara operasional sebagai status kesesuaian terhadap kerangka SHARĪ‘AH.
Sebaliknya, profesi seperti insinyur, petani, programmer, guru, dokter, atau peneliti tidak menjadi kurang dekat kepada Allah hanya karena namanya tidak religius. Yang dinilai adalah bagaimana aktivitas itu dijalankan, batas apa yang dijaga, dan ke mana keseluruhan hidup diarahkan.
Label tidak menentukan kesesuaian. Cara menjalani sesuatu yang harus diuji.
9. Gagal pada SABĪL bukan berarti gagal pada ṢIRĀṬ
Seseorang membangun usaha dengan niat baik, batas yang dijaga, dan cara kerja yang terstruktur. Namun bisnisnya gagal. Jika keberhasilan SABĪL disamakan dengan kebenaran ṢIRĀṬ, kegagalan duniawi segera dibaca sebagai bukti bahwa arah hidupnya salah. Pembacaan ini tidak perlu.
Sebuah SABĪL dapat tertutup, tidak lagi layak, atau perlu diganti. Kegagalan channel tidak otomatis memfalsifikasi alignment. Sebaliknya keberhasilan duniawi juga tidak otomatis memvalidasi ṢIRĀṬ. Hasil dan arah adalah kategori yang berbeda.
Pembedaan ini membuat manusia dapat mengevaluasi kegagalan dengan lebih jernih: apakah yang salah tujuan, jalur, pola, batas, cara pelaksanaan, atau memang kondisi luar membuat satu jalur tidak lagi viable?
10. Sangat ahli tetapi menuju arah yang salah
QS An-Nisā’ 4:169
إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا
“Kecuali ṬARĪQ Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”
QS Aṣ-Ṣāffāt 37:23
مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْجَحِيمِ
“Selain Allah; maka arahkanlah mereka menuju ṢIRĀṬ al-Jaḥīm.”
Dua ayat ini memberi koreksi penting terhadap budaya yang menyamakan efektivitas dengan kebenaran. Seseorang dapat memiliki ṬARĪQAH yang sangat mapan, MINHĀJ yang sangat kuat, disiplin tinggi, dan hasil luar biasa. Semua itu belum menjawab ke mana lintasan tersebut membawa.
Efektivitas adalah kemampuan bergerak dengan baik. ṢIRĀṬ tetap bertanya: bergerak ke mana?
11. Niat baik tetapi MINHĀJ lemah
Kebalikannya juga benar. Seseorang dapat mempunyai orientasi yang baik dan sungguh-sungguh ingin membantu masyarakat, tetapi ia tidak memahami masalah, tidak mengumpulkan data, tidak menguji solusi, dan tidak mengevaluasi dampak.
Niat yang baik tidak menggantikan kebutuhan akan cara yang jelas. Tahu ke mana hendak pergi tidak otomatis berarti tahu bagaimana sampai ke sana. Di sinilah MINHĀJ mempunyai fungsi praktis: membuat niat dapat diterjemahkan menjadi cara kerja yang dapat diuji dan diperbaiki.
12. Keluarga: dari niat baik menuju arsitektur pengasuhan
Keluarga sering dibangun dengan kalimat besar seperti ‘kami ingin menjadi keluarga yang baik’. Lima lensa membuat kalimat itu dapat diperiksa lebih jauh.
ṢIRĀṬ bertanya: ke mana keseluruhan keluarga diarahkan? SABĪL dapat berupa pendidikan, percakapan, keteladanan, waktu bersama, dukungan ekonomi, dan pelayanan. ṬARĪQAH membaca pola yang benar-benar terbentuk: bagaimana konflik diselesaikan, bagaimana anak didengar, bagaimana keputusan dibuat, bagaimana kesalahan direspons.
SHARĪ‘AH menjaga batas hak, kejujuran, keadilan, amanah, dan larangan zalim. MINHĀJ bertanya bagaimana pendidikan dan pengasuhan dilakukan secara jelas. Dengan demikian keluarga tidak hanya mempunyai niat, tetapi mempunyai arsitektur perjalanan yang dapat dievaluasi.
13. Organisasi: misi tidak cukup tanpa peta
Sebuah organisasi dapat menulis misi ‘memberi manfaat bagi masyarakat’. Pernyataan itu belum cukup untuk mengetahui bagaimana organisasi benar-benar bergerak.
ṢIRĀṬ membaca orientasi sebenarnya: apakah keputusan-keputusan besar konsisten dengan misi atau hanya mengejar target jangka pendek. SABĪL membaca produk, layanan, teknologi, kemitraan, channel, dan model bisnis yang dipakai. ṬARĪQAH membaca pola organisasi: bagaimana ia mengambil keputusan, memperlakukan pelanggan, merespons kesalahan, dan belajar.
SHARĪ‘AH membaca batas yang tidak boleh dilanggar. MINHĀJ membaca cara strategi dirumuskan, dieksekusi, diukur, dan dievaluasi. Lima lensa membuat misi lebih dapat diaudit karena klaim besar diturunkan menjadi pertanyaan yang konkret.
14. Menerima promosi jabatan: tidak cukup bertanya berapa kenaikan gajinya
Ketika seseorang menerima tawaran promosi, biasanya pertanyaan pertama menyangkut pendapatan, status, dan kewenangan. Lima lensa memperluas pertanyaan.
ṢIRĀṬ bertanya apakah peran baru membuat kehidupan semakin selaras dengan arah yang dituju atau justru menggesernya. SABĪL membaca jalur akses baru yang terbuka: jaringan, pengaruh, sumber daya, kesempatan memberi dampak. ṬARĪQAH bertanya pola diri seperti apa yang kemungkinan terbentuk setelah bertahun-tahun berada pada posisi itu.
SHARĪ‘AH mengingatkan batas yang tidak boleh ditukar dengan target atau kekuasaan. MINHĀJ menanyakan bagaimana peran baru dijalankan dengan cara yang jelas. Promosi dengan demikian tidak hanya dinilai dari manfaat eksternal, tetapi juga dari pola manusia seperti apa yang sedang dibentuk.
15. Pindah bidang ilmu: fleksibel tanpa kehilangan arah
Seseorang belajar teknik, lalu menemukan bahwa pertanyaan yang paling ingin ia dalami berada di biologi. Jika bidang studi disamakan dengan ṢIRĀṬ, perubahan itu dapat terasa seperti kehilangan arah. Tetapi bila bidang ilmu dipahami sebagai SABĪL, perpindahan dapat dibaca lebih presisi.
ṢIRĀṬ dapat tetap. SHARĪ‘AH dapat tetap. Yang berubah adalah jalur akses dan kemungkinan ṬARĪQAH keilmuan yang akan dibentuk. MINHĀJ juga berubah karena metode di bidang baru mungkin berbeda. Model ini membuat hidup lentur tanpa menjadi tanpa arah.
16. Pensiun: ketika profesi berakhir tetapi arah tidak harus berakhir
Jika seseorang selama puluhan tahun menyamakan pekerjaannya dengan ‘jalan hidup’, pensiun dapat terasa seperti kehilangan identitas dan tujuan. Pembedaan SABĪL–ṢIRĀṬ memberi cara baca lain.
Pensiun menutup atau mengubah satu SABĪL. Ia tidak harus menutup ṢIRĀṬ. Jalan kontribusi dapat berpindah ke mentoring, keluarga, penelitian, pendidikan, komunitas, pelayanan sosial, atau bentuk lain.
ṬARĪQAH lama juga tidak harus dibuang seluruhnya. Pola disiplin, cara berpikir, pengalaman, dan kemampuan yang sudah terbentuk dapat dibawa ke SABĪL baru. Yang berubah adalah wadah, bukan selalu orientasi.
17. Ketika satu SABĪL tertutup
Seseorang ingin menjadi dokter tetapi tidak lolos. Bila satu profesi dianggap satu-satunya jalan, kegagalan itu mudah berubah menjadi kesimpulan: hidup saya tertutup.
Lensa SABĪL mengoreksinya. Yang tertutup adalah satu jalur akses, bukan seluruh kemungkinan kontribusi. Ia masih dapat menemukan jalur lain di kesehatan, penelitian, farmasi, teknologi medis, kesehatan masyarakat, atau pendidikan.
Pembedaan ini bukan ajakan untuk menyepelekan kehilangan. Sebuah SABĪL dapat sangat berarti. Tetapi ia mencegah manusia menjadikan satu jalur sebagai satu-satunya makna hidup.
18. Ketika SABĪL justru terbuka tetapi SHARĪ‘AH melarang cara tertentu
Ada keadaan ketika sebuah peluang sangat terbuka: pekerjaan tersedia, keuntungan besar, jaringan kuat, dan metode untuk mencapainya juga jelas. Tetapi pertanyaan lima lensa tidak berhenti pada ‘bisa atau tidak’. SHARĪ‘AH bertanya apakah cara itu tetap berada dalam batas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ini menunjukkan bahwa akses bukan legitimasi. Fakta bahwa suatu SABĪL terbuka tidak berarti semua cara di dalamnya boleh ditempuh. MINHĀJ yang efektif harus tetap tunduk pada kerangka yang mengatur perjalanan.
19. Ketika MINHĀJ harus diubah tetapi ṢIRĀṬ tidak berubah
Sebuah organisasi atau individu dapat mempunyai arah yang tetap, tetapi metode lama tidak lagi bekerja. Teknologi berubah, kondisi pasar berubah, kemampuan manusia berubah, atau informasi baru muncul.
Dalam keadaan ini, mempertahankan MINHĀJ lama atas nama konsistensi justru dapat menghambat perjalanan. Metode boleh diperbaiki tanpa mengubah ṢIRĀṬ. Bahkan perubahan MINHĀJ dapat diperlukan agar SABĪL tetap berfungsi dan SHARĪ‘AH tetap terjaga.
20. Ketika ṬARĪQAH yang sudah mapan justru perlu dibongkar
Pola yang sudah terbentuk memberi stabilitas, tetapi tidak semua pola layak dipertahankan. Seseorang dapat mempunyai ṬARĪQAH profesional yang sangat mapan tetapi ternyata menghasilkan perilaku defensif, manipulatif, atau tidak lagi relevan.
Karena ṬARĪQAH bukan ṢIRĀṬ, membongkar pola lama tidak otomatis berarti kehilangan arah. Justru kesetiaan pada ṢIRĀṬ dan SHARĪ‘AH dapat menuntut perubahan pola.
21. Ketika tujuan baik, jalur baik, tetapi tindakan tidak pernah terjadi
Ada bentuk kegagalan lain yang sering tidak terlihat: seseorang mempunyai orientasi baik, memilih SABĪL yang masuk akal, memahami batas, dan mempunyai metode, tetapi tidak pernah benar-benar bertindak.
Di sinilah pelajaran dari ḌARB sebagai diksi kontrol menjadi penting. Peta perjalanan bukan perjalanan itu sendiri. Rencana, nilai, dan metode harus bertemu dengan tindakan konkret. Tetapi tindakan konkret itu tidak kita sebut ḌARB secara otomatis; ḌARB hanya mengingatkan bahwa lapis operasi tidak boleh hilang.
Mendiagnosis masalah: jangan langsung mengganti arah
Lima lensa juga membantu ketika sesuatu tidak berjalan baik. Tanpa pembedaan, setiap masalah mudah dianggap sebagai masalah arah. Padahal bisa jadi ṢIRĀṬ masih tepat tetapi SABĪL tidak lagi tersedia. Bisa jadi SABĪL tepat tetapi ṬARĪQAH yang terbentuk buruk. Bisa jadi pola kerja baik tetapi ada pelanggaran SHARĪ‘AH. Bisa jadi semua batas sudah benar tetapi MINHĀJ lemah. Atau semua itu baik tetapi tindakan nyata tidak konsisten.
Diagnosis yang lebih presisi menghasilkan respons yang lebih presisi. Kita tidak mengganti tujuan hanya karena metode gagal; tidak mempertahankan jalur hanya karena pernah berhasil; dan tidak membenarkan metode hanya karena hasilnya besar.
Membaca keberhasilan dengan lebih hati-hati
Keberhasilan juga harus diaudit. Pendapatan meningkat, jabatan naik, perusahaan tumbuh, publikasi bertambah, atau pengaruh meluas belum otomatis menjadi bukti bahwa seluruh perjalanan benar.
Keberhasilan terutama memberi informasi bahwa suatu SABĪL dan MINHĀJ mungkin bekerja secara efektif pada ukuran tertentu. ṢIRĀṬ tetap menanyakan ke mana keberhasilan itu membawa. SHARĪ‘AH tetap menanyakan batas apa yang mungkin dilanggar. ṬARĪQAH tetap menanyakan pola manusia apa yang dibentuk oleh keberhasilan tersebut.
Membaca kegagalan tanpa kehilangan diri
Sebaliknya, kegagalan tidak harus berubah menjadi penilaian total terhadap diri. Satu proyek gagal, satu pekerjaan hilang, satu jurusan tidak tercapai, atau satu bisnis tutup dapat menjadi kegagalan pada SABĪL atau MINHĀJ tertentu, bukan kegagalan keseluruhan ṢIRĀṬ.
Pembedaan ini membuat evaluasi lebih manusiawi sekaligus lebih bertanggung jawab. Kita tetap belajar dari kegagalan, tetapi tidak membiarkan satu hasil menghapus seluruh arah.
Jalan menuju Allah: bukan satu profesi yang harus sama bagi semua orang
Setelah seluruh contoh dibaca bersama, satu kekeliruan besar menjadi terlihat: ‘jalan menuju Allah’ sering dibayangkan sebagai satu bentuk kehidupan yang harus ditiru semua orang. Korpus justru memberi ruang untuk banyak SUBUL.
Seseorang dapat mendekat kepada Allah melalui pekerjaan yang dijalankan dengan amanah, ilmu yang dipakai untuk manfaat, keluarga yang dijaga haknya, pelayanan yang dilakukan dengan baik, atau kontribusi sosial yang berbeda-beda. Yang tidak boleh hilang adalah keselarasan arah, batas yang dijaga, pola yang dibentuk, dan cara yang digunakan.
