Apakah Jihad Benar-Benar Berarti Perang?
Membaca Kembali جهد dalam Al-Qur’an: untuk Menemukan Batas Makna, Jaringan Relasi, dan Medan Kehidupan yang Sebenarnya Dijangkau oleh جهد
Apakah Jihad Benar-Benar Berarti Perang?
Membaca Kembali جهد dalam Al-Qur’an: untuk Menemukan Batas Makna, Jaringan Relasi, dan Medan Kehidupan yang Sebenarnya Dijangkau oleh جهد
Jihad dalam Al-Qur’an tidak dapat dipersempit menjadi perang. Korpus جهد menunjukkan medan yang lebih dasar: pengerahan daya dan kemampuan secara sungguh-sungguh. Al-Qur’an lalu memperlihatkan apa yang dapat dikerahkan—harta dan diri; apa yang dapat menahannya—kenyamanan, keterikatan, tekanan sosial, ketakutan, keterbatasan, dan ketidakpastian; serta apa yang menentukan nilainya—arah pengerahan itu sendiri. Karena itu perang atau qitāl dapat berada di dalam medan Jihad pada konteks tertentu, tetapi qitāl bukan definisi Jihad. Dalam konstruksi yang diarahkan Al-Qur’an, Jihad adalah pengerahan nyata atas daya dan sumber daya yang tersedia pada manusia di Sabīl Allah, berorientasi kepada Allah, dan mencari keridaan-Nya. Pertanyaan pusatnya bukan pertama-tama ‘siapa yang harus saya lawan?’, melainkan ‘apa yang saya miliki tetapi belum saya kerahkan—dan ke mana seluruh pengerahan itu sedang membawa saya?’
Ada kata-kata yang karena terlalu akrab justru jarang kita periksa kembali. Jihad salah satunya. Begitu kata ini disebut, pikiran banyak orang segera bergerak menuju perang, senjata, musuh, dan pertempuran. Hubungan itu bukan sepenuhnya tanpa dasar, sebab sebagian ayat Jihad memang hadir dalam konteks konflik dan mobilisasi. Masalah muncul ketika salah satu konteks diangkat menjadi definisi seluruh kata. Pada saat itulah keluasan medan Qur’ani menyempit, dan sebagian besar kehidupan sehari-hari seolah berada di luar pertanyaan Jihad.
Penyempitan itu mempunyai akibat praktis. Bila Jihad ditempatkan hampir seluruhnya di medan perang, seseorang yang tidak berada di medan pertempuran dapat merasa bahwa Jihad bukan urusan hidupnya. Padahal korpus جهد berbicara juga tentang kesungguhan sumpah, kemampuan yang terbatas, ṣadaqah, harta, diri, tekanan orang tua, celaan sosial, duduk versus bergerak, Hijrah, Ṣabr, pencarian jalan Allah, dan pencarian keridaan-Nya. Karena itu kajian ini tidak berangkat dari keinginan menghapus perang dari ayat-ayat yang memang berbicara tentang konflik. Yang dikoreksi adalah penyamaan: seolah setiap Jihad adalah perang dan seolah perang menghabiskan seluruh medan Jihad.
Kajian ini menempatkan perang pada ukuran yang diberikan korpus. Qitāl adalah diksi tersendiri dengan pekerjaan semantik tersendiri. Ia dapat beririsan dengan Jihad, tetapi tidak identik dengannya. Dengan membiarkan setiap diksi mengerjakan pekerjaannya sendiri, kita justru dapat membaca ayat konflik dengan lebih presisi sekaligus menemukan medan Jihad yang bekerja jauh di luar pertempuran.
Karena Pantulan Cermin mencari medan operasi tuntunan Al-Qur’an dalam kehidupan, pertanyaan kajian ini sejak awal adalah: apa itu Jihad; di mana medan operasinya; berkenaan dengan apa saja Jihad; bagaimana kaitannya dengan nafs dan harta; dalam hal apa saja Al-Qur’an menyuguhkan Jihad; apa yang dibedakan oleh lima bentuk جهد; dan mengapa Jihad tidak boleh disamakan dengan Sa‘y, ‘Amal, Ṣabr, Hijrah, Tawakal, ataupun Qitāl. Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan membaca seluruh 36 ayat unik yang memuat 41 token جهد sebagai satu korpus, lalu menguji relasinya tanpa memaksa semua diksi melebur menjadi satu konsep.
Jakarta, 27 September 2026
Deni Setiawan
Quranic Arabic Corpus mencatat 41 kemunculan جهد dalam lima bentuk: 27 verba bentuk III, empat nomina jihād, satu nomina juhd, lima verbal noun jahd, dan empat active participle mujāhidīn. Empat puluh satu token itu berada dalam 36 ayat unik. Distribusi ini penting karena kata yang sama tidak hanya hadir dalam narasi konflik. Ia hadir dalam sumpah, ṣadaqah, tekanan orang tua, harta, diri, celaan sosial, hijrah, ṣabr, petunjuk, dan pencarian keridaan Allah.
Lima bentuk itu memberi kontrol yang sangat kuat. جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ muncul pada sumpah yang dibuat dengan kesungguhan paling kuat. جُهْدَهُمْ muncul pada orang yang hanya mempunyai kemampuan terbatas untuk diberikan. جَاهَدَاكَ dipakai untuk orang tua yang mengerahkan tekanan agar anak melakukan shirk. Jihād muncul dengan qualifier seperti fī sabīlillāh dan sebagai jihādan kabīrā. Mujāhidīn dipertentangkan dengan qā‘idūn dan juga dipasangkan dengan ṣābirīn. Bila semua ini dibaca bersama, perang tidak mungkin dipertahankan sebagai batas makna dasar.
KUNCI FINAL — batas makna dasar: جهد menunjuk pada pengerahan daya atau kemampuan secara sungguh-sungguh, sampai pada kadar kapasitas yang relevan terhadap sesuatu. Perang, penderitaan, pengorbanan, musuh, hambatan, bahkan 'fī sabīlillāh' bukan bagian wajib dari batas makna dasar; semuanya dapat menjadi konteks, arah, medium, biaya, atau bentuk aktualisasi tertentu.
جَاهَدَ — verba pengerahan: pelaku sungguh mengerahkan daya terhadap tujuan, objek, atau perjalanan tertentu.
جِهَاد — nomina yang menamai pengerahan/perjuangan itu sebagai suatu keadaan atau tindakan.
جُهْد — daya atau kemampuan yang tersedia untuk dikerahkan; QS 9:79 menjadi kontrol penting bahwa kapasitas manusia tidak seragam.
جَهْد — intensitas/kesungguhan yang tampak sangat jelas pada konstruksi جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ.
مُجَاهِدِين — pelaku pengerahan; QS 4:95 memperlihatkan kontrasnya dengan qā‘idūn, sedangkan QS 47:31 membedakannya dari ṣābirīn.
