Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
#Bagian I
Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
#Bagian I
BAGIAN I
Sebelum Menunjuk Mereka
BAB 1
AL-QUR’AN TIDAK HANYA MEREKAM PENOLAKAN—
IA MEREKAM BAHASANYA
Kalau Al-Qur’an hanya ingin memberitahu bahwa sebagian manusia menolak para Nabi, banyak kisah sebenarnya dapat diceritakan jauh lebih singkat.
Nūḥ datang membawa pesan. Mereka menolak.
Hūd datang. Mereka mendustakan.
Ṣāliḥ datang. Mereka berpaling.
Mūsā datang. Firʿawn menolak. Selesai.
Tetapi Al-Qur’an tidak menceritakannya seperti itu. Ia menyimpan percakapannya. Ia merekam apa yang dikatakan para pemuka. Ia merekam alasan yang diajukan masyarakat. Ia memperlihatkan bagaimana seorang Nabi diberi label, bagaimana warisan leluhur dipakai sebagai jawaban, bagaimana sebuah koreksi yang menyentuh harta dianggap mengganggu kebebasan, bagaimana pesan pembebasan dapat diubah menjadi ancaman politik, bahkan bagaimana penolakan dapat berkembang dari “saya tidak mau mendengar” menjadi “jangan biarkan orang lain mendengar.”
Detail-detail itu sulit dianggap kebetulan sebab justru di dalam bahasa itulah kita dapat melihat bagaimana penolakan bekerja. Orang tidak selalu berkata:
“Saya tahu ini benar, tetapi saya menolaknya.”
Jauh lebih sering, manusia mempunyai alasan. Dan alasan itu dapat terdengar sangat masuk akal. Karena itu, sebelum mempelajari masing-masing Nabi secara lebih mendalam, kita perlu terlebih dahulu mendengarkan beberapa potongan percakapan yang direkam Al-Qur’an dan tidak terburu-buru membuat daftar “jenis-jenis penolak”.
Tetapi untuk melihat :
apa yang sebenarnya dilakukan manusia terhadap sebuah koreksi ketika koreksi itu mulai mengganggu sesuatu yang sudah ia miliki?
Ketika pembawa pesan lebih dahulu dinilai
Kita mulai dari Hūd. Al-Qur’an merekam ucapan para pemuka dari kaumnya:
QS Al-Aʿrāf 7:66
قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta.’”
Ayat itu tidak sekadar mengatakan bahwa Hūd ditolak. Ia merekam bahasa yang digunakan untuk menolaknya. Hūd dinilai berada dalam safāhah—yang dalam terjemahan di atas digambarkan sebagai kurang waras—dan dicurigai sebagai pendusta. Jadi sebelum kita masuk kepada isi pesan Hūd, perhatian sudah dialihkan kepada kualitas orang yang membawanya. Hūd kemudian menjawab:
QS Al-Aʿrāf 7:67
قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dia (Hud) berkata, ‘Wahai kaumku! Tidak ada padaku kekurangan akal, tetapi aku ini adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam.’”
Lalu ia melanjutkan:
QS Al-Aʿrāf 7:68
أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ
“Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku pemberi nasihat yang terpercaya kepada kamu.”
Perhatikan cara Hūd menjawab. Ia tidak membalas:
“Kalianlah yang bodoh.”
Ia tidak mengubah percakapan menjadi pertandingan penghinaan. Ia menyangkal tuduhan terhadap dirinya, lalu mengembalikan pusat pembicaraan kepada tiga hal: siapa yang mengutusnya, apa yang ia bawa, dan apa tugasnya kepada masyarakat.
Ia seorang rasul.
Ia menyampaikan risalah Rabb-nya.
Ia datang sebagai pemberi nasihat yang dapat dipercaya.
Di sini kita mulai melihat satu perbedaan penting antara menjawab serangan dan terseret ke dalam cara lawan membangun percakapan.
Bentuk yang sepadan hari ini
Kita mengenal bentuknya. Seseorang menyampaikan sebuah koreksi. Jawaban yang muncul bukan:
“Mari kita periksa apakah datanya benar.”
Melainkan:
“Memangnya dia siapa?”
“Dia tidak memahami bidang ini.”
“Lihat dulu latar belakangnya.”
“Orang seperti dia mau mengajari kita?”
Kadang pertanyaan seperti itu sah. Kompetensi memang perlu diperiksa. Kredibilitas sumber memang penting. Tetapi masalah muncul ketika penilaian terhadap orang menggantikan pemeriksaan terhadap isi. Setelah kita tahu siapa pembawanya, apakah kita masih bersedia memeriksa apa yang ia bawa? Atau identitas pembawanya sudah cukup untuk menutup seluruh percakapan?
Cermin bagi pembaca
Pertanyaan ini tidak meminta kita mempercayai semua orang. Ia justru meminta disiplin yang lebih sulit:
jangan biarkan ketidaksukaan terhadap seseorang menjadi bukti bahwa semua yang ia katakan pasti salah.
Sebab kebenaran sebuah pesan dan kualitas pembawanya memang dapat saling berkaitan, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Dan respons Hūd menunjukkan sesuatu yang layak kita bawa ke masa kini: ketika pribadi kita diserang, kita tidak selalu harus membalas dengan serangan pribadi. Kadang cara paling kuat justru mengembalikan percakapan kepada perkara yang sedang dibicarakan.
Ketika “leluhur kami” menjadi sebuah jawaban
Bahasa lain muncul dalam kisah Ibrāhīm. Al-Qur’an merekam pertanyaannya:
QS Al-Anbiyāʾ 21:52
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ
“(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Apakah patung-patung ini yang kamu tekun berbakti kepadanya?’”
Jawaban yang diterimanya:
QS Al-Anbiyāʾ 21:53
قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ
“Mereka menjawab, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mempertuhankannya.’”
Perhatikan bentuk percakapannya.