Sintesis operasional
Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk mempunyai tujuan. Ia mengajarkan kita membedakan arah yang dituju, jalur yang tersedia, pola yang sedang dibentuk, batas yang harus dijaga, dan cara yang digunakan untuk menjalani perjalanan itu. Karena itu, ‘jalan menuju Allah’ bukan satu profesi, satu aktivitas, atau satu bentuk kehidupan; ia adalah keseluruhan keselarasan arah hidup yang dapat ditempuh melalui banyak SABĪL, membentuk berbagai ṬARĪQAH, tetap berada dalam kerangka SHARĪ‘AH, dan dijalankan dengan MINHĀJ yang jelas.
Medan operasional memperlihatkan mengapa pembedaan diksi bukan permainan bahasa. Ia mengubah cara kita membaca keputusan, keberhasilan, kegagalan, profesi, pendidikan, keluarga, organisasi, kekuasaan, dan perubahan hidup.
ṢIRĀṬ membebaskan kita dari menyamakan identitas dengan profesi. SABĪL membuat kita melihat bahwa satu arah dapat mempunyai banyak jalur. ṬARĪQAH membuat kita waspada terhadap pola yang sedang dibentuk oleh pilihan berulang. SHARĪ‘AH menjaga agar perjalanan tidak menghalalkan segala cara. MINHĀJ memaksa niat diterjemahkan menjadi cara yang jelas. Dan lapis tindakan mengingatkan bahwa peta baru menjadi kehidupan ketika benar-benar dijalankan.
Tidak semua orang harus berjalan melalui SABĪL yang sama, tetapi setiap orang perlu tahu pada ṢIRĀṬ apa hidupnya sedang disejajarkan.
BAB 10 - KESIMPULAN KAJIAN: JANGAN BIARKAN SATU KATA “JALAN” MENGHAPUS PETA
Kesimpulan Utama
Kajian ini berangkat dari sebuah kecurigaan yang kelihatannya sederhana: mengapa Al-Qur’an mempertahankan beberapa diksi yang dalam terjemahan sering sama-sama kita baca sebagai “jalan”? Jika ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQ/ṬARĪQAH, SHIR‘AH/SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ sungguh-sungguh hanya nama berbeda untuk hal yang sama, perbedaan itu seharusnya tidak terlalu penting. Tetapi ketika seluruh korpus dibuka, pertanyaan itu justru membesar. Masing-masing diksi membawa pola relasi, objek, preposisi, kualifikasi, dan fungsi yang tidak sepenuhnya dapat dipertukarkan.
Hasil akhirnya bukan sekadar daftar definisi baru. Yang ditemukan adalah sebuah arsitektur pembacaan. ṢIRĀṬ membantu membaca keselarasan dan arah lintasan; SABĪL membantu membaca jalur akses atau cara melalui mana gerak dan tindakan berlangsung; ṬARĪQ/ṬARĪQAH membantu membaca lintasan atau pola yang mempunyai bentuk dan benar-benar ditempuh; SHIR‘AH/SHARĪ‘AH, pada konteks DĪN/AMR, membantu membaca kerangka ketentuan dan batas yang harus diikuti; MINHĀJ memberi sisi cara atau jalur yang jelas untuk menjalankan perjalanan. ḌARB justru keluar dari keluarga nama-jalan: ia menjadi kontrol bahwa tindakan/operasi berbeda dari lintasan yang sedang ditempuh.
Al-Qur’an tidak menyajikan satu kata tunggal untuk seluruh persoalan “jalan”. Ia mempertahankan beberapa diksi karena masing-masing membantu kita mengajukan pertanyaan yang berbeda terhadap perjalanan yang sama.
Mengapa kesimpulan ini tidak lahir dari terjemahan
Kesimpulan ini tidak dibangun dengan memilih padanan Indonesia yang terasa paling cocok. Ia dibangun dengan cara sebaliknya: definisi sementara dibawa kepada ayat yang paling sulit, lalu dibiarkan gugur bila tidak mampu menanggungnya. Dengan cara itu, beberapa pengertian yang sangat akrab justru harus dilepaskan.
ṢIRĀṬ tidak dapat dikunci sebagai “jalan yang benar”, sebab Al-Qur’an mengenal ṢIRĀṬ al-Jaḥīm. SABĪL tidak dapat dikunci sebagai jalan fisik atau pilihan moral, sebab ia dapat berupa akses, medan tindakan, sesuatu yang dihalangi, bahkan SUBUL yang ditempuh lebah. ṬARĪQ tidak dapat dipersempit menjadi ruas jalan fisik, sebab ṬARĪQAH dan ṬARĀ’IQ dapat menunjuk pola. SHARĪ‘AH tidak dapat dijadikan arti seluruh akar شرع, sebab QS 7:163 mempunyai شُرَّعًا pada ikan. MINHĀJ tidak boleh dibebani definisi leksikal besar karena hanya sekali muncul. ḌARB tidak dapat dimasukkan sebagai “jalan keenam” karena konstruksinya bekerja sebagai tindakan/operasi.
ṢIRĀṬ: yang dikunci bukan ‘benar’, melainkan lintasan yang menjadi acuan arah
QS Aṣ-Ṣāffāt 37:23
مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْجَحِيمِ
“Selain Allah; maka arahkanlah mereka menuju ṢIRĀṬ al-Jaḥīm.”
Ayat ini menghentikan kita dari memasukkan nilai moral positif ke dalam kata ṢIRĀṬ secara otomatis. Jika ṢIRĀṬ sudah berarti ‘jalan benar’, maka ṢIRĀṬ al-Jaḥīm menjadi kontradiksi. Korpus memaksa kita memisahkan nomina dari kualifikasi dan atribusinya.
Karena itu FINAL LOCK ṢIRĀṬ dibangun pada fungsi yang lebih tahan: lintasan/course yang menjadi acuan keselarasan dan arah perjalanan. Nilainya ditentukan oleh ke mana ia membawa, kepada siapa ia dihubungkan, dan bagaimana ia dikualifikasi.
Pertanyaan ṢIRĀṬ: Pada lintasan apa perjalanan hidup saya disejajarkan, dan ke mana lintasan itu membawa?
SABĪL: jalur akses tidak sama dengan arah keseluruhan
QS Al-‘Ankabūt 29:69
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka SUBUL Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.”
Plural SUBUL pada ayat ini menjadi salah satu koreksi terpenting terhadap pembacaan yang menyamakan ‘banyak jalan’ dengan penyimpangan. Allah sendiri menyebut SUBULANĀ. Maka SABĪL lebih kuat dibaca sebagai jalur atau avenue melalui mana gerak, akses, tindakan, atau perjalanan berlangsung. Jalurnya dapat satu atau banyak; nilainya ditentukan oleh arah dan relasi yang menyertainya.
Pertanyaan SABĪL: Melalui jalur akses atau cara apa saya dapat bergerak atau bertindak menuju sesuatu?
ṬARĪQ/ṬARĪQAH: bukan tahap setelah SABĪL, melainkan pola yang mempunyai bentuk
QS Al-Aḥqāf 46:30
قَالُوا۟ يَـٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَـٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Mereka berkata, ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah Kitab yang diturunkan setelah Mūsā, membenarkan apa yang sebelumnya, memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada ṬARĪQ yang mustaqīm.’”
Ayat ini penting karena menunjukkan bahwa MUSTAQĪM bukan monopoli ṢIRĀṬ. ṬARĪQ pun dapat MUSTAQĪM. Maka perbedaannya tidak boleh dibangun dengan rumus ‘jalan biasa’ versus ‘jalan lurus’. Hasil yang lebih tahan adalah bahwa ṬARĪQ/ṬARĪQAH membaca lintasan atau pola yang mempunyai bentuk sehingga dapat ditempuh, dipertahankan, dan dikenali.
Tetapi hubungan SABĪL–ṬARĪQAH tidak boleh dibentuk menjadi urutan waktu yang kaku. SABĪL tidak otomatis berubah menjadi ṬARĪQAH setelah lama dijalani. Objek yang sama dapat dibaca sebagai SABĪL ketika kita menyoroti jalur aksesnya, dan sebagai ṬARĪQAH ketika kita menyoroti pola yang telah mempunyai bentuk.
Pertanyaan ṬARĪQ/ṬARĪQAH: Lintasan atau pola apa yang benar-benar sedang saya tempuh dan bentuk?
SHARĪ‘AH: kerangka pengatur, bukan arti seluruh akar شرع
QS Al-Jāthiyah 45:18
ثُمَّ جَعَلْنَـٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami menempatkan engkau di atas suatu SHARĪ‘AH dari AMR; maka ikutilah ia dan jangan mengikuti hawa orang-orang yang tidak mengetahui.”
Konstruksi عَلَىٰ شَرِيعَةٍ lalu فَٱتَّبِعْهَا menunjukkan sesuatu yang menjadi acuan dan harus diikuti. Dalam konteks DĪN/AMR, SHARĪ‘AH paling kuat dibaca sebagai kerangka ketentuan dan batas yang mengatur bagaimana perjalanan dijalani.
Tetapi penguncian ini khusus derivatif normatifnya. Ia tidak dijadikan definisi seluruh akar شرع, karena QS 7:163 tetap menjadi ayat kontrol. Demikian pula istilah ‘syar‘i’ bukan diksi Qur’ani langsung. Dalam kajian ini ia hanya dipakai secara operasional untuk menunjuk kesesuaian cara menjalani sesuatu terhadap kerangka SHARĪ‘AH.
Pertanyaan SHARΑAH: Dalam batas dan ketentuan apa perjalanan ini harus dijalani?
MINHĀJ: cara yang jelas, dengan batas bukti yang harus dihormati
QS Al-Mā’idah 5:48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya dari Kitab dan menjadi penjaga atasnya. Maka putuskanlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan jangan mengikuti hawa mereka dari kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk masing-masing di antara kalian Kami jadikan SHIR‘AH dan MINHĀJ. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat, tetapi Dia hendak menguji kalian dalam apa yang telah diberikan kepada kalian. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kepada Allah kalian semua kembali, lalu Dia memberitahukan apa yang dahulu kalian perselisihkan.”
MINHĀJ hanya muncul sekali. Justru itu kesimpulannya harus lebih rendah hati. Pasangannya dengan SHIR‘AH memberi alasan kuat untuk membedakan kerangka ketentuan dari cara yang jelas untuk menjalankannya. Tetapi ‘MINHĀJ = metode’ tidak dikunci sebagai definisi leksikal mutlak. ‘Metode’ dipakai sebagai pembacaan operasional yang berguna, dengan kesadaran bahwa bukti internalnya terbatas.
Pertanyaan MINHĀJ: Cara yang jelas seperti apa yang saya gunakan untuk menjalankannya?
ḌARB: keberanian terbesar justru ketika kita mengeluarkannya
QS Ṭā Hā 20:77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِى فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِى ٱلْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَـٰفُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
“Dan sungguh Kami wahyukan kepada Mūsā: pergilah pada malam hari bersama hamba-hamba-Ku, lalu buatlah bagi mereka ṬARĪQ yang kering di laut; engkau tidak perlu takut tersusul dan tidak perlu takut tenggelam.”
Ayat ini memberi pemisahan yang sangat bersih: ḌARB adalah operasi, ṬARĪQ adalah lintasan yang menjadi objek atau hasil. QS 4:94 memperlihatkan ḌARB berlangsung di dalam SABĪL Allah; QS 2:273 memperlihatkan ḌARB di bumi sebagai aktivitas. Korpus yang lebih luas bahkan memperlihatkan ḌARB pada perumpamaan, pemukulan, pemberlakuan keadaan, penutupan, pemisahan, dan konstruksi lain.
Karena itu ḌARB tidak dijadikan lensa keenam. Ia dikunci sebagai keluarga tindakan/operasi yang maknanya sangat bergantung pada konstruksi. Posisinya dalam kajian ini adalah sebagai kontrol: peta perjalanan dan tindakan konkret bukan hal yang sama.
Uji silang mengubah kumpulan kata menjadi arsitektur
QS Al-Mā’idah 5:16
يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dengan itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju SUBUL al-Salām, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan memberi petunjuk kepada mereka menuju ṢIRĀṬ yang mustaqīm.”
QS 5:16 menjadi salah satu ayat kunci karena SUBUL dan ṢIRĀṬ muncul dalam satu rangkaian HUDĀ. Jika keduanya identik, perbedaan diksi itu kehilangan fungsi. Ayat ini justru menunjukkan bahwa satu perjalanan dapat dibaca melalui lebih dari satu lensa.
QS Al-An‘ām 6:153
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa inilah ṢIRĀṬ-Ku dalam keadaan mustaqīm, maka ikutilah ia. Janganlah kalian mengikuti SUBUL sehingga jalur-jalur itu mencerai-beraikan kalian dari SABĪL-Nya. Demikianlah Dia mewasiatkan hal itu kepada kalian agar kalian bertakwa.”
QS 6:153 membatalkan model yang terlalu sederhana: ṢIRĀṬ bukan sekadar ‘yang tunggal dan benar’, sedangkan SUBUL bukan otomatis ‘yang banyak dan salah’. Perbedaannya lebih kuat pada fungsi pembacaan daripada pada jumlah, ukuran, atau level hierarki.
Mengapa model linear akhirnya harus ditinggalkan
Pada tahap awal sempat muncul arsitektur yang tampak indah: ṢIRĀṬ sebagai orientasi, lalu SABĪL sebagai pilihan akses, lalu ṬARĪQAH sebagai lintasan yang terbentuk, lalu SHARĪ‘AH sebagai ketentuan, lalu MINHĀJ sebagai metode. Masalahnya: korpus tidak memberi urutan waktu wajib semacam itu.
SHARĪ‘AH dapat bekerja sebelum SABĪL dipilih dan selama SABĪL dijalani. MINHĀJ dapat berubah tanpa mengganti ṢIRĀṬ. ṬARĪQAH dapat merupakan pola yang sudah tersedia dan diadopsi, bukan selalu hasil dari SABĪL yang lama dijalani. Satu orang dapat mempunyai banyak SABĪL sekaligus. SABĪL dapat tertutup tanpa ṢIRĀṬ berubah.
Lima lensa utama bukan anak tangga. Mereka dapat bekerja serentak terhadap perjalanan yang sama.
Implikasi pertama: profesi tidak boleh mengambil alih seluruh makna hidup
Salah satu konsekuensi terbesar dari pembedaan ini adalah perubahan cara kita membaca pekerjaan. Profesi dapat menjadi SABĪL, tetapi tidak otomatis menjadi ṢIRĀṬ. Seseorang dapat menjadi dokter, insinyur, petani, guru, peneliti, pedagang, atau pengelola organisasi. Nama profesi tidak cukup untuk menjawab ke mana seluruh hidup diarahkan.