Pertanyaan ini lahir bukan dari motivasi modern, tetapi dari jaringan Qur’ani: جُهْدَهُمْ berbicara tentang kemampuan yang tersedia; بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ berbicara tentang harta dan diri yang dikerahkan; qā‘idūn memperlihatkan keadaan tidak bergerak; dan fī sabīlillāh menguji arah perjalanan pengerahan.
QS At-Taubah 9:79
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Orang-orang yang mencela orang beriman yang dengan sukarela memberi ṣadaqah, dan mencela mereka yang tidak memperoleh selain kemampuan yang mereka miliki untuk dikerahkan, lalu mereka mengejeknya; Allah membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.
Ayat ini mencegah kita mengukur Jihad hanya dari jumlah absolut. Manusia tidak diberi sumber daya yang sama. Ada yang mempunyai banyak, ada yang hanya mempunyai juhd yang kecil. Karena itu pertanyaan Qur’ani yang lebih adil bukan 'mengapa engkau tidak memberi sebanyak orang lain?', melainkan 'dari apa yang sungguh tersedia padamu, apa yang telah engkau kerahkan?'
Dalam kehidupan modern, perluasan operasionalnya dapat menyentuh uang, aset, waktu, tenaga, pengetahuan, keterampilan, jaringan, jabatan, reputasi, akses, perhatian, dan kesempatan. Daftar ini bukan arti leksikal māl atau nafs. Ia adalah contoh bagaimana kepemilikan dan diri dapat hadir dalam kehidupan sekarang.
Sembilan ayat dalam korpus جهد memasangkan pengerahan dengan amwāl dan anfus. Pengulangan ini terlalu konsisten untuk dianggap kebetulan. Al-Qur’an tidak hanya mengatakan bahwa seseorang 'bersungguh-sungguh'; ia berulang kali menanyakan dengan apa kesungguhan itu diwujudkan.
QS At-Taubah 9:41
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat, dan kerahkanlah harta kalian dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.
Anfus tidak boleh otomatis dipersempit menjadi 'nyawa'. Published baseline Pantulan Cermin tentang NAFS menempatkan nafs sebagai diri itu sendiri—self yang menjalani realitas, memilih, menggunakan kemampuan, beramal, menerima konsekuensi, dan mempertanggungjawabkan perjalanan. Karena itu, mengerahkan anfus secara operasional berarti menghadirkan diri, bukan secara leksikal berarti memusnahkan diri.
Amwāl pun tidak perlu dipersempit menjadi uang tunai. Ia menunjuk harta/kepemilikan. Dalam realitas modern, kepemilikan dapat mengambil bentuk modal, aset, alat, fasilitas, dan sumber daya ekonomi. Maka pasangan amwāl–anfus memberi gambaran yang kuat: apa yang berada dalam penguasaan kita dan diri yang mengoperasikannya sama-sama dapat masuk ke dalam pengerahan.
Sumber daya deployment bukan pemusnahan sumber daya. Jihad tidak menuntut harta harus habis atau diri harus musnah. Yang diuji adalah apakah apa yang tersedia benar-benar masuk ke dalam perjalanan yang kita katakan penting.
QS An-Nisā’ 4:95
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak sama orang-orang beriman yang duduk—selain mereka yang mempunyai halangan—dengan orang-orang yang mengerahkan diri di jalan Allah dengan harta dan diri mereka. Allah melebihkan para mujāhid dengan harta dan diri mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat; kepada masing-masing Allah menjanjikan kebaikan, dan Allah melebihkan para mujāhid atas orang-orang yang duduk dengan ganjaran yang besar.
Ayat ini memberi dua koreksi sekaligus. Pertama, kontras operasionalnya adalah qā‘idūn dan mujāhidūn: tidak bergerak versus mengerahkan. Kedua, Al-Qur’an memberi pengecualian kepada ulī al-ḍarar. Ketidakmampuan nyata tidak boleh disamakan dengan keengganan. Ini membuat pembacaan Jihad jauh lebih manusiawi sekaligus lebih menuntut.
Dalam kehidupan sehari-hari, 'duduk' tidak harus selalu berarti posisi tubuh. Secara analitis ia dapat tampak sebagai kapasitas yang tidak dipakai, kesempatan yang terus ditunda, harta yang hanya menumpuk tanpa pernah menjadi manfaat, pengetahuan yang tidak diterapkan, atau keberanian yang selalu menunggu kondisi sempurna.
QS At-Taubah 9:24
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: jika orang tua kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, pasangan-pasangan kalian, kerabat kalian, harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
Ayat ini tidak mengatakan keluarga, perdagangan, harta, atau rumah adalah buruk. Justru karena semuanya bernilai, mereka dapat menciptakan tarikan yang kuat. Masalah muncul ketika apa yang telah kita bangun dan sukai mengambil hak veto atas perjalanan.
QS At-Taubah 9:81
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
Orang-orang yang ditinggalkan bergembira dengan duduk mereka di belakang Rasul Allah. Mereka tidak menyukai untuk mengerahkan harta dan diri mereka di jalan Allah dan berkata, 'Jangan berangkat dalam panas.' Katakanlah, 'Api Jahannam lebih panas,' sekiranya mereka memahami.
Di sini comfort dan discomfort tampil sangat konkret: duduk versus berangkat, kenyamanan versus panas. Tetapi panas bukan arti Jihad. Panas adalah kondisi yang menguji apakah pengerahan berhenti ketika perjalanan tidak nyaman.
Jihad bukan doktrin anti-kenyamanan. Jihad menjadi relevan ketika kenyamanan, kepemilikan, atau rasa aman membuat sesuatu yang seharusnya dikerahkan justru ditahan. Keluar dari comfort zone bukan tujuan pada dirinya sendiri; yang diuji adalah apakah comfort masih menjadi daya ungkit pengabdian atau sudah berubah menjadi alasan perjalanan berhenti.
Sejalan dengan kajian Pantulan Cermin tentang Hijrah, bahwa Hijrah bukan pergantian penampilan atau label religius. Hijrah adalah reposisi ketika keadaan yang ditempati telah menjadi penghalang serius bagi arah perjalanan pengabdian menuju Rabb. Keadaan yang masih produktif menuntut stay and serve. Keadaan yang rusak tetapi masih dapat dipulihkan menuntut iṣlāḥ. Keadaan yang telah menjadi ruang yang mengurung dan menghentikan perjalanan, sementara jalan keluar tersedia, memasuki medan Hijrah.
QS Al-Baqarah 2:218
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan mengerahkan diri di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
QS An-Naḥl 16:110
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Kemudian sungguh Rabb-mu bagi orang-orang yang berhijrah setelah mereka mengalami tekanan, lalu mereka berjihad dan bersabar, sungguh Rabb-mu setelah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Korelasi ini bukan sekadar urutan kata. Hijrah menjawab problem keadaan: apakah saya masih dapat bergerak kepada Allah dari keadaan ini? Jihad menjawab problem mobilisasi: setelah ruang gerak tersedia, apa yang saya miliki tetapi belum saya kerahkan? Ṣabr menjawab problem ketahanan: apakah pengerahan tetap hidup ketika tekanan berlangsung?
