Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
#Bagian IV
Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
#Bagian IV
BAGIAN IV
Ketika Cermin Berbalik
BAB 21
“KAMI MUSLIM”—LALU APA?
Setelah begitu lama membaca bagaimana orang-orang terdahulu merespons para Nabi, ada godaan yang sangat manusiawi: kita merasa aman karena kita tahu berada di pihak mana. Kita mencintai Al-Qur'an, mengakui Muhammad sebagai Rasul, menyebut diri Muslim, dan karena itu kisah-kisah penolakan mudah terasa sebagai kisah tentang orang lain.
Bab ini meminta kita menahan rasa aman itu sebentar. Bukan untuk meragukan arti menjadi Muslim, melainkan justru karena pengakuan itu terlalu penting untuk dibiarkan berhenti sebagai nama. Ketika seseorang berkata, “Saya Muslim,” ia sedang menyatakan bahwa hidupnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Ada Allah yang diakui sebagai Rabb, ada Al-Qur'an yang disebut petunjuk, dan ada Rasul yang diakui membawa risalah.
Karena itu, pertanyaan “Kami Muslim—lalu apa?” bukan ejekan terhadap identitas Islam. Ia adalah pertanyaan tentang akibat dari identitas itu. Jika Allah, Al-Qur'an, dan Rasul benar-benar kita akui, apakah pengakuan itu masih mempunyai daya ketika mereka meminta sesuatu dalam diri kita berubah?
1. “Saya Muslim” bukan akhir pemeriksaan
Identitas dapat memberi arah, rasa memiliki, dan komitmen. Tetapi identitas tidak membuat seseorang otomatis benar dalam setiap pendapatnya. Seorang Muslim masih dapat salah membaca ayat, salah menilai keadaan, mengikuti kebiasaan yang keliru, membela pendapat yang ternyata rapuh, atau menolak koreksi karena koreksi itu terasa terlalu mahal.
Justru di situlah arti pengakuan diuji. Jika menjadi Muslim berarti menempatkan diri di bawah petunjuk Allah, maka kalimat “saya Muslim” semestinya tidak menjadi alasan untuk berhenti memeriksa diri. Ia seharusnya membuat satu pintu tetap terbuka: kemungkinan bahwa saya yang harus berubah.
Masalah muncul ketika identitas dipakai sebagai jaminan bagi kesimpulan sendiri. “Saya Muslim, maka pendapat saya pasti Islami.” “Kelompok kami membela agama, maka keputusan kami pasti benar.” Kalimat seperti itu terdengar menenangkan, tetapi ia dapat membuat identitas yang seharusnya membuka diri kepada petunjuk justru dipakai untuk menutup pemeriksaan.
2. Mengakui Nabi belum tentu berarti menaati apa yang dibawanya
Kisah Mūsā dan Banī Isrāʾīl memberi cermin yang sulit diabaikan. Nama Mūsā tidak hilang dari mereka. Mereka mengenalnya, menunggu kepulangannya, dan tetap berada dalam hubungan yang dibentuk oleh kenabian Mūsā. Namun Al-Qur'an memperlihatkan bahwa pengakuan itu tidak selalu berakhir pada ketaatan.
Salah satu ungkapan yang paling tajam muncul dalam QS Al-Baqarah 2:93: samiʿnā wa-ʿaṣaynā—kami mendengar, tetapi kami tidak menaati. Yang menarik bukan hanya penolakannya. Mereka telah mendengar. Pesan sudah sampai. Persoalannya berada pada apa yang terjadi sesudah mendengar.
QS Al-Baqarah 2:93
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا ۗ قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۗ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.” Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan mempertuhankan patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!”
Karena itu, kedekatan dengan bahasa kenabian tidak sama dengan kesediaan mengikuti koreksi kenabian. Kita dapat menyebut nama Nabi dengan hormat, membaca selawat, mempelajari sirah, bahkan membela kehormatannya—tetapi pertanyaan yang lebih dalam tetap ada: ketika ajarannya menyentuh kebiasaan, kepentingan, atau cara berpikir kita, apakah penghormatan itu berubah menjadi kesediaan untuk diperbaiki?
Pertanyaan ini tidak ditujukan untuk mengukur iman orang lain. Ia terlebih dahulu menghadap kepada diri sendiri. Sebab yang sedang diperiksa bukan seberapa fasih kita menyatakan cinta, melainkan apakah cinta itu mempunyai akibat ketika kebenaran meminta perubahan.
3. Pengakuan dapat terdengar benar, tetapi tindakan dapat berjalan ke arah lain
Al-Qur'an memberi cermin lain yang bahkan lebih dekat. QS An-Nūr 24:47 merekam ucapan orang yang mengatakan beriman kepada Allah dan Rasul serta menaati keduanya, lalu menyebut adanya sebagian dari mereka yang berpaling sesudah itu. Kalimat yang diucapkan terdengar tepat. Yang membuka jarak adalah apa yang terjadi kemudian.
QS An-Nūr 24:47
وَيَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالرَّسُوْلِ وَاَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَۗ وَمَآ اُولٰۤىِٕكَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ
Dan mereka (orang-orang munafik) berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman.
Ayat ini tidak memberi kita izin untuk mencari-cari siapa yang patut disebut munafik pada zaman sekarang. Itu bukan pekerjaan Bab 21. Yang dapat kita bawa ke depan cermin jauh lebih sempit: ucapan keagamaan yang benar belum dengan sendirinya membuktikan bahwa respons kita juga sudah benar.
Kita dapat mengatakan “Al-Qur'an adalah pedoman hidup” dengan tulus. Tetapi ucapan itu baru mempunyai bobot ketika Al-Qur'an menunjukkan sesuatu yang tidak kita sukai. Kita dapat berkata “Rasul adalah teladan” dengan sepenuh hati. Tetapi pengakuan itu baru diuji ketika teladan tersebut berhadapan dengan kebiasaan yang sudah terasa nyaman.
4. Mendengar dan menaati: dua kata yang tidak boleh dipisahkan terlalu jauh
QS An-Nūr 24:51 memberi gambaran yang berbeda. Ketika orang-orang beriman diajak kepada Allah dan Rasul agar perkara mereka diputuskan, jawaban yang direkam adalah samiʿnā wa-aṭaʿnā—kami mendengar dan kami taat.
QS An-Nūr 24:51
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Kontras dengan QS 2:93 sangat kuat. Keduanya berbicara tentang mendengar. Perbedaannya terletak sesudah pendengaran itu: apakah yang didengar mempunyai akibat atau tidak.