Ibrāhīm mempertanyakan apa yang mereka lakukan.
Jawabannya kembali kepada siapa yang lebih dahulu melakukan itu.
Kami mendapati leluhur kami melakukannya.
Tradisi kemudian menjadi dasar pembenaran.
Tetapi Al-Qur’an tidak mengajarkan bahwa semua warisan leluhur harus dicurigai. Dalam bagian lain, garis Ibrāhīm, Isḥāq, dan Yaʿqūb justru disebut secara positif. Maka persoalannya bukan sekadar “lama” versus “baru”. Yang perlu diperiksa adalah fungsi warisan itu. Apakah warisan menjadi tempat kita belajar? Atau ia berubah menjadi batas yang tidak boleh dilewati oleh pertanyaan? Ibrāhīm kemudian membawa percakapan kembali kepada fungsi objek yang dipertahankan:
QS Asy-Syuʿarāʾ 26:72
قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?’”
QS Asy-Syuʿarāʾ 26:73
أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ
“Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?”
Ibrāhīm tidak berhenti pada:
“Leluhur kalian salah.”
Ia mengembalikan persoalan kepada sesuatu yang dapat diperiksa, apa fungsi yang sebenarnya dimiliki oleh sesuatu yang kalian beri kedudukan itu?. Dengan kata lain, usia sebuah keyakinan tidak otomatis menjawab kebenarannya.
Bentuk yang sepadan hari ini
Kita mungkin tidak berkata persis:
“Nenek moyang kami mempertuhankannya.”
Tetapi kalimat yang fungsinya sepadan dapat terdengar seperti:
“Dari dulu kita memang begini.”
“Guru-guru kami tidak pernah mengajarkan seperti itu.”
“Di keluarga kami, pemahamannya selalu demikian.”
“Organisasi ini sudah puluhan tahun memakai cara tersebut.”
“Kalau memang salah, masa orang-orang sebelum kita tidak tahu?”
Semua kalimat itu dapat mengandung informasi yang berharga.
Tradisi menyimpan pengalaman.
Warisan menyimpan pengetahuan.
Orang-orang sebelum kita tidak selalu lebih bodoh daripada kita. Tetapi tidak satu pun dari semua itu dengan sendirinya menutup pertanyaan:
apakah yang diwariskan itu benar?
Cermin bagi pembaca
Cermin Ibrāhīm tidak meminta kita memutus hubungan dengan masa lalu. Ia meminta kita membedakan antara menghormati warisan dan membuat warisan kebal terhadap pemeriksaan. Kita dapat belajar dari leluhur tanpa mengubah leluhur menjadi pengganti kebenaran. Dan respons Ibrāhīm menunjukkan caranya: jangan hanya menyerang tradisinya—periksa apa yang sebenarnya dilakukan oleh sesuatu yang sedang dipertahankan.
Ketika koreksi mulai menyentuh harta
Pada Shuʿayb, bahasa penolakan bergerak ke wilayah lain. Koreksi tidak lagi hanya menyentuh keyakinan yang abstrak. Ia memasuki transaksi, takaran, timbangan, hak orang lain, dan cara manusia menggunakan harta. Kaumnya berkata:
QS Hūd 11:87
قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
“Mereka berkata, ‘Wahai Syuaib! Apakah agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang dipertuhankan nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai.’”
Dalam satu ayat, dua wilayah bertemu. Yang pertama: apa yang diwarisi dari leluhur. Yang kedua: apa yang boleh dilakukan manusia terhadap hartanya sendiri. Koreksi Shuʿayb tidak lagi diperlakukan hanya sebagai urusan spiritual pribadi. Ia mulai dirasakan masuk ke wilayah yang dianggap:
“Ini milik kami.”
“Ini urusan kami.”
“Mengapa agama ikut mengatur sampai ke sini?”
Di titik inilah kita memahami mengapa sebuah koreksi dapat menjadi jauh lebih tidak nyaman ketika ia mempunyai akibat nyata. Selama sebuah prinsip hanya dibicarakan sebagai nilai, kita mungkin mudah menyetujuinya. Tetapi ketika prinsip itu mulai mengubah:
cara kita memperoleh keuntungan,
cara kita memperlakukan hak orang lain,
cara kita menentukan harga,
cara kita menggunakan kekuasaan atas aset,
atau apa yang harus kita lepaskan,
respons dapat berubah.
Shuʿayb kemudian menjawab:
QS Hūd 11:88
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Dia (Syuaib) berkata, ‘Wahai kaumku! Terangkanlah kepadaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula aku kembali.’”
Respons Shuʿayb menambahkan ukuran yang sangat penting bagi seorang pengoreksi. Ia tidak hanya menuntut orang lain berubah. Ia menyatakan bahwa dirinya sendiri tidak ingin melakukan apa yang ia larang kepada mereka. Artinya, orang yang mengoreksi tidak boleh menempatkan dirinya di luar standar yang ia bawa.
Bentuk yang sepadan hari ini
Kita mungkin sangat mudah berkata:
“Agama harus menjadi pedoman hidup.”
Tetapi kalimat itu baru diuji ketika pedoman itu menyentuh sesuatu yang kita anggap benar-benar milik kita.
Harta.
Jabatan.
Bisnis.
Pendapatan.
Keuntungan.
Hak menentukan sendiri.
Pada saat itulah bahasa dapat berubah:
“Jangan bawa-bawa agama ke urusan ini.”
“Ini soal bisnis.”
“Ini uang saya.”
“Dalam dunia nyata tidak sesederhana itu.”
Kadang keberatan itu benar. Realitas memang dapat kompleks. Tetapi cermin Shuʿayb bertanya:
apakah kompleksitas sedang membantu kita memahami cara menerapkan kebenaran—atau dipakai agar kebenaran tidak pernah menyentuh kepentingan kita?
