Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
Apakah Identitas Islam Cukup, Jika Cara Kita Merespons Koreksi
Justru Menyerupai Mereka yang Dikritik Al-Qur’an?
Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
Apakah Identitas Islam Cukup, Jika Cara Kita Merespons Koreksi
Justru Menyerupai Mereka yang Dikritik Al-Qur’an?
Prolog
Ada cara yang sangat nyaman untuk membaca kisah para penolak Nabi. Kita membuka Al-Qur’an, membaca tentang Nūḥ, Hūd, Ṣāliḥ, Ibrāhīm, Lūṭ, Shuʿayb, Mūsā, Firʿawn, atau masyarakat yang menolak para utusan. Kita sudah tahu bagaimana akhirnya. Kita tahu siapa Nabi yang membawa pesan. Kita tahu siapa yang menolak. Kita tahu siapa yang dikritik Al-Qur’an.
Tanpa sadar, posisi kita sebagai pembaca menjadi sangat aman. Yang keras kepala adalah mereka. Yang mempertahankan keyakinan lama adalah mereka. Yang mengejek Nabi adalah mereka. Yang menolak bukti adalah mereka. Yang mengancam orang yang mengoreksi adalah mereka.
Semua berlangsung di masa yang jauh. Kita tinggal membaca, menggelengkan kepala, lalu mengambil pelajaran tentang keburukan manusia yang telah lama berlalu. Tetapi bagaimana jika Al-Qur’an tidak hanya menginginkan kita mengetahui siapa yang menolak Nabi?
Bagaimana jika Al-Qur’an juga sedang memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih dekat, cara manusia berbicara ketika ia tidak ingin sesuatu yang sudah diyakininya diganggu oleh sebuah koreksi?
Di situlah kisah-kisah itu mulai berubah fungsi. Ia tidak lagi hanya menjadi jendela untuk melihat masa lalu tapi perlahan-lahan ia berubah menjadi cermin.
Salah satu cermin itu muncul sangat awal dalam kisah Nūḥ. Al-Qur’an merekam apa yang dikatakan para pemuka kaumnya:
قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Pemuka-pemuka kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.’”
Perhatikan siapa yang berbicara. Al-Qur’an tidak mengatakan seluruh masyarakat berbicara dengan satu suara. Yang disebut adalah al-malaʾ min qawmihi—para pemuka dari kaumnya. Dan perhatikan pula apa yang mereka lakukan. Mereka tidak sedang menjelaskan mengapa pesan Nūḥ salah. Mereka terlebih dahulu memberikan penilaian terhadap Nūḥ sebagai pembawa pesan engkau berada dalam kesesatan yang nyata.
Nūḥ menjawab
قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dia (Nuh) menjawab, ‘Wahai kaumku! Aku tidak sesat, tetapi aku ini seorang rasul dari Tuhan seluruh alam.’”
Lalu ia melanjutkan:
أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Tiga ayat pendek ini sudah memperlihatkan dua cara merespons yang sangat berbeda. Para pemuka menggeser perhatian kepada pribadi pembawa koreksi “engkau sesat”.
Nūḥ tidak menjawab dengan penghinaan balik. Ia tidak berkata, “Kalianlah yang bodoh.” Ia mengembalikan percakapan kepada kedudukannya sebagai rasul, kepada Rabb yang mengutusnya, kepada pesan yang ia sampaikan, dan kepada tugasnya untuk memberi nasihat. Di sinilah kita mulai melihat sesuatu yang akan berulang dalam berbagai bentuk di sepanjang buku ini.
Ketika koreksi terasa mengganggu, manusia dapat memindahkan pembicaraan dari “Apakah yang dikatakan ini benar?” menjadi “Siapa orang yang mengatakan ini?”
Perpindahan itu tidak selalu salah. Kita memang perlu memeriksa kredibilitas orang yang membawa sebuah informasi. Tidak setiap orang yang mengaku membawa kebenaran harus langsung dipercaya. Masalah muncul ketika pemeriksaan terhadap pembawa pesan dipakai untuk menggantikan pemeriksaan terhadap pesan itu sendiri. Dalam kehidupan hari ini, bentuknya mungkin terdengar jauh lebih biasa:
“Tidak usah dengarkan argumennya. Kamu tahu dia siapa?”