Ini tidak berarti setiap kali seseorang mendengar suatu ceramah, pendapat ulama, atau penafsiran lalu ia tidak mengikutinya, berarti ia sedang mengulangi samiʿnā wa-ʿaṣaynā. Ayat 24:51 berbicara tentang Allah dan Rasul. Otoritas itu tidak dapat dipindahkan begitu saja kepada manusia setelah Rasul.
Tetapi batas tersebut tidak menghapus pertanyaan pokoknya. Jika setelah pemeriksaan yang jujur kita memang menemukan bahwa sesuatu berasal dari Al-Qur'an dan tuntunan Rasul, apakah kita masih menyisakan hak bagi diri sendiri untuk berkata: saya tahu itu benar, tetapi saya tetap tidak mau berubah?
5. Membaca Al-Qur'an belum tentu berarti membiarkannya mengoreksi kita
Kita dapat sangat dekat dengan Al-Qur'an secara lahiriah. Membacanya setiap hari, menghafal ayat-ayatnya, mengikuti kajian, memperdebatkan tafsir, menyimpan banyak buku, atau menjadikannya bagian penting dari identitas keluarga. Semua itu bernilai. Tetapi kedekatan itu mempunyai ujian yang lain: apakah Al-Qur'an masih boleh mengatakan bahwa sesuatu yang selama ini saya yakini perlu diperiksa kembali?
Pertanyaan itu menjadi jauh lebih sulit ketika yang disentuh bukan perkara yang asing, melainkan sesuatu yang kita cintai. Pendapat seorang guru yang berjasa. Tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun. Cara pandang organisasi yang membentuk kita. Kesimpulan yang bertahun-tahun kita bela di depan banyak orang. Kadang biaya terberat dari sebuah koreksi bukan kehilangan argumen, tetapi kehilangan kenyamanan karena harus mengakui: saya pernah keliru.
Di titik seperti itulah Al-Qur'an dapat berubah fungsi di tangan pembacanya. Ia bisa menjadi cermin yang terus menilai kita, atau hanya menjadi kumpulan ayat yang kita gunakan untuk menguatkan apa yang sudah kita putuskan sebelumnya. Yang pertama menuntut keberanian untuk berubah. Yang kedua jauh lebih nyaman karena hampir semua bacaan akhirnya kembali membenarkan kita.
6. Tetapi jangan serahkan akal dan tanggung jawab kepada manusia
Ada batas yang tidak boleh hilang. Bab ini bukan ajakan untuk tunduk kepada siapa pun yang berkata, “Inilah kehendak Al-Qur'an,” lalu meminta orang lain berhenti berpikir. Tafsir manusia tetap tafsir manusia. Ulama dapat berbeda. Guru dapat keliru. Organisasi dapat salah membaca keadaan. Penulis buku ini pun tidak berada di luar kemungkinan salah.
Karena itu, kewajiban untuk tetap dapat dikoreksi berjalan bersama kewajiban untuk tetap memeriksa. Kita tidak perlu memilih antara taat kepada Allah dan berpikir kritis. Justru pemeriksaan yang jujur diperlukan agar kita tidak mengira suara manusia sebagai suara Allah.
QS Al-Aḥzāb 33:36 membantu menjaga batas sumber otoritasnya. Ayat itu berbicara tentang ketetapan Allah dan Rasul, bukan tentang ketetapan setiap orang yang berbicara atas nama agama.
QS Al-Aḥzāb 33:36
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ
Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
Maka kalimat “itu hanya tafsir manusia” memang dapat menjadi pengingat yang sehat. Tidak seorang pun berhak memaksa penafsirannya menempati kedudukan wahyu. Namun kalimat yang sama dapat menjadi pelarian jika digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada pembacaan apa pun yang pernah boleh mengusik posisi kita. Jika setiap kesimpulan yang tidak nyaman selalu ditolak hanya karena disampaikan manusia, pada akhirnya kita dapat membuat diri sendiri hampir mustahil dikoreksi melalui manusia mana pun.
Yang dibutuhkan bukan kepatuhan buta, melainkan kejujuran yang lebih berat: periksa sumbernya, periksa argumennya, periksa konteksnya—dan jika setelah pemeriksaan itu kita mengetahui bahwa kebenaran memang menuntut perubahan, jangan jadikan ego sebagai pengadilan terakhir.
7. Refleksi untuk kita — apakah identitas membuat saya lebih mudah dikoreksi?
Sekarang pertanyaannya menjadi sangat pribadi. Apa yang terjadi dalam diri kita ketika ayat yang kita baca tidak mendukung pendapat yang sudah terlanjur kita bela? Ketika seorang yang tidak kita sukai menunjukkan sesuatu dari Al-Qur'an yang ternyata perlu dipikirkan? Ketika kebiasaan kelompok kita tidak mudah dipertahankan setelah diperiksa kembali?
Apakah reaksi pertama kita adalah mencari tahu lebih jernih, atau mencari jalan agar posisi lama tetap aman? Apakah kita memberi standar bukti yang sama kepada pendapat yang kita sukai dan pendapat yang mengganggu kita? Apakah kita masih mampu mengatakan, “Saya perlu melihat ini lagi,” tanpa merasa identitas kita runtuh?
Menjadi Muslim tidak berarti kita telah selesai diperiksa oleh Al-Qur'an. Justru karena kita mengaku menjadikannya petunjuk, kita sedang menyatakan bahwa Al-Qur'an tetap mempunyai hak untuk mengoreksi cara kita berpikir, menilai, memilih, dan bertindak.
Identitas Islam karena itu bukan kekebalan dari kesalahan. Ia adalah amanah untuk menjaga satu kemampuan yang sangat penting: tetap dapat dikoreksi.
8. Setelah identitas, kini bahasa kita sendiri yang perlu didengar
Sampai di sini cermin sudah benar-benar berbalik. Kita tidak lagi hanya bertanya bagaimana kaum Nūḥ berbicara, bagaimana Firʿawn membingkai Mūsā, atau bagaimana suatu masyarakat memperlakukan orang yang mengoreksinya. Kita mulai mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut kita sendiri.
Sebab mungkin saja kita tidak menolak Nabi. Kita bahkan mencintai para Nabi. Tetapi dalam keadaan tertentu, ketika sebuah koreksi terasa mengganggu, apakah kita pernah memakai alasan yang secara fungsi mirip dengan alasan yang dahulu direkam Al-Qur'an? Apakah kita pernah menolak pesan karena orangnya? Berlindung di balik kebiasaan lama? Meminta bukti, lalu menaikkan syarat ketika bukti datang? Atau menganggap suara yang berbeda sebagai ancaman sebelum sempat mendengarnya?
Pertanyaan itu tidak boleh berubah menjadi tuduhan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ia hanya membuka pintu berikutnya. Karena setelah berkata “kami Muslim”, kita perlu berani mendengar bahasa yang kita pakai ketika sedang tidak ingin dikoreksi.