Ketika pesan diubah menjadi ancaman
Pada Mūsā dan Firʿawn, kita melihat bentuk yang lebih sistemik. Untuk memahami perubahannya, kita harus lebih dahulu mengetahui apa pesan awal yang dibawa Mūsā dan Hārūn. Al-Qur’an merekam:
QS Ṭāhā 20:47
فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ ۖ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ
“Maka pergilah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dan katakanlah, ‘Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.’”
Pesannya cukup jelas.
Lepaskan Banī Isrāʾīl.
Jangan menyiksa mereka.
Kemudian Firʿawn menjawab:
QS Ṭāhā 20:57
قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَىٰ
“Dia (Fir‘aun) berkata, ‘Apakah engkau datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa?’”
Bandingkan kedua ayat itu. Pesan awal: lepaskan Banī Isrāʾīl dan jangan siksa mereka. Respons Firʿawn: engkau datang untuk mengusir kami dari negeri kami.
Terjadi perubahan bingkai. Koreksi terhadap suatu keadaan kini disampaikan kepada masyarakat sebagai ancaman terhadap keberadaan mereka. Pada ayat lain, bahasa itu berkembang:
QS Ṭāhā 20:63
قَالُوا إِنْ هَٰذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ
“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya dua orang ini adalah pesihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihir mereka berdua, dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.’”
Sekarang ancamannya bukan hanya tanah tempat tinggal. Ada juga cara hidup yang dianggap paling baik. Inilah salah satu bentuk bahasa penolakan yang sangat kuat, sebuah koreksi tidak lagi dibicarakan berdasarkan isi awalnya, tetapi berdasarkan bahaya yang dikatakan akan ditimbulkannya.
Bentuk yang sepadan hari ini
Kita mengenal struktur kalimatnya. Seseorang mengusulkan koreksi terhadap satu praktik. Lalu respons berubah menjadi:
“Kalau ini diterima, seluruh sistem akan rusak.”
“Kalau kita mulai mengikuti cara itu, identitas kita akan hilang.”
“Ini sebenarnya upaya mengambil alih.”
“Hari ini mereka meminta satu hal. Besok semuanya akan berubah.”
Kadang kekhawatiran semacam itu memang dapat benar. Perubahan dapat mempunyai akibat yang luas. Karena itu kita tidak boleh menyimpulkan bahwa setiap peringatan tentang risiko adalah bahasa penolakan. Yang harus diperiksa adalah:
apakah ancaman yang digambarkan benar-benar berasal dari pesan yang disampaikan—atau telah dibesarkan sedemikian rupa sampai isi koreksinya tidak lagi terlihat?
Itulah sebabnya respons Mūsā penting. Al-Qur’an memberi kita pesan awalnya terlebih dahulu. Dengan begitu pembaca mempunyai pembanding. Kita tidak dipaksa memilih antara dua slogan. Kita dapat kembali kepada apa yang sebenarnya dikatakan.
Ketika penolakan tidak lagi cukup dengan “saya tidak mau mendengar”
Ada satu tahap lain yang lebih jauh. Pada masa Muḥammad, Al-Qur’an merekam ucapan:
QS Fuṣṣilat 41:26
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
“Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).’”
Di sini penolakan bergerak satu langkah lebih jauh.
Bukan lagi:
“Saya tidak mau mendengar.”
Tetapi:
“Jangan biarkan orang lain mendengar dengan jernih.”
Ruang informasi mulai ikut dikendalikan. Pesan tidak hanya ditolak. Akses orang lain terhadap pesan juga ingin diganggu. Ini berbeda dari kritik, bantahan, atau perdebatan. Dalam perdebatan yang sehat, kita ingin orang mendengar dua sisi lalu menilai. Dalam ayat ini, tujuan yang direkam justru: jangan dengarkan, dan buat kegaduhan terhadap bacaan itu.
Bentuk yang sepadan hari ini
Pada zaman kita, kegaduhan tidak selalu berupa suara fisik. Ia dapat berupa banjir komentar sebelum seseorang sempat membaca. Potongan video yang dilepaskan dari konteks. Label yang ditempelkan terlebih dahulu. Tekanan sosial:
“Jangan baca orang itu.”
“Jangan dengarkan penjelasan itu.”
“Kalau kamu mengikuti akun itu, berarti kamu bagian dari mereka.”
Sekali lagi, tidak semua pembatasan informasi otomatis salah.
Ada informasi palsu.
Ada penipuan.
Ada propaganda.
Ada konten yang memang perlu diberi peringatan.
Karena itu kesepadanan tidak boleh ditarik secara serampangan. Tetapi ayat ini memberi satu pertanyaan yang tetap relevan:
apakah kita sedang membantu orang menilai sebuah pesan dengan lebih baik, atau justru berusaha memastikan pesan itu tidak pernah memperoleh kesempatan untuk didengar?
Pada bagian ini Al-Qur’an tidak merekam respons Nabi dalam ayat yang sama. Kita tidak perlu mengarangnya. Dan justru itu menjadi latihan penting bagi cara kita membaca buku ini:
kalau Al-Qur’an tidak mengatakan sesuatu, kita tidak perlu mengisi kekosongan hanya agar pola kita terlihat lengkap.
Yang berulang bukan selalu kalimatnya—tetapi fungsinya
Jika lima adegan tadi diletakkan berdampingan, kita mulai memahami mengapa Al-Qur’an merekam bahasa.
Hūd disebut kurang waras dan pendusta.
Ibrāhīm dijawab dengan leluhur.
Shuʿayb dipersoalkan ketika koreksinya masuk ke wilayah harta.
Mūsā datang membawa tuntutan pembebasan, tetapi pesannya dibingkai sebagai ancaman terhadap negeri dan cara hidup.
Pada masa Muḥammad, ada seruan agar orang lain tidak mendengarkan Al-Qur’an dengan jernih.
