Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
#Bagian III
Ketika Kita Mengulang Bahasa
Para Penolak Nabi
#Bagian III
BAGIAN III
Apa Sebenarnya yang Terjadi pada Respons?
BAB 17
KETIKA PESAN BERPINDAH MENJADI PERSOALAN TENTANG SIAPA PEMBAWANYA
Bab 17 mengubah jarak pandang. Pada bab-bab sebelumnya kita mengikuti setiap kisah dari dekat: siapa yang berbicara, apa yang disampaikan, bagaimana tanggapan muncul, dan di mana batas kesimpulannya. Sekarang kita mundur beberapa langkah. Ketika kisah-kisah itu diletakkan berdampingan, ada pola yang berulang dan sulit diabaikan: perhatian manusia tidak selalu bertahan pada isi pesan. Sering kali perhatian justru bergeser kepada orang yang membawanya.
Pada Nūḥ, yang dipersoalkan bukan hanya seruannya. Ia manusia seperti mereka; para pengikutnya dipandang rendah; motifnya dituduhkan; dirinya diberi cap. Hūd disebut berada dalam safāhah dan dianggap pendusta. Mūsā berhadapan dengan ukuran kedudukan dan penampilan kekuasaan. Pada masa Muḥammad, persoalan yang sama muncul dalam bentuk yang lebih beragam: mengapa Rasul makan, mengapa berjalan di pasar, mengapa wahyu tidak turun kepada orang yang lebih terpandang, siapa yang mengajarinya, bahkan apakah yang dibawanya hanya sesuatu yang dibuat-buat.
Kalimat-kalimat itu tidak sama, tetapi arah geraknya dapat serupa. Pesan datang, lalu pembicaraan perlahan berpindah kepada pembawanya.
1. Ketika pesan tidak lagi menjadi pusat pembicaraan
Tidak semua penolakan datang dalam bentuk sanggahan yang langsung menyentuh isi. Kadang jalannya lebih pendek: siapa orangnya, dari mana ia berasal, siapa pengikutnya, apa kepentingannya, bagaimana masa lalunya, atau apa yang mungkin ia inginkan.
Pertanyaan semacam itu tidak dengan sendirinya salah. Kita memang perlu mengetahui apakah seseorang memahami perkara yang ia bicarakan, apakah sumber informasinya dapat dipercaya, atau apakah ada kepentingan yang memengaruhi ucapannya. Masalah muncul ketika pemeriksaan terhadap orangnya berhenti menjadi alat bantu dan berubah menjadi pengganti pemeriksaan terhadap pesannya.
Begitu seseorang dianggap sudah selesai dijelaskan, kita mudah merasa isi yang ia bawa juga sudah selesai. Padahal belum tentu. Kita boleh mengetahui organisasi, guru, reputasi, kelemahan, bahkan kesalahan seorang pembawa kritik. Namun semua informasi itu belum otomatis menjawab pertanyaan yang paling mendasar: benarkah yang sedang ia katakan?
2. Banyak cara memindahkan perhatian kepada pembawa pesan
Jika seluruh kisah dibaca bersama, perpindahan perhatian itu ternyata mempunyai banyak wajah. Ada yang mempersoalkan karena pembawa pesan terlalu biasa. Ada yang menilai dari kedudukan sosial. Ada yang merendahkan dengan ejekan. Ada yang menuduhkan motif. Ada pula yang mencoba menjelaskan pesan dengan menyerang asal-usulnya. Masing-masing berbeda, tetapi semuanya dapat membuat isi pesan semakin jauh dari pusat pemeriksaan.
QS Al-Furqān 25:7
وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًا ۙ
Dan mereka berkata, “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia,
Yang dipersoalkan di sini bukan lebih dahulu apa yang disampaikan Rasul, melainkan mengapa seorang Rasul hidup seperti manusia lain: makan dan berjalan di pasar. Seakan-akan seorang utusan harus tampil sesuai gambaran tertentu sebelum pesannya layak didengar. Padahal fakta bahwa seorang pembawa pesan makan, berjalan, dan hidup di tengah masyarakat belum mengatakan apa pun tentang benar atau salahnya pesan yang ia bawa.
QS Az-Zukhruf 43:31
وَقَالُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ
Dan mereka (juga) berkata, “Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Mekah dan Taif)?”
Di sini ukuran kebesaran manusia ikut masuk ke dalam penilaian. Pesan terasa lebih layak jika datang dari orang yang dianggap besar, kaya, berpengaruh, atau terpandang. Kedudukan dan rekam jejak tentu dapat penting dalam banyak urusan. Tetapi kedudukan sosial tidak menentukan kebenaran. Orang yang terkenal tidak otomatis lebih benar, dan orang yang sederhana tidak otomatis kurang layak membawa sesuatu yang benar.
QS Al-Furqān 25:41
وَاِذَا رَاَوْكَ اِنْ يَّتَّخِذُوْنَكَ اِلَّا هُزُوًاۗ اَهٰذَا الَّذِيْ بَعَثَ اللّٰهُ رَسُوْلًا
Dan apabila mereka melihat engkau, mereka hanyalah menjadikan engkau sebagai ejekan (dengan mengatakan), “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?”
Ada pula cara yang lebih halus: mengejek pembawanya. Ejekan tidak membuktikan bahwa pesannya salah, tetapi dapat membuat orang berhenti mendengarkan sebelum sempat memeriksa isinya. Ketika seseorang sudah dibuat tampak bodoh, aneh, atau tidak layak dipercaya, orang lain bisa merasa tidak perlu lagi bertanya apakah yang ia sampaikan sebenarnya benar.
QS Al-Furqān 25:4
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اِفْكُ ِۨافْتَرٰىهُ وَاَعَانَهٗ عَلَيْهِ قَوْمٌ اٰخَرُوْنَۚ فَقَدْ جَاۤءُوْ ظُلْمًا وَّزُوْرًا ۚ
Dan orang-orang kafir berkata, “Ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia, dibantu oleh orang-orang lain.” Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar.
Ada juga upaya menjelaskan pesan dengan menuduh asalnya: dibuat-buat, dibantu orang lain, atau berasal dari sumber manusia tertentu. Memeriksa asal sebuah informasi tentu sah. Justru karena sumber penting, tuduhan tentang sumber pun harus mempunyai dasar. Menawarkan penjelasan alternatif belum sama dengan membuktikan bahwa penjelasan itu benar.
Hal yang sama berlaku pada tuduhan motif. Jika seseorang dituduh hanya mengejar kedudukan, ingin memecah masyarakat, atau mempunyai kepentingan tersembunyi, tuduhan itu tetap perlu dibuktikan. Dugaan tentang isi hati seseorang tidak boleh diam-diam diperlakukan sebagai fakta hanya karena terdengar masuk akal maka pola ini tidak dapat diringkas menjadi “jangan lihat orangnya”. Yang perlu diperhatikan justru saat penjelasan tentang orang itu membuat kita berhenti terlalu cepat—sebelum isi pesannya benar-benar mendapat giliran untuk diperiksa.
3. Ketika orang yang menunjuk masalah justru dijadikan masalah
Ada bentuk yang lebih tajam. Bukan hanya pembawa pesan yang diragukan; orang yang membawa koreksi justru dapat diperlakukan seolah-olah kehadirannya sendiri adalah masalah. Pada titik itu, persoalan yang semula sedang ditunjukkan perlahan bergeser dari percakapan.
QS Al-Aʿrāf 7:82
وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۚ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ
Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.”
Pada kisah Lūṭ, koreksi terhadap perilaku masyarakat justru dibalas dengan keinginan untuk menyingkirkan orang yang mengoreksi. Alih-alih memeriksa perilaku yang sedang dipertanyakan, masyarakat memilih membicarakan siapa yang dianggap tidak lagi cocok berada di tengah mereka.