Itulah pintu masuk menuju Bab 22 — Ketika Kita Mengulang Bahasa Mereka.
BAB 22
KETIKA KITA MENGULANG BAHASA MEREKA
Judul buku ini akhirnya sampai pada bagian yang paling tidak nyaman: bagaimana jika bahasa yang selama ini kita kenali pada kisah para penolak Nabi, pada saat tertentu muncul kembali dalam cara kita sendiri menjawab sebuah koreksi? Pertanyaan ini mudah disalahgunakan. Karena itu sejak awal batasnya harus jelas. Kita tidak sedang mencari siapa yang layak disamakan dengan kaum Nūḥ, kaum Hūd, Firʿawn, atau kelompok mana pun yang disebut Al-Qur’an. Yang kita periksa jauh lebih sederhana: apakah cara kita merespons pernah bekerja dengan pola yang serupa?
Perbedaan itu penting. Seseorang dapat mengucapkan kalimat yang berbeda, hidup pada zaman yang berbeda, dan berada dalam lingkungan yang sama sekali berbeda, tetapi tetap melakukan hal yang secara fungsi mirip: membicarakan pembawa pesan agar isi pesannya tidak perlu disentuh, berlindung di balik kebiasaan lama agar pertanyaan tidak perlu dibuka, meminta bukti tetapi terus menggeser syarat penerimaan, atau memakai identitas sebagai alasan untuk merasa sudah berada di pihak yang benar.
Bab ini bukan daftar tuduhan. Ia justru latihan mendengar bahasa kita sendiri. Sebelum menunjuk orang lain, kita mencoba mengenali kalimat apa yang paling cepat keluar ketika sesuatu mengganggu keyakinan, kebiasaan, kepentingan, atau rasa aman kita.
1. Bahasa lama tidak harus kembali dengan kalimat yang sama
Kita tidak perlu mengucapkan persis seperti orang-orang pada masa lalu agar fungsi jawabannya dapat berulang. Kalimat “kami mendapati nenek moyang kami melakukannya” mungkin hari ini terdengar terlalu jauh dari kehidupan kita. Tetapi bentuknya dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat akrab: “dari dulu memang begini”, “guru-guru kami tidak pernah mengajarkan itu”, “organisasi kami sudah punya keputusan”, atau “kalau itu benar, mestinya orang-orang sebelum kita sudah mengetahuinya.”
Kalimat-kalimat semacam itu tidak otomatis salah. Tradisi dapat menyimpan pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan. Guru dapat menjadi sumber belajar. Keputusan lembaga dapat lahir dari pembahasan yang panjang. Masalahnya baru muncul ketika semua itu dipakai bukan sebagai bahan pertimbangan, melainkan sebagai alasan agar pertanyaan tidak boleh lagi diperiksa.
QS Al-Anbiyāʾ 21:53
قَالُوْا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا لَهَا عٰبِدِيْنَ
Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami mempertuhankannya.”
Kisah Ibrāhīm tidak memberi kita izin untuk memusuhi warisan. Al-Qur’an sendiri memperlihatkan tempat-tempat ketika kesinambungan dengan para pendahulu bernilai positif. Yang diuji adalah fungsinya. Apakah warisan membantu kita mendekati kebenaran, atau justru berubah menjadi pagar yang tidak boleh dilewati oleh bukti apa pun?
2. Ketika orangnya lebih cepat kita jawab daripada pesannya
Ada respons yang bergerak sangat cepat. Seseorang menyampaikan sesuatu, lalu sebelum isi ucapannya diperiksa, pikiran kita sudah sibuk mencari siapa orangnya. Dari kelompok mana? Siapa gurunya? Bagaimana reputasinya? Mengapa ia berbicara sekarang? Siapa yang berada di belakangnya?
Sebagian pertanyaan itu sah. Bahkan kadang perlu. Sumber informasi, kemampuan, rekam jejak, dan kepentingan seseorang dapat memengaruhi bobot sebuah pernyataan. Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak boleh hilang setelah semua itu dibahas: apakah yang ia katakan benar?
QS Hūd 11:27
فَقَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ مَا نَرٰىكَ اِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرٰىكَ اتَّبَعَكَ اِلَّا الَّذِيْنَ هُمْ اَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرٰى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍۢ بَلْ نَظُنُّكُمْ كٰذِبِيْنَ
Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.”
Ayat ini merekam bagaimana pembawa pesan dan para pengikutnya dapat menjadi pusat penilaian. Untuk cermin hari ini, kita tidak perlu meniru kata-katanya. Cukup perhatikan apakah pembicaraan tentang orangnya sudah membuat kita merasa tidak perlu lagi memeriksa isi yang dibawanya.
3. Ketika kita merasa sudah menjawab, padahal baru memberi nama
Ada pula cara yang lebih halus: sebuah gagasan diberi label, lalu label itu dianggap sebagai jawaban. “Itu liberal.” “Itu konservatif.” “Itu tradisional.” “Itu modernis.” “Itu agenda kelompok tertentu.” Kadang pengelompokan seperti itu berguna untuk memahami latar suatu pemikiran. Tetapi nama kategori tidak otomatis membuktikan benar atau salahnya isi.
Kita perlu membedakan antara mengenali asal-usul sebuah gagasan dan membatalkannya hanya karena asal-usul itu. Mengetahui bahwa suatu pendapat datang dari lingkungan tertentu dapat membantu pemeriksaan. Tetapi pemeriksaan baru selesai ketika alasan, bukti, dan kesimpulannya juga disentuh.
Di titik ini kita dapat menguji diri dengan pertanyaan sederhana: setelah saya berhasil memberi nama kepada suatu gagasan, apakah saya menjadi lebih memahami isinya, atau justru merasa sudah mempunyai alasan untuk berhenti mendengarkan?
4. Ketika bukti diminta, tetapi tidak pernah cukup
Meminta bukti bukan masalah. Bertanya juga bukan masalah. Keraguan bukan aib. Dalam banyak keadaan, justru itulah cara kita menjaga diri agar tidak mudah percaya. Karena itu Bab ini tidak sedang mengajarkan kepatuhan tanpa pemeriksaan.
Namun ada keadaan lain yang perlu kita waspadai: bukti diminta, lalu ketika bukti datang, syarat baru ditambahkan. Setelah syarat baru terpenuhi, muncul syarat berikutnya. Pada akhirnya, tidak ada bentuk bukti yang benar-benar diberi kesempatan untuk mengubah kesimpulan awal.
QS Ash-Shuʿarāʾ 26:136
قَالُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْنَآ اَوَعَظْتَ اَمْ لَمْ تَكُنْ مِّنَ الْوٰعِظِيْنَ
Mereka menjawab, “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat.”