Kalimatnya berbeda. Situasinya berbeda. Masyarakatnya berbeda. Masalah yang mereka hadapi juga berbeda. Karena itu kita tidak boleh membuat kesimpulan yang terlalu sederhana seolah-olah semua penolakan mempunyai satu penyebab. Tetapi perbedaan kalimat itu tidak berarti tidak ada sesuatu yang dapat dibandingkan. Yang dapat dibandingkan adalah apa yang dilakukan oleh respons tersebut.
Apakah pesan diperiksa?
Apakah pembawanya lebih dahulu dijatuhkan?
Apakah masa lalu dijadikan batas?
Apakah kepentingan pribadi membuat koreksi terasa terlalu mahal?
Apakah isi pesan diubah menjadi ancaman yang berbeda dari pesan awalnya?
Apakah akses orang lain terhadap pesan mulai dihalangi?
Inilah yang membuat kisah-kisah tersebut lebih dari sekadar catatan sejarah. Al-Qur’an menyimpan bahasa manusia ketika berhadapan dengan koreksi. Dan bahasa itu penting karena manusia jarang menyadari dirinya sedang menolak kebenaran.
Ia merasa sedang membela tradisi.
Menjaga stabilitas.
Melindungi masyarakat.
Mempertahankan hak.
Menilai kredibilitas.
Menjaga agama.
Menghindari risiko.
Semua itu, dalam keadaan tertentu, memang dapat menjadi tindakan yang benar. Maka kita tidak dapat menilai hanya dari bunyi kalimatnya. Yang harus dilihat adalah fungsi kalimat itu terhadap kebenaran. Apakah ia membantu kita memeriksa lebih jernih? Atau ia justru membuat sesuatu yang tidak nyaman tidak perlu lagi diperiksa?
Dan para Nabi tidak selalu merespons dengan cara yang sama
Ada satu sisi penting yang tidak boleh hilang. Al-Qur’an bukan hanya merekam bahasa orang yang menolak. Ia juga merekam cara Nabi menghadapi bahasa tersebut.
Hūd, ketika disebut kurang waras dan pendusta, tidak membalas dengan penghinaan. Ia menjernihkan sumber dan tugasnya.
Ibrāhīm, ketika berhadapan dengan alasan leluhur, tidak berhenti pada mengejek masa lalu mereka. Ia menguji fungsi sesuatu yang mereka pertahankan.
Shuʿayb, ketika koreksinya dianggap mencampuri harta, tidak sekadar mengulang larangan. Ia juga menempatkan dirinya di bawah ukuran yang sama: ia tidak ingin melakukan apa yang ia larang kepada mereka, dan menyatakan tujuannya sebagai iṣlāḥ—perbaikan—sejauh ia mampu.
Mūsā dan Hārūn menyampaikan terlebih dahulu apa tuntutan mereka dengan jelas. Karena pesan awal itu direkam, pembaca dapat melihat sendiri ketika pesan tersebut kemudian berubah dalam bingkai lawannya.
Tidak ada satu formula tunggal. Tetapi ada satu kesamaan yang mulai terlihat:
para Nabi tidak harus menerima bingkai yang dibuat oleh pihak yang menolak mereka.
Mereka dapat mengembalikan percakapan kepada pesan.
Kepada fungsi.
Kepada bukti.
Kepada apa yang sebenarnya diminta.
Dan kepada sumber yang mereka akui.
Ini penting bagi kita hari ini. Sebab seseorang dapat benar dalam substansi tetapi buruk dalam merespons penolakan. Ia dapat merasa sedang membela kebenaran, lalu menggunakan penghinaan yang sama seperti orang yang ia kritik. Ia dapat merasa sedang mengoreksi, tetapi dirinya sendiri tidak pernah mau berada di bawah koreksi. Karena itu buku ini tidak hanya akan bertanya:
“Bagaimana manusia menolak Nabi?”
Kita juga akan bertanya:
“Bagaimana para Nabi menjaga diri agar tidak ikut dibentuk oleh bahasa penolakan yang mereka hadapi?”
Sebelum kita menunjuk siapa pun
Bab ini membawa kita kepada satu kesimpulan awal. Al-Qur’an tidak hanya merekam bahwa penolakan terjadi. Ia merekam bagaimana manusia membicarakan koreksi yang tidak ingin mereka terima.
Itu sebabnya kata-katanya penting.
Siapa yang berbicara, juga penting.
Apa yang dikatakan Nabi sebagai jawaban, penting.
Apa yang tidak dikatakan Al-Qur’an pun penting.
Dan ketika bahasa itu kita bawa ke masa kini, kita harus sangat hati-hati.
Kesamaan kalimat tidak selalu berarti kesamaan fungsi.
Kesamaan fungsi tidak berarti kesamaan identitas.
Seseorang yang sekali menggunakan alasan yang buruk tidak otomatis berubah menjadi “penolak Nabi”.
Buku ini bukan mesin untuk memberi label kepada manusia. Ia adalah alat untuk melihat respons. Dan sebelum kita melangkah lebih jauh, ada satu persoalan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Ketika Al-Qur’an mengatakan al-malaʾ, qawm, farīq, ṭāʾifah, minhum, atau qalīl—apakah semuanya boleh kita ringkas menjadi:
“Mereka”?
Tidak.
Karena satu masyarakat tidak selalu berbicara dengan satu suara. Dan jika kita salah menentukan siapa yang sebenarnya sedang berbicara, seluruh peta penolakan yang kita bangun setelah itu dapat ikut berubah. Itulah yang akan kita periksa pada bab berikutnya.
BAB 2
SATU KAUM TIDAK SELALU BERBICARA DENGAN SATU SUARA
Ada kebiasaan kecil yang tampaknya tidak berbahaya ketika kita menceritakan kembali kisah-kisah Al-Qur’an. Kita berkata:
“Kaum Nūḥ menolak.”