QS An-Naml 27:47
قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِندَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ
“Mereka berkata, “Kami mendapat nasib yang malang disebabkan olehmu dan oleh orang-orang yang bersamamu.” Dia (Saleh) berkata, “Nasibmu ada pada Allah, tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji.””
Pada Ṣāliḥ, arah pembicaraan juga berbalik. Ketika keadaan yang tidak menyenangkan datang, Ṣāliḥ dan orang-orang yang bersamanya justru dianggap membawa kesialan. Peringatan yang seharusnya membuat mereka memeriksa kembali apa yang sedang terjadi malah berubah menjadi alasan untuk menyalahkan orang yang memberi peringatan.
QS Yāsīn 36:18
قَالُوٓا۟ إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا۟ لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”
QS Yāsīn 36:19
قَالُوا۟ طَـٰٓئِرُكُم مَّعَكُمْ ۚ أَئِن ذُكِّرْتُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌۭ مُّسْرِفُونَ
Mereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”
Kisah Aṣḥāb al-Qaryah memperlihatkan pola serupa dengan sangat jelas. Para utusan dianggap membawa nasib buruk. Mereka tidak menerima tuduhan itu begitu saja; perhatian dikembalikan kepada pihak yang sedang diperingatkan. Artinya, rasa tidak nyaman yang muncul setelah sebuah peringatan tidak otomatis membuktikan bahwa pembawa peringatanlah penyebab masalah.
QS Ṭāhā 20:57
قَالَ اَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ اَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يٰمُوْسٰى
Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa?”
Pada Mūsā, pergeserannya mengambil bentuk lain. Pesan yang berhubungan dengan pembebasan Banī Isrāʾīl dan penghentian penindasan dibingkai sebagai ancaman: seolah-olah Mūsā datang untuk mengusir mereka dari negeri mereka. Dengan cara seperti ini, sebuah koreksi dapat berhenti dibicarakan dari isinya lalu berubah menjadi percakapan tentang bahaya yang dianggap melekat pada pembawanya.
Namun kita tidak boleh tergesa-gesa menjadikan pola ini sebagai senjata. Orang yang mengoreksi tetap bisa salah. Kritik terhadap dirinya bisa saja sah. Seorang pembawa koreksi dapat tidak cermat, tidak memahami masalah, mempunyai kepentingan, atau membawa data yang keliru. Yang sedang kita perhatikan bukan apakah ia boleh dikritik, melainkan apakah kritik terhadap dirinya benar-benar menjawab persoalan yang ia tunjukkan.
4. Tetapi apakah pembawa pesan tidak boleh diperiksa?
Tentu bukan itu maksudnya.
Kita memang perlu tahu siapa yang berbicara. Ada keadaan ketika keahlian, rekam jejak, asal informasi, dan kepentingan seseorang sangat menentukan seberapa jauh ucapannya layak dipercaya. Tidak semua suara harus diberi bobot yang sama hanya karena terdengar meyakinkan. Masalahnya muncul ketika pemeriksaan terhadap orang itu dianggap sudah cukup untuk menyelesaikan perkara.
Seseorang boleh saja mempunyai reputasi buruk. Ia boleh pernah salah. Ia mungkin mempunyai kepentingan tertentu. Semua itu patut dipertimbangkan. Tetapi setelah semuanya diketahui, isi yang ia sampaikan tetap mempunyai pertanyaan sendiri: benarkah yang ia katakan? Adakah buktinya? Apakah datanya dapat diperiksa? Apakah kesimpulannya sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh bukti?
Begitu pula sebaliknya. Satu pernyataan yang ternyata benar tidak serta-merta membuat seluruh ucapan seseorang benar. Kita tidak harus memutihkan pembawanya untuk mengakui satu hal yang memang tepat, dan kita juga tidak perlu mempercayai semua yang ia katakan hanya karena pernah menemukan satu argumen yang kuat darinya.
Karena itu, memeriksa pembawa pesan dan memeriksa pesannya adalah dua pekerjaan yang saling berhubungan, tetapi tidak boleh saling menggantikan.
Batas ini penting. Jangan sampai Bab 17 dipakai sebagai tameng oleh setiap orang yang sedang dikritik: “Kalian hanya menyerang saya, bukan menjawab pesan saya.” Bisa jadi kritik terhadap dirinya memang relevan. Bisa jadi ia tidak kompeten. Bisa jadi ada kepentingan yang perlu diketahui. Bisa jadi datanya dimanipulasi. Semua itu sah diperiksa. Yang perlu kita waspadai adalah saat pembicaraan tentang orangnya membuat kita merasa tidak perlu lagi kembali kepada apa yang sebenarnya ia sampaikan.
5. Apa bentuk sepadannya hari ini?
Bentuknya mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita. Seseorang menunjukkan data, lalu yang pertama terdengar adalah, “Dia kan dari kelompok itu.” Seseorang mengkritik sebuah keputusan, lalu dijawab, “Coba lihat dulu siapa yang berada di belakangnya.” Seseorang menunjukkan ketidakkonsistenan, tetapi yang dibicarakan justru masa lalunya. Atau seseorang membuka persoalan yang tidak nyaman, lalu percakapan berubah menjadi dugaan tentang ambisi dan motif pribadinya.
Yang membuat situasi seperti ini tidak sederhana adalah: semua penjelasan tentang orang itu mungkin saja benar. Ia mungkin memang berasal dari kelompok tertentu. Mungkin ada sponsor. Mungkin ada kepentingan. Mungkin ia sendiri pernah tidak konsisten. Bahkan mungkin motif pribadinya tidak sepenuhnya bersih tetapi sesudah semua itu terbukti, persoalan awal belum tentu hilang. Data yang ia tunjukkan tetap perlu diperiksa. Ketidakkonsistenan yang ia tunjukkan tetap perlu dilihat apakah benar ada. Masalah yang ia buka tetap perlu ditanyakan apakah sungguh nyata.
Informasi tentang seseorang dapat membantu kita menilai ucapannya. Tetapi informasi tentang seseorang tidak selalu merupakan jawaban atas ucapannya. Hal seperti ini dapat terjadi di ruang agama, organisasi, akademik, bisnis, keluarga, maupun ruang publik. Afiliasi dapat penting. Reputasi dapat penting. Kepentingan juga dapat penting. Semua itu berguna sejauh membantu kita melihat persoalan dengan lebih jernih—bukan menjadi jalan pintas untuk menutup perkara sebelum isinya diperiksa.
6. Refleksi untuk kita — setelah orangnya dijelaskan, apakah pertanyaannya sudah selesai?
Di sinilah cermin Bab 17 mulai menghadap kepada kita.
Ketika datang sebuah pandangan yang tidak nyaman, apa yang lebih dahulu bergerak di dalam diri kita? Apakah kita ingin memahami apa yang dikatakannya, atau justru segera ingin tahu siapa orangnya? Siapa gurunya, dari kelompok mana, organisasi apa, mazhab apa, siapa yang mendukungnya, bagaimana masa lalunya, dan apa kemungkinan motifnya. Tidak ada yang salah dengan mencari tahu semua itu. Kadang justru perlu. Tetapi setelah kita mengetahuinya, apakah kita masih bersedia kembali kepada pertanyaan pertama?
Benarkah yang ia katakan?
Mungkin jawabannya tetap: tidak. Mungkin datanya lemah. Mungkin konteksnya dipotong. Mungkin kesimpulannya melampaui bukti. Mungkin orangnya memang tidak dapat dipercaya. Tidak ada kewajiban menerima setiap kritik. Namun ada perbedaan besar antara menolak setelah memeriksa dan tidak pernah memeriksa karena orangnya sudah lebih dahulu kita tolak.
Cermin ini menjadi lebih tajam ketika arahnya dibalik. Bagaimana jika yang berbicara adalah orang yang kita sukai? Apakah standar bukti kita tetap sama? Apakah kita masih memeriksa sumber, meminta penjelasan, dan menguji kesimpulan dengan ketelitian yang sama seperti ketika ucapan datang dari orang yang tidak kita percaya?