Hijrah membuka kembali ruang perjalanan; Jihad memasok perjalanan dengan pengerahan nyata. Karena itu, keluar dari comfort zone ketika comfort telah menjadi arah perjalanan trap lebih tepat berada pada medan Hijrah. Setelah ruang terbuka, Jihad bertanya: sekarang apa yang benar-benar engkau kerahkan?
Bahasa Al-Qur’an kaya karena setiap diksi mengerjakan sesuatu yang khas. Menyatukan semuanya ke dalam satu kata memang membuat model tampak sederhana, tetapi justru menghilangkan ketelitian. Berikut adalah pertanyaan yang dibawa masing-masing diksi.
Sa‘y menanyakan pursuit: apa yang sungguh dikejar? Jihad menanyakan pengerahan: berapa dari kapasitas yang tersedia benar-benar masuk ke pursuit itu? Seseorang dapat berusaha tanpa seluruh sumber daya relevannya sedang dimobilisasi. Ketika pursuit menuntut mobilisasi nyata, Sa‘y dan Jihad dapat hadir bersama tanpa menjadi sinonim.
‘Amal menanyakan apa yang benar-benar dilakukan. Jihad menanyakan apa yang dikerahkan untuk melakukan dan mempertahankan perjalanan itu. Tidak setiap tindakan adalah pengerahan intensif. Sebaliknya, satu medan Jihad dapat menghasilkan banyak ‘amal.
QS Muḥammad 47:31
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
Sungguh Kami akan menguji kalian sampai Kami mengetahui para mujāhid di antara kalian dan orang-orang yang bersabar, dan Kami menguji keadaan kalian.
Ayat membedakan mujāhidīn dan ṣābirīn. Jihad menggerakkan daya; Ṣabr menjaga agar pengerahan tidak runtuh ketika tekanan berlangsung. Orang dapat melakukan ledakan usaha yang besar tetapi tidak mampu mempertahankannya. Karena itu intensitas dan durability bukan hal yang sama.
Dalam published baseline Pantulan Cermin, Tawakal bukan pasrah yang menonaktifkan ikhtiar. Ia berkaitan dengan trust kepada Allah yang membuat manusia berani bergerak ketika seluruh hasil belum dikuasai. Jihad bertanya apa yang dikerahkan; Tawakal bertanya kepada siapa manusia bersandar ketika pengerahan itu belum menjamin hasil.
Ini pembeda yang paling penting untuk mengoreksi penyempitan populer. Akar جهد berbeda dari ق ت ل. Korpus جهد sendiri sudah memalsukan persamaan Jihad = perang: ia muncul pada sumpah, ṣadaqah, tekanan orang tua, dan jihādan kabīrā dengan medium بِهِ. Karena itu qitāl dapat menjadi salah satu bentuk tindakan di dalam medan Jihad pada konteks tertentu, tetapi qitāl tidak menghabiskan medan Jihad.
QITĀL ∩ JIHAD dapat terjadi. Tetapi QITĀL ≠ JIHAD, dan JIHAD tidak mensyaratkan QITĀL.
Tahap falsifikasi menunjukkan bahwa hambatan tidak dapat dimasukkan ke batas makna dasar. Lima konstruksi جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ menampilkan intensitas sumpah tanpa mensyaratkan lawan yang harus diperangi. QS 9:79 menampilkan juhd sebagai kapasitas yang tersedia. QS 29:8 dan 31:15 bahkan menunjukkan bahwa pengerahan dapat menjadi pressure yang diterima pihak lain. Dengan demikian, hambatan dapat mendahului, menyertai, mengikuti, atau bahkan dihasilkan oleh pengerahan.
QS At-Taubah 9:41
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat, dan kerahkanlah harta kalian dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.
Ayat bahkan memasangkan keadaan ringan dan berat. Ini penting: Jihad tidak hanya terjadi ketika keadaan berat. Kesulitan membuat kualitas pengerahan lebih terlihat, tetapi kesulitan bukan prasyarat leksikal.
Beban tetap penting sebagai penguji. Beban dapat berupa kehilangan kenyamanan, waktu, sumber daya ekonomi, tekanan keluarga, celaan sosial, ketidakpastian, risiko, atau dalam konteks tertentu keselamatan diri. Tetapi penderitaan bukan validator kebenaran. Seseorang dapat membayar harga besar untuk tujuan yang salah.
COST ≠ TRUTH. SUFFERING ≠ TRUTH. INTENSITY ≠ TRUTH. Yang menentukan bukan hanya seberapa besar kita mengerahkan diri, tetapi ke mana pengerahan itu diarahkan dan apa yang sebenarnya kita cari.
QS Luqmān 31:15
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Jika keduanya mengerahkan tekanan terhadapmu agar engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui, maka jangan menaati keduanya; tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia secara patut, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian kepada-Ku tempat kembali kalian, lalu Aku akan memberitakan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.
Ayat ini adalah firewall. Kata kerja dari جهد hadir, pengerahan hadir, persistence hadir, tetapi arahnya salah: menuju shirk. Maka kesungguhan tidak otomatis suci. Kita harus memisahkan mesin dari arah: Jihad menjelaskan pengerahan; Sabīl menjelaskan arah perjalanan.
Contoh hari ini mudah ditemukan tanpa harus menunjuk kelompok tertentu. Seseorang dapat bekerja sangat keras demi manipulasi. Sebuah organisasi dapat mengerahkan modal dan talenta luar biasa untuk produk yang merusak. Seorang anak dapat ditekan dengan cinta keluarga agar memilih sesuatu yang bertentangan dengan integritasnya. Semua itu membuktikan bahwa 'sungguh-sungguh' belum menjawab 'benar'.
Frasa fī sabīlillāh berulang kali mengikat Jihad kepada jalan Allah. Ini menunjukkan bahwa Jihad tidak cukup mempunyai energi; ia harus mempunyai arah perjalanan. Semakin besar energi yang dikerahkan ke arah yang salah, semakin jauh seseorang dapat bergerak dari tujuan yang benar.
QS Al-Mā’idah 5:35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah jalan pendekatan kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian memperoleh keberhasilan.
QS Al-‘Ankabūt 29:69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Orang-orang yang berjihad dalam/untuk Kami, sungguh Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.
Relasi ayat ini penting: jāhadū fīnā → hudā → subulanā. Manusia tidak selalu harus mengetahui seluruh peta sebelum bergerak. Tujuan dan orientasi dapat jelas sementara rute berikutnya belum seluruhnya tampak. Sebagian jalan justru dibukakan di dalam perjalanan.
Bentuk jamak subul tidak boleh dibebani teori berlebihan. Namun pada level bentuk bahasa, ayat memang berbicara tentang 'jalan-jalan Kami'. Dalam konstruksi Pantulan Cermin, ini membuka kemungkinan bahwa orientasi kepada Allah dapat diwujudkan melalui lebih dari satu bentuk jalan operasional yang sah, sesuai keadaan, kemampuan, dan realitas yang dihadapi.