“Dia bukan dari kelompok kita.”
“Dia kan tidak punya jabatan.”
“Lihat dulu latar belakangnya sebelum bicara soal idenya.”
“Atas dasar apa orang seperti dia mengoreksi kita?”
Kalimat-kalimat seperti itu tidak otomatis salah. Kadang latar belakang memang relevan. Kadang kredibilitas memang harus diuji.
Setelah saya mengetahui siapa orangnya, apakah saya masih bersedia memeriksa apa yang ia katakan?
Jika jawabannya tidak, mungkin yang sedang kita lakukan bukan lagi menilai pembawa pesan. Kita sedang menggunakan pembawa pesan sebagai alasan agar pesannya tidak perlu diperiksa. Dan di titik inilah respons Nūḥ menjadi penting. Ia menunjukkan bahwa menghadapi serangan terhadap pribadi tidak selalu harus dilakukan dengan serangan pribadi yang lebih keras.
Nūḥ menjernihkan posisi. Ia mengembalikan pembicaraan kepada sumber, pesan, dan tanggung jawabnya. Ini bukan hanya kisah tentang bagaimana orang menolak Nabi. Ini juga kisah tentang bagaimana seorang Nabi tetap menjaga arah percakapan ketika lawannya berusaha memindahkannya.
Ada cermin lain yang bahkan lebih mengganggu. Ia muncul bukan pada orang yang sama sekali tidak mengenal seorang Nabi, melainkan pada komunitas yang sudah memiliki hubungan dengan wahyu dan kenabian.
Al-Qur’an merekam dalam
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), ‘Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!’ Mereka menjawab, ‘Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.’ Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan mempertuhankan patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, ‘Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!’”
Kalimat yang sangat penting berada di tengah ayat itu: samiʿnā wa ʿaṣaynā—“kami mendengar, tetapi kami tidak menaati.” Ini berbeda dari tidak pernah mendengar. Informasi sudah sampai. Rujukan sudah dikenal. Hubungan dengan kenabian sudah ada. Yang bermasalah adalah apa yang terjadi setelah mendengar.
Al-Qur’an memberi pasangan yang sangat kontras dalam ayat lain:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, ‘Kami mendengar, dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Kedua kalimat itu dimulai dari tempat yang sama, kami mendengar. Tetapi sesudah itu jalannya berpisah. Yang satu, kami mendengar—dan kami membangkang dan yang lain, kami mendengar—dan kami menaati. Maka persoalan yang hendak dibicarakan buku ini ternyata lebih dalam daripada pertanyaan: “Apakah kita pernah mendengar Al-Qur’an?”. Bagi seorang Muslim, pertanyaan itu terlalu mudah. Kita membacanya. Kita mendengarnya. Kita memuliakannya. Kita mungkin menghafal sebagian ayatnya. Kita mengutipnya dalam ceramah, tulisan, bahkan dalam perdebatan.
Apakah sesuatu yang sudah kita dengar masih mempunyai hak untuk mengubah kita?
Inilah tempat identitas mulai diuji. Bukan karena identitas Islam tidak penting. Justru sebaliknya. Jika seseorang menyatakan Allah sebagai Rabb, Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan Rasul sebagai teladan, maka pengakuan itu membawa konsekuensi: apa yang diakui sebagai rujukan harus tetap memiliki daya korektif.
Kalau Al-Qur’an hanya kita terima ketika menguatkan pendapat yang sudah kita miliki, tetapi segera kita beri jarak ketika ia mengganggu kebiasaan, kepentingan, kelompok, atau pandangan kita, pertanyaannya bukan lagi sekadar: “Apakah saya percaya kepada Al-Qur’an?”
Dalam kenyataan, siapa yang mengatakan?
Bentuknya tidak harus terlihat seperti penolakan
Di masa kini, sangat sedikit orang akan berkata terus terang: “Saya tahu ini benar, tetapi saya menolaknya.” Manusia biasanya jauh lebih rumit daripada itu.
Ketertutupan terhadap koreksi dapat hadir dalam kalimat yang tampak sangat masuk akal:
“Ya, saya tahu ayatnya, tetapi konteksnya bukan itu.”
“Benar, tetapi jangan dibahas sekarang.”
“Yang menjelaskan ayat itu siapa dulu?”