Jika kita sangat keras kepada orang yang tidak kita sukai tetapi jauh lebih longgar kepada orang yang berada di pihak kita, mungkin yang sedang kita pertahankan bukan lagi ukuran kebenaran, melainkan kenyamanan kita sendiri.
7. Periksa pembawanya — tetapi jangan kehilangan pesannya
Bab 17 tidak meminta kita menjadi polos terhadap manusia. Ia meminta sesuatu yang justru lebih sulit: mampu melihat orangnya tanpa kehilangan apa yang dibawanya. Pembawa pesan boleh diperiksa. Kredibilitasnya boleh dipertanyakan. Motifnya boleh diuji sepanjang ada dasar. Asal informasinya boleh ditelusuri. Tetapi sesudah semua itu, kita masih harus kembali kepada pesan tersebut.
Apa sebenarnya yang ia tunjukkan? Apa buktinya? Dan apakah yang ia katakan memang benar?
Kadang setelah diperiksa, jawabannya adalah tidak. Itu tidak masalah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita tidak pernah sampai ke sana karena pembawanya sudah lebih dahulu kita jadikan jawaban. Sampai di sini, lapisan pertama dari analisis lintas-kasus mulai terlihat: sebuah koreksi dapat kehilangan ruangnya ketika perhatian berpindah dari pesan kepada pembawanya. Tetapi ada kemungkinan lain yang lebih dalam.
Bagaimana jika pembawanya tidak lagi menjadi persoalan? Bagaimana jika pesannya sudah didengar, bahkan bukti sudah hadir? Apakah bukti itu masih mempunyai ruang untuk mengubah pemahaman kita? Atau cara kita menerima bukti sudah membuat perubahan hampir mustahil terjadi?
Di situlah lapisan berikutnya terbuka. Bab 17 melihat apa yang terjadi ketika perhatian berpindah kepada pembawa pesan. Bab 18 akan melihat apa yang terjadi pada bukti setelah ia sampai kepada kita. Keduanya bukan tahapan yang harus selalu terjadi berurutan, melainkan dua cara membaca kumpulan kasus yang sama.
Itulah jalan masuk menuju Bab 18 — Ketika Evidence Tidak Lagi Diberi Kesempatan untuk Mengoreksi.
BAB 18
KETIKA EVIDENCE TIDAK LAGI DIBERI KESEMPATAN UNTUK MENGOREKSI
Bab 17 berakhir pada sebuah pertanyaan yang sederhana: setelah orang yang membawa pesan selesai kita nilai, apakah kita masih bersedia kembali kepada pesannya? Bab 18 bergerak satu langkah lebih dalam. Kali ini orangnya bukan lagi pusat persoalan. Pesan sudah terdengar. Bukti bahkan sudah hadir. Yang hendak kita lihat adalah apa yang terjadi sesudah itu.
Kita sering membayangkan bahwa masalah penolakan terutama muncul karena manusia kekurangan bukti. Seolah-olah, jika bukti cukup terang, urusannya selesai. Corpus yang sudah kita baca tidak sesederhana itu. Ada keadaan ketika bukti memang tidak tersedia atau belum cukup. Tetapi ada pula keadaan ketika bukti sudah berada di depan mata, sementara cara kita menerima, memberi nama, menimbang, atau membatasi bukti itu membuatnya tidak lagi mempunyai daya untuk mengoreksi.
Di sinilah perlu dibedakan dua hal yang tampak mirip tetapi sebenarnya berbeda: bukti tersedia, dan bukti masih diberi hak untuk bekerja. Kehadiran bukti adalah satu perkara. Kesediaan kita membiarkan bukti mengubah kesimpulan adalah perkara lain.
Bukti dapat hadir tanpa pernah benar-benar mendapat kesempatan untuk mengubah kita.
1. Ketika bukti hadir, tetapi tidak lagi bekerja sebagai koreksi
Jika banyak kasus pada Bab 3–16 ditumpuk, terlihat bahwa manusia tidak selalu harus menghilangkan bukti untuk mempertahankan sebuah posisi. Kadang cukup dengan mengubah cara bukti itu dipahami. Kadang syarat penerimaan dibuat begitu khusus sehingga bukti yang ada selalu dianggap belum tepat. Kadang pintu penerimaan ditutup sebelum pembicaraan dimulai. Kadang keyakinan diucapkan dengan kepastian yang jauh lebih besar daripada pengetahuan yang menopangnya.
Semua itu berbeda bentuk. Kita tidak boleh memaksanya menjadi satu urutan yang pasti terjadi. Bab 18 bukan teori tentang tahapan penolakan. Ia adalah lensa kedua dalam overlay analysis: kita sedang melihat bagaimana bukti diperlakukan ketika manusia berhadapan dengan kemungkinan bahwa pemahamannya sendiri perlu direvisi.
Pertanyaan utamanya bukan, “Apakah saya mempunyai bukti?” Pertanyaan yang lebih sulit adalah, “Jika bukti yang lebih kuat datang, apakah masih ada jalan nyata bagi bukti itu untuk mengubah kesimpulan saya?”
2. Ketika bukti diberi nama baru
Salah satu cara paling efektif melemahkan bukti adalah tidak dengan menyangkal keberadaannya, tetapi dengan memberinya nama yang membuat akibatnya berubah. Fenomenanya tetap ada. Yang berubah adalah kotak tempat kita memasukkannya.
QS Ghāfir 40:24
اِلٰى فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَقَارُوْنَ فَقَالُوْا سٰحِرٌ كَذَّابٌ
kepada Fir‘aun, Haman dan Karun; lalu mereka berkata, “(Musa) itu seorang pesihir dan pendusta.”
Pada Mūsā, tanda yang datang tidak dibiarkan berdiri hanya sebagai tanda yang harus diperiksa. Ia diberi kategori: sihir. Begitu kategori itu diterima, konsekuensinya ikut berubah. Orang tidak lagi merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang mungkin menuntut revisi; ia merasa telah menemukan penjelasan yang membuat revisi tidak diperlukan.
QS Saba’ 34:43
وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ قَالُوْا مَا هٰذَآ اِلَّا رَجُلٌ يُّرِيْدُ اَنْ يَّصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُكُمْ ۚوَقَالُوْا مَا هٰذَآ اِلَّآ اِفْكٌ مُّفْتَرًىۗ وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْۙ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, mereka berkata, “Orang ini tidak lain hanya ingin menghalang-halangi kamu dari mempertuhankan apa yang dipertuhankan oleh leluhurmu,” dan mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.” Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”
Yang perlu diaudit bukan sekadar apakah sebuah label digunakan, melainkan apa dasar label itu. Reclassification bisa sah. Data palsu memang harus disebut palsu. Manipulasi memang harus disebut manipulasi. Sebuah klaim yang keliru memang perlu ditempatkan pada kategori yang tepat. Problem muncul ketika label datang lebih cepat daripada pemeriksaan, lalu label itu sendiri diperlakukan sebagai bukti bahwa pemeriksaan tidak lagi perlu.
Dalam kehidupan kita, bentuknya tidak selalu dramatis. Sebuah temuan dapat cepat-cepat disebut “bias”, “agenda”, “propaganda”, “sekadar opini”, atau “tidak relevan”. Semua istilah itu bisa benar. Tetapi kebenarannya tetap memerlukan alasan. Memberi nama bukan sama dengan membuktikan.
3. Ketika kita menentukan sendiri bukti seperti apa yang boleh meyakinkan kita
Ada cara lain yang lebih halus. Kita tidak menolak bukti yang ada; kita menetapkan terlebih dahulu bentuk bukti yang harus muncul sebelum kita bersedia mempertimbangkan perubahan.