Ayat ini bahkan lebih terus terang: nasihat atau tidak ada nasihat diperlakukan sama. Kita tentu tidak boleh menempelkan ayat ini kepada setiap orang yang berbeda pendapat dengan kita. Tetapi ia memberi satu cermin yang jernih: adakah sesuatu yang secara nyata masih mungkin mengubah posisi saya? Jika jawabannya tidak ada, mungkin persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidaksediaan memberi informasi kesempatan untuk bekerja.
5. Ketika identitas menjadi jawaban sebelum pemeriksaan selesai
Bab 21 sudah membawa kita pada satu pertanyaan penting: menjadi Muslim tidak membuat setiap pendapat kita otomatis benar. Bab 22 meneruskannya ke bahasa sehari-hari. Ada kalanya kita merasa aman karena posisi kita didukung nama agama, kelompok, mazhab, organisasi, atau tokoh yang kita percayai. Semua itu dapat memberi arah. Tetapi semuanya juga dapat berubah menjadi jalan pintas jika dipakai untuk menutup pemeriksaan.
Kita dapat berkata, “Ini tidak sesuai dengan Islam,” dan kalimat itu mungkin benar. Kita dapat berkata, “Ini bertentangan dengan Al-Qur’an,” dan itu pun mungkin benar. Tetapi karena kalimatnya besar, tanggung jawab pembuktiannya juga besar. Kita tetap perlu menunjukkan di mana pertentangannya, bagaimana konteksnya, dan apa dasar pembacaannya.
QS An-Nūr 24:47
وَيَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالرَّسُوْلِ وَاَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَۗ وَمَآ اُولٰۤىِٕكَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ
Dan mereka berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang mukmin.
Ayat ini tidak boleh dijadikan alat untuk menuduh orang modern sebagai munafik atau mengukur isi hati mereka. Yang dapat kita pelajari lebih sempit: ucapan yang terdengar benar secara agama tetap harus dilihat akibatnya dalam respons. Bahasa yang benar tidak selalu berarti sikap kita terhadap koreksi sudah benar.
6. Cermin bukan palu untuk memukul orang lain
Di sinilah Bab 22 membutuhkan disiplin yang paling berat. Setelah mengenali banyak pola, kita dapat tergoda menggunakannya sebagai kumpulan label baru. Orang yang keras disebut seperti Firʿawn. Orang yang menghormati tradisi disamakan dengan kaum Ibrāhīm. Orang yang meminta bukti dianggap mengulang kaum Ṣāliḥ. Orang yang berbeda tafsir segera dimasukkan ke dalam kelompok penolak.
Cara seperti itu justru mengulangi masalah yang sedang kita pelajari. Kita mengganti pemeriksaan dengan pelabelan. Kita merasa sudah memahami seseorang hanya karena menemukan satu kemiripan.
Kesamaan cara merespons tidak sama dengan kesamaan identitas. Satu perilaku yang mirip tidak memberi kita hak untuk memindahkan seluruh penilaian Al-Qur’an terhadap suatu kaum kepada orang lain hari ini. Yang boleh kita katakan jauh lebih terbatas: dalam keadaan tertentu, sebuah cara merespons dapat mempunyai kemiripan fungsi dengan pola yang direkam Al-Qur’an. Cermin kehilangan kegunaannya ketika seluruh waktunya kita habiskan untuk mengarahkannya ke wajah orang lain.
7. Jika menunjuk kasus hari ini, kita juga membutuhkan bukti hari ini
Ada perbedaan antara memakai Al-Qur’an untuk bercermin dan memakai Al-Qur’an untuk membuat tuduhan faktual tentang seseorang atau sebuah kelompok. Untuk bercermin, kisah Qur’ani sudah cukup memberi pertanyaan. Tetapi untuk mengatakan bahwa orang tertentu melakukan pola tertentu, kita memerlukan bukti tentang orang itu sendiri: apa yang ia katakan, dalam konteks apa, kepada siapa, dan apa yang benar-benar ia lakukan.
Tanpa disiplin itu, kita dapat dengan mudah melakukan ketidakadilan atas nama pelajaran tentang keadilan. Potongan ucapan dapat dilepas dari konteksnya. Motif dapat ditebak. Kelompok dapat dianggap mempunyai satu suara. Satu kesalahan dapat diperlakukan sebagai sifat tetap seseorang karena itu cermin Qur’ani tidak menggantikan kerja memeriksa kenyataan. Ia memberi kita pertanyaan dan ukuran kehati-hatian; kenyataan tetap harus dibuktikan dengan kenyataan.
8. Refleksi untuk kita — kalimat apa yang paling cepat keluar ketika saya dikoreksi?
Sekarang kita dapat berhenti sejenak dari nama-nama kaum, tokoh, dan peristiwa. Yang perlu didengar justru suara kita sendiri. Ketika ada pendapat yang mengusik, kalimat apa yang paling cepat muncul di kepala? “Siapa dia?” “Dari kelompok mana?” “Dari dulu tidak pernah begitu.” “Semua orang juga melakukan ini.” “Bukti itu belum cukup.” “Tokoh kami sudah memutuskan.” “Ini pasti ada agendanya.”
Masing-masing kalimat itu bisa saja mempunyai dasar yang benar. Karena itu tujuan refleksi ini bukan melarangnya. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi setelah kalimat itu keluar. Apakah ia membuka pemeriksaan yang lebih jernih, atau justru menutupnya?. Mungkin di situlah makna terdalam judul buku ini. Kita tidak perlu hidup pada zaman para Nabi untuk mengulangi bahasa penolakan. Bahasa itu dapat kembali dengan kosakata yang berbeda, pakaian yang berbeda, bahkan dengan niat yang menurut kita baik. Yang membuatnya penting bukan bunyi kalimatnya, melainkan apa yang dilakukan kalimat itu terhadap kesempatan kita untuk dikoreksi.
Dan masih ada bentuk yang lebih sulit dikenali. Bagaimana jika kalimat yang menutup koreksi justru terdengar sangat religius? Bagaimana jika nama Allah, Al-Qur’an, Nabi, agama, dan kesalehan berada di permukaannya—tetapi di bawahnya jalan untuk memeriksa dan berubah justru semakin sempit?
Itulah pintu masuk menuju Bab 23 — Ketika yang Islami di Permukaan Justru Menutup Fungsi Koreksi.
BAB 23
KETIKA YANG ISLAMI DI PERMUKAAN JUSTRU MENUTUP FUNGSI KOREKSI
Ada bentuk penolakan yang mudah dikenali karena sejak awal ia berbicara dengan bahasa perlawanan. Tetapi ada bentuk lain yang jauh lebih sulit dilihat: kalimatnya terdengar religius, istilahnya akrab, nama Allah disebut, Nabi dihormati, ayat dikutip, bahkan niat yang dinyatakan tampak mulia. Justru karena tampilannya begitu dekat dengan bahasa iman, kita lebih mudah merasa bahwa tidak ada lagi yang perlu diperiksa.