Ini juga berarti perubahan profesi tidak otomatis berarti perubahan orientasi. Pensiun tidak otomatis berarti kehilangan jalan hidup. Kegagalan masuk satu bidang tidak otomatis berarti semua kemungkinan tertutup. Yang dapat berubah adalah SABĪL, sementara ṢIRĀṬ tetap.
Implikasi kedua: keberhasilan tidak sama dengan kebenaran arah
Seseorang dapat mempunyai ṬARĪQAH yang mapan, MINHĀJ yang kuat, disiplin tinggi, jaringan besar, dan hasil yang mengesankan. Semua itu membuktikan bahwa ia mampu bergerak secara efektif. Tetapi efektivitas belum menjawab pertanyaan ṢIRĀṬ.
Korpus sendiri mengenal ṬARĪQ Jahannam dan ṢIRĀṬ al-Jaḥīm. Maka kemampuan berjalan jauh bukan bukti bahwa arah perjalanan benar. Sebaliknya, kegagalan pada satu SABĪL juga bukan otomatis bukti bahwa orientasi keseluruhan salah.
Keberhasilan mengukur hasil pada suatu jalur. ṢIRĀṬ tetap bertanya: ke mana seluruh perjalanan itu membawa?
Implikasi ketiga: niat baik tidak menggantikan cara yang baik
Pembedaan SHARĪ‘AH dan MINHĀJ mencegah dua kekeliruan yang berlawanan. Pertama, metode yang sangat efektif tidak membuat pelanggaran menjadi benar. Kedua, batas yang benar dan niat yang baik tidak otomatis menghasilkan kerja yang baik bila tidak ada cara yang jelas untuk mewujudkannya.
Karena itu perjalanan menuju Allah tidak hanya membutuhkan orientasi dan batas. Ia juga membutuhkan kejernihan cara, kemampuan belajar, evaluasi, dan perbaikan.
Implikasi keempat: ‘syar‘i’ bukan cap pada benda
Karena ‘syar‘i’ bukan diksi Qur’ani langsung, istilah itu harus dipakai dengan disiplin. Ia tidak otomatis melekat pada benda, profesi, lembaga, produk, atau aktivitas karena nama dan simbolnya. Dalam kerangka kajian ini, ‘syar‘i’ berarti kesesuaian cara menjalani sesuatu terhadap kerangka SHARĪ‘AH.
Maka yang diuji bukan label, melainkan proses. Sebuah kegiatan yang tidak memakai nama religius dapat sangat selaras dengan kerangka yang benar; sebaliknya label religius tidak menjadi jaminan jika cara menjalankannya melanggar batas.
Implikasi kelima: pluralitas jalur tidak sama dengan kehilangan orientasi
Satu ṢIRĀṬ dapat diwujudkan melalui banyak SUBUL. Dalam satu masa hidup seseorang dapat bekerja, belajar, membesarkan anak, melakukan riset, mengajar, membangun usaha, dan melayani komunitas. Tidak ada alasan menjadikan salah satunya sebagai satu-satunya aktivitas yang dianggap ‘menuju Allah’.
Yang harus diuji adalah apakah jalur-jalur itu masih selaras dengan arah yang sama, apakah pola yang terbentuk baik, apakah batas dijaga, dan apakah cara pelaksanaannya benar.
Pelajaran metodologis: terjemahan adalah pintu, bukan garis akhir
Masalah utama bukan bahwa kata ‘jalan’ selalu salah sebagai terjemahan. Dalam banyak ayat ia tetap berguna. Masalah muncul ketika satu padanan diterima sebagai definisi final, lalu pertanyaan berhenti. Pada saat itu perbedaan antar-diksi lenyap, dan bersama hilangnya perbedaan bahasa, hilang pula pertanyaan operasional yang dibawa masing-masing.
Kekeliruan ini sama dengan ketika FAQĪR dan MISKĪN dibaca hanya sebagai dua tingkat kemiskinan. Begitu kita menganggap keduanya hanya berbeda derajat, kita kehilangan fakta bahwa FAQĪR dan MISKĪN menjawab pertanyaan berbeda. Demikian pula pada diksi ‘jalan’: penyamaan terjemahan dapat menghapus arsitektur.
Terjemahan seharusnya membantu kita memasuki Al-Qur’an, bukan menutup penelitian setelah satu padanan ditemukan.
Pelajaran metodologis kedua: tidak semua akar harus dipaksa memiliki satu denominator besar
Kajian ini juga belajar menahan diri. Pada ṬARĪQ/ṬARĪQAH, keberadaan ṬĀRIQ mengingatkan bahwa penguncian fungsi perjalanan tidak otomatis menjadi semantic floor seluruh akar طرق. Pada شرع, شُرَّعًا mencegah kita menjadikan SHARĪ‘AH sebagai arti seluruh akar. Pada MINHĀJ, hanya satu occurrence memaksa batas bukti. Pada ḌARB, pencarian denominator yang terlalu abstrak akhirnya ditolak.
Kemampuan berkata ‘sampai di sini bukti mendukung, setelah ini kita belum boleh mengklaim’ merupakan bagian dari hasil, bukan kekurangan hasil.
Peta final yang bertahan
ṢIRĀṬ — lintasan/course yang menjadi acuan keselarasan dan arah perjalanan.
SABĪL — jalur akses/cara melalui mana gerak, tindakan, akses, atau perjalanan menuju sesuatu dapat berlangsung.
ṬARĪQ / ṬARĪQAH — lintasan/pola yang mempunyai bentuk sehingga dapat ditempuh, dipertahankan, atau dikenali sebagai pola.
SHIR‘AH / SHARĪ‘AH — dalam konteks DĪN/AMR, kerangka ketentuan dan batas yang ditetapkan untuk diikuti.
MINHĀJ — cara/jalur yang jelas; pembacaan ‘metode/tata pelaksanaan’ digunakan secara operasional dengan batas bukti.
ḌARB — bukan jenis jalan dan bukan nama semua tindakan; keluarga operasi/tindakan yang sangat ditentukan oleh konstruksi.
Jalan menuju Allah: bukan satu bentuk kehidupan
Setelah seluruh uji silang, ungkapan ‘jalan menuju Allah’ tidak lagi perlu dibayangkan sebagai satu model profesi, satu jenis lembaga, satu pola karier, atau satu aktivitas yang harus sama bagi semua orang. Satu orang dapat menemukan SABĪL melalui ilmu; yang lain melalui usaha; yang lain melalui keluarga, pelayanan, teknologi, pertanian, pendidikan, atau riset.
Perbedaan SABĪL tidak otomatis berarti perbedaan ṢIRĀṬ. Sebaliknya kesamaan profesi tidak menjamin kesamaan arah. Inilah salah satu implikasi paling membebaskan sekaligus paling menuntut: kita tidak cukup meniru jalur orang lain; kita harus mengaudit alignment hidup sendiri.
Sintesis Final
Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk mempunyai tujuan. Ia mengajarkan kita membedakan arah yang dituju, jalur yang tersedia, pola yang sedang dibentuk, batas yang harus dijaga, dan cara yang digunakan untuk menjalani perjalanan itu. Karena itu, “jalan menuju Allah” bukan satu profesi, satu aktivitas, atau satu bentuk kehidupan; ia adalah keseluruhan keselarasan arah hidup yang dapat ditempuh melalui banyak SABĪL, membentuk berbagai ṬARĪQAH, tetap berada dalam kerangka SHARĪ‘AH, dan dijalankan dengan MINHĀJ yang jelas.
Penutup
Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi sekadar apakah kita mengetahui arti beberapa kata Arab. Persoalannya adalah apakah kita masih melihat peta ketika satu kata Indonesia membuat semuanya tampak sama.
Jika ṢIRĀṬ, SABĪL, ṬARĪQAH, SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ dilebur menjadi ‘jalan’, kita mungkin masih dapat membaca terjemahannya, tetapi kita kehilangan pertanyaan yang seharusnya diajukan kepada hidup. Kita kehilangan pertanyaan tentang arah, tentang akses, tentang pola, tentang batas, dan tentang cara.
Sebaliknya, ketika setiap diksi dibiarkan mempertahankan fungsinya, perjalanan hidup menjadi lebih dapat dibaca. Kita dapat membedakan kapan yang harus diubah adalah jalur, kapan pola, kapan metode, kapan batas harus ditegakkan, dan kapan justru arah keseluruhan perlu diperiksa.
Tidak semua orang harus berjalan melalui SABĪL yang sama, tetapi setiap orang perlu tahu pada ṢIRĀṬ apa hidupnya sedang disejajarkan.
Berikut Lampiran A-H
LAMPIRAN A — JEJAK PERTANYAAN PENELITIAN: PERTANYAAN YANG TIDAK BOLEH HILANG SETELAH JAWABAN DITEMUKAN
LAMPIRAN B — REGISTER HASIL DISKUSI DAN IMPLIKASI OPERASIONAL YANG DIKUNCI
LAMPIRAN C — KORPUS LENGKAP ṢIRĀṬ: SELURUH AYAT AKAR ص ر ط
LAMPIRAN D — KORPUS LENGKAP SABĪL: SELURUH AYAT AKAR س ب ل
LAMPIRAN E — KORPUS LENGKAP ṬARĪQ / ṬARĪQAH / ṬĀRIQ: SELURUH AYAT AKAR ط ر ق
LAMPIRAN F — KORPUS LENGKAP KELUARGA SHARĪ‘AH: SELURUH AYAT AKAR ش ر ع
LAMPIRAN G — KORPUS LENGKAP MINHĀJ: SELURUH AYAT AKAR ن ه ج
LAMPIRAN H — KORPUS LENGKAP ḌARB: SELURUH AYAT AKAR ض ر ب
LAMPIRAN A — JEJAK PERTANYAAN PENELITIAN: PERTANYAAN YANG TIDAK BOLEH HILANG SETELAH JAWABAN DITEMUKAN
Tujuan lampiran ini bukan menambah kerumitan, melainkan mempertahankan jejak berpikir yang melahirkan kesimpulan. Setiap pertanyaan di bawah pernah mempunyai fungsi: ada yang membuka penyelidikan, ada yang membongkar definisi yang terlalu cepat, ada yang lahir dari ayat kontrol, dan ada yang akhirnya berubah menjadi pertanyaan diagnostik kehidupan. Dengan mempertahankannya, pembaca dapat membedakan hasil yang benar-benar dipaksa oleh korpus dari hasil yang hanya tampak menarik secara konseptual.
P01 — Ketika Al-Qur’an memakai SABĪL, aspek apa yang sebenarnya sedang dibaca?
Alasan pertanyaan ini muncul: Pertanyaan ini muncul karena SABĪL dapat fisik, sosial, normatif, dan menjadi medan tindakan. Terjemahan “jalan” tidak cukup menjelaskan seluruh variasi itu. Pemicu utamanya: QS 3:97; 4:90; 12:108; 16:69; 42:41–42.
P02 — Apa yang membuat sesuatu disebut ṬARĪQ, dan apa yang membedakannya dari SABĪL?
Alasan pertanyaan ini muncul: ṬARĪQ dapat konkret, sedangkan ṬARĪQAH dapat menjadi pola yang dinilai. Karena SABĪL juga dapat berupa jalur, pembeda harus dicari di tingkat fungsi. Pemicu utamanya: QS 20:77; 20:104; 46:30; 72:16.
P03 — Mengapa ṢIRĀṬ masih diperlukan jika SABĪL sudah ada?
Alasan pertanyaan ini muncul: Keduanya bahkan muncul dalam ayat yang sama. Jika sinonim penuh, pemakaian bersama menjadi sulit dijelaskan. Pemicu utamanya: QS 5:16; 6:153; 7:86.
P04 — Apa yang sesungguhnya dilakukan oleh keluarga ش ر ع?
Alasan pertanyaan ini muncul: Pengertian modern “hukum” terlalu cepat jika dibawa kepada seluruh keluarga akar. Pemicu utamanya: QS 42:13; 42:21; 5:48; 45:18; 7:163.
P05 — Apakah ḌARB benar-benar anggota keluarga “jalan”?
Alasan pertanyaan ini muncul: Pertanyaan ini muncul karena ḌARB berhubungan dengan perjalanan, tetapi juga dengan memukul, perumpamaan, penetapan keadaan, dan pembentukan lintasan. Pemicu utamanya: QS 20:77; 4:94; 2:273; 2:26.
P06 — Siapa yang dapat menjadi sumber, penentu, atau pemberi suatu lintasan?
Alasan pertanyaan ini muncul: Atribusi kepada Allah tidak otomatis menjadi arti leksikal suatu kata; pihak lain juga dapat membentuk atau memiliki jalur. Pemicu utamanya: QS 42:13 dan 42:21; QS 4:76; 6:153.
P07 — Siapa yang dapat berada pada, menuju, mengikuti, atau menempuh masing-masing diksi?
Alasan pertanyaan ini muncul: Preposisi dan verba relasional membantu memisahkan fungsi: إِلَى, عَلَى, فِي, عَنْ, serta verba mengikuti, menempuh, menghalangi, dan menyimpang. Pemicu utamanya: QS 36:4; 67:22; 72:16; 16:69; 23:74.
P08 — Apakah masing-masing diksi terutama berbicara tentang tujuan, lintasan, cara, sistem, atau keadaan perjalanan?
Alasan pertanyaan ini muncul: Pertanyaan ini mencegah semua kata diturunkan menjadi sinonim “jalan”. Pemicu utamanya: Seluruh uji silang, terutama QS 5:16, 5:48, 6:153.
P09 — Apakah jalur itu sudah tersedia sebelum ditempuh, atau dapat terbentuk melalui tindakan?
Alasan pertanyaan ini muncul: QS 20:77 menunjukkan sebuah ṬARĪQ dapat dihasilkan melalui operasi; SABĪL di ayat lain dapat tersedia, dicari, atau dibuat. Pemicu utamanya: QS 20:77; 4:15; 17:42; 25:57.
P10 — Diksi mana yang menerima bentuk jamak, dan apa akibat konseptualnya?
Alasan pertanyaan ini muncul: Pluralitas tidak boleh langsung dibaca sebagai penyimpangan. Pemicu utamanya: QS 29:69; 16:69; 72:11; 23:17.
P11 — Mengapa Al-Qur’an memakai SUBUL tetapi ṢIRĀṬ tidak muncul dalam bentuk plural?