“Banī Isrāʾīl membangkang.”
“Kaum Firʿawn tidak percaya kepada Mūsā.”
“Ahl al-Kitāb bersikap demikian.”
Kalimat seperti itu pendek, mudah diingat, dan praktis. Masalahnya, Al-Qur’an sendiri sering tidak sesederhana itu.
Ia menyebut al-malaʾ—para pemuka.
Ia menyebut ṭāʾifah—satu kelompok atau segolongan.
Ia mengatakan minhum—di antara mereka.
Ia mengatakan qalīlan minhum—sedikit di antara mereka.
Kadang ia menampilkan satu orang yang berdiri berbeda dari lingkungan tempat ia berada. Kadang satu kelompok yang sama terbelah menjadi dua respons yang berlawanan. Kadang orang-orang yang pada awalnya berada dalam satu barisan ternyata bereaksi berbeda ketika ujian datang. Kata-kata kecil itu bukan hiasan. Jika Al-Qur’an memilih mengatakan “sebagian dari mereka”, lalu kita menceritakannya kembali sebagai “mereka semua”, kita telah mengubah ukuran cerita. Dan ketika ukuran cerita berubah, cara kita memahami manusia juga dapat ikut berubah.
Karena itu Bab ini tidak terlebih dahulu bertanya :
“Apa yang mereka lakukan?”
Tetapi bertanya satu langkah sebelumnya:
“Siapa sebenarnya yang sedang berbicara?”
Di dalam lingkungan Firʿawn ternyata ada suara yang berbeda
Kisah Mūsā dan Firʿawn sering kita bayangkan dalam dua kubu yang sangat tegas. Di satu sisi ada Mūsā. Di sisi lain ada Firʿawn dan orang-orangnya. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah, tetapi Al-Qur’an menyimpan detail yang membuatnya jauh lebih menarik. Ketika rencana terhadap Mūsā semakin keras, tiba-tiba muncul seseorang dari dalam lingkungan Firʿawn sendiri.
QS Ghāfir 40:28
وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُم بِالْبَيِّنَاتِ مِن رَّبِّكُمْ ۖ وَإِن يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ ۖ وَإِن يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
“Dan seseorang yang beriman di antara keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, “Tuhanku adalah Allah,” padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.’”
Ayat ini merusak satu simplifikasi yang sangat mudah kita buat:
lingkungan Firʿawn tidak sama dengan satu pikiran Firʿawn.
Di dalam struktur yang didominasi oleh Firʿawn ternyata masih ada seseorang yang melihat persoalan secara berbeda. Ia bahkan menyembunyikan imannya. Artinya, apa yang tampak di permukaan sebuah sistem tidak selalu memperlihatkan seluruh isi hati dan seluruh variasi respons manusia yang berada di dalamnya. Lebih menarik lagi, lelaki itu tidak sekadar berkata:
“Saya percaya kepada Mūsā.”
Ia mengajak mereka mempertimbangkan kemungkinan. Jika Mūsā berdusta, akibat dustanya kembali kepadanya. Tetapi bagaimana jika ia benar? Bukankah kemungkinan itu layak diperiksa sebelum seseorang dibunuh? Di dalam lingkungan yang semakin tertutup, masih muncul sebuah suara yang berusaha membuka kembali ruang pertimbangan.
Bentuk yang sepadan hari ini
“Orang di organisasi itu semuanya sama.”
“Kalau dia berada di kelompok itu, sudah jelas bagaimana pikirannya.”
“Mereka pasti setuju dengan pemimpinnya.”
“Tidak mungkin ada orang waras dari lingkungan seperti itu.”
Tetapi manusia tidak bekerja sesederhana logo organisasi. Seseorang dapat berada di dalam sebuah sistem tanpa sepenuhnya menyetujui setiap keputusan sistem itu.
Ada yang percaya tetapi takut bicara.
Ada yang tidak setuju tetapi belum menemukan ruang aman.
Ada yang sedang berubah.
Ada yang memilih diam.
Ada pula yang akhirnya berbicara dari dalam.
Karena itu identitas lingkungan tidak cukup untuk menjelaskan respons seseorang. Namun ayat ini juga tidak memberi kita izin untuk membuat romantisasi baru:
orang minoritas tidak otomatis benar hanya karena ia minoritas.
Orang yang berbeda dari mayoritas pun tetap harus diperiksa berdasarkan apa yang ia katakan dan bukti yang ia bawa. Cerminnya bukan:
“Minoritas selalu benar.”
Cerminnya adalah:
jangan hapus kemungkinan bahwa di dalam kelompok yang kita anggap salah masih ada manusia yang melihat, berpikir, ragu, berubah, atau berbicara berbeda.
Di kota yang menolak para utusan, seseorang justru berlari membela mereka
Kisah Aṣḥāb al-Qaryah dalam Surah Yāsīn memberikan gambaran lain. Narasi sebelumnya memperlihatkan penolakan terhadap para utusan. Tetapi kemudian seseorang datang dari tempat yang berbeda di kota itu.
QS Yāsīn 36:20
وَجَاءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ
“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, ‘Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.’”
Ia melanjutkan:
QS Yāsīn 36:21
اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Sekali lagi Al-Qur’an mencegah kita melihat kota itu sebagai satu blok manusia. Ada penolakan. Tetapi di kota yang sama ada seseorang yang datang bersegera dan mengambil posisi berbeda. Ia bahkan menyebut mereka tetap sebagai:
yā qawmi — wahai kaumku.
Ia tidak berbicara dari luar dengan kalimat:
“Kalian semua memang rusak.”
Ia masih menempatkan dirinya di dalam komunitas itu. Dan kemudian ia memberi alasan mengapa para utusan layak diikuti. Ini penting.
Ia bukan hanya “pemberontak terhadap mayoritas”.
Ia membawa pertimbangan.
Ia mengajak kaumnya melihat para utusan.