Bab ini tidak sedang mengajari kita untuk mencurigai setiap ucapan yang memakai bahasa agama. Nama Allah bukan masalah. Ayat bukan masalah. Sunnah bukan masalah. Istilah keagamaan pun bukan masalah. Yang perlu dilihat adalah apa yang terjadi setelah semuanya disebut: apakah bahasa itu masih membawa kita kepada pemeriksaan yang lebih jujur, atau justru membuat posisi kita terasa kebal dari koreksi?
Kalimat yang terdengar benar belum tentu membuat cara kita merespons menjadi benar.
1. Benarnya kalimat tidak otomatis membenarkan sikap kita
Al-Qur’an memberi satu contoh yang sangat tajam dalam QS Al-Munāfiqūn 63:1. Orang-orang munafik datang kepada Nabi dan mengucapkan sebuah pernyataan yang, pada bunyinya, benar: mereka bersaksi bahwa Muḥammad adalah Rasul Allah. Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa Allah mengetahui Muḥammad benar-benar Rasul-Nya. Namun ayat yang sama tetap menilai para pengucapnya sebagai pendusta.
QS Al-Munāfiqūn 63:1
اِذَا جَاۤءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَالُوْا نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِ ۘوَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗ ۗوَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَكٰذِبُوْنَۚ
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.
Ayat ini tidak memberi kita izin untuk menyebut orang modern sebagai munafik hanya karena kita melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakannya. Itu adalah batas yang harus dijaga. Yang dapat kita pelajari lebih sempit: sebuah pernyataan yang benar secara lisan belum dengan sendirinya membuktikan bahwa sikap orang yang mengucapkannya juga sudah benar.
Kita dapat berkata, “Al-Qur’an adalah pedoman hidup,” lalu tetap menolak ketika suatu ayat menuntut perubahan yang tidak kita sukai. Kita dapat berkata, “Saya mengikuti Rasul,” tetapi kemudian lebih memilih kebiasaan, kepentingan, atau kenyamanan ketika semuanya bertabrakan. Pada titik itu, masalahnya bukan pada kalimat yang kita ucapkan. Masalahnya adalah jarak antara kalimat dan akibat yang seharusnya lahir darinya.
2. Ketika nama Allah dipakai untuk menghentikan pertanyaan
Ada kalimat yang terdengar sangat religius karena langsung menghubungkan sebuah keadaan dengan kehendak Allah. Dalam keadaan tertentu, kalimat seperti itu memang dapat lahir dari iman yang dalam. Tetapi Al-Qur’an juga merekam ketika bahasa tentang kehendak Allah dipakai untuk membenarkan apa yang sudah dilakukan, sementara dasar pengetahuannya tidak ada.
QS Al-Anʿām 6:148
سَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا لَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَآ اَشْرَكْنَا وَلَآ اٰبَاۤؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتّٰى ذَاقُوْا بَأْسَنَاۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوْهُ لَنَاۗ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَخْرُصُوْنَ
Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah, “Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.”
Yang menarik bukan hanya kalimat “jika Allah menghendaki”. Jawaban Al-Qur’an membawa pembicaraan kepada satu pertanyaan yang sangat sederhana: apakah kalian mempunyai pengetahuan yang dapat ditunjukkan? Bahasa tentang Allah tidak diberi kekebalan dari pemeriksaan. Justru karena membawa nama Allah, tuntutan terhadap dasarnya menjadi lebih berat.
Karena itu pembicaraan tentang qadar atau kehendak Allah tidak boleh dianggap sebagai penolakan dengan sendirinya. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kalimat tentang kehendak Allah dipakai untuk mengakhiri tanggung jawab sebelum dasar pengetahuannya diperiksa. “Memang sudah kehendak Allah” dapat menjadi ungkapan tawakal; tetapi ia juga dapat dipakai sebagai jalan pintas agar kita tidak perlu lagi bertanya apa yang salah, apa yang dapat diperbaiki, dan bagian mana yang sebenarnya menjadi tanggung jawab kita.
3. Ketika identitas berubah dari amanah menjadi perisai
Bab 21 sudah membawa kita kepada pertanyaan tentang identitas: “Kami Muslim”—lalu apa? Di Bab 23 pertanyaan itu menjadi lebih tajam. Identitas yang seharusnya membuat kita memiliki rujukan untuk dikoreksi justru dapat berubah fungsi bila kita memakainya sebagai bukti bahwa posisi kita pasti benar.
Kalimat “saya Muslim” adalah pengakuan yang besar. “Kami menjaga sunnah” dapat menjadi komitmen yang mulia. “Kami mengikuti ulama” dapat menunjukkan kerendahan hati terhadap ilmu. “Organisasi kami memiliki keputusan” dapat berarti ada proses yang dijalankan. Tidak satu pun dari kalimat itu salah dengan sendirinya. Masalah baru muncul ketika kalimat tersebut berubah menjadi pintu penutup: karena saya Muslim, karena kami menjaga sunnah, karena guru kami berkata demikian, karena organisasi sudah memutuskan, maka tidak ada lagi kemungkinan bahwa posisi kami perlu diperiksa.
Pada saat itulah identitas berhenti menjadi amanah untuk tunduk kepada kebenaran dan mulai bekerja sebagai perlindungan dari kebenaran. Bukan identitas Islam yang salah. Justru masalahnya adalah identitas itu tidak lagi menjalankan tanggung jawab yang dikandungnya.
Identitas tidak seharusnya membuat kita kebal dari koreksi; identitas justru menentukan kepada siapa kita bersedia dikoreksi.
4. Menghormati Nabi belum tentu sama dengan membiarkan ajarannya mengubah kita
Kisah Mūsā dan Banī Isrāʾīl telah menunjukkan sesuatu yang tidak nyaman: nama Nabi dapat tetap dihormati sementara arah ketaatan bergerak ke tempat lain. Mereka masih mengenal Mūsā, masih menunggu kepulangannya, tetapi koreksi Hārūn tidak otomatis membuat mereka melepaskan apa yang sudah mereka pilih.
Cermin ini tidak meminta kita meragukan setiap bentuk cinta kepada Nabi. Justru karena cinta itu penting, kita perlu menanyakan akibatnya. Apakah penghormatan kepada Rasul hanya hidup dalam pujian, atau juga mempunyai kekuatan ketika ajaran beliau mengoreksi kebiasaan kita, cara kita memperlakukan orang, penggunaan harta, keputusan keluarga, atau keyakinan yang selama ini terasa aman?