QS Al-Ḥajj 22:78
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Berjihadlah dalam/untuk Allah dengan jihad yang semestinya bagi-Nya. Dia telah memilih kalian dan tidak menjadikan bagi kalian dalam dīn suatu kesempitan; ikutilah millah bapak kalian Ibrāhīm. Dia telah menamai kalian muslim sebelumnya dan dalam ini, agar Rasul menjadi saksi atas kalian dan kalian menjadi saksi atas manusia. Maka tegakkanlah ṣalāt, tunaikan zakāt, dan berpeganglah kepada Allah. Dia Pelindung kalian; sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Konteks ayat mencegah kita menyempitkan 'ḥaqqa jihādih' menjadi perang. Di dalam ayat yang sama hadir dīn tanpa ḥaraj, ṣalāt, zakāt, i‘tiṣām billāh, dan kesaksian. Jihad ditempatkan dalam arsitektur pengabdian yang lebih luas.
QS Al-Mumtaḥanah 60:1
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai awliyā’, kalian menyampaikan kasih kepada mereka padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepada kalian; mereka mengusir Rasul dan kalian karena kalian beriman kepada Allah, Rabb kalian. Jika kalian keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku, apakah kalian secara rahasia menyampaikan kasih kepada mereka? Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Siapa di antara kalian melakukannya, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus.
Sabīl dan Marḍāt tidak boleh digabung menjadi satu arti. Sabīl menanyakan jalan mana yang ditempuh. Marḍāt menanyakan apa yang dicari. Seseorang dapat memakai label 'jalan Allah' tetapi secara batin mengejar status, kemenangan ego, keuntungan, pengakuan, atau dominasi. Karena itu orientasi harus diuji pada arah perjalanan dan motive sekaligus.
Ini adalah konstruksi analitis Pantulan Cermin, bukan arti leksikal. Bila manusia mempunyai juhd, amwāl, anfus, waktu, kemampuan, perhatian, dan kesempatan yang terbatas, maka kehidupan selalu mengandung persoalan alokasi. Waktu yang dipakai untuk satu hal tidak sepenuhnya tersedia untuk hal lain. Harta yang dialokasikan ke satu arah tidak lagi utuh untuk arah lain. Perhatian yang diberikan kepada sesuatu berarti ada hal lain yang tidak menerima perhatian yang sama.
Dari sudut ini, Jihad menyentuh pertanyaan yang sangat sehari-hari: ke mana kapasitas hidup saya dialokasikan? Apakah seluruh kemampuan hanya dipakai untuk mempertahankan kenyamanan sekarang? Apakah masa depan yang saya katakan penting benar-benar menerima bagian dari waktu, uang, perhatian, dan kemampuan saya?
QS 9:24 menjadi sangat logis dari sini. Keluarga, harta, perdagangan, dan rumah adalah pusat-pusat alokasi sumber daya. Semuanya dapat menjadi daya ungkit bagi pengabdian. Tetapi semuanya juga dapat menyerap seluruh kapasitas sehingga tidak ada lagi ruang bagi perjalanan yang lebih jauh. Maka masalahnya bukan 'punya atau tidak punya', melainkan apakah kepemilikan menjadi alat perjalanan atau jangkar yang menahan perjalanan.
QS 9:79 memberi gambaran orang yang tidak mempunyai selain juhd mereka. Nilai pengerahan tidak dapat dibaca hanya dari angka absolut. Orang yang sedikit tetapi sungguh mengerahkan apa yang tersedia tidak boleh direndahkan hanya karena hasil materialnya kecil.
Ini adalah derivasi analitis dari kontras qā‘idūn–mujāhidūn dan pola amwāl–anfus. Seseorang dapat memiliki banyak kemampuan, uang, akses, waktu, atau posisi tetapi sangat sedikit yang masuk ke dalam tujuan yang ia klaim penting.
QS 29:8 dan 31:15 adalah kontrolnya. جهد dapat digunakan untuk menekan menuju shirk. Kesungguhan bukan validator kebenaran.
Di sinilah pola Qur’ani amwāl–anfus–fī sabīlillāh menemukan bentuknya: sumber daya tersedia, benar-benar dimobilisasi, dan arah perjalanan-nya diuji terhadap Allah.
Seseorang mengetahui bahwa pekerjaannya akan berubah karena teknologi. Ia mempunyai waktu, akses belajar, dan kemampuan dasar, tetapi terus menunda karena posisi sekarang masih nyaman. Sa‘y bertanya: apa yang sedang ia kejar? ‘Amal bertanya: apa yang benar-benar ia lakukan hari ini? Jihad bertanya: berapa dari waktu, perhatian, dan kenyamanan yang sungguh ia kerahkan untuk menyiapkan masa depan? Pertanyaan cermin berikutnya: keadaan apa yang sedang ia bangun dari keputusan sekarang?
Seseorang mempunyai harta yang cukup. Pertanyaannya bukan apakah ia harus memiskinkan diri. Pertanyaannya: apakah sebagian kepemilikan itu pernah menjadi sumber daya bagi manfaat, atau seluruhnya hanya dipakai untuk memperbesar rasa aman? QS 9:79 mengingatkan bahwa yang kecil pun dapat berarti bila itu juhd yang tersedia; QS 9:24 mengingatkan bahwa harta yang dicintai dapat berubah dari daya ungkit menjadi penahan.
Seorang pemimpin mempunyai kewenangan memperbaiki proses yang merugikan banyak orang. Ia tahu masalahnya, mempunyai data dan otoritas, tetapi perubahan akan membuatnya tidak populer. Di sini hambatan bukan panas fisik, melainkan social beban. QS 5:54 mengingatkan tentang tidak takut kepada celaan pencela. Jihad bertanya: apakah posisi hanya dinikmati sebagai kenyamanan, atau benar-benar dikerahkan untuk jalan yang diyakini benar?
QS 29:8 dan 31:15 memberi batas yang halus. Keluarga harus diperlakukan dengan ma‘rūf, tetapi tekanan keluarga tidak otomatis menentukan arah kebenaran. Jihad dapat muncul sebagai keberanian menjaga orientasi tanpa mengubah perbedaan menjadi kebencian.
Sebuah organisasi dapat mempunyai dana, orang, teknologi, dan jaringan tetapi gagal berubah karena semua sumber daya dipakai mempertahankan sistem lama. Bila sistem masih recoverable, medan iṣlāḥ relevan. Bila struktur benar-benar menutup objective dan jalan keluar tersedia, medan Hijrah dapat muncul. Setelah reposisi, Jihad bertanya apakah sumber daya baru sungguh dimobilisasi atau organisasi hanya berpindah nama.
Ada orang yang sangat sibuk tetapi tidak pernah bergerak menuju sesuatu yang ia anggap penting. Kesibukan bukan bukti Jihad. Banyaknya aktivitas hanya membuktikan bahwa energi dikeluarkan. Pertanyaan berikutnya tetap harus diajukan: menuju apa? untuk siapa? apa yang dicari? apakah kesibukan itu membangun masa depan atau sekadar mempertahankan yang segera?