QS Al-Isrā’ 17:90–93
وَقَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْاَرْضِ يَنْۢبُوْعًاۙ اَوْ تَكُوْنَ لَكَ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْاَنْهٰرَ خِلٰلَهَا تَفْجِيْرًاۙ اَوْ تُسْقِطَ السَّمَاۤءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا اَوْ تَأْتِيَ بِاللّٰهِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ قَبِيْلًاۙ اَوْ يَكُوْنَ لَكَ بَيْتٌ مِّنْ زُخْرُفٍ اَوْ تَرْقٰى فِى السَّمَاۤءِ ۗوَلَنْ نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتّٰى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتٰبًا نَّقْرَؤُهٗۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّيْ هَلْ كُنْتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوْلًا ࣖ
Dan mereka berkata, “Kami tidak akan percaya kepadamu sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan di celah-celahnya sungai yang deras alirannya, atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana engkau katakan, atau (sebelum) engkau datangkan Allah dan para malaikat berhadapan muka dengan kami, atau engkau mempunyai sebuah rumah (terbuat) dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca.” Katakanlah, “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
Ayat-ayat ini harus dibaca dengan hati-hati. Meminta bukti bukan kesalahan. Kita justru membutuhkan standar agar tidak mudah menerima setiap klaim. Pertanyaan, keraguan, verifikasi, dan permintaan penjelasan adalah bagian penting dari proses mencari kebenaran.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah syarat itu sungguh merupakan jalan menuju keputusan, atau menjadi pagar yang terus dipindahkan. Hari ini kita berkata, “Kalau ada X, saya akan mempertimbangkan.” Ketika X hadir, muncul Y. Setelah Y hadir, syaratnya menjadi Z. Pada titik tertentu, kita perlu jujur: apakah kita masih mencari bukti, atau sedang mencari cara agar tidak pernah harus sampai pada keputusan yang tidak kita sukai?
Karena itu penelitian ini sengaja menahan diri. Follow-up question tidak otomatis berarti moving goalpost. Tambahan bukti kadang memang diperlukan. Yang disebut kondisi penerimaan yang terus bergerak hanya boleh dinyatakan ketika pola perpindahannya benar-benar terlihat dari evidence.
4. Ketika pintu koreksi mulai ditutup
Ada keadaan ketika persoalannya bahkan bukan lagi jenis bukti. Jalur masuknya sendiri mulai ditutup.
QS Nūḥ 71:7
وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ
Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.
Gambarnya sangat fisik: seruan datang, tetapi saluran penerimaan justru dipersempit. Pada Hūd, QS 26:136 merekam jawaban bahwa dinasihati atau tidak dinasihati terasa sama saja bagi mereka. Pada corpus Muḥammad, QS 41:26 bahkan bergerak ke tingkat sosial: jangan dengarkan Al-Qur’an dan buatlah kegaduhan terhadapnya. Bab 20 nanti akan melihat sisi sistemiknya. Di sini cukup kita tangkap satu hal: koreksi dapat gagal bukan karena tidak pernah datang, tetapi karena ruang untuk menerimanya dibuat tidak berfungsi.
Istilah yang kita pakai untuk fungsi ini adalah closure—penutupan jalur koreksi. Tetapi istilah itu harus dijaga. Closure bukan definisi tunggal kata kufr. Ia juga bukan vonis identitas yang boleh kita tempelkan kepada orang modern. Ia hanya membantu kita mengenali sebuah fungsi: apakah masih ada pintu yang terbuka dari informasi baru menuju kemungkinan revisi?
Keyakinan yang kuat tidak otomatis berarti closure. Orang dapat sangat yakin dan tetap bersedia dikoreksi jika bukti yang lebih kuat datang. Sebaliknya, orang dapat tampak terbuka, banyak bertanya, bahkan rajin berdiskusi, tetapi setiap jawaban selalu diarahkan kembali agar posisi awal tidak pernah benar-benar berisiko berubah.
5. Ketika kepastian lebih besar daripada pengetahuan yang menopangnya
Tidak semua masalah evidence muncul karena kita menutup telinga. Ada bentuk lain yang jauh lebih biasa: kita mengatakan sesuatu dengan tingkat kepastian yang lebih tinggi daripada yang diizinkan oleh pengetahuan yang kita miliki.
QS An-Nisā’ 4:157
وَّقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِۚ وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۗوَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ ۗمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًاۢ ۙ
dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa, selalu dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya.
Di sini yang menarik bukan bahwa keraguan itu sendiri salah. Justru ayat ini memaksa kita membedakan antara apa yang diketahui, apa yang diduga, dan seberapa jauh sebuah klaim boleh dibuat. Masalahnya bukan selalu kurang percaya diri. Kadang masalahnya justru terlalu yakin.
QS Ghāfir 40:35
ۨالَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْۗ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
(yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang.
QS 40:35 berada dalam discourse Ghāfir yang lebih luas; ia tidak boleh diperlakukan sebagai ucapan langsung audience Yūsuf. Tetapi ayat ini memberi prinsip yang penting bagi overlay ini: kekuatan sebuah klaim perlu sebanding dengan dasar yang menopangnya. Kita tidak sedang diajak meragukan semuanya. Kita diajak berkata sejauh yang bukti izinkan.
Kadang kalimat yang paling jujur bukan “ini pasti”, tetapi “sejauh yang saya tahu”, “evidence yang ada menunjuk ke sini”, atau “bagian ini belum cukup untuk dipastikan”. Kalimat semacam itu bukan kelemahan. Dalam banyak keadaan, justru di situlah integritas berpikir terlihat.
6. Ketika yang sudah diketahui tidak dibiarkan bekerja
Ada satu lapisan lain yang perlu dimasukkan agar pembacaan Bab 18 tidak berhenti pada orang yang kekurangan bukti. Corpus juga merekam keadaan ketika sesuatu dikenali, tetapi pengetahuan itu tidak mengalir menjadi keterbukaan atau penyampaian yang semestinya.
QS Al-Baqarah 2:146
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya).
Kata yang tidak boleh dilewatkan adalah “sebagian”. Ayat ini bukan izin untuk meratakan seluruh Ahl al-Kitāb menjadi satu respons. Corpus yang sama juga menyimpan respons positif. Tetapi sebagai evidence handling, ayat ini memperlihatkan sesuatu yang penting: mengetahui dan membiarkan pengetahuan itu bekerja adalah dua hal yang berbeda.
Penelitian kita juga mencatat bentuk yang berdekatan: kebenaran dapat dibuat lebih sulit dikenali, bukan hanya disimpan dalam diam. Namun kita tidak perlu membesarkan temuan itu menjadi teori bahwa setiap perbedaan penafsiran adalah obscuration. Yang boleh kita katakan hanya sejauh evidence membolehkan: ada kondisi ketika informasi yang diketahui tidak diteruskan, atau dibuat tidak mudah terlihat, dan itu memengaruhi kemampuan orang lain untuk merespons secara jernih.
7. Ketika bahasa tentang Allah justru dipakai untuk menutup pemeriksaan
Bab 18 menjadi sangat dekat dengan kehidupan beragama ketika alasan yang dipakai terdengar religius. Kalimat tentang Allah dapat benar, tetapi penggunaan kalimat itu tetap perlu diperiksa.
QS Al-An‘ām 6:148
سَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا لَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَآ اَشْرَكْنَا وَلَآ اٰبَاۤؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتّٰى ذَاقُوْا بَأْسَنَاۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوْهُ لَنَاۗ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَخْرُصُوْنَ
Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah, “Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.”
Yang dikritik bukan pembicaraan tentang kehendak Allah. Al-Qur’an sendiri berbicara tentang kehendak Allah. Yang menjadi masalah adalah ketika bahasa tentang kehendak Allah dipakai untuk mengakhiri audit atas tindakan manusia tanpa dasar pengetahuan yang cukup. Respons Qur’anic justru kembali bertanya: apakah ada ‘ilm yang dapat dikemukakan?