Alasan pertanyaan ini muncul: Pertanyaan ini menguji hipotesis “satu ṢIRĀṬ versus banyak jalan”. QS 7:86 menunjukkan tidak adanya plural morfologis tidak sama dengan hanya satu instance. Pemicu utamanya: QS 6:153; 7:86; 29:69.
P12 — Apakah masing-masing diksi intrinsik positif atau negatif?
Alasan pertanyaan ini muncul: Adanya ṬARĪQ Jahannam dan ṢIRĀṬ al-Jaḥīm menggugurkan anggapan nilai moral melekat otomatis pada nama lintasan. Pemicu utamanya: QS 4:169; 37:23; 7:146.
P13 — Apa fungsi kata sifat seperti MUSTAQĪM, SAWIYY, dan SAWĀ’?
Alasan pertanyaan ini muncul: Jika kata sifat masih diperlukan, sifat itu tidak boleh diselundupkan ke dalam definisi nomina. Pemicu utamanya: QS 1:6; 19:43; 20:135; 38:22; 46:30.
P14 — Verba apa yang berulang di sekitar masing-masing diksi?
Alasan pertanyaan ini muncul: HUDĀ, ITTIBĀ‘, ṢADD, SULŪK, QAT‘, dan NUKŪB membuka relasi yang berbeda antara subjek dan lintasan. Pemicu utamanya: QS 5:16; 6:153; 16:69; 29:29; 23:74.
P15 — Apa bedanya diarahkan menuju jalan, berada pada jalan, mengikuti jalan, menghalangi jalan, dan menempuh jalan?
Alasan pertanyaan ini muncul: Pertanyaan ini memindahkan analisis dari terjemahan kata ke arsitektur relasi di dalam ayat. Pemicu utamanya: QS 67:22; 72:16; 6:153; 7:86; 16:69.
P16 — Ketika Al-Qur’an mengatakan فِي سَبِيلِ اللَّهِ, apakah SABĪL masih sekadar ruas jalan?
Alasan pertanyaan ini muncul: Tindakan berbeda dapat berlangsung fī SABĪL Allāh. Karena itu frasa tersebut tidak identik dengan satu tindakan tertentu. Pemicu utamanya: QS 2:273; 4:94 dan distribusi fī sabīl Allāh lainnya.
P17 — Apa yang ditandai oleh konstruksi “SABĪL X”?
Alasan pertanyaan ini muncul: Ada SABĪL Allah, ṭāghūt, orang beriman, rushd, ghayy, dan lain-lain. Atribusi menentukan orientasi, bukan arti dasar kata. Pemicu utamanya: QS 4:76; 4:115; 7:142; 7:146.
P18 — Apakah ṢIRĀṬ membaca orientasi keseluruhan sedangkan SABĪL membaca jalur operasional?
Alasan pertanyaan ini muncul: Ini lahir sebagai hipotesis setelah keduanya muncul bersama. Ia kemudian dipertahankan hanya sebagai perbedaan fungsi, bukan hubungan besar-kecil yang wajib. Pemicu utamanya: QS 5:16; 6:153; 7:86.
P19 — Apa semantic floor yang mampu menghubungkan ṬARĪQ, ṬARĪQAH, ṬARĀ’IQ, dan ṬĀRIQ?
Alasan pertanyaan ini muncul: “Jalan fisik” terlalu sempit; tetapi formulasi yang terlalu abstrak juga harus dihindari. Pemicu utamanya: QS 20:77; 20:104; 23:17; 72:11; 86:1–3.
P20 — Bagaimana شَرَعَ, شِرْعَة, شَرِيعَة, dan شُرَّع dapat berada dalam satu keluarga?
Alasan pertanyaan ini muncul: QS 7:163 menjadi kontrol agar arti modern “hukum” tidak dijadikan batas makna dasar akar. Pemicu utamanya: QS 7:163; 42:13; 45:18.
P21 — Apakah شَرَعَ, SHIR‘AH, SHARĪ‘AH, dan MINHĀJ melakukan fungsi yang sama?
Alasan pertanyaan ini muncul: QS 5:48 menyandingkan SHIR‘AH dan MINHĀJ, sehingga penyamaan keduanya harus dijelaskan, bukan diasumsikan. Pemicu utamanya: QS 5:48; 42:13; 45:18.
P22 — Apa semantic floor ḌARB yang mampu menjelaskan memukul, membuat perumpamaan, perjalanan, penetapan keadaan, dan pembentukan lintasan?
Alasan pertanyaan ini muncul: Berbagai kandidat diuji, tetapi definisi tunggal yang terlalu umum menjadi tidak berguna. Kesimpulan aman justru membatasi ḌARB sebagai keluarga operasi yang bergantung konstruksi. Pemicu utamanya: QS 2:26; 2:60; 2:61; 4:101; 20:77.
P23 — Dalam konstruksi perjalanan, apakah ḌARB adalah jalan yang ditempuh atau tindakan yang dilakukan?
Alasan pertanyaan ini muncul: QS 20:77 dan 4:94 memisahkan verba/operasi dari ṬARĪQ atau SABĪL. Pemicu utamanya: QS 20:77; 4:94; 2:273.
P24 — Apa yang terjadi ketika dua atau lebih diksi muncul dalam lingkungan semantik yang sama?
Alasan pertanyaan ini muncul: Ayat semacam ini menjadi uji minimal paling kuat, karena Al-Qur’an sendiri mempertahankan pembedaan di dalam konteks yang sama. Pemicu utamanya: QS 5:16; 5:48; 6:153; 7:86; 20:77.
P25 — Pertanyaan diagnostik unik apa yang akhirnya dijawab oleh masing-masing diksi?
Alasan pertanyaan ini muncul: Ini adalah gerbang terakhir sebelum penguncian fungsi. Jika dua diksi masih menjawab pertanyaan yang sama, pembedaan belum selesai. Pemicu utamanya: Hasil keseluruhan penelitian.
Lima pertanyaan falsifikasi yang menjaga penelitian agar tidak menjadi permainan definisi
Kelima pertanyaan berikut dipakai sebagai rem terhadap definisi yang terlalu mudah. Sebuah rumusan tidak cukup terasa masuk akal pada ayat yang mendukungnya; ia harus bertahan ketika dibawa kepada ayat yang membuatnya paling tidak nyaman. Bila satu counterexample meruntuhkan unsur definisional, rumusan harus diperbaiki atau ditolak.
F01 — Jika SABĪL benar-benar sama dengan ṢIRĀṬ, adakah ayat yang menjadi janggal ketika keduanya dipertukarkan?
QS 5:16 dan 6:153 menunjukkan keduanya berdampingan tanpa saling menggantikan.
F02 — Jika ṬARĪQ sama dengan SABĪL, mengapa Al-Qur’an mempertahankan dua akar dan pola relasi yang berbeda?
ṬARĪQ dapat menjadi lintasan yang dibentuk di laut dan ṬARĪQAH dapat menjadi pola; SABĪL lebih produktif sebagai jalur akses dan medan tindakan.
F03 — Jika SHARĪ‘AH sekadar berarti “hukum”, apakah seluruh keluarga ش ر ع dapat dijelaskan oleh definisi itu?
QS 7:163 menjawab tidak; شُرَّعًا pada ikan menjadi contoh tandingan.
F04 — Jika ḌARB adalah “jalan”, dapatkah definisi itu menjelaskan seluruh 58 kemunculannya?
Tidak. ḌARB memukul, menghadirkan perumpamaan, melakukan perjalanan, mengenakan keadaan, dan lain-lain.
F05 — Jika semuanya satu keluarga “jalan”, adakah satu semantic floor yang menaungi semuanya tanpa menjadi begitu abstrak hingga kehilangan daya pembeda?
Tidak ditemukan. Hasil yang lebih bertanggung jawab adalah membedakan fungsi masing-masing dan mengeluarkan ḌARB dari nama-jalan.
Pertanyaan khusus ṬARĪQ / ṬARĪQAH
Pertanyaan pada bagian ini lahir dari ketegangan antara lintasan konkret, pola yang dinilai, bentuk plural ṬARĀ’IQ, dan ṬĀRIQ sebagai bentuk lain dari akar yang sama. Tujuannya bukan memaksa semuanya masuk ke satu arti, melainkan menentukan batas yang dapat dikunci tanpa menghapus sisa data.
T01 — Apakah inti ط ر ق terletak pada “jalan”, atau pada aktivitas melintas/menembus yang memungkinkan terbentuknya konsep lintasan?
T02 — Mengapa ṬARĪQ dapat fisik pada QS 20:77 tetapi ṬARĪQAH menjadi atribut pola/perilaku pada QS 20:104?
T03 — Apa hubungan ṬĀRIQ sebagai active participle dengan ṬARĪQ sebagai lintasan?
T04 — Mengapa Qur’an memakai ṬARĪQ MUSTAQĪM pada QS 46:30 jika ṢIRĀṬ MUSTAQĪM juga tersedia?
T05 — Apakah ṬARĪQ lebih menekankan lintasan yang ditempuh, sedangkan ṢIRĀṬ menekankan keselarasan arah?
T06 — Apa fungsi plural ṬARĀ’IQ dan mengapa ia dapat menunjuk keragaman?
T07 — Mengapa QS 72:16 memakai عَلَى الطَّرِيقَةِ?
T08 — Apa yang dimaksud طَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ pada QS 20:63: pola sosial, cara hidup, kedudukan, atau sesuatu yang lebih luas?
T09 — Bagaimana سَبْعَ طَرَائِقَ pada QS 23:17 menguji definisi yang terlalu antropologis?
T10 — Apakah nilai moral melekat pada ṬARĪQ? Data ṬARĪQ Jahannam menunjukkan tidak.
Pertanyaan khusus ṢIRĀṬ
Pertanyaan-pertanyaan ṢIRĀṬ terutama menguji tiga penyederhanaan: anggapan bahwa ṢIRĀṬ otomatis benar, anggapan bahwa MUSTAQĪM adalah bagian bawaan dari kata itu, dan anggapan bahwa bentuk singularnya berarti hanya ada satu instance secara konseptual. Uji terhadap hudā, عَلَى, إِلَى, penyimpangan, dan atribusi memperjelas fungsinya.
SRT01 — Jika ṢIRĀṬ berarti “jalan lurus”, mengapa ia masih memerlukan MUSTAQĪM?
SRT02 — Bagaimana mungkin ada ṢIRĀṬ AL-JAḤĪM jika ṢIRĀṬ intrinsik berarti jalan benar?
SRT03 — Jika ṢIRĀṬ secara konseptual tunggal, mengapa QS 7:86 mengatakan بِكُلِّ صِرَاطٍ?
SRT04 — Mengapa ṬARĪQ juga dapat MUSTAQĪM dan menjadi objek HUDĀ?
SRT05 — Apa perbedaan antara diarahkan إِلَى ṢIRĀṬ dan berada عَلَى ṢIRĀṬ?
SRT06 — Mengapa ṢIRĀṬ dapat diikuti, dijalani, dan disimpangi?
SRT07 — Apa hubungan ṢIRĀṬ dengan tujuan akhir?
SRT08 — Apa fungsi atribusi ṢIRĀṬ Allah, Rabb, al-Ḥamīd, mereka yang diberi nikmat, dan al-Jaḥīm?
SRT09 — Mengapa formula RABB → ‘IBĀDAH → HĀDHĀ ṢIRĀṬ MUSTAQĪM berulang?
SRT10 — Apa hubungan ṢIRĀṬ dengan DĪN pada QS 6:161?
SRT11 — Mengapa Qur’an memakai ṢIRĀṬ dan SABĪL dalam ayat yang sama?
SRT12 — Apakah banyak SUBUL dapat berada di dalam atau bermuara pada satu ṢIRĀṬ, atau model itu terlalu cepat?
SRT13 — Mengapa QS 6:153 mengatakan ṢIRĀṬĪ lalu SABĪLIHI?
SRT14 — Mengapa QS 5:16 menyediakan SUBUL AL-SALĀM sekaligus ṢIRĀṬ MUSTAQĪM?
SRT15 — Apa tepatnya yang diblokir pada QS 7:86: ṣirāṭ lokal, akses kepada SABĪL Allah, atau keduanya pada lapis berbeda?
SRT16 — Apakah ṢIRĀṬ membaca orientasi total sedangkan SABĪL membaca jalur operasional?
SRT17 — Apakah ṬARĪQ membaca lintasan/pola sedangkan ṢIRĀṬ membaca keselarasan arah?
Pertanyaan khusus SABĪL
SABĪL memiliki korpus terbesar sehingga pertanyaannya harus menanggung variasi yang juga paling besar: fisik dan nonfisik, singular dan plural, positif dan negatif, akses, pilihan, penghalangan, pemutusan, tindakan, dan atribusi. Karena itu setiap rumusan yang terlalu sempit cepat terbentur data.
SB01 — Jika SABĪL hanya berarti jalan, bagaimana menjelaskan مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ?
SB02 — Mengapa SABĪL dapat dibuat, dicari, diambil, ditempuh, dihalangi, dan diputus?
SB03 — Mengapa SUBUL dapat baik maupun buruk?
SB04 — Mengapa Allah mempunyai SUBUL dalam bentuk plural pada QS 29:69?
SB05 — Jika pluralitas bukan tanda penyimpangan, apa fungsi plural SUBUL?
SB06 — Mengapa QS 5:16 menggunakan SUBUL AL-SALĀM dan ṢIRĀṬ MUSTAQĪM sekaligus?
SB07 — Mengapa QS 6:153 menggunakan ṢIRĀṬĪ lalu SABĪLIHI?
SB08 — Apakah ṢIRĀṬ dan SABĪL berbeda berdasarkan level, atau berdasarkan fungsi pembacaan?
SB09 — Mengapa SABĪL sangat sering menjadi objek penghalangan?
SB10 — Apakah penghalangan terhadap SABĪL berarti penghalangan terhadap akses?
SB11 — Mengapa SABĪL dapat “diambil” pada QS 7:146?
SB12 — Apa yang membedakan SABĪL AL-RUSHD dan SABĪL AL-GHAYY jika SABĪL sendiri netral?
SB13 — Ketika Qur’an berkata FĪ SABĪL ALLĀH, apakah SABĪL menunjuk tujuan, medan tindakan, cara, atau relasi di antaranya?