Apa yang dapat kita pahami?
Sebuah masyarakat dapat mempunyai arus dominan tanpa berarti seluruh orang di dalamnya kehilangan kemampuan berpikir sendiri. Bahkan ketika penolakan sudah kuat, suara korektif masih dapat lahir dari dalam. Tetapi kita juga perlu menjaga batasnya. Ayat mengatakan lelaki itu datang dari bagian terjauh kota. Kita tidak boleh lalu membangun teori:
“Kebenaran selalu datang dari pinggiran.”
Al-Qur’an tidak mengatakan itu. Yang dapat kita katakan hanya sejauh yang ayat perlihatkan:
dalam kasus ini, komunitas yang sedang menolak para utusan ternyata masih mempunyai seorang anggota yang berbicara berbeda.
Bentuk yang sepadan hari ini
Dalam organisasi, keluarga, perusahaan, komunitas keagamaan, bahkan dalam sebuah negara, kita sering melihat suara internal diperlakukan dengan curiga.
“Kalau dia benar bagian dari kita, mengapa dia mengkritik kita?”
“Jangan membuka kelemahan kelompok sendiri.”
“Kalau tidak setuju, keluar saja.”
Di sinilah ayat tersebut memberi cermin yang berbeda. Lelaki itu tidak kehilangan identitas kaumnya ketika mengoreksi mereka. Justru ia berkata:
“Wahai kaumku.”
Kepedulian terhadap komunitas dan keberanian mengoreksi komunitas tidak selalu berlawanan. Kadang koreksi datang karena seseorang masih merasa menjadi bagian dari komunitas itu. Pertanyaan bagi kita kemudian menjadi:
apakah lingkungan yang kita bangun masih memungkinkan orang dari dalam berkata bahwa kita mungkin salah?
Atau satu-satunya cara untuk tetap dianggap “bagian dari kita” adalah dengan selalu mengatakan bahwa kita benar?
Satu Banī Isrāʾīl, dua ṭāʾifah, dua respons
Al-Qur’an membuat persoalan ini lebih eksplisit lagi ketika berbicara tentang ʿĪsā.
QS Aṣ-Ṣaff 61:14
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ ۖ فَآمَنَت طَّائِفَةٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَت طَّائِفَةٌ ۖ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَىٰ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,’ lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.”
Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menjaga bahasanya. Ia tidak berkata:
“Banī Isrāʾīl beriman.”
Ia juga tidak berkata:
“Banī Isrāʾīl kafir.”
Ia mengatakan:
āmānat ṭāʾifah — satu golongan beriman.
Dan:
kafarat ṭāʾifah — satu golongan yang lain melakukan kufr.
Satu nama komunitas. Dua kelompok. Dua respons. Kalimat seperti ini sangat penting karena ia melindungi kita dari sebuah kebiasaan berpikir yang berbahaya:
mengubah identitas kelompok menjadi vonis atas setiap orang di dalam kelompok itu.
Bagaimana ʿĪsā merespons?
Ayat tersebut sekaligus menyimpan respons ʿĪsā. Ketika menghadapi kondisi yang tidak seragam, ia tidak berkata:
“Semua orang sudah gagal.”
Ia bertanya:
man anṣārī ilā Allāh?
Siapa yang akan menjadi penolongku menuju Allah? Pertanyaan ini membuka ruang bagi respons. Dan para Ḥawāriyyūn menjawab:
naḥnu anṣāru Allāh — kamilah penolong-penolong Allah.
Hal yang sama sudah direkam dalam:
QS Āli ʿImrān 3:52
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para Hawariyyun (sahabat setianya) menjawab, ‘Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim.’”
Ada pelajaran penting di sini. Ketika sebagian menolak, ʿĪsā masih mengenali bahwa respons manusia tidak tunggal. Ia mencari siapa yang bersedia berdiri bersama kebenaran yang dibawanya. Dengan kata lain:
penolakan sebagian tidak membuat Nabi menghapus kemungkinan respons baik dari yang lain.
Bentuk yang sepadan hari ini
“Kelompok itu memang seperti itu.”
“Generasi itu sudah rusak.”
“Orang dari mazhab itu pasti berpikir begini.”
“Orang perusahaan itu tidak mungkin objektif.”
“Kalau dia berasal dari komunitas tersebut, tidak perlu didengar.”
Padahal identitas hanya memberi informasi tentang di mana seseorang berada. Ia belum tentu memberitahu kita bagaimana orang itu merespons suatu kebenaran tertentu. Satu komunitas dapat mengandung orang yang menolak, orang yang menerima, orang yang ragu, orang yang takut, dan orang yang masih mencari. Cermin ayat ini sangat sederhana:
apakah saya sedang menilai respons seseorang—atau hanya membaca label kelompok yang melekat pada dirinya?
Bahkan orang-orang yang meminta perubahan tidak semuanya bertahan ketika perubahan datang
Keragaman respons tidak hanya terlihat antara orang yang menerima dan menolak seorang Rasul. Ia juga dapat muncul di dalam satu kelompok yang pada awalnya menginginkan hal yang sama. Al-Qur’an merekam sebuah peristiwa setelah masa Mūsā.
QS Al-Baqarah 2:246
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
“Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, ‘Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.’ Nabi mereka menjawab, ‘Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?’ Mereka menjawab, ‘Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?’ Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”
Lihat betapa telitinya ayat tersebut. Pada awalnya ada permintaan bersama. Mereka sendiri meminta seorang raja agar dapat berperang. Tetapi ketika kewajiban itu benar-benar datang:
tawallaw — mereka berpaling.
Lalu Al-Qur’an langsung memberi batas:
illā qalīlan minhum — kecuali sedikit di antara mereka.
Dua kata terakhir itu sangat penting:
minhum — di antara mereka.
Al-Qur’an tidak menghapus orang-orang yang tetap bertahan hanya demi membuat kalimat lebih sederhana.