Ini penting karena bahasa agama dapat memberi rasa final bahkan ketika dasar faktualnya belum final. “Sudah kehendak Allah,” “memang sudah takdirnya,” atau “kalau Allah tidak menghendaki, ini tidak akan terjadi” mungkin mengandung pembicaraan teologis yang perlu ditempatkan dengan benar. Tetapi kalimat semacam itu tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang tanggung jawab, sebab-akibat, atau apa yang sebenarnya kita ketahui.
Di source kita, QS 16:35 menjadi pasangan penting bagi pola ini. Sekali lagi, bukan qadar yang sedang ditolak. Yang diaudit adalah penggunaan klaim tentang Allah untuk membuat pemeriksaan berhenti sebelum knowledge basis-nya jelas.
8. Yang perlu dijaga: bertanya bukan menolak
Sampai di sini mudah sekali Bab 18 berubah menjadi bab yang mencurigai setiap pertanyaan. Justru itu yang harus kita hindari.
Questioning bukan rejection. Meminta bukti bukan rejection. Belum yakin bukan rejection. Salah pun belum tentu berarti closure.
Al-Qur’an sendiri memberi positive controls yang mencegah kita membuat generalisasi kasar. Sulaymān menerima laporan Hudhud, tetapi tidak langsung menjadikannya keputusan final.
QS An-Naml 27:27
۞ قَالَ سَنَنْظُرُ اَصَدَقْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ
Dia (Sulaiman) berkata, “Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta.”
Ini bukan closure. Ini verification. Ia menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap kebenaran tidak berarti menelan setiap informasi tanpa audit.
Queen of Saba’ memberi contoh lain. Ketika ditanya tentang singgasananya, ia tidak memaksa kepastian yang lebih besar daripada yang ia miliki.
QS An-Naml 27:42
فَلَمَّا جَاۤءَتْ قِيْلَ اَهٰكَذَا عَرْشُكِۗ قَالَتْ كَاَنَّهٗ هُوَۚ وَاُوْتِيْنَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِيْنَ
Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, “Seakan-akan itulah dia.” (Dan dia Balqis berkata), “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
“Seakan-akan itulah dia” adalah bahasa yang menarik: cukup kuat untuk menyatakan pengenalan, cukup rendah hati untuk tidak mengklaim lebih dari yang ia lihat. Ketika informasi baru datang, responsnya juga dapat berubah.
QS An-Naml 27:44
قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Di sinilah lawan dari closure terlihat. Menjadi correctable bukan berarti tidak pernah salah. Justru seseorang disebut masih correctable karena kesalahan belum menghilangkan jalan untuk melihat ulang, mengakui, dan mengubah respons.
9. Ada satu pola yang belum boleh kita besarkan
Dalam corpus Muḥammad ada kesan bahwa penjelasan yang diberikan untuk menolak dapat berubah-ubah sementara hasil akhirnya tetap sama. Pada satu tempat message diberi satu label, pada tempat lain diberi alasan lain; sementara posisi penolakannya relatif bertahan.
Temuan ini menarik, tetapi penelitian kita sengaja belum menguncinya sebagai mekanisme mandiri. Evidence-nya belum cukup untuk menjadikannya core pattern yang berdiri sendiri. Karena itu Bab 18 tidak akan membuat slogan, “orang yang menolak selalu mengganti alasan.” Bisa terjadi. Tetapi kita belum memiliki hak untuk mengatakan selalu, bahkan belum cukup untuk menjadikannya mekanisme final di dalam model.
Batas semacam ini penting. Buku tentang cara evidence diperlakukan juga harus bersedia tunduk kepada evidencenya sendiri.
10. Apa bentuk sepadannya hari ini?
Bentuk modernnya sering tidak tampak sebagai penolakan terhadap fakta. Kadang justru tampil sebagai kesibukan mengelola fakta supaya tidak pernah benar-benar mengganggu posisi awal.
Kita menerima data yang sejalan dengan keyakinan kita dengan cepat, tetapi meminta standar hampir mustahil ketika data datang dari arah yang tidak kita sukai. Kita menyebut temuan yang tidak nyaman sebagai “outlier” sebelum memeriksa apakah ia memang outlier. Kita meminta satu sumber lagi, satu penelitian lagi, satu saksi lagi—bukan karena bukti belum cukup, tetapi karena setiap tambahan bukti memberi kita waktu untuk menunda kesimpulan.
Di lain waktu, kita justru terlalu cepat. Satu potongan informasi yang menyenangkan langsung dianggap cukup untuk membuat kesimpulan besar. Kita membagikannya, mengutipnya, bahkan membangun penilaian terhadap orang lain di atasnya. Ketika informasi tandingan datang, standar kita tiba-tiba menjadi jauh lebih ketat.
Ada juga bentuk yang lebih halus: kita tidak menolak fakta, tetapi mengubah bahasanya. Kegagalan disebut “penyesuaian”. Penyimpangan disebut “variasi”. Kritik disebut “serangan”. Sebaliknya, terhadap pihak yang tidak kita sukai, kekeliruan kecil diberi nama yang jauh lebih berat daripada yang evidence izinkan.
Sekali lagi, istilah-istilah itu bisa saja tepat. Yang sedang diuji bukan kosakatanya, melainkan apakah nama yang kita pilih lahir setelah pemeriksaan atau justru dipakai agar pemeriksaan berhenti.
11. Refleksi untuk kita — apakah bukti masih mempunyai hak untuk mengubah saya?
Cermin Bab 18 tidak bertanya apakah kita mudah diyakinkan. Terlalu mudah diyakinkan bukan kebajikan. Ia juga tidak bertanya apakah kita selalu ragu. Keraguan tanpa akhir bisa menjadi cara lain untuk tidak pernah mengambil tanggung jawab atas kesimpulan.
Pertanyaannya lebih sederhana dan, mungkin, lebih tidak nyaman: jika bukti yang lebih kuat datang, apakah masih ada sesuatu di dalam diri saya yang dapat berubah?
Apakah saya sudah mempunyai kategori siap pakai untuk setiap informasi yang tidak cocok dengan posisi saya? Apakah standar bukti saya sama ketika informasi itu menguntungkan dan merugikan saya? Apakah saya mampu mengatakan, “Saya dulu salah membaca ini”? Apakah saya bisa menurunkan tingkat kepastian ketika ternyata pengetahuan saya tidak sebesar yang saya kira?
Dan barangkali pertanyaan yang paling tajam: adakah kesimpulan tertentu yang secara diam-diam sudah saya putuskan tidak boleh berubah, apa pun bukti yang nanti datang?
Masalahnya bukan apakah kita selalu berubah. Masalahnya adalah apakah masih ada jalan yang nyata dari bukti menuju revisi.
Di situlah evidence responsiveness terlihat. Kita tidak menyerahkan diri kepada setiap klaim baru. Kita tidak menghapus standar. Kita justru menjaga agar standar itu sungguh bekerja dua arah: cukup kuat untuk menahan klaim yang lemah, tetapi cukup terbuka untuk membiarkan bukti yang lebih baik mengoreksi kita.
12. Dari EVIDENCE menuju GOVERNING REFERENCE
Bab 18 membawa kita sampai pada batas berikutnya. Misalkan bukti sudah diperiksa. Kita tidak lagi sibuk menyerang pembawanya. Kita tidak mengganti namanya agar mudah ditolak. Kita tidak memindahkan syarat setiap kali evidence mendekat. Kita juga mengakui bahwa bukti yang ada cukup kuat.
Apakah persoalan selesai? Belum tentu.
Sebab seseorang masih dapat mengatakan, “Ya, saya tahu itu benar,” tetapi ketika kebenaran itu menuntut perubahan, keputusan akhirnya tetap mengikuti reference lain: kepentingan, kebiasaan, kelompok, otoritas yang disukai, atau diri sendiri.