“Semua ulama di lingkungan saya tidak pernah mengatakan begitu.”
“Kalaupun benar, penerapannya tidak mungkin seperti itu.”
“Buktinya kurang.”
“Bukti seperti itu belum cukup.”
“Bukan itu yang saya maksud dengan bukti.”
Sekali lagi, tidak satu pun kalimat tersebut otomatis merupakan penolakan. Konteks memang harus diperiksa. Penafsiran memang perlu diuji. Bukti memang boleh dipertanyakan. Ulama memang perlu didengar. Penerapan memang tidak boleh serampangan.
Buku ini tidak ingin mematikan semua pertanyaan itu. Justru yang hendak diperiksa adalah fungsinya. Apakah pertanyaan membantu kita semakin dekat kepada kebenaran? Atau pertanyaan terus berganti hanya agar tidak pernah ada jawaban yang boleh mengubah kita?; Apakah pemeriksaan terhadap sumber membantu kita menilai sebuah klaim dengan lebih baik? Atau siapa sumbernya sudah cukup untuk membuat kita tidak perlu lagi memeriksa klaimnya?; Apakah kita sedang mencari kebenaran? Atau sebenarnya sedang mencari alasan agar sesuatu yang sudah kita yakini tidak perlu berubah?
Perbedaannya sering tidak terletak pada kalimat yang diucapkan, tetapi pada apa yang dilakukan kalimat itu terhadap kemungkinan kita untuk dikoreksi.
Karena itu, buku ini bukan buku untuk mencari siapa yang harus disebut “mereka”
Ada godaan besar ketika membaca kisah-kisah ini. Begitu sebuah pola mulai terlihat, kita segera ingin mencocokkannya dengan seseorang.
“Ini seperti kelompok itu.”
“Ini seperti tokoh itu.”
“Ini seperti orang-orang sekarang.”
Tetapi jika kita terlalu cepat melakukan itu, kita dapat mengulangi kesalahan yang sedang kita pelajari, kesimpulan sudah ditetapkan sebelum bukti selesai diperiksa. Karena itu buku ini tidak dibangun untuk menentukan siapa yang layak disebut kafir, siapa munafik, siapa Firʿawn masa kini, atau kelompok mana yang paling buruk.
Kesamaan pola respons tidak sama dengan kesamaan identitas.
Seseorang dapat menunjukkan satu mekanisme penolakan dalam satu persoalan tanpa seluruh dirinya berubah menjadi identitas tokoh yang kisahnya sedang kita baca. Orang juga dapat berubah. Komunitas dapat berubah. Orang yang pernah salah dapat kembali. Orang yang pernah menerima informasi dengan buruk dapat belajar menerima dengan lebih baik.
Karena itulah kita tidak hanya akan membaca para penolak. Kita juga perlu membaca orang-orang yang masih dapat dikoreksi. Salah satu gambaran yang sangat sederhana datang dari Sulaymān. Ketika Hudhud membawa informasi yang besar, Sulaymān tidak langsung menerima laporan itu sebagai kebenaran hanya karena ia datang kepadanya. Ia juga tidak langsung menolaknya karena ia merasa dirinya seorang raja dan Nabi.
Ia berkata:
قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Dia (Sulaiman) berkata, ‘Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta.’”
Kalimatnya sangat pendek. Tetapi sikap yang direkamnya penting. Informasi datang. Sulaymān tidak buru-buru membuat keputusan akhir. Ia memeriksa. Dengan kata lain, keterbukaan terhadap koreksi bukan berarti percaya kepada semua hal. Kemampuan untuk dikoreksi juga bukan berarti hidup tanpa pendirian.
Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang lebih matang kebenaran diberi kesempatan yang jujur untuk membuktikan dirinya. Itulah sebabnya meminta bukti tidak otomatis berarti menolak. Memeriksa tidak otomatis berarti tidak percaya. Bertanya tidak otomatis berarti membangkang. Berbeda pendapat tidak otomatis berarti menutup diri. Bahkan salah pun tidak otomatis berarti tertutup.
Ketika bukti semakin jelas, apakah kita masih menyediakan jalan bagi diri sendiri untuk berubah?
Pertanyaan ini penting karena Al-Qur’an tidak hanya merekam bahasa para penolak. Ia juga merekam bagaimana para Nabi berdiri di hadapan bahasa itu.
