PENGANTAR
Kita sering mengenal QADR dan QAḌĀ’ sebagai sepasang istilah yang seolah sudah selesai dijelaskan: QADR adalah ketetapan sebelum sesuatu terjadi, sedangkan QAḌĀ’ adalah ketetapan itu setelah menjadi kenyataan bahkan sampai ada yang memahaminya sebagai taqdir baik dan taqdir buruk. Rumusan tersebut sederhana dan mudah diingat, tetapi justru kesederhanaannya dapat membuat kita berhenti bertanya terlalu cepat. Ketika penggunaan kedua akar kata itu dibaca lebih luas di dalam Al-Qur’an, gambarnya ternyata tidak sesederhana garis lurus “sebelum” dan “sesudah”. QADR berbicara tentang sesuatu yang memiliki ukuran, kadar, proporsi, kapasitas, batas, waktu, dan ruang kemungkinan; sedangkan QAḌĀ’ berbicara tentang sebuah urusan yang memperoleh keputusan, penyelesaian, penuntasan, atau ketegasan pada aspek yang sedang dibicarakan.
Dari sini, QADR mulai terlihat bukan sebagai naskah kehidupan yang membuat manusia sekadar menunggu apa yang akan terjadi. QADR justru membantu kita membaca keadaan yang sungguh sedang berlaku: apa yang tersedia, apa yang terbatas, kapasitas apa yang telah terbentuk, dan ruang apa yang masih mungkin dijalani. Manusia tidak hidup di ruang tanpa ukuran, tetapi ukuran juga bukan penjara. Di dalam configuration yang nyata itulah manusia belajar, memilih, berikhtiar, menghadapi batas, memperoleh pengalaman, dan dapat mengalami perubahan. Ketika perubahan itu benar-benar menjadi bagian dari realitas, keadaan yang akan dihadapi berikutnya pun dapat berbeda. Karena itu memahami QADR bukan alasan untuk berhenti melangkah; ia adalah cara untuk mengetahui dari mana kita sedang melangkah dan dengan apa kita dapat bergerak.
QAḌĀ’ membawa kita kepada pertanyaan yang berbeda. Yang ditanyakan bukan lagi “berapa ruang yang tersedia?”, melainkan “apakah urusan ini sudah memperoleh ketegasan pada aspek yang relevan?” Sebuah urusan dapat menjadi tegas melalui keputusan, melalui pengadilan, melalui aktivitas yang dituntaskan, melalui sesuatu yang benar-benar dilaksanakan, bahkan melalui penutupan yang bersifat terminal. Menariknya, QAḌĀ’ tidak selalu harus menunggu seluruh akibatnya terlihat. QS 12:41 menjadi salah satu contoh penting: matter dapat sudah memperoleh settlement sementara consequence eksternalnya masih akan menyusul. Karena itu QAḌĀ’ tidak identik dengan actuality; yang menjadi tegas adalah status urusannya, sedangkan apa yang kemudian terwujud dalam realitas merupakan lapisan yang harus dibaca tersendiri.
Dua tulisan berikut karena itu sebaiknya dibaca sebagai dua lensa yang saling melengkapi, bukan dua tahap waktu yang wajib berurutan. QADR membantu kita mengenali konfigurasi kehidupan yang sedang kita huni; QAḌĀ’ membantu kita mengenali kapan suatu urusan di dalam perjalanan itu telah mencapai resolution yang tegas. Di antara keduanya terdapat proses, pilihan, tindakan, pembelajaran, dan consequence yang benar-benar terjadi. Dengan cara baca ini, hidup tidak lagi tampak sebagai takdir beku yang hanya perlu diterima, tetapi juga tidak berubah menjadi kebebasan tanpa batas. Kita hidup di dalam ukuran yang nyata, bergerak di dalam kemungkinan yang tersedia, dan berhadapan dengan urusan-urusan yang pada waktunya memperoleh ketegasan. QADR dan QAḌĀ’ dengan demikian bukan bahasa untuk menghentikan pertanyaan tentang hidup; keduanya justru memberi kita cara yang lebih jernih untuk membacanya.