Di situlah overlay ketiga dimulai. Bukan lagi apa yang terjadi pada messenger. Bukan lagi bagaimana evidence diproses. Tetapi siapa yang sebenarnya mendapat kata terakhir ketika dua arah bertabrakan.
Bab 17 melihat siapa pembawanya. Bab 18 melihat apa yang kita lakukan terhadap buktinya. Bab 19 akan bertanya: setelah kita tahu, siapa yang sebenarnya mengatur respons kita?
Itulah pintu masuk menuju Bab 19 — Ketika yang Kita Akui Bukan yang Sebenarnya Mengatur Response.
BAB 19
KETIKA YANG KITA AKUI BUKAN YANG SEBENARNYA MENGATUR RESPONS
Bab 18 berhenti pada satu pertanyaan yang tidak ringan: apakah bukti masih kita beri kesempatan untuk mengoreksi cara kita melihat sesuatu? Bab 19 dimulai sesudah pertanyaan itu. Anggaplah bukti sudah datang. Anggaplah kita sudah mendengar, mengenali, bahkan mengakui sumber yang membawanya. Apakah pengakuan itu benar-benar ikut menentukan apa yang kita lakukan?
Pertanyaan ini terasa dekat karena manusia dapat hidup dengan dua lapis rujukan sekaligus. Ada rujukan yang kita sebut dengan mulut, kita hormati dalam bahasa, dan kita tempatkan tinggi dalam identitas. Tetapi ketika keputusan menjadi sulit, ada kemungkinan rujukan lain yang justru menentukan pilihan: kebiasaan, kepentingan, pendapat kelompok, tokoh yang kita ikuti, rasa takut kehilangan sesuatu, atau keinginan diri sendiri.
Di sinilah pengakuan mulai diuji. Selama semua rujukan memberi arah yang sama, kita sulit mengetahui mana yang sungguh-sungguh mempunyai kata terakhir. Perbedaannya baru terlihat ketika dua arah bertabrakan.
Dalam bab ini saya memakai ungkapan 'rujukan terakhir' sebagai bahasa bantu, bukan sebagai istilah Al-Qur'an. Maksudnya sederhana: ketika beberapa suara memberi arah yang berbeda, suara mana yang pada akhirnya kita biarkan menentukan keputusan?
1. Pengakuan baru terlihat ketika ada pilihan yang tidak kita sukai
Mengatakan bahwa kita beriman kepada Allah, menghormati wahyu, atau mengikuti Rasul tentu bukan perkara kecil. Pengakuan itu penting. Namun Al-Qur'an berkali-kali membawa pembacanya melewati pengakuan menuju akibat yang seharusnya lahir darinya.
Selama apa yang kita yakini sejalan dengan apa yang kita inginkan, tidak ada banyak gesekan. Kesetiaan terasa mudah. Ujian biasanya datang ketika rujukan yang kita akui menunjukkan arah yang berbeda dari kesimpulan yang sudah kita pegang atau dari hasil yang kita harapkan.
Pada titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar apa yang kita ketahui. Pertanyaannya menjadi lebih pribadi: apakah sesuatu yang sudah saya akui benar masih mempunyai hak untuk mengubah keputusan saya? Atau pengakuan itu berhenti tepat sebelum ia menyentuh bagian hidup yang tidak ingin saya ubah?
2. Ketika rujukan yang disebut dan rujukan yang dipilih berbeda
QS An-Nisā' 4:60-61 menghadirkan keadaan yang sangat tajam. Ada orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, tetapi ketika perkara harus diputuskan, mereka masih ingin mencari keputusan kepada ṭāghūt. Ayat ini memperlihatkan jarak yang mungkin muncul antara pengakuan dan pilihan nyata.
QS An-Nisā' 4:60
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَحَاكَمُوْٓا اِلَى الطَّاغُوْتِ وَقَدْ اُمِرُوْٓا اَنْ يَّكْفُرُوْا بِهٖ ۗوَيُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّضِلَّهُمْ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.
QS An-Nisā' 4:61
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ رَاَيْتَ الْمُنٰفِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدًاۚ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (niscaya) engkau melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar adanya dua tempat meminta keputusan. Ayat ini memperlihatkan benturan antara sesuatu yang diakui dan sesuatu yang kemudian dipilih. Di situlah kita dapat melihat bahwa menyebut sebuah rujukan sebagai yang tertinggi belum tentu sama dengan benar-benar menyerahkan keputusan kepadanya.
Bab ini tidak sedang menyatakan bahwa setiap lembaga, hakim, guru, atau mekanisme manusia adalah rujukan tandingan yang salah. Kehidupan memang membutuhkan banyak bentuk keputusan manusia. Yang sedang diperiksa adalah keadaan ketika seseorang sudah mengakui suatu rujukan, tetapi berpindah ke rujukan lain justru karena arah yang diberikan oleh rujukan pertama tidak sesuai dengan yang ia kehendaki.
3. Mengetahui kebenaran belum tentu membiarkannya memimpin
Mengetahui juga belum tentu menjadi akhir perjalanan. QS Al-Baqarah 2:146 menyebut orang-orang yang telah diberi Kitab mengenali, tetapi ayat itu dengan hati-hati mengatakan bahwa sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui. Kata 'sebagian' penting. Ia mencegah kita mengubah satu catatan tentang sebagian orang menjadi vonis terhadap seluruh kelompok.
QS Al-Baqarah 2:146
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya).
Karena itu kita juga harus membaca ayat-ayat yang memperlihatkan arah berbeda. QS Al-Mā'idah 5:83 menunjukkan orang-orang yang mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, mengenali kebenaran, lalu pengenalan itu bergerak menjadi iman. Al-Qur'an sendiri tidak membiarkan kita menyederhanakan identitas sebuah kelompok menjadi satu jenis respons.
QS Al-Mā'idah 5:83
وَاِذَا سَمِعُوْا مَآ اُنْزِلَ اِلَى الرَّسُوْلِ تَرٰٓى اَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوْا مِنَ الْحَقِّۚ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui, seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.”
Dua arah ini penting dibaca bersama. Pengenalan terhadap kebenaran tidak memaksa manusia bergerak ke satu hasil secara otomatis. Ada yang mengetahui tetapi menyembunyikan; ada pula yang mengenali lalu membiarkan pengenalan itu mengubah sikapnya.
Karena itu masalah Bab 19 bukan kekurangan informasi semata. Seseorang dapat mengetahui cukup banyak, memakai bahasa yang benar, bahkan mengenali sesuatu sebagai benar, tetapi masih tersisa satu pertanyaan: apa yang dilakukan setelah mengetahui?
4. Mendengar bukan akhir dari perkara
Kontras yang paling tajam mungkin justru datang dari dua kalimat yang sama-sama diawali dengan mendengar.
QS Al-Baqarah 2:93
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا ۗ قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۗ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.” Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan mempertuhankan patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!”
Kalimat sam'i'nā wa-'aṣaynā memperlihatkan sesuatu yang sulit disalahpahami: mendengar telah terjadi, tetapi mendengar tidak berlanjut menjadi ketaatan. Masalahnya bukan karena pesan tidak sampai.
QS An-Nūr 24:51 menghadirkan kalimat yang berbeda: sam'i'nā wa-aṭa'nā - kami mendengar dan kami taat.
QS An-Nūr 24:51
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dua kalimat ini membuat perbedaannya tampak tanpa perlu teori yang rumit. Mendengar dapat berhenti pada telinga, tetapi dapat pula diteruskan menjadi tindakan. Karena itu ukuran kedekatan kita kepada sebuah rujukan tidak cukup dilihat dari seberapa sering kita mendengarnya atau seberapa fasih kita mengulang bahasanya.
Yang lebih menentukan adalah apakah apa yang kita dengar masih mampu menuntun pilihan ketika pilihan itu tidak mudah.
