4. QS 72:18–23 — MASĀJID, SUJŪD, YADʿŪHU, dan Batas Seorang Rasul
QS Al-Jinn 72:18
وَأَنَّ ٱلْمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا
Terjemahan kerja: Dan sesungguhnya AL-MASĀJID—tempat-tempat terjadinya SUJŪD—adalah bagi Allah; maka janganlah kalian menyeru siapa pun bersama Allah.
QS Al-Jinn 72:19
وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبْدُ ٱللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا۟ يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
Terjemahan kerja: Dan bahwa ketika ʿABD ALLĀH berdiri dalam keadaan menyeru-Nya, mereka hampir menjadi massa yang berhimpit-himpit di sekeliling/atasnya.
QS Al-Jinn 72:20
قُلْ إِنَّمَآ أَدْعُوا۟ رَبِّى وَلَآ أُشْرِكُ بِهِۦٓ أَحَدًا
Terjemahan kerja: Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya menyeru Rabb-ku, dan aku tidak mempersekutukan siapa pun dengan-Nya.
QS Al-Jinn 72:21
قُلْ إِنِّى لَآ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا
Terjemahan kerja: Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak memiliki/menguasai bagi kalian suatu ḌARR, dan tidak pula RASHAD.
QS Al-Jinn 72:22
قُلْ إِنِّى لَن يُجِيرَنِى مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلْتَحَدًا
Terjemahan kerja: Katakanlah: Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah, dan aku tidak akan menemukan selain Dia suatu tempat berlindung/refuge.
QS Al-Jinn 72:23
إِلَّا بَلَـٰغًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَـٰلَـٰتِهِۦ ۚ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا
Terjemahan kerja: Kecuali BALĀGH dari Allah dan RISĀLĀT-Nya. Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka baginya api Jahannam; mereka menetap di dalamnya terus-menerus.
MASĀJID: mulai dari makna leksikalnya
QS 72:18 memakai الْمَسَـٰجِدَ—AL-MASĀJID, dari akar س-ج-د. Secara leksikal, MASJID adalah tempat atau ruang terjadinya SUJŪD. Akar س-ج-د membawa medan merendah, menunduk, dan menyerahkan diri. Penjelasan ini sekaligus mengoreksi rumusan lama ‘SUJŪD = belajar dari’. Belajar dapat menjadi salah satu akibat dari sikap sujud—karena orang yang menurunkan egonya lebih siap menerima koreksi—tetapi ‘belajar’ bukan arti kamus tunggal dari SUJŪD.
Sejauh mana MASĀJID boleh diperluas?
Sumber leksikal klasik juga mencatat bahwa masājid dapat dipakai bagi loci atau anggota yang menjadi tempat terjadinya sujud. Catatan ini menunjukkan keluasan pemakaian, tetapi QS 72:18 tidak memaksa pembaca memilih satu tafsiran teknis tertentu. Di sisi lain, mengubah MASĀJID secara harfiah menjadi laboratorium atau universitas juga sama-sama berlebihan. Yang paling aman adalah mempertahankan makna dasarnya sebagai locus SUJŪD, lalu membahas konsekuensi fungsionalnya secara terpisah.
Pertanyaan yang lebih berguna kemudian bukan hanya ‘kepada siapa manusia sujud?’, tetapi ‘apa yang harus diturunkan ketika seseorang bersujud?’ Pada tingkat ultimate, jawabannya memang Allah. Namun dalam kehidupan nyata, ketundukan itu baru mempunyai isi ketika manusia bersedia menurunkan kesombongan, prasangka, dan kepentingannya saat AL-ḤAQQ—yang benar dan nyata sebagaimana adanya—memperlihatkan bahwa ia keliru. Qur’an menggambarkan ciptaan berada dalam QADAR (ukuran/ketetapan, akar ق-د-ر), MĪZĀN (timbangan atau keseimbangan, akar و-ز-ن), ḤUSBĀN (perhitungan atau keteraturan yang dapat diperhitungkan, akar ح-س-ب), dan pola-pola yang dapat diamati. Dari sini SUJŪD dapat dibaca secara fungsional sebagai kesediaan menyesuaikan diri dengan kebenaran yang Allah buat terbaca melalui wahyu dan realitas ciptaan.
Ini tidak berarti manusia ‘sujud kepada sains’ atau menjadikan alam sebagai sumber kedua. QS 41:37 justru memberi batas tegas: jangan sujud kepada matahari dan bulan; sujudlah kepada Allah yang menciptakan keduanya. Alam adalah ĀYĀT—tanda-tanda yang menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya dan layak dibaca—bukan Tuhan yang disembah. Sains membantu manusia membaca pola pada ciptaan; sains sendiri tetap dapat salah, berubah, dan harus tunduk pada bukti.