SB14 — Mengapa qitāl, jihad, infaq, hijrah, dan penderitaan dapat sama-sama berlangsung FĪ SABĪL ALLĀH?
SB15 — Dapatkah SABĪL dibaca sebagai jalur melalui mana orientasi diwujudkan menjadi tindakan?
SB16 — Apa perbedaan SABĪL dari ṬARĪQ jika keduanya dapat fisik maupun nonfisik?
SB17 — Apakah ṬARĪQ lebih menandai lintasan/pola yang mempunyai bentuk, sementara SABĪL menandai jalur akses yang memungkinkan gerak?
SB18 — Apa hubungan SABĪL dan ṢIRĀṬ ketika keduanya berada dalam satu ayat?
SB19 — Apa hubungan SABĪL dengan tujuan—Allah, Rabb, rushd, ghayy—dan apakah tujuan termasuk definisinya atau hanya pengarah?
SB20 — Pertanyaan apa yang secara unik dijawab SABĪL dan tidak cukup dijawab oleh ṢIRĀṬ atau ṬARĪQ?
Pertanyaan khusus keluarga ش ر ع dan istilah “syar‘i”
Bagian ini memisahkan tiga hal yang sering bercampur: medan akar ش ر ع, fungsi derivatif SHIR‘AH/SHARĪ‘AH dalam DĪN/AMR, dan istilah modern “syar‘i” yang tidak muncul sebagai diksi Qur’ani. QS 7:163 menjadi pagar utama agar fungsi normatif tidak ditarik menjadi arti seluruh akar.
SH01 — Mengapa شَرَعَ dapat dilakukan oleh Allah maupun selain Allah?
SH02 — Jika شَرَعَ berarti “hukum Allah”, bagaimana QS 42:21 dapat memakai شَرَعُوا untuk pihak yang tidak mendapat izin Allah?
SH03 — Mengapa seseorang dapat ditempatkan عَلَىٰ شَرِيعَةٍ lalu diperintah فَاتَّبِعْهَا?
SH04 — Mengapa SHIR‘AH harus berdampingan dengan MINHĀJ?
SH05 — Bagaimana satu semantic floor menjelaskan SHARĪ‘AH sekaligus ikan yang datang شُرَّعًا?
SH06 — Apakah unsur terdalam ش ر ع berhubungan dengan keterbukaan/akses/entry, atau formulasi itu masih terlalu jauh?
SH07 — Apakah SHARĪ‘AH lebih tepat dipahami sebagai kerangka perjalanan daripada tujuan perjalanan?
SH08 — Jika SABĪL menyediakan jalur yang dapat ditempuh, apakah ش ر ع menyediakan struktur yang mengatur bagaimana jalur itu dijalani?
SH09 — Dapatkah satu SABĪL dijalani di bawah kerangka pengatur yang berbeda?
SH10 — Dapatkah dua orang mempunyai ṬARĪQ profesional serupa tetapi ṢIRĀṬ dan kesesuaian SHARĪ‘AH berbeda?
SH11 — Apakah “syar‘i” berarti “syarat”? Jawabannya harus diuji terhadap perbedaan akar ش ر ع dan ش ر ط.
SH12 — Apakah “code of conduct” atau kode tata laku cukup dekat? Hasil akhirnya: analogi fungsi boleh, sedangkan “kode etik” terlalu sempit.
Pertanyaan khusus MINHĀJ
MINHĀJ hanya satu kali muncul, sehingga pertanyaannya lebih banyak menguji batas keberanian kita menyimpulkan. Pasangannya dengan SHIR‘AH memberi petunjuk fungsi, tetapi satu kemunculan tidak cukup untuk membangun definisi leksikal luas. Karena itu setiap jawaban pada bagian ini sengaja mempertahankan status pembacaan operasional yang dibatasi bukti.
M01 — Mengapa Qur’an menambahkan MINHĀJ setelah SHIR‘AH jika keduanya identik?
M02 — Apa informasi yang diberikan MINHĀJ yang belum diberikan SHIR‘AH?
M03 — Apakah SHIR‘AH lebih dekat kepada kerangka pengatur sementara MINHĀJ kepada cara pelaksanaan yang jelas?
M04 — Apa perbedaan MINHĀJ dari ṬARĪQAH jika keduanya mudah diterjemahkan sebagai cara/jalan?
M05 — Apakah ṬARĪQAH menyoroti pola yang dijalani sedangkan MINHĀJ menyoroti cara yang jelas untuk menjalankannya?
M06 — Apa perbedaan MINHĀJ dari SABĪL—cara pelaksanaan versus jalur akses?
M07 — Apa perbedaan MINHĀJ dari ṢIRĀṬ—cara pelaksanaan versus keselarasan arah?
M08 — Apakah SHIR‘AH dan MINHĀJ dapat dibaca sebagai pasangan kerangka pengatur dan cara pelaksanaan?
M09 — Karena ن ه ج hanya muncul sekali, sampai sejauh mana kesimpulan boleh ditarik tanpa melampaui bukti?
M10 — Apakah istilah modern “metodologi” berguna sebagai padanan operasional tanpa dijadikan definisi leksikal final?
Pertanyaan khusus ḌARB
ḌARB dimasukkan semula untuk menguji apakah ia masih termasuk keluarga “jalan”. Justru pertanyaan-pertanyaan berikut memaksa keputusan sebaliknya. Rentang konstruksinya terlalu beragam untuk dipadatkan menjadi “jalan”, “memukul”, “bergerak”, atau bahkan satu konsep abstrak yang terlalu luas. Kesimpulan paling bertanggung jawab adalah membacanya per konstruksi dan mengeluarkannya dari arsitektur nama-jalan.
D01 — Jika ḌARB berarti “memukul”, bagaimana menjelaskan ضَرَبَ مَثَلًا?
D02 — Jika ḌARB berarti “perjalanan”, bagaimana menjelaskan ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ?
D03 — Jika ḌARB berarti “jalan”, mengapa QS 20:77 justru mengatakan فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا?
D04 — Mengapa QS 4:94 dapat menempatkan ضَرَبْتُمْ di dalam فِي سَبِيلِ اللَّهِ?
D05 — Mengapa QS 2:273 menyebut ضَرْبًا sebagai aktivitas yang seseorang mungkin tidak mampu lakukan?
D06 — Apa peran preposisi عَلَى, فِي, عَنْ, بَيْنَ, objek langsung, dan konstruksi مَثَل dalam menentukan manifestasi akar?
D07 — Apakah denominator “membuat dampak/konfigurasi menjadi berlaku” terlalu abstrak sehingga tidak lagi dapat difalsifikasi?
D08 — Apakah keputusan paling bertanggung jawab justru mengeluarkan ḌARB dari arsitektur nama-jalan dan membacanya per konstruksi?
LAMPIRAN B — REGISTER HASIL DISKUSI DAN IMPLIKASI OPERASIONAL YANG DIKUNCI
Bagian ini berfungsi sebagai pagar agar hasil kajian yang telah dibangun tidak hilang ketika pembaca menelusuri naskah yang panjang. Ia bukan pengganti argumentasi pada bab utama, melainkan register keputusan yang telah melewati uji silang dan tidak boleh diam-diam dikembalikan ke pengertian lama.
Pekerjaan dan profesi
Pekerjaan dapat menjadi SABĪL, tetapi bukan otomatis ṢIRĀṬ. Profesi menjelaskan salah satu jalur kehidupan; ṢIRĀṬ bertanya kepada keselarasan arah seluruh perjalanan.
Bidang ilmu
Jurusan atau disiplin ilmu dapat menjadi SABĪL. Pola berpikir, belajar, dan bekerja yang nyata terbentuk dapat dibaca melalui ṬARĪQAH.
Banyak jalur dalam satu orientasi
Satu ṢIRĀṬ dapat diwujudkan melalui banyak SUBUL: pekerjaan, keluarga, riset, pendidikan, pelayanan sosial, bisnis, dan bentuk kontribusi lain.
Jalur sama, arah berbeda
Dua orang dapat memakai SABĪL yang sama—bahkan pola kerja dan cara pelaksanaan yang mirip—namun mempunyai ṢIRĀṬ berbeda karena tujuan dan keselarasan arah keseluruhannya berbeda.
Perubahan profesi
Berganti pekerjaan dapat berarti berganti SABĪL tanpa harus berganti ṢIRĀṬ.
Kehilangan pekerjaan
Kehilangan pekerjaan berarti kehilangan satu jalur akses, bukan otomatis kehilangan arah hidup.
Pensiun
Pensiun dapat menutup satu SABĪL tetapi tidak harus mengubah ṢIRĀṬ. Jalur lain dapat terbuka melalui mentoring, keluarga, riset, pendidikan, atau pelayanan.
SABĪL tertutup
Tertutupnya satu jalur—misalnya gagal masuk satu profesi—tidak berarti seluruh kemungkinan kontribusi tertutup.
ṬARĪQAH bukan profesi
Dua orang pada profesi yang sama dapat membentuk pola profesional yang berbeda; ṬARĪQAH membaca pola yang benar-benar dijalani.
SHARĪ‘AH dan MINHĀJ
Kerangka ketentuan tidak sama dengan cara pelaksanaan. Metode yang efektif tidak membuat pelanggaran menjadi benar; batas yang benar juga tidak otomatis menghasilkan kerja baik bila cara pelaksanaan buruk.
Istilah “syar‘i”
“Syar‘i” bukan diksi Qur’ani langsung, bukan sinonim “syarat”, dan bukan label benda/profesi. Secara operasional ia menunjuk kesesuaian cara menjalani sesuatu dengan kerangka SHARĪ‘AH.
Kode tata laku
“Code of conduct” atau “kode tata laku” dapat dipakai sebagai analogi fungsi SHARĪ‘AH dalam konteks tertentu; “kode etik” terlalu sempit.
MINHĀJ
MINHĀJ boleh diterangkan secara operasional sebagai cara/metode yang jelas, tetapi bukti leksikal internalnya tidak cukup untuk penguncian penuh karena hanya satu kemunculan.
ḌARB
ḌARB bukan nama semua tindakan. Ia hanya salah satu keluarga operasi Qur’ani; karena itu tidak boleh dijadikan lensa jalan keenam.
Kegagalan dan keberhasilan
Keberhasilan duniawi suatu SABĪL tidak otomatis memvalidasi ṢIRĀṬ; kegagalannya tidak otomatis memfalsifikasi ṢIRĀṬ.
Keahlian
ṬARĪQAH yang mapan dan MINHĀJ yang kuat tidak menjamin arah benar. Orang dapat sangat efektif menuju tujuan yang salah.
Niat
Orientasi baik tidak menghapus kebutuhan akan cara yang jelas. Niat baik dengan MINHĀJ yang buruk dapat menghasilkan dampak buruk.
Keluarga
Lima lensa dapat dipakai untuk membaca orientasi keluarga, jalur pendidikan dan keteladanan, pola pengasuhan, batas hak dan keadilan, serta cara pelaksanaan pendidikan.
Organisasi
Lima lensa dapat mengaudit orientasi organisasi, produk atau kanal sebagai SABĪL, pola organisasi sebagai ṬARĪQAH, batas pengatur, dan cara pelaksanaan strategi.
Promosi jabatan
Promosi tidak cukup dinilai dari pendapatan. Ia juga harus dibaca dari keselarasan arah, jalur yang terbuka, pola diri yang akan terbentuk, batas yang tidak boleh dikorbankan, dan cara menjalankan peran.
Jalan menuju Allah
Tidak semua orang harus memakai SABĪL yang sama. Yang harus diperiksa adalah pada ṢIRĀṬ apa hidup disejajarkan, melalui jalur apa ia bergerak, pola apa yang ia bentuk, batas apa yang dijaga, dan cara apa yang dipakai.
Kalimat sintesis resmi: Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk mempunyai tujuan. Ia mengajarkan kita membedakan arah yang dituju, jalur yang tersedia, pola yang sedang dibentuk, batas yang harus dijaga, dan cara yang digunakan untuk menjalani perjalanan itu. Karena itu, “jalan menuju Allah” bukan satu profesi, satu aktivitas, atau satu bentuk kehidupan; ia adalah keseluruhan keselarasan arah hidup yang dapat ditempuh melalui banyak SABĪL, membentuk berbagai ṬARĪQAH, tetap berada dalam kerangka SHARĪ‘AH, dan dijalankan dengan MINHĀJ yang jelas.
Kalimat penutup resmi: Tidak semua orang harus berjalan melalui SABĪL yang sama, tetapi setiap orang perlu tahu pada ṢIRĀṬ apa hidupnya sedang disejajarkan.
LAMPIRAN C — KORPUS LENGKAP ṢIRĀṬ: SELURUH AYAT AKAR ص ر ط
Quranic Arabic Corpus mencatat 45 kemunculan dan seluruhnya berupa ṢIRĀṬ. Di bawah ini seluruh ayatnya ditampilkan lengkap agar pembaca dapat mengaudit distribusi, modifier, preposisi, atribusi, dan relasinya tanpa bergantung pada ayat pilihan. Total kemunculan menurut Quranic Arabic Corpus: 45. Jumlah ayat unik dalam inventaris ini: 45.
Al-Fatihah — Surah 1
QS Al-Fatihah 1:6
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
QS Al-Fatihah 1:7
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Al-Baqarah — Surah 2
QS Al-Baqarah 2:142
سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ ٱلَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus".
QS Al-Baqarah 2:213
كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Ali 'Imran — Surah 3
QS Ali 'Imran 3:51
إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۗ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus".
QS Ali 'Imran 3:101
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ءَايَـٰتُ ٱللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُۥ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِٱللَّهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
An-Nisa — Surah 4
QS An-Nisa 4:68
وَلَهَدَيْنَـٰهُمْ صِرَٰطًا مُّسْتَقِيمًا
dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.
QS An-Nisa 4:175
فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِهِۦ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِى رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَٰطًا مُّسْتَقِيمًا
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.
Al-Ma'idah — Surah 5
QS Al-Ma'idah 5:16
يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
Al-An'am — Surah 6
QS Al-An'am 6:39
وَٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ ۗ مَن يَشَإِ ٱللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَن يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.
QS Al-An'am 6:87
وَمِنْ ءَابَآئِهِمْ وَذُرِّيَّـٰتِهِمْ وَإِخْوَٰنِهِمْ ۖ وَٱجْتَبَيْنَـٰهُمْ وَهَدَيْنَـٰهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
QS Al-An'am 6:126
وَهَـٰذَا صِرَٰطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا ۗ قَدْ فَصَّلْنَا ٱلْءَايَـٰتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ
Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.