Bagaimana Nabi mereka merespons?
Nabi mereka bahkan tidak langsung menganggap pernyataan penuh semangat itu sebagai bukti kesiapan. Ia bertanya:
“Jangan-jangan ketika perang benar-benar diwajibkan, kalian tidak berperang?”
Ini menarik. Seorang Nabi tidak hanya mendengar deklarasi. Ia menguji kesiapan yang berada di balik deklarasi tersebut. Ada perbedaan antara:
“Kami ingin perubahan.”
dan:
“Kami bersedia menanggung konsekuensi dari perubahan itu.”
Pada awal pembicaraan, seluruh kelompok dapat terdengar sama. Ketika biaya nyata muncul, respons mulai terpisah.
Bentuk yang sepadan hari ini
Dalam organisasi kita mengenal kalimat:
“Kita harus berubah.”
Dalam komunitas:
“Kita perlu reformasi.”
Dalam keluarga:
“Kita harus memperbaiki cara kita hidup.”
Semua orang dapat mengangguk selama biaya perubahan masih abstrak. Tetapi ketika perubahan berarti:
melepaskan kenyamanan,
mengakui kesalahan,
kehilangan keuntungan,
menerima tanggung jawab,
atau mengubah kebiasaan,
kelompok yang semula terdengar kompak dapat mulai memperlihatkan respons yang berbeda. Maka kita harus hati-hati dengan kalimat:
“Mereka sudah sepakat.”
Sepakat pada apa?
Pada slogan?
Pada tujuan?
Pada cara?
Pada konsekuensi?
Kesepakatan di awal belum tentu identik dengan kesetiaan ketika konsekuensi datang.
Bahkan setelah melewati ujian, satu pasukan masih dapat mempunyai respons yang berbeda
Peristiwa Ṭālūt membuat gambaran itu semakin jelas.
QS Al-Baqarah 2:249
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, ‘Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.’ Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, ‘Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.’ Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.’ Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Dalam satu ayat saja terdapat beberapa lapisan respons. Ada yang tidak mampu melewati ujian sungai. Ada sedikit yang bertahan. Bahkan setelah menyeberang, masih ada yang berkata:
“Hari ini kita tidak mempunyai kekuatan menghadapi Jālūt.”
Lalu ada kelompok lain yang melihat situasi yang sama dan berkata:
“Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”
Perhatikan, mereka berada pada medan yang sama, melihat musuh yang sama, memiliki sejarah perjalanan yang sama tetapi cara mereka membaca keadaan berbeda. Inilah alasan mengapa sebuah komunitas tidak boleh diperlakukan sebagai satu kesadaran raksasa. Identitas bersama tidak menghapus pengalaman, keberanian, ketakutan, penilaian, dan respons setiap manusia. Tetapi sekali lagi kita perlu menjaga batas:
rasa takut tidak otomatis berarti penolakan.
Keraguan terhadap kemampuan pun tidak otomatis menjadikan seseorang pembangkang. Bab ini bukan sedang mengelompokkan manusia menjadi “baik” dan “buruk” berdasarkan satu reaksi. Yang hendak kita lihat hanya satu:
bahkan di dalam kelompok yang sama, respons terhadap keadaan yang sama dapat berbeda.
Lalu apa bentuknya dalam kehidupan kita?
Kesalahan membaca komunitas sering dimulai dari kalimat-kalimat sederhana.
“Anak muda sekarang seperti itu.”
“Generasi tua selalu begitu.”
“Orang agama pasti berpikir begini.”
“Orang perusahaan hanya memikirkan keuntungan.”
“Orang pemerintah tidak mungkin memahami persoalan kita.”
“Kelompok itu anti-perubahan.”
“Kelompok itu terlalu liberal.”
“Kelompok itu pasti konservatif.”
Masalahnya bukan bahwa kategori tidak pernah berguna. Kita memang membutuhkan kategori untuk memahami pola sosial. Tetapi kategori menjadi berbahaya ketika ia berhenti menjadi alat bantu dan berubah menjadi pengganti untuk melihat manusia yang sebenarnya. Ketika label kelompok sudah kita ketahui, kita merasa tidak perlu lagi mendengar orangnya.
Al-Qur’an justru berkali-kali menyimpan kata-kata kecil yang melawan kecenderungan tersebut:
sebagian.
di antara mereka.
sedikit dari mereka.
satu golongan.
golongan yang lain.
seorang lelaki dari dalam lingkungan itu.
Seolah-olah teks sedang mengingatkan kita:
Jangan membuat manusia lebih seragam daripada yang Aku ceritakan.
Cermin yang lebih sulit: bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda dari kelompoknya sendiri?
Ada satu jenis manusia yang sering berada dalam posisi paling sulit yakni orang yang mengoreksi kelompoknya sendiri. Ia dapat dicurigai oleh dua arah. Kelompoknya berkata:
“Mengapa kamu menyerang kita sendiri?”
Pihak luar berkata:
“Kamu tetap bagian dari mereka.”
Lelaki dalam lingkungan Firʿawn berada dalam situasi seperti itu. Lelaki dalam Surah Yāsīn masih berkata “wahai kaumku” ketika mengajak mereka mengikuti para utusan. Para Ḥawāriyyūn muncul sebagai respons positif ketika tidak semua memberi respons yang sama kepada ʿĪsā. Dari sini lahir pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar:
“Apakah komunitas saya benar?”
Pertanyaannya adalah:
apakah komunitas saya mempunyai ruang bagi orang dari dalam untuk mengatakan bahwa komunitas ini mungkin salah?
Komunitas yang sehat bukan komunitas yang tidak pernah dikritik. Justru salah satu tanda penting kesehatannya adalah:
apakah koreksi dari dalam masih mungkin hidup tanpa segera diperlakukan sebagai pengkhianatan?