SA‘Y bertanya: Apa yang sungguh saya kejar, bukan sekadar saya inginkan?
‘AMAL bertanya: Apa yang benar-benar saya lakukan, bukan hanya saya niatkan atau katakan?
HIJRAH bertanya: Apakah keadaan tempat saya berada masih memungkinkan perjalanan menuju Allah?
JIHAD bertanya: Apa yang saya miliki tetapi belum saya kerahkan?
ṢABR bertanya: Ketika jalan menjadi panjang dan tekanan berlangsung, apakah saya tetap menjaga arah dan proses?
TAWAKAL bertanya: Ketika saya tidak menguasai seluruh hasil, kepada siapa saya bersandar sehingga tetap berani bergerak?
QITĀL bertanya: Apakah bentuk tindakan dalam konteks ini berupa pertempuran? Ia menjelaskan bentuk konflik tertentu, bukan seluruh medan Jihad.
Apa yang saya miliki tetapi belum saya kerahkan?
Apa tujuan yang sedang saya kejar?
Daya apa yang Allah telah tempatkan pada Nafs tetapi belum saya kerahkan?
Harta/sumber daya apa yang saya miliki tetapi belum saya alirkan?
Apa yang sedang menahan pengerahan itu—kenyamanan, keluarga, perdagangan, tempat tinggal, tekanan sosial, ketakutan, atau ketidakpastian?
Apakah keadaan tempat saya berada sekarang masih menjadi ruang bagi perjalanan menuju Allah, atau justru telah menjadi tempat nyaman yang membuat perjalanan itu berhenti?
Apakah yang saya miliki masih menjadi daya ungkit perjalanan, atau telah berubah menjadi jangkar yang membuat saya duduk?
Apakah saya sedang mempertahankan sesuatu karena memang harus dipertahankan, atau hanya karena saya sudah nyaman di dalamnya?
Apa beban yang tidak ingin saya tanggung sehingga saya memilih tetap menjadi qā‘id?
Apakah saya sedang mengerahkan diri, atau hanya sumber daya saya sementara diri saya sendiri tidak pernah hadir?
Apakah saya banyak bergerak tetapi sebenarnya sedikit dari kapasitas saya yang sungguh dikerahkan?
Apakah saya menunggu seluruh jalan terlihat sebelum bersedia bergerak?
Apakah kesulitan yang saya tanggung benar-benar bukti bahwa saya berada pada jalan Allah, atau saya hanya menjadikan penderitaan sebagai pembenaran?
Apakah jalan yang saya tempuh memang Sabīl Allah, atau hanya jalan yang saya beri label 'jalan Allah'?
Apa yang sebenarnya saya cari—keridaan Allah atau sesuatu untuk diri saya sendiri?
Masa depan apa yang sedang lahir dari alokasi waktu, harta, perhatian, dan kemampuan saya hari ini?
Dan yang paling penting: bila saya sudah mengerahkan semuanya, ke arah mana sebenarnya saya sedang bergerak?
JIHAD ≠ QITĀL. Qitāl dapat menjadi salah satu bentuk tindakan dalam medan Jihad tertentu, tetapi tidak menghabiskan medan makna جهد.
JIHAD ≠ PENDERITAAN. Penderitaan dapat hadir, tetapi bukan batas makna dasar.
JIHAD ≠ PENGORBANAN. Pengorbanan dapat menjadi beban atau konsekuensi, tetapi tidak mendefinisikan جهد.
JIHAD ≠ RESISTANCE. Hambatan adalah kondisi yang sering membuat pengerahan diperlukan atau mengujinya.
JIHAD ≠ KELUAR DARI COMFORT ZONE. Ketika comfort telah menjadi arah perjalanan trap, keluar dari keadaan itu lebih tepat berada pada medan Hijrah.
JIHAD ≠ SA‘Y. Sa‘y menjelaskan pursuit; Jihad menjelaskan pengerahan.
JIHAD ≠ ‘AMAL. ‘Amal menjelaskan tindakan; Jihad menjelaskan sumber daya/capacity yang dikerahkan.
JIHAD ≠ ṢABR. Jihad menggerakkan daya; Ṣabr menjaga ketahanan di bawah tekanan.
JIHAD ≠ TAWAKAL. Jihad menanyakan apa yang dikerahkan; Tawakal menanyakan kepada siapa manusia bersandar ketika hasil tidak dikuasai.
INTENSITAS ≠ KEBENARAN. جهد dapat dipakai untuk tekanan menuju shirk.
PENGERAHAN SUMBER DAYA ≠ PEMUSNAHAN SUMBER DAYA. Harta dan diri dikerahkan, bukan secara leksikal diperintahkan untuk dimusnahkan.
Jika ayat-ayat yang memuat جهد dibaca sendiri-sendiri, kita mudah terpaku pada konteks masing-masing. Ketika seluruh korpus dibaca bersama, sebuah pola yang lebih besar muncul. Ada ayat tentang sumpah yang sangat kuat, ada orang yang hanya mampu memberi menurut kadar dayanya, ada orang tua yang mengerahkan tekanan kepada anak, ada orang yang berhijrah lalu berjihad, ada pengerahan harta dan diri, ada orang yang memilih duduk, ada celaan sosial, ada panas perjalanan, ada pencarian keridaan Allah, dan ada janji ditunjukkannya jalan-jalan Allah. Keragaman ini justru menjadi alasan utama mengapa Jihad tidak dapat dipenjarakan di dalam satu konteks perang.
Relasi pertama
adalah Jihad dan Īmān. Beberapa ayat menempatkan iman berdekatan dengan hijrah dan jihad. Kedekatan ini tidak menjadikan ketiganya sinonim. Īmān memberi orientasi kepercayaan dan komitmen; Hijrah menjawab keadaan yang sudah menghambat perjalanan; Jihad menguji apakah daya yang tersedia benar-benar dikerahkan. Karena itu pengakuan iman tidak boleh dijadikan pengganti pengerahan. Sebaliknya, pengerahan yang besar pun tidak otomatis benar hanya karena intensif; arah dan tujuan tetap harus diperiksa.
Relasi kedua
adalah Jihad dan Hijrah. Di sinilah pembahasan tentang zona nyaman memperoleh tempatnya. Kenyamanan tidak salah pada dirinya. Rumah, keluarga, perdagangan, harta, pekerjaan, jaringan, dan posisi dapat menjadi daya ungkit pengabdian. Masalah muncul ketika semua yang telah mapan itu meminta agar perjalanan berhenti. Bila keadaan masih sehat, seseorang dapat tetap tinggal dan mengabdi. Bila rusak tetapi masih dapat diperbaiki, iṣlāḥ tetap relevan. Bila keadaan telah menjadi ruang yang mengurung dan menutup perjalanan menuju Allah, Hijrah bekerja sebagai reposisi. Sesudah ruang gerak kembali terbuka, Jihad mengajukan pertanyaan baru: apa yang sekarang benar-benar dikerahkan?