QS Al-An'am 6:153
وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
QS Al-An'am 6:161
قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik".
Al-A'raf — Surah 7
QS Al-A'raf 7:16
قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
QS Al-A'raf 7:86
وَلَا تَقْعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَٰطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ
Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Yunus — Surah 10
QS Yunus 10:25
وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَـٰمِ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).
Hud — Surah 11
QS Hud 11:56
إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus".
Ibrahim — Surah 14
QS Ibrahim 14:1
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ الٓر ۚ كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Al-Hijr — Surah 15
QS Al-Hijr 15:41
قَالَ هَـٰذَا صِرَٰطٌ عَلَىَّ مُسْتَقِيمٌ
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya).
An-Nahl — Surah 16
QS An-Nahl 16:76
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَآ أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَىْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَىٰهُ أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِى هُوَ وَمَن يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?
QS An-Nahl 16:121
شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
Maryam — Surah 19
QS Maryam 19:36
وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.
QS Maryam 19:43
يَـٰٓأَبَتِ إِنِّى قَدْ جَآءَنِى مِنَ ٱلْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَٱتَّبِعْنِىٓ أَهْدِكَ صِرَٰطًا سَوِيًّا
Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
Taha — Surah 20
QS Taha 20:135
قُلْ كُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا۟ ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَـٰبُ ٱلصِّرَٰطِ ٱلسَّوِىِّ وَمَنِ ٱهْتَدَىٰ
Katakanlah: “Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk".
Al-Hajj — Surah 22
QS Al-Hajj 22:24
وَهُدُوٓا۟ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلْقَوْلِ وَهُدُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْحَمِيدِ
Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.
QS Al-Hajj 22:54
وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا۟ بِهِۦ فَتُخْبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.
Al-Mu'minun — Surah 23
QS Al-Mu'minun 23:73
وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.
QS Al-Mu'minun 23:74
وَإِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْءَاخِرَةِ عَنِ ٱلصِّرَٰطِ لَنَـٰكِبُونَ
Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus).
An-Nur — Surah 24
QS An-Nur 24:46
لَّقَدْ أَنزَلْنَآ ءَايَـٰتٍ مُّبَيِّنَـٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Saba' — Surah 34
QS Saba' 34:6
وَيَرَى ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ ٱلْحَقَّ وَيَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Yasin — Surah 36
QS Yasin 36:4
عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
(yang berada) diatas jalan yang lurus,
QS Yasin 36:61
وَأَنِ ٱعْبُدُونِى ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
QS Yasin 36:66
وَلَوْ نَشَآءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰٓ أَعْيُنِهِمْ فَٱسْتَبَقُوا۟ ٱلصِّرَٰطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ
Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).
As-Saffat — Surah 37
QS As-Saffat 37:23
مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْجَحِيمِ
selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.
QS As-Saffat 37:118
وَهَدَيْنَـٰهُمَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.
Sad — Surah 38
QS Sad 38:22
إِذْ دَخَلُوا۟ عَلَىٰ دَاوُۥدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ ۖ قَالُوا۟ لَا تَخَفْ ۖ خَصْمَانِ بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ فَٱحْكُم بَيْنَنَا بِٱلْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَٱهْدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ
Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.
Asy-Syura — Surah 42
QS Asy-Syura 42:52
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَـٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَـٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
QS Asy-Syura 42:53
صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلْأُمُورُ
(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.
Az-Zukhruf — Surah 43
QS Az-Zukhruf 43:43
فَٱسْتَمْسِكْ بِٱلَّذِىٓ أُوحِىَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.
QS Az-Zukhruf 43:61
وَإِنَّهُۥ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَٱتَّبِعُونِ ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.
QS Az-Zukhruf 43:64
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.
Al-Fath — Surah 48
QS Al-Fath 48:2
لِّيَغْفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَٰطًا مُّسْتَقِيمًا
supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,
QS Al-Fath 48:20
وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَـٰذِهِۦ وَكَفَّ أَيْدِىَ ٱلنَّاسِ عَنكُمْ وَلِتَكُونَ ءَايَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَٰطًا مُّسْتَقِيمًا
Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.
Al-Mulk — Surah 67
QS Al-Mulk 67:22
أَفَمَن يَمْشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِۦٓ أَهْدَىٰٓ أَمَّن يَمْشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?
LAMPIRAN D — KORPUS LENGKAP SABĪL: SELURUH AYAT AKAR س ب ل
Quranic Arabic Corpus mencatat 176 kemunculan SABĪL/SUBUL yang tersebar pada 164 ayat. Karena beberapa ayat memuat lebih dari satu kemunculan, ayat ditampilkan sekali dan jumlah kemunculan pada ayat tersebut dicatat pada judul ayat bila lebih dari satu. Total kemunculan menurut Quranic Arabic Corpus: 176. Jumlah ayat unik dalam inventaris ini: 164.
Al-Baqarah — Surah 2
QS Al-Baqarah 2:108
أَمْ تُرِيدُونَ أَن تَسْـَٔلُوا۟ رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِن قَبْلُ ۗ وَمَن يَتَبَدَّلِ ٱلْكُفْرَ بِٱلْإِيمَـٰنِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ
Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.
QS Al-Baqarah 2:154
وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَن يُقْتَلُ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتٌۢ ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ وَلَـٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
QS Al-Baqarah 2:177
لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَـٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
QS Al-Baqarah 2:190
وَقَـٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَـٰتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
QS Al-Baqarah 2:195
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
QS Al-Baqarah 2:215
يَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَآ أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.
QS Al-Baqarah 2:217
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهْرِ ٱلْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَكُفْرٌۢ بِهِۦ وَٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِۦ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَٱلْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ ٱلْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَـٰتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ ٱسْتَطَـٰعُوا۟ ۚ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَـٰلُهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ أَصْحَـٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
QS Al-Baqarah 2:218
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَـٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS Al-Baqarah 2:244
وَقَـٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS Al-Baqarah 2:246 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَـٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَـٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَـٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَـٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّـٰلِمِينَ
Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.
QS Al-Baqarah 2:261
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَـٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
QS Al-Baqarah 2:262
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّا وَلَآ أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
QS Al-Baqarah 2:273
لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَـٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.
Ali 'Imran — Surah 3
QS Ali 'Imran 3:13
قَدْ كَانَ لَكُمْ ءَايَةٌ فِى فِئَتَيْنِ ٱلْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَـٰتِلُ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُم مِّثْلَيْهِمْ رَأْىَ ٱلْعَيْنِ ۚ وَٱللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِۦ مَن يَشَآءُ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُو۟لِى ٱلْأَبْصَـٰرِ
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.
QS Ali 'Imran 3:75
وَمِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِۦٓ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِۦٓ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَآئِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا۟ لَيْسَ عَلَيْنَا فِى ٱلْأُمِّيِّـۧنَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.
QS Ali 'Imran 3:97
فِيهِ ءَايَـٰتٌۢ بَيِّنَـٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
QS Ali 'Imran 3:99
قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنتُمْ شُهَدَآءُ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?". Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
QS Ali 'Imran 3:146
وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّ قَـٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا۟ لِمَآ أَصَابَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا۟ وَمَا ٱسْتَكَانُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.
QS Ali 'Imran 3:157
وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.
QS Ali 'Imran 3:167
وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ قَـٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّٱتَّبَعْنَـٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَـٰنِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ
Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
QS Ali 'Imran 3:169
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
QS Ali 'Imran 3:195
فَٱسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّى لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَـٰمِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّنۢ بَعْضٍ ۖ فَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَأُخْرِجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِمْ وَأُوذُوا۟ فِى سَبِيلِى وَقَـٰتَلُوا۟ وَقُتِلُوا۟ لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّـَٔاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ ثَوَابًا مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلثَّوَابِ
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik".
An-Nisa — Surah 4
QS An-Nisa 4:15
وَٱلَّـٰتِى يَأْتِينَ ٱلْفَـٰحِشَةَ مِن نِّسَآئِكُمْ فَٱسْتَشْهِدُوا۟ عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِّنكُمْ ۖ فَإِن شَهِدُوا۟ فَأَمْسِكُوهُنَّ فِى ٱلْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّىٰهُنَّ ٱلْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ ٱللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya.
QS An-Nisa 4:22
وَلَا تَنكِحُوا۟ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةً وَمَقْتًا وَسَآءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).
QS An-Nisa 4:34
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
QS An-Nisa 4:36
وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
QS An-Nisa 4:43
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَـٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
QS An-Nisa 4:44
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ نَصِيبًا مِّنَ ٱلْكِتَـٰبِ يَشْتَرُونَ ٱلضَّلَـٰلَةَ وَيُرِيدُونَ أَن تَضِلُّوا۟ ٱلسَّبِيلَ
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).
QS An-Nisa 4:51
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ نَصِيبًا مِّنَ ٱلْكِتَـٰبِ يُؤْمِنُونَ بِٱلْجِبْتِ وَٱلطَّـٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ هَـٰٓؤُلَآءِ أَهْدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ سَبِيلًا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.
QS An-Nisa 4:74 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
فَلْيُقَـٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يَشْرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا بِٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَمَن يُقَـٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.
QS An-Nisa 4:75
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هَـٰذِهِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلظَّالِمِ أَهْلُهَا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".
QS An-Nisa 4:76 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱلطَّـٰغُوتِ فَقَـٰتِلُوٓا۟ أَوْلِيَآءَ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۖ إِنَّ كَيْدَ ٱلشَّيْطَـٰنِ كَانَ ضَعِيفًا
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.
QS An-Nisa 4:84
فَقَـٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ ۚ وَحَرِّضِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَكُفَّ بَأْسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَٱللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنكِيلًا
Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).
QS An-Nisa 4:88
فَمَا لَكُمْ فِى ٱلْمُنَـٰفِقِينَ فِئَتَيْنِ وَٱللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوٓا۟ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَهْدُوا۟ مَنْ أَضَلَّ ٱللَّهُ ۖ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ سَبِيلًا
Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.
QS An-Nisa 4:89
وَدُّوا۟ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا۟ فَتَكُونُونَ سَوَآءً ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا۟ مِنْهُمْ أَوْلِيَآءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَخُذُوهُمْ وَٱقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوا۟ مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,
QS An-Nisa 4:90
إِلَّا ٱلَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَـٰقٌ أَوْ جَآءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَن يُقَـٰتِلُوكُمْ أَوْ يُقَـٰتِلُوا۟ قَوْمَهُمْ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَـٰتَلُوكُمْ ۚ فَإِنِ ٱعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا۟ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَمَ فَمَا جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا
kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.
QS An-Nisa 4:94
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَتَبَيَّنُوا۟ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَـٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فَعِندَ ٱللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam" kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS An-Nisa 4:95
لَّا يَسْتَوِى ٱلْقَـٰعِدُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُو۟لِى ٱلضَّرَرِ وَٱلْمُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ ٱللَّهُ ٱلْمُجَـٰهِدِينَ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى ٱلْقَـٰعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ ٱللَّهُ ٱلْمُجَـٰهِدِينَ عَلَى ٱلْقَـٰعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,
QS An-Nisa 4:98
إِلَّا ٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا
kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),
QS An-Nisa 4:100
وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS An-Nisa 4:115
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
QS An-Nisa 4:137
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ثُمَّ كَفَرُوا۟ ثُمَّ ءَامَنُوا۟ ثُمَّ كَفَرُوا۟ ثُمَّ ٱزْدَادُوا۟ كُفْرًا لَّمْ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًۢا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.
QS An-Nisa 4:141
ٱلَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِن كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِّنَ ٱللَّهِ قَالُوٓا۟ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ وَإِن كَانَ لِلْكَـٰفِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوٓا۟ أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُم مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۚ فَٱللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۗ وَلَن يَجْعَلَ ٱللَّهُ لِلْكَـٰفِرِينَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.
QS An-Nisa 4:143
مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ سَبِيلًا
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.
QS An-Nisa 4:150
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا۟ بَيْنَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا۟ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),
QS An-Nisa 4:160
فَبِظُلْمٍ مِّنَ ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَـٰتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ كَثِيرًا
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,
QS An-Nisa 4:167
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ قَدْ ضَلُّوا۟ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.
Al-Ma'idah — Surah 5
QS Al-Ma'idah 5:12
وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.
QS Al-Ma'idah 5:16
يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
QS Al-Ma'idah 5:35
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَـٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
QS Al-Ma'idah 5:54
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
QS Al-Ma'idah 5:60
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ ٱلْقِرَدَةَ وَٱلْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ ٱلطَّـٰغُوتَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ
Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
QS Al-Ma'idah 5:77
قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓا۟ أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus".
Al-An'am — Surah 6
QS Al-An'am 6:55
وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَـٰتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ ٱلْمُجْرِمِينَ
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.
QS Al-An'am 6:116
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
QS Al-An'am 6:117
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.
QS Al-An'am 6:153 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
Al-A'raf — Surah 7
QS Al-A'raf 7:45
ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُم بِٱلْءَاخِرَةِ كَـٰفِرُونَ
(yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat".
QS Al-A'raf 7:86
وَلَا تَقْعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَٰطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ
Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
QS Al-A'raf 7:142
وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَـٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَـٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَـٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَـٰرُونَ ٱخْلُفْنِى فِى قَوْمِى وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ ٱلْمُفْسِدِينَ
Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan".
QS Al-A'raf 7:146 — 4 kemunculan akar dalam ayat ini
سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَـٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا وَكَانُوا۟ عَنْهَا غَـٰفِلِينَ
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.
QS Al-A'raf 7:148
وَٱتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعْدِهِۦ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُۥ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُوا۟ ظَـٰلِمِينَ
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.
Al-Anfal — Surah 8
QS Al-Anfal 8:36
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ لِيَصُدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,
QS Al-Anfal 8:41
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS Al-Anfal 8:47
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِم بَطَرًا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.