Nūḥ tidak membalas “engkau sesat” dengan pertandingan saling menghina. Ia mengembalikan percakapan kepada sumber pesan, tugas kerasulannya, dan nasihat yang dibawanya.
Hūd akan memperlihatkan pola yang serupa.
Shuʿayb tidak hanya mengkritik perilaku ekonomi kaumnya; ia juga menyatakan bahwa ia tidak ingin melakukan sendiri apa yang ia larang kepada mereka.
Mūsā menghadapi sistem kekuasaan yang mengubah koreksi menjadi ancaman terhadap masyarakat.
Hārūn menghadapi sesuatu yang berbeda; perlawanan yang datang dari dalam komunitas yang tetap mengaku memiliki hubungan dengan Mūsā.
Setiap kisah akan memberi bentuk respons Nabi yang berbeda. Karena itu kita tidak akan memaksakan satu “formula komunikasi kenabian” untuk semua keadaan. Kadang Nabi menjelaskan. Kadang memperingatkan. Kadang menunjukkan bukti. Kadang bertahan. Kadang meninggalkan. Kadang menyerahkan akibatnya kepada Allah. Yang akan kita lakukan jauh lebih sederhana, membaca apa yang benar-benar direkam Al-Qur’an, lalu membiarkan respons Nabi itu ikut berbicara. Sebab buku tentang penolakan para Nabi akan pincang jika hanya mempelajari bagaimana manusia menolak koreksi, tetapi tidak mempelajari bagaimana pembawa koreksi tetap lurus ketika ditolak.
Maka perjalanan buku ini tidak akan berhenti pada pertanyaan: “Mengapa mereka menolak para Nabi?”
Apa yang dilakukan manusia ketika kebenaran datang mengganggu sesuatu yang sudah ia miliki?
Sesuatu itu dapat berupa keyakinan, tradisi, status, kepentingan, kekuasaan, rasa aman, lingkungan social, cara berpikir, bahkan identitas keagamaan yang sangat kita banggakan. Dan ketika semua kisah itu sudah kita baca, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi tentang mereka. Ia kembali kepada orang yang sedang memegang buku ini. Ketika sebuah ayat menguatkan keyakinan kita, menerimanya relatif mudah. Tetapi bagaimana ketika ayat itu mengoreksi kita?
Ketika bukti datang dari orang yang tidak kita sukai, apakah kita masih dapat melihat buktinya?, Ketika sesuatu yang telah kita warisi ternyata perlu diperiksa ulang, apakah kesetiaan kepada warisan masih menyisakan ruang untuk kebenaran?
Ketika kita sudah terlanjur berbicara, membela, memilih posisi, atau membangun reputasi di atas sebuah pandangan—apakah kita masih sanggup mengatakan: “Saya mungkin salah.”
Jika saya ternyata salah, apakah saya masih ingin mengetahuinya?
Jika saya sudah mengetahuinya, apakah saya masih bersedia berubah?
Inilah cermin yang akan dibangun halaman demi halaman. Cermin itu pertama-tama akan diarahkan kepada kisah-kisah Al-Qur’an. Kita akan melihat apa yang mereka katakan. Kita akan memahami bagaimana respons itu bekerja. Kita akan mencari bentuk yang secara fungsi sepadan dalam kehidupan masa kini—tanpa menyamakan identitas. Kita akan membiarkannya kembali menjadi pertanyaan bagi diri sendiri. Dan kita akan memperhatikan bagaimana para Nabi dan Rasul menghadapi manusia yang menolak, meragukan, menyerang, mengancam, atau menghalangi pesan yang mereka bawa.
Baru setelah itu cermin tersebut berbalik. Bukan untuk mencari siapa yang paling layak kita tunjuk.
Jangan sampai kita menjadi manusia yang begitu yakin sedang membela kebenaran, sampai-sampai kebenaran itu sendiri tidak lagi memiliki jalan untuk mengoreksi kita.
Jakarta, 22 September 2026
Deni Setiawan
BAGIAN I — Sebelum Menunjuk Mereka
Bab 1 — Al-Qur’an Tidak Hanya Merekam Penolakan—Ia Merekam Bahasanya
Bab 2 — Satu Kaum Tidak Selalu Berbicara dengan Satu Suara