5. Iman yang diucapkan baru terlihat dalam tindakan
QS An-Nūr 24:47 bahkan merekam kalimat yang terdengar sangat lengkap: 'Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati.' Namun ayat itu melanjutkan bahwa sebagian dari mereka berpaling sesudahnya. Sekali lagi, Al-Qur'an menjaga kata 'sebagian'; kita tidak diberi izin untuk memperluasnya kepada siapa saja yang kita kehendaki.
QS An-Nūr 24:47
وَيَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالرَّسُوْلِ وَاَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَۗ وَمَآ اُولٰۤىِٕكَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ
Dan mereka berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman.
Ayat ini tidak membuat pengakuan menjadi tidak penting. Justru karena pengakuan penting, ia menuntut kesesuaian dengan apa yang dilakukan sesudahnya. Kata-kata dapat menunjukkan arah yang kita pilih, tetapi tindakan memperlihatkan apakah arah itu benar-benar kita tempuh.
QS Al-Aḥzāb 33:36 menegaskan batas yang khusus menyangkut Allah dan Rasul: ketika Allah dan Rasul telah menetapkan suatu perkara, seorang mukmin tidak mempertahankan pilihan lain dalam urusan itu seolah-olah semua arah tetap sama kedudukannya.
QS Al-Aḥzāb 33:36
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ
Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
Di sinilah inti bab ini mulai mengeras: pengakuan kepada sebuah rujukan baru memperoleh maknanya ketika rujukan itu benar-benar diberi ruang untuk menentukan respons. Jika tidak, kita dapat terus menyebut nama yang sama sementara keputusan sebenarnya sudah diserahkan kepada sesuatu yang lain.
6. Apa bentuk sepadannya hari ini?
Bentuknya tidak harus dramatis. Ia dapat muncul dalam keputusan sehari-hari ketika kita mengatakan satu hal sebagai prinsip, tetapi diam-diam memakai ukuran lain saat prinsip itu mulai menuntut sesuatu dari kita.
Seseorang dapat mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah rujukannya, tetapi ketika bacaan yang lebih kuat mengganggu pendapat yang diwarisi, yang dipertahankan justru warisan itu tanpa pemeriksaan lagi. Seseorang dapat mengatakan bahwa kebenaran lebih penting daripada tokoh, tetapi ketika tokoh yang disukai keliru, standar pembuktiannya mendadak berubah. Dalam organisasi, orang dapat menyatakan bahwa aturan berlaku untuk semua, tetapi ketika aturan menyentuh kepentingan sendiri, muncul pencarian jalan keluar yang sebelumnya tidak dianggap perlu.
Contoh-contoh itu bukan tuduhan bahwa setiap perbedaan pendapat adalah penolakan. Orang dapat sungguh-sungguh berbeda dalam memahami dalil, data, atau keadaan. Yang perlu diperiksa adalah sesuatu yang lebih sederhana: apakah ukuran yang kita pakai tetap sama ketika hasilnya tidak menguntungkan kita?
Kadang kita baru mengetahui apa rujukan terakhir kita bukan ketika sedang berbicara tentang prinsip, melainkan ketika prinsip itu mempunyai harga.
7. Refleksi untuk kita — siapa yang mendapat kata terakhir?
Pertanyaan Bab 19 sebaiknya diarahkan lebih dahulu kepada diri sendiri. Saya dapat menyebut Allah sebagai sumber petunjuk. Saya dapat mengatakan bahwa Al-Qur'an menjadi rujukan. Saya dapat mencintai Rasul dan merasa berada di dalam tradisi yang benar. Tetapi apa yang terjadi ketika sesuatu yang saya akui itu meminta saya melepaskan pendapat yang sudah lama saya pertahankan?
Apakah saya masih bersedia memeriksa ulang? Apakah saya dapat mengakui bahwa tokoh yang saya hormati mungkin keliru? Apakah saya dapat menerima bahwa kelompok saya tidak selalu mempunyai jawaban terbaik? Dan yang paling sulit: apakah saya masih mengizinkan diri saya sendiri menjadi pihak yang mungkin harus berubah?
Di sinilah 'rujukan terakhir' menjadi nyata. Ia bukan nama yang paling sering disebut, melainkan sesuatu yang kita beri hak untuk mengoreksi pilihan kita.
Kita tentu tidak harus berubah setiap kali seseorang membawa pendapat baru. Keteguhan juga penting. Tetapi keteguhan berbeda dari menjadikan diri sendiri kebal terhadap koreksi. Yang satu lahir setelah pemeriksaan; yang lain menutup pemeriksaan karena hasilnya mungkin tidak kita sukai.
8. Jangan pindahkan kedudukan Rasul kepada manusia lain
Ada batas yang tidak boleh hilang dari bab ini. Ayat-ayat tentang ketaatan kepada Rasul tidak memberi siapa pun sesudah Rasul hak untuk menuntut ketaatan dengan kedudukan yang sama. Ulama, guru, pemimpin, organisasi, penulis, dan siapa pun yang berbicara atas nama agama tetap manusia yang dapat salah.
Karena itu bab ini tidak boleh dipakai untuk berkata, 'Jika kamu benar-benar beriman, ikuti saja saya.' Justru setiap klaim manusia tetap dapat diperiksa. Pendapat ulama dapat dipelajari dan dihormati tanpa menjadikannya tidak mungkin salah. Pemimpin dapat ditaati dalam ruang yang sah tanpa menjadikannya sumber kebenaran yang tidak boleh dikoreksi. Batas ini penting karena tanpa itu, sebuah bab tentang kesetiaan kepada Allah dan Rasul dapat dengan mudah berubah menjadi pembenaran bagi kekuasaan manusia. Itu justru membalik arah yang sedang kita jaga.
Rasul membawa otoritas yang tidak dapat diwariskan begitu saja kepada setiap orang yang mengaku mewakilinya. Sesudah Rasul, tugas kita tetap menimbang, memeriksa, belajar, dan menjaga agar manusia tidak mengambil tempat yang hanya layak bagi sumber yang ia sendiri akui.
9. Ketika pilihan pribadi mulai menjadi kebiasaan bersama
Sampai di sini kita masih banyak berbicara tentang respons seseorang: apa yang ia akui, apa yang ia dengar, dan rujukan mana yang akhirnya ia ikuti. Tetapi pilihan tidak selalu berhenti pada diri sendiri. Sebuah kelompok dapat mulai membangun kebiasaan tentang suara mana yang boleh didengar, pendapat mana yang dianggap aman, orang mana yang boleh berbicara, dan apa yang terjadi kepada mereka yang mengganggu kesepakatan yang sudah mapan. Ketika itu terjadi, persoalannya tidak lagi hanya berada di dalam hati atau keputusan pribadi. Ia mulai memperoleh bentuk sosial.
Di situlah Bab 20 akan masuk. Pertanyaannya berubah dari 'siapa yang mendapat kata terakhir di dalam diri saya?' menjadi 'apa yang terjadi ketika pilihan itu mulai dijaga oleh aturan, tekanan, akses, dan kekuasaan?'
Bab 19 menunjukkan bahwa pengakuan belum tentu menjadi rujukan yang benar-benar mengatur respons. Bab berikutnya akan melihat apa yang terjadi ketika jarak itu tidak lagi hanya milik seseorang, tetapi mulai dipelihara oleh sebuah sistem.
BAB 20
KETIKA PENOLAKAN BERUBAH MENJADI SISTEM
Bab 19 membawa kita kepada pertanyaan tentang siapa yang sungguh-sungguh mendapat kata terakhir ketika keyakinan, kepentingan, kebiasaan, dan kebenaran tidak lagi berjalan ke arah yang sama. Bab 20 memperluas pertanyaan itu. Sebab pilihan seseorang tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri. Ada saat ketika sebuah cara merespons mulai membentuk suasana bersama: menentukan apa yang mudah didengar, apa yang dianggap berbahaya, siapa yang boleh berbicara, dan seberapa mahal harga yang harus dibayar oleh orang yang memilih berbeda.