YADʿŪHU bukan kata umum untuk setiap usaha hidup
QS 72:19 mengatakan قَامَ عَبْدُ ٱللَّهِ يَدْعُوهُ—ʿABD ALLĀH berdiri dalam keadaan menyeru-Nya. YADʿŪHU berasal dari akar د-ع-و: memanggil, menyeru, mengundang, memohon. Dalam konteks ayat, pronoun -hu kembali kepada Allah/Rabb. Karena itu ayat ini tidak dapat dijadikan bukti bahwa “setiap kali seorang hamba sedang berusaha dalam hidupnya, Jinn pasti berkerumun di sekitarnya”. Kata yang dipakai bukan SAʿĀ, ʿAMILA, atau JĀHADA, melainkan QĀMA ... YADʿŪHU.
Pelajaran yang lebih kokoh adalah ini: seorang hamba dapat tetap mengarahkan seruannya kepada Rabb meskipun berada di tengah keramaian pengaruh, tekanan, atau suara lain. Ayat 20 memberi jawabannya secara langsung: إِنَّمَآ أَدْعُوا۟ رَبِّى—aku hanya menyeru Rabb-ku. Jadi yang dijaga bukan isolasi dari semua pihak, melainkan kejelasan orientasi agar banyaknya suara tidak menghasilkan banyaknya sumber ultimate.
Siapa “mereka” pada ayat 19?
Ayat 19 memakai كَادُوا—KĀDŪ tanpa menyebut kembali noun antecedent secara eksplisit. Ia juga memakai لِبَدًا—LIBADĀ, dari akar ل-ب-د, yang menggambarkan massa atau kumpulan yang berhimpit rapat. Jinn memang merupakan kandidat kontekstual yang kuat untuk ‘mereka’, tetapi grammar ayat ini tidak cukup untuk mengubahnya menjadi hukum universal tentang Jinn yang selalu mengelilingi setiap orang yang sedang berusaha. Karena itu rumusan tersebut tidak dipertahankan. Yang dapat dipertahankan adalah makna yang lebih sederhana: keberadaan atau tekanan dari banyak agent tidak membatalkan directed invocation seorang ʿABD kepada Rabb.
Rasul membawa pesan; ia bukan sumber kedua
Ayat 21–23 lalu menempatkan Rasul pada posisi yang sangat proporsional. Ia diperintahkan mengatakan bahwa ia tidak memiliki ḌARR maupun RASHAD bagi orang lain. ḌARR, dari akar ض-ر-ر, menunjuk kerugian, bahaya, atau dampak yang merugikan; sedangkan RASHAD masih berada dalam keluarga ر-ش-د yang sebelumnya telah dijelaskan sebagai arah yang sound. Akar م-ل-ك pada AMLIKU berbicara tentang kepemilikan dan kendali. Rasul juga tidak mempunyai pelindung yang membuatnya berada di luar kedaulatan Allah, dan ia tidak mempunyai مُلْتَحَدًا—MULTAḤAD, dari akar ل-ح-د, yakni tempat atau arah untuk berlindung, selain Dia.
Lalu, apa yang menjadi tugas Rasul? Ayat 23 menjawab dengan بَلَـٰغًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَـٰلَـٰتِهِۦ—BALĀGH dari Allah dan RISĀLĀT-Nya. Akar ب-ل-غ membawa makna sampai atau mencapai; akar ر-س-ل berkaitan dengan pengiriman dan utusan. Rasul membawa dan menyampaikan; ia tidak berubah menjadi sumber kedua, pemilik RASHAD orang lain, atau tempat berlindung yang berdiri sejajar dengan Allah.
Di masa sekarang, guru, profesor, ilmuwan, penulis, atau komunikator dapat menjalankan sebagian fungsi yang mirip pada sisi penyampaian: menjaga kesetiaan pada sumber, menjelaskan dengan terang, dan berani mengakui batas pengetahuan. Namun kemiripan fungsi tidak mengubah mereka menjadi RASŪL Allah. Yang dapat diwarisi adalah etika penyampaiannya, bukan designation Qur’ani-nya.
QUL dan keberanian mengakui batas
Pola QUL memperkuat hal ini. Pada 72:1 Rasul diperintahkan menyebut asal informasi: “telah diwahyukan kepadaku”. Pada 72:20 ia menyatakan orientasinya: “aku hanya menyeru Rabb-ku”. Pada 72:21–22 ia menyatakan batas kuasa dan perlindungannya. Pada 72:25 ia bahkan diperintahkan berkata “aku tidak tahu”. Jadi kredibilitas seorang pembawa pesan tidak lahir dari kesan seolah ia mengetahui semuanya. Justru salah satu tandanya adalah keterbukaan mengenai dari mana informasi berasal, apa mandatnya, dan di mana pengetahuannya berhenti.
AḤAD sebagai pagar terhadap otoritas paralel
Diksi أَحَد—AḤAD, akar أ-ح-د, berulang membentuk pagar yang konsisten. Tidak ada AḤAD yang boleh ditempatkan sebagai sekutu Rabb, tidak ada AḤAD yang diseru bersama Allah, tidak ada AḤAD yang dapat melindungi Rasul dari Allah, dan GHAYB tidak dibuka kepada AḤAD secara bebas. Ini bukan penolakan terhadap perantara atau pengajar—Rasul sendiri adalah jalur penyampaian—melainkan penolakan terhadap otoritas paralel yang berdiri seolah-olah menjadi sumber, pelindung, atau kedaulatan kedua.