QS Al-Anfal 8:60
وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
QS Al-Anfal 8:72
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لَـٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يُهَاجِرُوا۟ مَا لَكُم مِّن وَلَـٰيَتِهِم مِّن شَىْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ ۚ وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَـٰقٌ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
QS Al-Anfal 8:74
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.
At-Taubah — Surah 9
QS At-Taubah 9:5
فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلْأَشْهُرُ ٱلْحُرُمُ فَٱقْتُلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَٱحْصُرُوهُمْ وَٱقْعُدُوا۟ لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ ۚ فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَخَلُّوا۟ سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.
QS At-Taubah 9:9
ٱشْتَرَوْا۟ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِهِۦٓ ۚ إِنَّهُمْ سَآءَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.
QS At-Taubah 9:19
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ ٱلْحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَجَـٰهَدَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
QS At-Taubah 9:20
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
QS At-Taubah 9:24
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَـٰسِقِينَ
Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
QS At-Taubah 9:34 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَـٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
QS At-Taubah 9:38
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلْتُمْ إِلَى ٱلْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا مِنَ ٱلْءَاخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.
QS At-Taubah 9:41
ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَـٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
QS At-Taubah 9:60 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
إِنَّمَا ٱلصَّدَقَـٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْعَـٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَـٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
QS At-Taubah 9:81
فَرِحَ ٱلْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَـٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ وَكَرِهُوٓا۟ أَن يُجَـٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَالُوا۟ لَا تَنفِرُوا۟ فِى ٱلْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَّوْ كَانُوا۟ يَفْقَهُونَ
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.
QS At-Taubah 9:91
لَّيْسَ عَلَى ٱلضُّعَفَآءِ وَلَا عَلَى ٱلْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا۟ لِلَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۚ مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
QS At-Taubah 9:93
إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَسْتَـْٔذِنُونَكَ وَهُمْ أَغْنِيَآءُ ۚ رَضُوا۟ بِأَن يَكُونُوا۟ مَعَ ٱلْخَوَالِفِ وَطَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).
QS At-Taubah 9:111
إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ وَٱلْقُرْءَانِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِ ۚ فَٱسْتَبْشِرُوا۟ بِبَيْعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعْتُم بِهِۦ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
QS At-Taubah 9:120
مَا كَانَ لِأَهْلِ ٱلْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ ٱلْأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا۟ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا۟ بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ ٱلْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٌ صَـٰلِحٌ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
Yunus — Surah 10
QS Yunus 10:88
وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةً وَأَمْوَٰلًا فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا۟ عَن سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا ٱطْمِسْ عَلَىٰٓ أَمْوَٰلِهِمْ وَٱشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا۟ حَتَّىٰ يَرَوُا۟ ٱلْعَذَابَ ٱلْأَلِيمَ
Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami -- akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih".
QS Yunus 10:89
قَالَ قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَٱسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui".
Hud — Surah 11
QS Hud 11:19
ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُم بِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ كَـٰفِرُونَ
(yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat.
Yusuf — Surah 12
QS Yusuf 12:108
قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".
Ar-Ra'd — Surah 13
QS Ar-Ra'd 13:33
أَفَمَنْ هُوَ قَآئِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ ۗ وَجَعَلُوا۟ لِلَّهِ شُرَكَآءَ قُلْ سَمُّوهُمْ ۚ أَمْ تُنَبِّـُٔونَهُۥ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلْأَرْضِ أَم بِظَـٰهِرٍ مِّنَ ٱلْقَوْلِ ۗ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا۟ عَنِ ٱلسَّبِيلِ ۗ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ
Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu". Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.
Ibrahim — Surah 14
QS Ibrahim 14:3
ٱلَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا عَلَى ٱلْءَاخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ فِى ضَلَـٰلٍۭ بَعِيدٍ
(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
QS Ibrahim 14:12
وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ
Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri".
QS Ibrahim 14:30
وَجَعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلُّوا۟ عَن سَبِيلِهِۦ ۗ قُلْ تَمَتَّعُوا۟ فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى ٱلنَّارِ
Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka".
Al-Hijr — Surah 15
QS Al-Hijr 15:76
وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُّقِيمٍ
Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).
An-Nahl — Surah 16
QS An-Nahl 16:9
وَعَلَى ٱللَّهِ قَصْدُ ٱلسَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَهَدَىٰكُمْ أَجْمَعِينَ
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).
QS An-Nahl 16:15
وَأَلْقَىٰ فِى ٱلْأَرْضِ رَوَٰسِىَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَـٰرًا وَسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,
QS An-Nahl 16:69
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
QS An-Nahl 16:88
ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدْنَـٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ ٱلْعَذَابِ بِمَا كَانُوا۟ يُفْسِدُونَ
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.
QS An-Nahl 16:94
وَلَا تَتَّخِذُوٓا۟ أَيْمَـٰنَكُمْ دَخَلًۢا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌۢ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا۟ ٱلسُّوٓءَ بِمَا صَدَدتُّمْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.
QS An-Nahl 16:125 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Al-Isra' — Surah 17
QS Al-Isra' 17:26
وَءَاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
QS Al-Isra' 17:32
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.
QS Al-Isra' 17:42
قُل لَّوْ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَّٱبْتَغَوْا۟ إِلَىٰ ذِى ٱلْعَرْشِ سَبِيلًا
Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy".
QS Al-Isra' 17:48
ٱنظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا۟ لَكَ ٱلْأَمْثَالَ فَضَلُّوا۟ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا
Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).
QS Al-Isra' 17:72
وَمَن كَانَ فِى هَـٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).
QS Al-Isra' 17:84
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
QS Al-Isra' 17:110
قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".
Al-Kahf — Surah 18
QS Al-Kahf 18:61
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِى ٱلْبَحْرِ سَرَبًا
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
QS Al-Kahf 18:63
قَالَ أَرَءَيْتَ إِذْ أَوَيْنَآ إِلَى ٱلصَّخْرَةِ فَإِنِّى نَسِيتُ ٱلْحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيْطَـٰنُ أَنْ أَذْكُرَهُۥ ۚ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِى ٱلْبَحْرِ عَجَبًا
Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali".
Taha — Surah 20
QS Taha 20:53
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّن نَّبَاتٍ شَتَّىٰ
Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.
Al-Anbiya' — Surah 21
QS Al-Anbiya' 21:31
وَجَعَلْنَا فِى ٱلْأَرْضِ رَوَٰسِىَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.
Al-Hajj — Surah 22
QS Al-Hajj 22:9
ثَانِىَ عِطْفِهِۦ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ لَهُۥ فِى ٱلدُّنْيَا خِزْىٌ ۖ وَنُذِيقُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ
dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.
QS Al-Hajj 22:25
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ٱلَّذِى جَعَلْنَـٰهُ لِلنَّاسِ سَوَآءً ٱلْعَـٰكِفُ فِيهِ وَٱلْبَادِ ۚ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍۭ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.
QS Al-Hajj 22:58
وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوٓا۟ أَوْ مَاتُوا۟ لَيَرْزُقَنَّهُمُ ٱللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ
Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.
An-Nur — Surah 24
QS An-Nur 24:22
وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱلْمُهَـٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
Al-Furqan — Surah 25
QS Al-Furqan 25:9
ٱنظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا۟ لَكَ ٱلْأَمْثَـٰلَ فَضَلُّوا۟ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا
Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).
QS Al-Furqan 25:17
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَقُولُ ءَأَنتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِى هَـٰٓؤُلَآءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا۟ ٱلسَّبِيلَ
Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah); “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?".
QS Al-Furqan 25:27
وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَـٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".
QS Al-Furqan 25:34
ٱلَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُو۟لَـٰٓئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.
QS Al-Furqan 25:42
إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ ءَالِهَتِنَا لَوْلَآ أَن صَبَرْنَا عَلَيْهَا ۚ وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ ٱلْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar(menyembah)nya" dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.
QS Al-Furqan 25:44
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعَـٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
QS Al-Furqan 25:57
قُلْ مَآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.
An-Naml — Surah 27
QS An-Naml 27:24
وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَعْمَـٰلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ
Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,
Al-Qasas — Surah 28
QS Al-Qasas 28:22
وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَآءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّىٓ أَن يَهْدِيَنِى سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ
Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar".
Al-'Ankabut — Surah 29
QS Al-'Ankabut 29:12
وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّبِعُوا۟ سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَـٰيَـٰكُمْ وَمَا هُم بِحَـٰمِلِينَ مِنْ خَطَـٰيَـٰهُم مِّن شَىْءٍ ۖ إِنَّهُمْ لَكَـٰذِبُونَ
Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu", dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.
QS Al-'Ankabut 29:29
أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ ٱلسَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِى نَادِيكُمُ ٱلْمُنكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوا۟ ٱئْتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ
Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar".
QS Al-'Ankabut 29:38
وَعَادًا وَثَمُودَا۟ وَقَد تَّبَيَّنَ لَكُم مِّن مَّسَـٰكِنِهِمْ ۖ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَعْمَـٰلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَكَانُوا۟ مُسْتَبْصِرِينَ
Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam,
QS Al-'Ankabut 29:69
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Ar-Rum — Surah 30
QS Ar-Rum 30:38
فَـَٔاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ ٱللَّهِ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.
Luqman — Surah 31
QS Luqman 31:6
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
QS Luqman 31:15
وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Al-Ahzab — Surah 33
QS Al-Ahzab 33:4
مَّا جَعَلَ ٱللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِى جَوْفِهِۦ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَٰجَكُمُ ٱلَّـٰٓـِٔى تُظَـٰهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَـٰتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَآءَكُمْ أَبْنَآءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَٰهِكُمْ ۖ وَٱللَّهُ يَقُولُ ٱلْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِى ٱلسَّبِيلَ
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
QS Al-Ahzab 33:67
وَقَالُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠
Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Sad — Surah 38
QS Sad 38:26 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
يَـٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَـٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.
Az-Zumar — Surah 39
QS Az-Zumar 39:8
وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَـٰنَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِىَ مَا كَانَ يَدْعُوٓا۟ إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَـٰبِ ٱلنَّارِ
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka".
Ghafir — Surah 40
QS Ghafir 40:7
ٱلَّذِينَ يَحْمِلُونَ ٱلْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُۥ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِۦ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَٱغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا۟ وَٱتَّبَعُوا۟ سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ ٱلْجَحِيمِ
(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,
QS Ghafir 40:11
قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَمَتَّنَا ٱثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا ٱثْنَتَيْنِ فَٱعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ
Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?"
QS Ghafir 40:29
يَـٰقَوْمِ لَكُمُ ٱلْمُلْكُ ٱلْيَوْمَ ظَـٰهِرِينَ فِى ٱلْأَرْضِ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأْسِ ٱللَّهِ إِن جَآءَنَا ۚ قَالَ فِرْعَوْنُ مَآ أُرِيكُمْ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ
(Musa berkata): “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!" Fir'aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar".
QS Ghafir 40:37
أَسْبَـٰبَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰٓ إِلَـٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّى لَأَظُنُّهُۥ كَـٰذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِى تَبَابٍ
(yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.
QS Ghafir 40:38
وَقَالَ ٱلَّذِىٓ ءَامَنَ يَـٰقَوْمِ ٱتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ
Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.
Asy-Syura — Surah 42
QS Asy-Syura 42:41
وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ
Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.
QS Asy-Syura 42:42
إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.
QS Asy-Syura 42:44
وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن وَلِىٍّ مِّنۢ بَعْدِهِۦ ۗ وَتَرَى ٱلظَّـٰلِمِينَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِّن سَبِيلٍ
Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?"
QS Asy-Syura 42:46
وَمَا كَانَ لَهُم مِّنْ أَوْلِيَآءَ يَنصُرُونَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن سَبِيلٍ
Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidaklah ada baginya satu jalanpun (untuk mendapat petunjuk).
Az-Zukhruf — Surah 43
QS Az-Zukhruf 43:10
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.
QS Az-Zukhruf 43:37
وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.
Muhammad — Surah 47
QS Muhammad 47:1
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَـٰلَهُمْ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka.
QS Muhammad 47:4
فَإِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَضَرْبَ ٱلرِّقَابِ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا۟ ٱلْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّۢا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَآءً حَتَّىٰ تَضَعَ ٱلْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ ۗ وَٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعْمَـٰلَهُمْ
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
QS Muhammad 47:32
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَشَآقُّوا۟ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلْهُدَىٰ لَن يَضُرُّوا۟ ٱللَّهَ شَيْـًٔا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَـٰلَهُمْ
Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.
QS Muhammad 47:34
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ مَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَهُمْ
Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka.
QS Muhammad 47:38
هَـٰٓأَنتُمْ هَـٰٓؤُلَآءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ ۖ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ وَٱللَّهُ ٱلْغَنِىُّ وَأَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ ۚ وَإِن تَتَوَلَّوْا۟ يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓا۟ أَمْثَـٰلَكُم
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.
Al-Hujurat — Surah 49
QS Al-Hujurat 49:15
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
An-Najm — Surah 53
QS An-Najm 53:30
ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱهْتَدَىٰ
Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Al-Hadid — Surah 57
QS Al-Hadid 57:10
وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ ٱلْفَتْحِ وَقَـٰتَلَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُوا۟ مِنۢ بَعْدُ وَقَـٰتَلُوا۟ ۚ وَكُلًّا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Al-Mujadilah — Surah 58
QS Al-Mujadilah 58:16
ٱتَّخَذُوٓا۟ أَيْمَـٰنَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan.
Al-Hasyr — Surah 59
QS Al-Hasyr 59:7
مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
Al-Mumtahanah — Surah 60
QS Al-Mumtahanah 60:1 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلْحَقِّ يُخْرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَـٰدًا فِى سَبِيلِى وَٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِى ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعْلَمُ بِمَآ أَخْفَيْتُمْ وَمَآ أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
As-Saff — Surah 61
QS As-Saff 61:4
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَـٰنٌ مَّرْصُوصٌ
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
QS As-Saff 61:11
تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Al-Munafiqun — Surah 63
QS Al-Munafiqun 63:2
ٱتَّخَذُوٓا۟ أَيْمَـٰنَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَآءَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
Al-Qalam — Surah 68
QS Al-Qalam 68:7
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Nuh — Surah 71
QS Nuh 71:20
لِّتَسْلُكُوا۟ مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا
supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu".