Di sinilah penghormatan diuji bukan oleh seberapa sering nama Nabi disebut, melainkan oleh apakah apa yang dibawanya masih boleh mempunyai akibat terhadap keputusan kita.
5. Bahasa agama seharusnya membuka jalan, bukan menutupnya
Kita perlu menjaga keseimbangan. Bab ini tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang harus terus ragu, setiap keputusan harus dibuka kembali tanpa akhir, atau setiap orang yang datang membawa tafsir baru harus diikuti. Pemeriksaan tetap diperlukan. Penafsiran manusia tetap dapat salah. Ulama, guru, pemimpin, organisasi, dan penulis tetap berada dalam wilayah yang dapat diuji.
Namun ada perbedaan antara mempunyai keyakinan yang kokoh dan menutup setiap kemungkinan koreksi. Keyakinan yang kokoh masih dapat menjelaskan dasarnya. Ia tidak takut kepada pertanyaan yang jujur. Ia dapat membedakan antara kritik terhadap dirinya dan serangan terhadap agama. Ia tidak perlu menjadikan setiap perbedaan sebagai ancaman terhadap iman.
QS An-Nūr 24:51 memberi gambaran positif yang penting. Ketika orang-orang beriman diajak kepada Allah dan Rasul agar perkara diputuskan, respons yang direkam adalah: “kami mendengar dan kami taat.”
QS An-Nūr 24:51
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Ayat ini juga tidak boleh dipindahkan begitu saja menjadi tuntutan taat mutlak kepada tokoh, guru, ulama, organisasi, atau pemimpin setelah Rasul. Kedudukan Rasul tidak dapat diwariskan secara utuh kepada manusia lain. Justru karena itu, ketaatan kepada manusia tetap harus berada di bawah kebenaran yang menjadi rujukannya.
6. Refleksi untuk kita — ketika membawa nama agama, apakah saya masih mungkin salah?
Mungkin pertanyaan terpenting Bab 23 bukan tentang orang lain. Ia lebih dekat dari itu. Ketika saya mengutip ayat, apakah saya masih mau memeriksa apakah ayat itu saya baca dalam konteks yang tepat? Ketika saya membawa pendapat seorang guru, apakah saya masih membedakan penghormatan kepada guru dari anggapan bahwa guru tidak mungkin keliru? Ketika saya berbicara atas nama sunnah, apakah saya masih bersedia mendengar bukti yang mungkin memaksa saya memperbaiki pemahaman saya sendiri?
Tidak mudah menjawabnya, karena semakin religius bahasa yang kita gunakan, semakin mudah pula kita merasa bahwa yang sedang dipertahankan adalah agama itu sendiri. Padahal mungkin yang sedang kita pertahankan hanyalah cara kita memahami agama. Perbedaan keduanya tipis dalam bunyi, tetapi sangat besar dalam akibat.
Karena itu, satu pertanyaan dapat menjadi pengaman: jika bukti yang lebih kuat datang dari sumber yang saya sendiri akui, apakah masih ada jalan bagi saya untuk berubah? Jika jawabannya selalu tidak, mungkin yang sedang dijaga bukan lagi kesetiaan kepada kebenaran, melainkan ketidakmauan untuk dikoreksi.
7. Jangan buru-buru mengubah cermin menjadi vonis
Di titik ini kita harus sangat disiplin. Menemukan respons yang menutup koreksi tidak memberi kita hak untuk menetapkan identitas seseorang. Kita tidak boleh melompat dari “cara meresponsnya tampak menutup pemeriksaan” menjadi “orang ini kafir” atau “orang ini munafik”. Al-Qur’an memberi bahasa untuk membaca respons, tetapi vonis identitas membutuhkan dasar yang tidak dapat digantikan oleh kemiripan pola.
Bahkan istilah “penutupan” yang kita gunakan dalam buku ini hanyalah cara untuk menggambarkan fungsi: ada jalan koreksi yang tidak lagi bekerja. Ia bukan definisi tunggal bagi kufr, dan ia bukan alat untuk menempelkan label kepada orang. Dengan menjaga batas ini, cermin tetap menjadi cermin. Ia membantu kita melihat apa yang sedang terjadi tanpa mengubah manusia menjadi kategori yang terlalu cepat kita tutup.
8. Dari bahasa agama menuju cermin terakhir
Sampai di sini, pertanyaan buku semakin dekat kepada diri kita. Kita sudah melihat bahwa identitas dapat diakui tanpa otomatis mengatur respons. Kita sudah melihat bahwa bahasa para penolak dapat muncul kembali dalam bentuk yang berbeda. Dan sekarang kita melihat sesuatu yang lebih halus: bahasa agama sendiri dapat dipakai dengan dua arah yang berlawanan—membuka kita kepada kebenaran, atau membuat kita merasa tidak perlu lagi diperiksa.
Semakin banyak pola yang kita kenali, semakin besar pula godaan untuk memakainya kepada orang lain. Kita mulai melihat siapa yang terlalu bergantung kepada tradisi, siapa yang menyerang pembawa pesan, siapa yang menutup bukti, siapa yang berlindung di balik istilah agama. Pada titik itulah kita membutuhkan satu disiplin terakhir sebelum berbicara tentang jalan kembali.
Cermin harus lebih dahulu menghadap kepada kita sebelum berubah menjadi telunjuk kepada orang lain.
Itulah pintu masuk menuju Bab 24 — Mirror Before Finger: Cermin Sebelum Telunjuk.
BAB 24
MIRROR BEFORE FINGER — CERMIN SEBELUM TELUNJUK
Setelah begitu banyak kisah, pola, dan cermin dibentangkan, ada satu godaan yang justru mudah muncul di bagian akhir: kita merasa semakin pandai membaca orang lain. Setiap pembahasan tiba-tiba mempunyai wajah. Setiap pola mengingatkan kita kepada nama tertentu. Kita membaca tentang tradisi yang menolak koreksi, lalu teringat kelompok lain. Kita membaca tentang pembawa pesan yang diserang, lalu teringat seseorang. Kita membaca tentang kekuasaan yang menutup ruang berbeda, lalu pikiran segera mencari siapa yang paling cocok untuk ditempeli gambaran itu.
Mungkin semua hubungan itu menarik untuk dipikirkan. Tetapi buku ini akan kehilangan arahnya jika seluruh perjalanan panjang tersebut berakhir hanya dengan satu kemampuan baru: menemukan kesalahan orang lain dengan kosakata yang lebih lengkap.
Sebelum cermin menjadi telunjuk, biarkan ia lebih dahulu menghadap kepada kita.
