Karena itu, identitas yang terbentuk bukan proyek “menjadi berbeda” demi perbedaan. Uniqueness adalah consequence dari trajectory yang benar-benar dijalani: Qadar yang berbeda, Furqān yang berbeda, keputusan yang berbeda, bentuk Nubuwwah yang berbeda, dan Athar yang berbeda. Tujuannya tetap “lahu ‘ābidūn”—kepada-Nya mengabdi.
13. Dua Contoh: Thomas Alva Edison dan Tim Berners-Lee
13.1 Thomas Alva Edison — Dari problem pencahayaan menuju historical signature
Banyak orang pada abad ke-19 menghadapi kebutuhan pencahayaan yang lebih aman, stabil, ekonomis, dan dapat digunakan luas. Realitas ini bukan milik Edison secara eksklusif. Yang relevan bagi model Ṣibghah adalah bagaimana Edison dan timnya menangkap differentiation tertentu: problem bukan hanya membuat sesuatu berpijar, tetapi membuat lampu dan sistem kelistrikan yang praktis, tahan cukup lama, serta dapat didistribusikan.
Melalui eksperimen material, filamen, vacuum, resistance, generator, dan sistem distribusi, Edison mengembangkan lampu pijar praktis dan ekosistem pencahayaan listrik. Secara faktual, lampu demonstrasi 1879 menggunakan filamen karbon; tungsten berkembang kemudian. Contoh ini karena itu tidak dipakai untuk menyederhanakan sejarah menjadi “Edison penemu tunggal bohlam tungsten”, melainkan untuk menunjukkan mekanisme recognition.
REALITAS: kebutuhan pencahayaan listrik praktis
↓
QADAR: eksperimen + engineering + persistence + system thinking
↓
FURQĀN: problem sistem pencahayaan yang usable
↓
‘ILM → ḤIKMAH → ḤUKM → EKSPERIMEN
↓
QADA: capability engineering semakin matang
+
NUBUWWAH: real form berupa sistem pencahayaan listrik praktis
↓
ATHAR: perubahan cara manusia menerangi kehidupan
↓
HISTORICAL SIGNATURE: Edison — practical electric lighting / invention
Dengan semua itu, nama Edison menjadi recognized by function. Inilah yang dimaksud ketika Ṣibghah dikaitkan dengan manusia sejarah: bukan karena seluruh detail hidupnya diketahui, tetapi karena ada jalur Furqān–response–capability–real form–Athar yang sedemikian kuat sehingga namanya terikat pada kontribusi tertentu.
13.2 Tim Berners-Lee — Realitas informasi yang sama, Furqān yang berbeda
Di CERN akhir 1980-an, banyak peneliti mengalami problem informasi yang tersebar di komputer, organisasi, dan proyek berbeda. Realitasnya bersifat kolektif. Tim Berners-Lee menangkap Furqān tertentu: problem tersebut dapat direspons bukan sekadar dengan database lokal, tetapi dengan sistem informasi terhubung berbasis hypertext di atas jaringan.
Proposal 1989 tentang information management kemudian berkembang menjadi World Wide Web. Yang sebelumnya berupa possibility menjadi real form yang dapat digunakan orang lain; setelah itu Web sendiri masuk menjadi bagian dari realitas baru yang dibaca generasi berikutnya.
REALITAS: informasi tersebar dan sulit dihubungkan
↓
QADAR: computing + networking + information architecture
↓
FURQĀN: distributed linked information system
↓
QADA: capability desain sistem informasi
+
NUBUWWAH: World Wide Web sebagai real form
↓
ATHAR: perubahan cara manusia mengakses dan menghubungkan informasi
↓
HISTORICAL SIGNATURE: Tim Berners-Lee — World Wide Web
Kedua contoh memperlihatkan prinsip yang sama: realitas dapat disaksikan banyak orang, tetapi sejarah berubah ketika seseorang mampu menangkap Furqān yang tidak terbaca oleh kebanyakan orang, lalu mempunyai disiplin, knowledge, Ḥikmah, dan persistence untuk mewujudkannya.
14. Kritik terhadap Beberapa Reduksi yang Perlu Dihindari