Relasi ketiga
adalah Jihad dan harta-diri. Pengulangan بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak membicarakan kesungguhan sebagai perasaan batin belaka. Ada sesuatu yang masuk ke dalam perjalanan: apa yang dimiliki dan diri yang memilikinya. Harta bukan hanya uang tunai; dalam kehidupan ia dapat tampil sebagai aset dan sarana yang berada dalam penguasaan seseorang. Diri juga tidak boleh dipersempit menjadi nyawa. Diri hadir melalui waktu, tenaga, perhatian, pengetahuan, keterampilan, keberanian, kehadiran, dan kemampuan mengambil keputusan. Perluasan terakhir adalah penerapan operasional, bukan arti kamus dari nafs.
Relasi keempat
adalah Jihad dan qā‘idūn. Kontras antara orang yang mengerahkan dan orang yang duduk mengubah cara kita melihat lawan operasional Jihad. Lawannya tidak selalu seorang musuh di luar diri. Dalam kehidupan biasa, lawannya dapat berupa kapasitas yang tersedia tetapi dibiarkan diam. Namun Al-Qur’an juga memberi pagar melalui غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ: ketidakmampuan nyata tidak boleh diperlakukan sama dengan keengganan. Karena itu pertanyaan Jihad bukan “mengapa saya tidak sebanyak orang lain?”, melainkan “apa yang sungguh tersedia pada saya, dan apa yang saya lakukan dengannya?”
Relasi kelima
adalah Jihad dan Ṣabr. Al-Qur’an dapat menyebut mujāhidīn dan ṣābirīn secara berdampingan. Itu berarti pengerahan dan ketahanan bukan hal yang sama. Seseorang dapat melakukan ledakan usaha yang besar, lalu berhenti ketika proses memanjang. Jihad menanyakan pengerahan; Ṣabr menanyakan apakah arah dan proses tetap dijaga ketika tekanan berlangsung.
Relasi keenam
adalah Jihad dan Hudā. QS 29:69 memperlihatkan جَاهَدُوا فِينَا lalu لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا. Hubungan ini penting bagi manusia yang menunggu seluruh peta sebelum bergerak. Al-Qur’an tidak mengajarkan kecerobohan, tetapi ayat ini memperlihatkan bahwa sebagian jalan dapat menjadi terang di dalam perjalanan. Kita dapat mengetahui kepada siapa hidup diarahkan tanpa harus mengetahui seluruh rute masa depan sejak awal.
Relasi ketujuh
adalah Jihad dan Ṣidq. QS 49:15 menghubungkan iman yang tidak diragukan dengan pengerahan harta dan diri, lalu menyebut mereka sebagai orang-orang yang benar. Ini tidak berarti Jihad satu-satunya ukuran kebenaran, tetapi menunjukkan bahwa komitmen yang diucapkan memperoleh bobot ketika sesuatu dari kehidupan benar-benar ikut masuk ke dalamnya. Di sinilah Jihad menjadi ujian terhadap jarak antara apa yang kita katakan penting dan apa yang sungguh menerima alokasi hidup kita.
Pengujian ini penting karena kita mudah mengganti penyempitan lama dengan penyempitan baru. Setelah menolak “Jihad sama dengan perang”, jangan sampai kita membuat definisi baru “Jihad sama dengan penderitaan”. Korpus tidak mendukungnya.
Lima konstruksi جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ adalah kontrol yang sangat kuat. Yang tampak adalah intensitas sumpah, bukan peperangan dan bukan keharusan adanya penderitaan. QS 9:79 melalui جُهْدَهُمْ memperlihatkan kapasitas yang tersedia pada orang yang tidak mempunyai banyak sumber daya. Dua kelompok ayat ini menjaga pusat makna pada daya, kemampuan, kesungguhan, dan pengerahan.
QS 9:41 bahkan memuat خِفَافًا وَثِقَالًا — dalam keadaan ringan maupun berat. Karena itu keadaan berat tidak dapat dijadikan syarat mutlak. Kesulitan memang dapat menguji apakah pengerahan tetap berlangsung, tetapi Jihad tidak lahir hanya karena hidup sedang sulit.
QS 9:81 memperlihatkan panas sebagai hambatan konkret. Orang memilih duduk dan tidak menyukai pengerahan harta serta diri, lalu menjadikan panas sebagai alasan. Panas bukan Jihad. Panas adalah kondisi yang menguji apakah kenyamanan akan mengalahkan arah perjalanan. Demikian pula celaan sosial pada QS 5:54: celaan bukan Jihad, tetapi rasa takut terhadap penilaian orang dapat menahan pengerahan.
Kesimpulan pengujian ini tegas: hambatan dan beban penting, tetapi keduanya bukan definisi جهد. Keduanya adalah keadaan yang sering membuat kualitas pengerahan terlihat. Ketika jalan mudah, manusia tetap dapat mengerahkan daya. Ketika jalan berat, pertanyaannya menjadi lebih tajam: apakah ia tetap mengerahkan apa yang tersedia atau memilih menahannya?
Salah satu hasil paling operasional dari kajian ini adalah bahwa Jihad menyentuh persoalan alokasi. Ini bukan arti leksikal langsung, melainkan konstruksi yang lahir dari pertemuan antara جُهْد, amwāl, anfus, qā‘idūn, dan orientasi fī sabīlillāh. Manusia mempunyai waktu terbatas, tenaga terbatas, perhatian terbatas, harta terbatas, dan kesempatan yang tidak tak terbatas. Semua itu selalu dialokasikan, sadar ataupun tidak.
Karena itu kesibukan tidak sama dengan Jihad. Seseorang dapat bekerja dari pagi sampai malam, menghadiri banyak pertemuan, mengelola banyak proyek, dan merasa sangat lelah. Semua itu membuktikan energi telah dikeluarkan; belum membuktikan ke mana energi itu diarahkan.
Pertanyaan Jihad tetap datang: bagian mana dari hidup ini yang benar-benar masuk ke jalan yang saya nyatakan penting?
Di tempat kerja, misalnya, seseorang mungkin mempunyai kewenangan untuk memperbaiki proses yang merugikan banyak orang. Ia mempunyai pengetahuan, akses, tim, dan posisi, tetapi memilih diam karena perubahan akan mengganggu kenyamanan. Medan Jihad di sini bukan perang. Yang diuji adalah apakah kemampuan yang telah tersedia benar-benar dikerahkan secara benar, dengan tetap menjaga batas etika dan arah kepada Allah.
Dalam keluarga, seseorang dapat mempunyai waktu dan kemampuan untuk mendampingi anak, merawat orang tua, memperbaiki komunikasi, atau memutus pola buruk yang diwariskan. Pengerahan itu mungkin menuntut waktu, kerendahan hati, biaya, dan kesabaran. Sekali lagi, bentuk tindakannya adalah ‘amal; pursuit-nya dapat disebut sa‘y; ketahanannya memerlukan ṣabr; ketidakpastian hasilnya memerlukan tawakal. Jihad menyorot apa yang sungguh dikerahkan.