1. Setelah mengetahui banyak pola, apakah kita justru semakin mudah menunjuk?
Ada kenyamanan tertentu ketika kesalahan selalu berada di luar diri. Kita dapat berbicara tentang keras kepala, fanatisme, kepentingan, tekanan kelompok, atau penyalahgunaan bahasa agama tanpa pernah merasa sedang dibicarakan. Semua istilah itu aman selama alamatnya selalu orang lain.
Karena itu “cermin sebelum telunjuk” bukan sekadar slogan penutup. Ia adalah cara menjaga agar pembacaan kita tidak berubah menjadi kebiasaan baru yang sebenarnya sedang dikritik oleh buku ini: cepat menetapkan orang, cepat membaca motif, cepat memasukkan seseorang ke dalam kategori, lalu merasa perkara sudah selesai. Cermin meminta urutan yang berbeda. Sebelum berkata, “mereka melakukan itu”, ada baiknya kita memberi ruang bagi pertanyaan yang lebih tidak nyaman: adakah bentuknya, sekecil apa pun, dalam cara saya sendiri merespons koreksi?
2. Bercermin bukan berarti berhenti mengkritik
Prinsip ini tidak meminta kita diam ketika melihat kesalahan. Al-Qur’an sendiri berisi koreksi. Para Nabi menegur. Di dalam sejumlah kisah bahkan muncul suara dari tengah masyarakat yang berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa. Sebuah komunitas yang sehat bukan komunitas tanpa kritik.
Karena itu, “cermin sebelum telunjuk” tidak sama dengan nasihat, “urus diri sendiri saja.” Kita juga tidak harus menunggu menjadi manusia sempurna sebelum mengatakan bahwa sesuatu keliru. Kalau syarat untuk mengoreksi adalah tidak pernah salah, tidak akan ada manusia yang boleh saling mengingatkan.
Yang diminta justru lebih sederhana dan lebih berat: jangan memakai ukuran yang hanya berlaku keluar. Ketika kita meminta orang lain terbuka terhadap bukti, kita juga harus bersedia dibuka oleh bukti. Ketika kita menuntut orang lain tidak berlindung di balik nama besar, kita juga harus berani memeriksa nama besar yang kita hormati. Ketika kita meminta orang lain tidak buru-buru menuduh motif, kita pun harus menahan diri dari membaca isi hati mereka tanpa dasar.
Kritik tetap diperlukan. Yang tidak boleh hilang adalah kesediaan menerima ukuran yang sama ketika ukuran itu berbalik menghadap kepada kita.
3. Apakah ukuran kita tetap sama ketika arahnya berubah?
Di sinilah cermin menjadi sangat konkret. Jika kita mengecam orang lain karena berkata, “dari dulu memang begitu,” apakah ada sesuatu dalam warisan kita sendiri yang tidak boleh disentuh oleh pertanyaan? Jika kita marah ketika sebuah pendapat dibuang hanya karena pembawanya tidak disukai, apakah kita sendiri pernah berhenti mendengar begitu tahu siapa yang berbicara?
Jika kita menganggap orang lain terus menaikkan syarat bukti agar tidak perlu menerima kesimpulan, apakah kita juga pernah meminta “satu bukti lagi” setiap kali bukti sebelumnya mulai mendekati sesuatu yang tidak kita inginkan? Dan jika kita mengkritik sebuah kelompok karena sulit menerima anggotanya berubah pikiran, apakah kita sendiri memberi ruang kepada orang di sekitar kita untuk berkata, “Dulu saya berpikir begitu, sekarang saya tidak lagi”?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan permainan mencari kesalahan diri. Tujuannya bukan membuat semua orang merasa bersalah. Tujuannya memastikan bahwa kebenaran tidak berubah menjadi aturan yang kita pakai hanya ketika menguntungkan posisi kita.
4. Orang yang mengoreksi pun tetap berada di dalam cermin
Ada bahaya lain yang lebih halus. Setelah seseorang merasa dirinya berada di pihak yang “mengoreksi”, ia dapat mulai menganggap bahwa dirinya otomatis berada di luar pemeriksaan. Seolah-olah karena ia menunjukkan masalah, maka cara membaca, data, kesimpulan, dan niatnya sendiri tidak perlu lagi diuji.
Padahal pembawa koreksi tetap manusia. Ia dapat salah membaca keadaan. Ia dapat kehilangan konteks. Ia dapat terlalu cepat menyimpulkan. Ia dapat benar dalam satu perkara dan keliru dalam perkara lain. Mengatakan hal ini bukan cara untuk membungkam kritik; justru inilah yang membedakan koreksi yang sehat dari keinginan memperoleh kekebalan baru.
Shuʿayb memberi nada yang menarik. Ketika ia berbicara tentang perbaikan, ia tidak menempatkan dirinya seolah-olah berada di luar aturan yang disampaikannya. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak bermaksud menyelisihi kaumnya dengan melakukan sendiri apa yang ia larang kepada mereka.
QS Hūd 11:88
قَالَ يٰقَوْمِ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كُنْتُ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَرَزَقَنِيْ مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ اُخَالِفَكُمْ اِلٰى مَآ اَنْهٰىكُمْ عَنْهُ ۗاِنْ اُرِيْدُ اِلَّا الْاِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُۗ وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ
Dia (Syuaib) berkata, “Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.”
Ayat ini tidak berarti setiap orang yang menyebut perbaikan otomatis benar. Justru yang menarik bagi cermin kita adalah posisi dirinya di dalam tuntutan yang ia sampaikan. Koreksi tidak dibuat sebagai hukum untuk “kalian” sementara “saya” berdiri di luar jangkauannya.
5. Jangan merasa lebih tahu tentang motif orang lain daripada tentang motif kita sendiri
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering meminta agar niat kita dibaca dengan adil. Ketika disalahpahami, kita berkata, “Bukan itu maksud saya.” Kita berharap orang lain membedakan antara tindakan yang tampak dan alasan yang sebenarnya ada di dalam diri kita.
Anehnya, kemurahan hati yang sama tidak selalu kita berikan kepada orang lain. Kita dapat sangat cepat berkata, “Dia pasti takut kehilangan jabatan,” “dia cuma mengejar uang,” “dia iri,” atau “dia memang punya agenda.” Mungkin salah satu dugaan itu benar. Tetapi sebelum ada dasar yang cukup, ia tetap dugaan.
Kisah Ilyās sudah memberi pelajaran penting: Al-Qur’an dapat merekam penolakan tanpa menjelaskan motifnya. Jika sumber berhenti, pembaca yang disiplin harus mampu berhenti juga. Bab 24 membawa disiplin itu lebih dekat: kalau kita ingin orang lain tidak mengarang niat kita, jangan jadikan dugaan tentang niat mereka sebagai fakta hanya karena dugaan itu cocok dengan cerita yang sudah kita sukai.