Tentu tidak setiap pengkritik benar. Tidak setiap orang yang berbeda adalah pembawa kebenaran. Tidak setiap suara minoritas harus diikuti. Tetapi sebuah komunitas yang mematikan semua suara korektif dari dalam sedang kehilangan salah satu mekanisme penting untuk mengetahui kesalahannya sendiri.
Bagaimana para Nabi memperlakukan keragaman respons?
Dari ayat-ayat yang kita baca, satu hal mulai terlihat. Para Nabi tidak sekadar menghadapi “massa”. Mereka menghadapi manusia dengan respons yang berbeda. Nabi yang berbicara kepada para pemuka Banī Isrāʾīl dalam QS 2:246 tidak langsung menerima deklarasi mereka sebagai bukti kesiapan. Ia menguji komitmen yang mereka nyatakan. ʿĪsā, ketika mendapati keingkaran, masih bertanya:
“Siapa penolongku menuju Allah?”
Ia membuka ruang bagi mereka yang bersedia memberi respons berbeda. Mūsā berada di hadapan sistem Firʿawn, tetapi Al-Qur’an sendiri tetap menyimpan suara orang beriman yang hidup dari dalam lingkungan itu. Para utusan dalam kisah Yāsīn ditolak oleh sebagian masyarakat, tetapi narasi tidak menutup pintu sehingga lelaki yang berlari dari ujung kota menjadi tidak terlihat.
Ada pelajaran penting bagi siapa pun yang membawa koreksi hari ini. Jangan terlalu cepat menganggap:
“Semua orang di sana sudah menolak.”
Jangan pula mengukur seluruh komunitas hanya dari suara yang paling keras.
Suara paling keras belum tentu suara semua orang.
Pemimpin belum tentu pikiran setiap anggota.
Kerumunan belum tentu mewakili setiap hati.
Dan diamnya seseorang belum memberi kita izin untuk menentukan apa yang ia yakini.
Karena itu, kita perlu belajar membaca kata-kata kecil
Mulai dari bab berikutnya, kita akan memasuki kasus para Nabi satu per satu. Di sanalah ketelitian ini menjadi sangat penting. Jika ayat mengatakan:
al-malaʾ min qawmihi — para pemuka dari kaumnya,
kita tidak boleh seenaknya mengubahnya menjadi:
“Seluruh kaumnya berkata.”
Jika ayat mengatakan:
ṭāʾifah — satu golongan,
kita tidak boleh mengubahnya menjadi seluruh komunitas. Jika ayat mengatakan:
minhum — di antara mereka,
kata itu tidak boleh hilang. Jika ayat mengatakan:
qalīlan minhum — sedikit di antara mereka,
orang-orang yang sedikit itu tetap bagian dari cerita. Mereka tidak boleh dihapus hanya karena mayoritas lebih mudah diceritakan. Dari sini kita memperoleh satu prinsip yang akan terus kita bawa:
Satu Nama Kelompok tidak Pernah Cukup untuk Menjelaskan Respons Setiap Orang Di Dalamnya.
Dan itu membawa kita kepada pertanyaan yang lebih tajam. Ketika nanti kita membaca kisah Nūḥ dan menemukan bahwa al-malaʾ dari kaumnya berkata sesuatu kepadanya, siapa sebenarnya yang sedang kita lihat?
Seluruh masyarakat?
Para pemuka?
Sebagian orang?
Atau kelompok tertentu yang mempunyai posisi lebih besar dalam membentuk percakapan?
Pertanyaan itu tidak kecil. Karena salah mengenali siapa yang berbicara dapat membuat kita salah memahami seluruh kisah. Maka sebelum bertanya:
“Mengapa kaum Nūḥ menolak?”
kita akan mulai dengan pertanyaan yang lebih presisi:
“Siapa yang sebenarnya berbicara kepada Nūḥ—dan apa yang mereka lakukan terhadap pesan yang ia bawa?”
Di sanalah perjalanan kasus pertama dimulai.
BAGIAN II — Apa yang Mereka Katakan?
Bab 3 — Nūḥ — Ketika Pesan Belum Diperiksa, Pembawanya Sudah Diadili
Bab 4 — Hūd — Ketika Kekuatan Membuat Koreksi Terasa Tidak Relevan
Bab 5 — Ṣāliḥ — Ketika Orang yang Dulu Diharapkan Menjadi Masalah Setelah Membawa Koreksi
Bab 6 — Ibrāhīm — Ketika “Leluhur Kami Melakukannya” Menjadi Jawaban atas Pertanyaan “Apakah Ini Benar?”
Bab 7 — Lūṭ — Ketika yang Mengoreksi Justru Dianggap Tidak Cocok Lagi dengan Masyarakat
Bab 8 — Shuʿayb — Ketika Agama Mulai Menyentuh Harta
Bab 9 — Mūsā dan Firʿawn — Ketika Koreksi Diubah Menjadi Ancaman
Bab 10 — Mūsā, Hārūn, dan Banī Isrāʾīl — Ketika Mengakui Nabi Tidak Otomatis Berarti Menaati Apa yang Dibawa Nabi
Bab 11 — Aṣḥāb al-Qaryah — Ketika Pembawa Koreksi Dianggap Membawa Kesialan
Bab 12 — ʿĪsā — Ketika Bayyināt Tidak Menghasilkan Satu Respons
Bab 13 — Ṭālūt — Ketika Kita Meminta Perubahan, Tetapi Belum Tentu Siap Menanggung Konsekuensi-nya
Bab 14 — Ilyās — Ketika Al-Qur’an Tidak Memberi Tahu Mengapa Mereka Menolak
Bab 15 — Yūsuf — Ketika Bayyināt Sudah Datang, Tetapi Manusia Tetap Menutup Kemungkinan Masa Depan
Bab 16 — Muḥammad — Ketika Semua Bahasa Penolakan Bertemu, dan Identitas Sendiri Mulai Diuji