Dalam harta, seseorang dapat mempunyai sumber daya yang selama ini hanya menambah lapisan kenyamanan. Pertanyaannya bukan apakah harta itu haram untuk dinikmati. Pertanyaannya: apakah kepemilikan itu masih menjadi daya ungkit kebaikan atau justru telah menjadi jangkar yang membuat seluruh hidup berputar untuk mempertahankannya? QS 9:24 membuat pertanyaan ini tidak dapat dianggap remeh.
Dalam pengetahuan, seseorang dapat mengetahui banyak hal tetapi tidak pernah mengubah pengetahuan menjadi manfaat. Dalam posisi, seseorang dapat mempunyai pengaruh tetapi menggunakannya hanya untuk menjaga kedudukan. Dalam jaringan, seseorang dapat mengenal banyak orang tetapi tidak pernah menggerakkan jaringan itu untuk menyelesaikan masalah yang layak diselesaikan. Dalam semua contoh ini, pertanyaan yang sama kembali: apa yang saya miliki tetapi belum saya kerahkan?
Argumennya dapat diringkas secara bertahap.
Pertama, akar جهد dipakai Al-Qur’an pada medan yang tidak mungkin semuanya diterjemahkan sebagai perang: sumpah, kemampuan memberi, tekanan orang tua, pengerahan harta dan diri, serta berbagai konstruksi orientasi. Maka perang tidak dapat menjadi batas makna dasar.
Kedua, Al-Qur’an mempunyai diksi قتال untuk membicarakan pertempuran. Keberadaan diksi yang berbeda menuntut kita menjaga perbedaan pekerjaan semantiknya. Dalam konteks tertentu Jihad dan Qitāl dapat bertemu; tetapi pertemuan tidak mengubah keduanya menjadi sinonim.
Ketiga, pengulangan amwāl dan anfus menunjukkan bahwa yang disorot adalah pengerahan sumber daya.
Keempat, qā‘idūn memperlihatkan kontras antara kapasitas yang dikerahkan dan keadaan duduk, dengan pengecualian bagi mereka yang memang mempunyai halangan.
Kelima, جَاهَدَاكَ menuju shirk membuktikan bahwa intensitas pengerahan tidak otomatis benar. Karena itu Jihad Qur’ani memerlukan pemeriksaan arah: fī sabīlillāh, fīnā, fī Allāh, dan pencarian marḍāt Allah.
Keenam, hubungan dengan Hijrah menunjukkan bahwa keluar dari zona nyaman bukan definisi Jihad. Bila kenyamanan telah menjadi keadaan yang mengurung perjalanan, reposisi berada pada medan Hijrah. Sesudah itu Jihad bertanya apakah ruang yang telah terbuka benar-benar diisi oleh pengerahan.
Ketujuh, hubungan dengan Ṣabr dan Tawakal menunjukkan bahwa pengerahan, ketahanan, dan kepercayaan kepada Allah adalah fungsi yang berbeda meskipun dapat hadir dalam satu perjalanan.
Karena itu memperluas kembali makna Jihad bukan upaya menghapus konteks perang dari Al-Qur’an. Yang dilakukan justru sebaliknya: menempatkan konteks perang pada tempatnya tanpa membiarkannya mengambil alih seluruh medan kata. Dengan cara ini, ayat konflik tetap dapat dibaca sebagai ayat konflik, sementara ayat sumpah tetap ayat sumpah, ayat ṣadaqah tetap ayat ṣadaqah, tekanan keluarga tetap tekanan keluarga, dan seluruhnya tetap bertemu pada keluarga makna جهد.
Setelah seluruh 36 ayat unik yang memuat 41 token جهد dibaca bersama, penyempitan Jihad menjadi perang tidak dapat dipertahankan. Korpus terlalu luas untuk itu. Sumpah memperlihatkan intensitas. Ṣadaqah memperlihatkan kapasitas. Tekanan orang tua memperlihatkan bahwa pengerahan dapat diarahkan kepada tujuan yang salah. Amwāl dan anfus memperlihatkan sumber daya. Qā‘idūn memperlihatkan kontras antara potensi yang tidak bergerak dan kapasitas yang dikerahkan. Fī sabīlillāh, fīnā, fī Allāh, dan ibtighā’a marḍātī memperlihatkan bahwa pengerahan membutuhkan arah dan tujuan.
Hambatan dan beban penting, tetapi keduanya bukan definisi. Kesulitan membuat kualitas pengerahan lebih terlihat. Comfort dapat menjadi penghambat, tetapi comfort tidak salah pada dirinya sendiri. Ketika kenyamanan berubah menjadi ruang yang mengurung yang menghentikan perjalanan menuju Allah, Hijrah bekerja sebagai reposisi. Setelah ruang perjalanan terbuka, Jihad menanyakan apa yang sungguh dikerahkan. Ketika tekanan berlangsung, Ṣabr menjaga ketahanan. Ketika hasil belum dikuasai, Tawakal menjaga trust. Sa‘y menjelaskan apa yang dikejar; ‘Amal menjelaskan apa yang dilakukan; Qitāl menjelaskan bentuk pertempuran tertentu. Tidak satu pun perlu dihapus agar Jihad dapat dipahami.
Apa itu Jihad?
Jihad adalah pengerahan sungguh-sungguh atas daya, kemampuan, diri, dan sumber daya yang tersedia pada manusia menuju suatu tujuan. Pada batas makna dasar, جهد tidak berarti perang, penderitaan, pengorbanan, atau sekadar keluar dari zona nyaman. Dalam bangunan relasional yang diarahkan Al-Qur’an, pengerahan itu ditempatkan pada jalan Allah, berorientasi kepada Allah, dan mencari keridaan-Nya. Qitāl dapat menjadi salah satu bentuk tindakan dalam konteks konflik, tetapi tidak menghabiskan medan Jihad. Karena itu pertanyaan Jihad yang paling mendasar bukan 'siapa yang saya lawan?', melainkan: 'dari seluruh yang Allah telah tempatkan dalam jangkauan saya, apa yang benar-benar telah saya kerahkan, apa yang masih saya tahan, dan ke mana seluruh pengerahan itu sedang membawa saya?'
Lampiran ini menampilkan seluruh ayat unik yang memuat 41 token جهد. Terjemahan di bawah adalah terjemahan kerja Pantulan Cermin untuk kepentingan analisis. Fokusnya menjaga hubungan struktur ayat dengan diksi yang sedang dikaji.
QS Al-Baqarah 2:218
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
QS Āli ‘Imrān 3:142
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Apakah kalian mengira akan masuk Jannah padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?
QS An-Nisā’ 4:95
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak sama orang-orang beriman yang duduk—selain mereka yang mempunyai halangan—dengan para mujāhid di jalan Allah dengan harta dan diri mereka. Allah melebihkan para mujāhid dengan harta dan diri mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan kebaikan, dan Allah melebihkan para mujāhid atas orang-orang yang duduk dengan ganjaran yang besar.