6. Cermin tidak memberi kita hak me-labeli orang lain
Kemiripan satu perilaku dengan sebuah pola dalam Al-Qur’an tidak membuat seseorang berubah menjadi tokoh yang ada dalam kisah tersebut. Orang yang memakai kekuasaan dengan buruk tidak otomatis “Firʿawn”. Orang yang keliru merespons nasihat tidak otomatis menjadi “kāfir”. Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan tidak memberi kita hak menjatuhkan sebutan “munāfiq”.
Yang dapat diperiksa adalah tindakannya: apakah bukti sungguh ditutup, apakah pembawa pesan diserang tanpa menjawab isi, apakah tradisi dipakai sebagai alasan agar koreksi tidak masuk, apakah orang lain ditekan agar tidak berubah. Itu semua dapat dibicarakan sejauh ada bukti. Tetapi dari sana kita tidak boleh melompat kepada identitas, isi hati, kadar moral, atau akhir seseorang yang tidak diberikan kepada kita untuk diketahui.
Inilah salah satu alasan cermin harus datang lebih dahulu. Semakin cepat kita memberi nama kepada orang lain, semakin mudah kita berhenti memeriksa tindakan secara jernih.
7. Mengoreksi orang lain sambil tetap menyertakan diri sendiri
Kisah Aṣḥāb al-Qaryah memberi sebuah bentuk yang indah. Lelaki yang datang dari ujung kota tidak hanya berkata, “Mengapa kalian tidak mengabdi kepada Dia yang menciptakan kalian?” Ia memulai dengan dirinya: mengapa aku tidak mengabdi kepada Dia yang menciptakanku?
QS Yāsīn 36:22
وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengabdi kepada yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.
Ia tetap berbicara kepada kaumnya. Ia tidak kehilangan keberanian untuk mengoreksi. Tetapi dirinya tidak dikeluarkan dari wilayah kebenaran yang sedang ia sampaikan. Ada perbedaan besar antara “aturan ini berlaku untuk kalian” dan “kita semua berdiri di bawah kebenaran yang sama”.
Mungkin inilah salah satu cara paling sederhana menjaga kritik tetap sehat: ketika menunjuk masalah, jangan jadikan diri sendiri pengecualian dari prinsip yang sedang dibela.
8. Berikan jalan kembali yang juga kita inginkan untuk diri sendiri
Ada satu ujian terakhir dari kesetaraan standar: apa yang kita lakukan ketika orang yang pernah salah berubah?
Untuk diri sendiri, kita biasanya menginginkan kesempatan kedua. Kita berharap masa lalu tidak selamanya menjadi satu-satunya cara orang membaca kita. Kita ingin dapat berkata, “Saya keliru,” lalu bergerak. Tetapi ketika orang lain berubah, kadang kita justru terus menariknya kembali kepada kesalahan lama: “Bukankah dulu dia mengatakan begini?”
Tentu perubahan tidak menghapus tanggung jawab. Ada kesalahan yang tetap menuntut pemulihan, ganti rugi, atau konsekuensi. Tetapi pertanggungjawaban berbeda dari keyakinan bahwa seseorang tidak mungkin lagi berubah.
Karena itu cermin sebelum telunjuk juga berarti memberi kepada orang lain ruang pemulihan yang kita harapkan tersedia bagi diri kita. Kalau kita percaya bahwa manusia dapat belajar dari kesalahan, keyakinan itu tidak boleh berhenti ketika orang yang berubah adalah orang yang pernah kita kritik.
9. Refleksi untuk kita — cermin ini sebenarnya menghadap ke mana?
Ada pertanyaan sederhana yang mungkin cukup untuk menguji seluruh Bagian IV: ketika membaca bab-bab ini, siapa yang paling sering muncul dalam pikiran kita?
Jika hampir setiap halaman segera mengingatkan kita kepada nama orang lain, kelompok lain, organisasi lain, mazhab lain, pemimpin lain, atau komunitas lain, sementara diri kita sendiri hampir tidak pernah merasa terusik, mungkin persoalannya bukan karena cermin ini kurang tajam.
Mungkin kita memegangnya dengan arah yang salah.
Cermin Al-Qur’an kehilangan sebagian fungsinya ketika setiap ayat selalu menemukan alamat pada orang lain, tetapi hampir tidak pernah menemukan jalan pulang kepada diri kita sendiri.
Bercermin bukan berarti menuduh diri sendiri tanpa henti. Cermin hanya memastikan bahwa saya tetap termasuk di antara orang yang mungkin perlu belajar, mengakui kekeliruan, dan memperbaiki respons. Dan justru karena saya masih termasuk di dalamnya, perubahan tetap mungkin.
10. Dari cermin menuju jalan kembali
Sampai di sini, pertanyaan besar buku ini mulai berubah. Pada bagian-bagian sebelumnya kita bertanya bagaimana manusia dapat menolak, menutup, mengalihkan, atau mempertahankan diri dari koreksi. Sekarang pertanyaannya tidak lagi cukup berhenti pada, “Apakah pola itu ada pada saya?”
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: kalau ternyata ada, apakah saya masih dapat berubah?
Al-Qur’an tidak hanya menyimpan kisah tentang manusia yang menutup diri. Ia juga menyimpan orang-orang yang mengakui kekeliruan, memperbarui penilaian, mengubah respons, dan kembali. Yūnus bahkan mengucapkan kalimat yang sangat singkat tetapi menentukan arah: ia memasukkan dirinya sendiri ke dalam wilayah yang perlu dikoreksi.
QS Al-Anbiyāʾ 21:87
وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ
Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Kalimat “aku termasuk” adalah pintu yang tidak mungkin dibuka selama semua kesalahan selalu berada di luar diri. Tetapi setelah pintu itu terbuka, kisah manusia tidak harus berhenti pada kesalahan.
Tujuan cermin bukan membuat kita terpaku pada apa yang salah. Cermin menunjukkan sesuatu agar kita masih mempunyai kesempatan memperbaikinya.
Di situlah Bagian IV selesai. Kita telah membalik cermin kepada diri sendiri. Sekarang buku ini harus berjalan ke arah yang lain: bukan lagi hanya membaca bagaimana manusia menolak koreksi, tetapi melihat bagaimana manusia dapat kembali menerimanya.
Itulah jalan masuk menuju BAGIAN V — JALAN KEMBALI, dan BAB 25 — ORANG DAPAT BERUBAH.
BAGIAN V — Jalan Kembali
Bab 25 — Orang Dapat Berubah
Bab 26 — Jangan Kehilangan Kemampuan untuk Dikoreksi
EPILOG — Ketika Cermin Itu Berbalik Menghadap Kita