Al-Muzzammil — Surah 73
QS Al-Muzzammil 73:19
إِنَّ هَـٰذِهِۦ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا
Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.
QS Al-Muzzammil 73:20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَىِ ٱلَّيْلِ وَنِصْفَهُۥ وَثُلُثَهُۥ وَطَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَٱللَّهُ يُقَدِّرُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِى ٱلْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَءَاخَرُونَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Insan — Surah 76
QS Al-Insan 76:3
إِنَّا هَدَيْنَـٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
QS Al-Insan 76:29
إِنَّ هَـٰذِهِۦ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا
Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.
Abasa — Surah 80
QS Abasa 80:20
ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ
Kemudian Dia memudahkan jalannya.
LAMPIRAN E — KORPUS LENGKAP ṬARĪQ / ṬARĪQAH / ṬĀRIQ: SELURUH AYAT AKAR ط ر ق
Quranic Arabic Corpus mencatat 11 kemunculan dalam tiga bentuk: ṬARĪQ, ṬARĪQAH/ṬARĀ’IQ, dan ṬĀRIQ. Seluruh ayatnya ditampilkan lengkap. Total kemunculan menurut Quranic Arabic Corpus: 11. Jumlah ayat unik dalam inventaris ini: 11.
An-Nisa — Surah 4
QS An-Nisa 4:168
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَظَلَمُوا۟ لَمْ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka,
QS An-Nisa 4:169
إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا
kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Taha — Surah 20
QS Taha 20:63
قَالُوٓا۟ إِنْ هَـٰذَٰنِ لَسَـٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلْمُثْلَىٰ
Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.
QS Taha 20:77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِى فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِى ٱلْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَـٰفُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)".
QS Taha 20:104
نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا
Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja".
Al-Mu'minun — Surah 23
QS Al-Mu'minun 23:17
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلْخَلْقِ غَـٰفِلِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).
Al-Ahqaf — Surah 46
QS Al-Ahqaf 46:30
قَالُوا۟ يَـٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَـٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
Al-Jinn — Surah 72
QS Al-Jinn 72:11
وَأَنَّا مِنَّا ٱلصَّـٰلِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
QS Al-Jinn 72:16
وَأَلَّوِ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَـٰهُم مَّآءً غَدَقًا
Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).
At-Tariq — Surah 86
QS At-Tariq 86:1
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَٱلسَّمَآءِ وَٱلطَّارِقِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi langit dan yang datang pada malam hari,
QS At-Tariq 86:2
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلطَّارِقُ
tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
LAMPIRAN F — KORPUS LENGKAP KELUARGA SHARĪ‘AH: SELURUH AYAT AKAR ش ر ع
Quranic Arabic Corpus mencatat lima kemunculan dalam empat bentuk. Korpus kecil ini sangat penting karena QS 7:163 menjadi contoh kontrol terhadap penyamaan seluruh akar dengan “hukum”. Total kemunculan menurut Quranic Arabic Corpus: 5. Jumlah ayat unik dalam inventaris ini: 5.
Al-Ma'idah — Surah 5
QS Al-Ma'idah 5:48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,
Al-A'raf — Surah 7
QS Al-A'raf 7:163
وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِى كَانَتْ حَاضِرَةَ ٱلْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِى ٱلسَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
Asy-Syura — Surah 42
QS Asy-Syura 42:13
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
QS Asy-Syura 42:21
أَمْ لَهُمْ شُرَكَـٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ ٱلْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱلظَّـٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.
Al-Jasiyah — Surah 45
QS Al-Jasiyah 45:18
ثُمَّ جَعَلْنَـٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui
LAMPIRAN G — KORPUS LENGKAP MINHĀJ: SELURUH AYAT AKAR ن ه ج
Akar ن ه ج hanya muncul satu kali, yaitu MINHĀJ pada QS 5:48. Keterbatasan ini menjadi alasan mengapa kajian hanya memberi penguncian berbatas, bukan definisi leksikal penuh. Total kemunculan menurut Quranic Arabic Corpus: 1. Jumlah ayat unik dalam inventaris ini: 1.
Al-Ma'idah — Surah 5
QS Al-Ma'idah 5:48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,
LAMPIRAN H — KORPUS LENGKAP ḌARB: SELURUH AYAT AKAR ض ر ب
Quranic Arabic Corpus mencatat 58 kemunculan dalam 54 ayat. Seluruh ayat ditampilkan untuk memperlihatkan mengapa ḌARB tidak dapat dipaksa menjadi “jalan” atau bahkan satu arti tunggal tanpa memperhatikan konstruksi. Total kemunculan menurut Quranic Arabic Corpus: 58. Jumlah ayat unik dalam inventaris ini: 54.
Al-Baqarah — Surah 2
QS Al-Baqarah 2:26
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلْفَـٰسِقِينَ
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
QS Al-Baqarah 2:60
وَإِذِ ٱسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ فَقُلْنَا ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنفَجَرَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ مِن رِّزْقِ ٱللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.
QS Al-Baqarah 2:61
وَإِذْ قُلْتُمْ يَـٰمُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَٰحِدٍ فَٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ مِنۢ بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ ٱلَّذِى هُوَ أَدْنَىٰ بِٱلَّذِى هُوَ خَيْرٌ ۚ ٱهْبِطُوا۟ مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلْمَسْكَنَةُ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.
QS Al-Baqarah 2:73
فَقُلْنَا ٱضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْىِ ٱللَّهُ ٱلْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.
QS Al-Baqarah 2:273
لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَـٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.
Ali 'Imran — Surah 3
QS Ali 'Imran 3:112 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلْأَنۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
QS Ali 'Imran 3:156
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَقَالُوا۟ لِإِخْوَٰنِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ أَوْ كَانُوا۟ غُزًّى لَّوْ كَانُوا۟ عِندَنَا مَا مَاتُوا۟ وَمَا قُتِلُوا۟ لِيَجْعَلَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ حَسْرَةً فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.
An-Nisa — Surah 4
QS An-Nisa 4:34
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
QS An-Nisa 4:94
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَتَبَيَّنُوا۟ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَـٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فَعِندَ ٱللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam" kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS An-Nisa 4:101
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا۟ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱلْكَـٰفِرِينَ كَانُوا۟ لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Al-Ma'idah — Surah 5
QS Al-Ma'idah 5:106
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ شَهَـٰدَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ حِينَ ٱلْوَصِيَّةِ ٱثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ أَوْ ءَاخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنتُمْ ضَرَبْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ فَأَصَـٰبَتْكُم مُّصِيبَةُ ٱلْمَوْتِ ۚ تَحْبِسُونَهُمَا مِنۢ بَعْدِ ٱلصَّلَوٰةِ فَيُقْسِمَانِ بِٱللَّهِ إِنِ ٱرْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِى بِهِۦ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۙ وَلَا نَكْتُمُ شَهَـٰدَةَ ٱللَّهِ إِنَّآ إِذًا لَّمِنَ ٱلْءَاثِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa".
Al-A'raf — Surah 7
QS Al-A'raf 7:160
وَقَطَّعْنَـٰهُمُ ٱثْنَتَىْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا ۚ وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسْتَسْقَىٰهُ قَوْمُهُۥٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنۢبَجَسَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۚ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ ٱلْغَمَـٰمَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْهِمُ ٱلْمَنَّ وَٱلسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَـٰتِ مَا رَزَقْنَـٰكُمْ ۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.
Al-Anfal — Surah 8
QS Al-Anfal 8:12 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
إِذْ يُوحِى رَبُّكَ إِلَى ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ أَنِّى مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۚ سَأُلْقِى فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلرُّعْبَ فَٱضْرِبُوا۟ فَوْقَ ٱلْأَعْنَاقِ وَٱضْرِبُوا۟ مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.
QS Al-Anfal 8:50
وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ يَتَوَفَّى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۙ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَـٰرَهُمْ وَذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ
Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri).
Ar-Ra'd — Surah 13
QS Ar-Ra'd 13:17 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌۢ بِقَدَرِهَا فَٱحْتَمَلَ ٱلسَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِى ٱلنَّارِ ٱبْتِغَآءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَـٰعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْحَقَّ وَٱلْبَـٰطِلَ ۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.
Ibrahim — Surah 14
QS Ibrahim 14:24
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
QS Ibrahim 14:25
تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
QS Ibrahim 14:45
وَسَكَنتُمْ فِى مَسَـٰكِنِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ ٱلْأَمْثَالَ
dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan".
An-Nahl — Surah 16
QS An-Nahl 16:74
فَلَا تَضْرِبُوا۟ لِلَّهِ ٱلْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
QS An-Nahl 16:75
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَّمْلُوكًا لَّا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَىْءٍ وَمَن رَّزَقْنَـٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُۥنَ ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.
QS An-Nahl 16:76
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَآ أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَىْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَىٰهُ أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِى هُوَ وَمَن يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?
QS An-Nahl 16:112
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
Al-Isra' — Surah 17
QS Al-Isra' 17:48
ٱنظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا۟ لَكَ ٱلْأَمْثَالَ فَضَلُّوا۟ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا
Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).
Al-Kahf — Surah 18
QS Al-Kahf 18:11
فَضَرَبْنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمْ فِى ٱلْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,
QS Al-Kahf 18:32
وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَـٰبٍ وَحَفَفْنَـٰهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
QS Al-Kahf 18:45
وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَـٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَـٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرًا
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Taha — Surah 20
QS Taha 20:77
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِى فَٱضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِى ٱلْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَـٰفُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)".
Al-Hajj — Surah 22
QS Al-Hajj 22:73
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلْمَطْلُوبُ
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
An-Nur — Surah 24
QS An-Nur 24:31 — 2 kemunculan akar dalam ayat ini
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَـٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَـٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
QS An-Nur 24:35
ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَـٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَـٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Al-Furqan — Surah 25
QS Al-Furqan 25:9
ٱنظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا۟ لَكَ ٱلْأَمْثَـٰلَ فَضَلُّوا۟ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا
Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).
QS Al-Furqan 25:39
وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ ٱلْأَمْثَـٰلَ ۖ وَكُلًّا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا
Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.
Asy-Syu'ara — Surah 26
QS Asy-Syu'ara 26:63
فَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْبَحْرَ ۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَٱلطَّوْدِ ٱلْعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.
Al-'Ankabut — Surah 29
QS Al-'Ankabut 29:43
وَتِلْكَ ٱلْأَمْثَـٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَآ إِلَّا ٱلْعَـٰلِمُونَ
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.
Ar-Rum — Surah 30
QS Ar-Rum 30:28
ضَرَبَ لَكُم مَّثَلًا مِّنْ أَنفُسِكُمْ ۖ هَل لَّكُم مِّن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُم مِّن شُرَكَآءَ فِى مَا رَزَقْنَـٰكُمْ فَأَنتُمْ فِيهِ سَوَآءٌ تَخَافُونَهُمْ كَخِيفَتِكُمْ أَنفُسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَـٰتِ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.
QS Ar-Rum 30:58
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِى هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَلَئِن جِئْتَهُم بِـَٔايَةٍ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا مُبْطِلُونَ
Dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka".
Yasin — Surah 36
QS Yasin 36:13
وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا أَصْحَـٰبَ ٱلْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا ٱلْمُرْسَلُونَ
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
QS Yasin 36:78
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِىَ خَلْقَهُۥ ۖ قَالَ مَن يُحْىِ ٱلْعِظَـٰمَ وَهِىَ رَمِيمٌ
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
As-Saffat — Surah 37
QS As-Saffat 37:93
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًۢا بِٱلْيَمِينِ
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat).
Sad — Surah 38
QS Sad 38:44
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَـٰهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).
Az-Zumar — Surah 39
QS Az-Zumar 39:27
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِى هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.
QS Az-Zumar 39:29
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَـٰكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Az-Zukhruf — Surah 43
QS Az-Zukhruf 43:5
أَفَنَضْرِبُ عَنكُمُ ٱلذِّكْرَ صَفْحًا أَن كُنتُمْ قَوْمًا مُّسْرِفِينَ
Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?
QS Az-Zukhruf 43:17
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَـٰنِ مَثَلًا ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ
Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.
QS Az-Zukhruf 43:57
وَلَمَّا ضُرِبَ ٱبْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ
Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamnaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.
QS Az-Zukhruf 43:58
وَقَالُوٓا۟ ءَأَـٰلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ ۚ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًۢا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?" Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.
Muhammad — Surah 47
QS Muhammad 47:3
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱتَّبَعُوا۟ ٱلْبَـٰطِلَ وَأَنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّبَعُوا۟ ٱلْحَقَّ مِن رَّبِّهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَـٰلَهُمْ
Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.
QS Muhammad 47:4
فَإِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَضَرْبَ ٱلرِّقَابِ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا۟ ٱلْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّۢا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَآءً حَتَّىٰ تَضَعَ ٱلْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ ۗ وَٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعْمَـٰلَهُمْ
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
QS Muhammad 47:27
فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَـٰرَهُمْ
Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka?
Al-Hadid — Surah 57
QS Al-Hadid 57:13
يَوْمَ يَقُولُ ٱلْمُنَـٰفِقُونَ وَٱلْمُنَـٰفِقَـٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱنظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ٱرْجِعُوا۟ وَرَآءَكُمْ فَٱلْتَمِسُوا۟ نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُۥ بَابٌۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَـٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
Al-Hasyr — Surah 59
QS Al-Hasyr 59:21
لَوْ أَنزَلْنَا هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُۥ خَـٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۚ وَتِلْكَ ٱلْأَمْثَـٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
At-Tahrim — Surah 66
QS At-Tahrim 66:10
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱمْرَأَتَ نُوحٍ وَٱمْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَـٰلِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيْـًٔا وَقِيلَ ٱدْخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)".
QS At-Tahrim 66:11
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱمْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ
Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.
Al-Muzzammil — Surah 73
QS Al-Muzzammil 73:20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَىِ ٱلَّيْلِ وَنِصْفَهُۥ وَثُلُثَهُۥ وَطَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَٱللَّهُ يُقَدِّرُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِى ٱلْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَءَاخَرُونَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.