QS Al-Mā’idah 5:35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian memperoleh keberhasilan.
QS Al-Mā’idah 5:53
وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۚ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ
Orang-orang yang beriman berkata, 'Inikah orang-orang yang bersumpah kepada Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka bahwa mereka benar-benar bersama kalian?' Amal mereka gugur, lalu mereka menjadi orang-orang yang rugi.
QS Al-Mā’idah 5:54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian berpaling dari dīn-nya, Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya; rendah hati kepada orang beriman, tegas terhadap orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.
QS Al-An‘ām 6:109
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا ۚ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لَا يُؤْمِنُونَ
Mereka bersumpah kepada Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka bahwa jika datang kepada mereka suatu tanda, mereka pasti akan beriman kepadanya. Katakanlah, tanda-tanda itu hanya di sisi Allah. Dan apa yang membuat kalian mengetahui bahwa apabila tanda itu datang, mereka tidak juga akan beriman?
QS Al-Anfāl 8:72
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat dan menolong, mereka saling menjadi awliyā’. Adapun orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, kalian tidak mempunyai kewajiban walāyah terhadap mereka sampai mereka berhijrah. Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam dīn, maka kalian wajib menolong kecuali terhadap kaum yang antara kalian dan mereka ada perjanjian. Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.
QS Al-Anfāl 8:74
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat dan menolong, mereka itulah orang-orang beriman dengan sebenar-benarnya. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.
QS Al-Anfāl 8:75
وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Orang-orang yang beriman kemudian, berhijrah, dan berjihad bersama kalian, mereka termasuk kalian. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat lebih berhak satu sama lain dalam Kitab Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
QS At-Taubah 9:16
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Apakah kalian mengira akan dibiarkan padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan tidak menjadikan selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman sebagai tempat kepercayaan rahasia? Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan.
QS At-Taubah 9:19
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Apakah kalian menjadikan pemberian minum kepada orang yang berhaji dan pemakmuran Masjidil Haram sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
QS At-Taubah 9:20
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka lebih besar derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.
QS At-Taubah 9:24
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: jika orang tua, anak-anak, saudara, pasangan, kerabat, harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
QS At-Taubah 9:41
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.
QS At-Taubah 9:44
لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian tidak meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan diri mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
QS At-Taubah 9:73
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Wahai Nabi, berjihadlah terhadap orang-orang kafir dan munafik dan bersikap tegaslah terhadap mereka. Tempat mereka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
QS At-Taubah 9:79
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Orang-orang yang mencela orang beriman yang sukarela memberi ṣadaqah dan mereka yang tidak memperoleh selain kemampuan yang dapat mereka kerahkan, lalu mereka mengejeknya; Allah membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.
QS At-Taubah 9:81
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
Orang-orang yang ditinggalkan bergembira dengan duduk mereka di belakang Rasul Allah. Mereka tidak menyukai berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah dan berkata, 'Jangan berangkat dalam panas.' Katakanlah, 'Api Jahannam lebih panas,' sekiranya mereka memahami.
QS At-Taubah 9:86
وَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُوا بِاللَّهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُنْ مَعَ الْقَاعِدِينَ
Apabila diturunkan suatu surah, 'Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya,' orang-orang yang mempunyai kemampuan di antara mereka meminta izin kepadamu dan berkata, 'Biarkan kami bersama orang-orang yang duduk.'
QS At-Taubah 9:88
لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berjihad dengan harta dan diri mereka. Bagi mereka segala kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh keberhasilan.
QS An-Naḥl 16:38
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka bersumpah kepada Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati. Bahkan, itu adalah janji yang benar atas-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
QS An-Naḥl 16:110
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Kemudian sungguh Rabb-mu bagi orang-orang yang berhijrah setelah mereka mengalami tekanan, lalu mereka berjihad dan bersabar, sungguh Rabb-mu setelah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang.
QS Al-Ḥajj 22:78
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Berjihadlah dalam/untuk Allah dengan jihad yang semestinya bagi-Nya. Dia telah memilih kalian dan tidak menjadikan bagi kalian dalam dīn suatu kesempitan; millah bapak kalian Ibrāhīm. Dia menamai kalian muslim sebelumnya dan dalam ini, agar Rasul menjadi saksi atas kalian dan kalian menjadi saksi atas manusia. Maka tegakkan ṣalāt, tunaikan zakāt, dan berpeganglah kepada Allah. Dia Pelindung kalian; sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
QS An-Nūr 24:53
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ ۖ قُلْ لَا تُقْسِمُوا ۖ طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Mereka bersumpah kepada Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka bahwa jika engkau memerintahkan mereka, pasti mereka akan keluar. Katakanlah, 'Jangan bersumpah. Ketaatan yang patut.' Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan.
QS Al-Furqān 25:52
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
Maka janganlah engkau menaati orang-orang kafir; berjihadlah terhadap mereka dengannya dengan jihad yang besar.
QS Al-‘Ankabūt 29:6
وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Siapa yang berjihad, sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri. Sungguh Allah Mahakaya dari seluruh alam.
QS Al-‘Ankabūt 29:8
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Kami mewasiatkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Tetapi jika keduanya mengerahkan tekanan terhadapmu agar engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui, janganlah menaati keduanya. Kepada-Ku tempat kembali kalian, lalu Aku akan memberitakan apa yang dahulu kalian kerjakan.
QS Al-‘Ankabūt 29:69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Orang-orang yang berjihad dalam/untuk Kami, sungguh Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.
QS Luqmān 31:15
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Jika keduanya mengerahkan tekanan terhadapmu agar engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui, jangan menaati keduanya. Tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia secara patut dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian kepada-Ku tempat kembali kalian, lalu Aku akan memberitakan apa yang dahulu kalian kerjakan.
QS Fāṭir 35:42
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا
Mereka bersumpah kepada Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka bahwa jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, mereka pasti akan lebih mendapat petunjuk daripada salah satu umat. Tetapi ketika seorang pemberi peringatan datang kepada mereka, itu tidak menambah mereka selain menjauh.
QS Muḥammad 47:31
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
Sungguh Kami akan menguji kalian sampai Kami mengetahui para mujāhid di antara kalian dan orang-orang yang bersabar, dan Kami menguji keadaan kalian.
QS Al-Ḥujurāt 49:15
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu, dan berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
QS Al-Mumtaḥanah 60:1
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai awliyā’, kalian menyampaikan kasih kepada mereka padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepada kalian; mereka mengusir Rasul dan kalian karena kalian beriman kepada Allah, Rabb kalian. Jika kalian keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku, kalian secara rahasia menyampaikan kasih kepada mereka, padahal Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Siapa di antara kalian melakukannya, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus.
QS Aṣ-Ṣaff 61:11
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.
QS At-Taḥrīm 66:9
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Wahai Nabi, berjihadlah terhadap orang-orang kafir dan munafik dan bersikap tegaslah terhadap mereka. Tempat mereka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.