Di sinilah penolakan memperoleh bentuk yang lebih besar daripada keputusan pribadi. Seseorang mungkin hanya berkata, 'Saya tidak percaya.' Tetapi sebuah kelompok dapat melangkah lebih jauh: 'Jangan dengarkan mereka.' Seorang pemimpin dapat tidak setuju. Tetapi kekuasaan dapat bergerak lebih jauh: 'Kalian tidak boleh memilih sebelum saya mengizinkan.' Sebuah masyarakat dapat mempunyai kebiasaan. Tetapi kebiasaan dapat berubah menjadi tekanan ketika orang yang tidak lagi mengikutinya harus disingkirkan.
Al-Qur'an tidak menyajikan semua kisah itu sebagai satu urutan yang selalu sama. Tidak setiap penolakan tumbuh menjadi ancaman, tidak setiap perbedaan berubah menjadi pemaksaan, dan tidak setiap pemuka menjadi penjaga keadaan lama. Yang dapat kita lihat hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang muncul ketika penolakan tidak lagi menjadi urusan satu hati, tetapi mulai ikut membentuk ruang hidup orang lain.
Karena itu, pertanyaan Bab 20 bukan sekadar apakah sebuah masyarakat mempunyai aturan, pemimpin, tradisi, atau kesepakatan. Semua itu wajar dan diperlukan. Pertanyaannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: apakah di dalam tatanan itu masih tersedia ruang bagi koreksi?
1. Ketika “saya tidak menerima” berubah menjadi “jangan sampai orang lain mendengar”
Ada perbedaan besar antara menolak untuk diri sendiri dan berusaha mengatur apa yang boleh sampai kepada telinga orang lain. Pada bentuk pertama, seseorang mengambil keputusan tentang dirinya. Pada bentuk kedua, ia mulai memasuki ruang keputusan orang lain.
QS Fuṣṣilat 41:26 memperlihatkan perubahan itu dengan sangat terang. Yang direkam bukan hanya sikap tidak mau mendengar Al-Qur'an, melainkan seruan agar orang lain juga tidak mendengarkannya dengan jernih. Bahkan kegaduhan diminta dibuat agar bacaan itu kehilangan ruang untuk didengar.
QS Fuṣṣilat 41:26
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ
Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).”
Ayat ini penting karena persoalannya tidak lagi hanya mengenai isi pesan atau sikap seorang pendengar. Ruang untuk mendengar itu sendiri mulai diganggu. Orang lain tidak diberi kesempatan yang tenang untuk mengetahui apa yang sebenarnya dikatakan.
Bentuknya dapat berbeda-beda dalam kehidupan manusia. Tidak selalu berupa teriakan. Kadang ruang untuk mendengar dipersempit dengan membuat sebuah pendapat tidak mungkin hadir, menjadikan pembicara takut, atau menciptakan suasana di mana orang sudah malu lebih dulu sebelum sempat bertanya. Yang berubah bukan hanya keputusan terhadap pesan, tetapi lingkungan tempat keputusan itu seharusnya dibuat.
Namun batasnya harus dijaga. Tidak semua penyaringan informasi adalah penindasan. Masyarakat memang perlu membedakan informasi yang benar, salah, berbahaya, atau menipu. Yang kita soroti di sini adalah keadaan ketika akses kepada suatu pesan ditutup bukan setelah isinya diperiksa, tetapi agar orang lain tidak memperoleh kesempatan yang wajar untuk memeriksanya sendiri.
2. Ketika jalan menuju koreksi dipersempit
Pada kisah Shuʿayb, Al-Qur'an memberi gambaran lain. QS Al-Aʿrāf 7:86 berbicara tentang duduk di setiap jalan, menakut-nakuti, menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan berusaha membelokkannya. Penolakan di sini tidak berhenti pada pilihan pribadi; ada tindakan yang membuat jalan orang lain menjadi lebih sulit.
QS Al-Aʿrāf 7:86
وَلَا تَقْعُدُوْا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوْعِدُوْنَ وَتَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِهٖ وَتَبْغُوْنَهَا عِوَجًاۚ وَاذْكُرُوْٓا اِذْ كُنْتُمْ قَلِيْلًا فَكَثَّرَكُمْۖ وَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Yang menarik, sebuah tatanan tidak harus memaksa semua orang dengan tangan agar dapat membuat koreksi sulit bergerak. Cukup jika orang tahu bahwa memilih jalan tertentu akan membuat hidupnya lebih berat: hubungan sosial terganggu, kedudukan dipersoalkan, pintu tertentu tertutup, atau rasa aman berkurang.
Karena itu kita perlu membedakan antara ketidaksetujuan dan penghalangan. Seseorang boleh tidak setuju. Sebuah masyarakat juga boleh berdebat tentang nilai bersama. Tetapi ketika perbedaan mulai disertai usaha membuat orang lain tidak dapat mendengar, mempertimbangkan, atau memilih dengan bebas, masalahnya sudah bergeser.
3. Ketika keanggotaan dipakai untuk memaksa keseragaman
QS Al-Aʿrāf 7:88 membuat harga sosial itu lebih nyata. Para pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Shuʿayb tidak sekadar mengatakan bahwa mereka menolak pesannya. Mereka mengancam akan mengusir Shuʿayb dan orang-orang beriman bersamanya dari kota, kecuali mereka kembali kepada millah kelompok tersebut.
QS Al-Aʿrāf 7:88
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لَنُخْرِجَنَّكَ يٰشُعَيْبُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَاۗ قَالَ اَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِيْنَ
Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syuaib berkata, “Wahai Syuaib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami.” Syuaib berkata, “Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak suka?”
Di sini, menjadi bagian dari masyarakat mulai diberi syarat: tetaplah seperti kami, atau kehilangan tempat di antara kami. Perbedaan tidak lagi cukup untuk dibicarakan; ia mulai diperlakukan sebagai ancaman terhadap kebersamaan.
Tetapi kita juga tidak boleh melompat kepada kesimpulan bahwa semua bentuk kebersamaan, tradisi, atau aturan kelompok adalah masalah. Manusia memang hidup dengan kesepakatan. Ada nilai yang perlu dijaga bersama. Ada batas yang diperlukan agar kehidupan tidak kehilangan arah. Persoalannya muncul ketika keanggotaan digunakan untuk memaksa seseorang kembali kepada sesuatu yang ia tidak lagi yakini, atau ketika pengusiran menjadi jawaban terhadap koreksi yang belum sungguh-sungguh dijawab.
Dengan kata lain, masalahnya bukan bahwa sebuah komunitas mempunyai bentuk. Masalah mulai muncul ketika bentuk itu tidak lagi dapat dibedakan dari kebenaran itu sendiri. Apa yang sudah menjadi kebiasaan dianggap benar karena sudah menjadi kebiasaan; siapa yang mengganggunya lalu dianggap mengganggu masyarakat.
4. Ketika kekuasaan ingin menentukan siapa yang boleh percaya
Kisah Mūsā dan Firʿawn membawa persoalan ini ke tingkat kekuasaan. Ketika para ahli sihir melihat apa yang mereka anggap cukup untuk membuat mereka beriman, Firʿawn tidak hanya menolak keputusan mereka. Ia mempertanyakan bagaimana mereka berani beriman sebelum memperoleh izinnya.
QS Ṭāhā 20:71
قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۗ اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِۖ وَلَتَعْلَمُنَّ اَيُّنَآ اَشَدُّ عَذَابًا وَّاَبْقٰى
Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia itu pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka sungguh, akan kupotong tangan dan kakimu secara bersilang, dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma dan sungguh, kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksaannya.”
Kalimat 'sebelum aku memberi izin kepadamu' memperlihatkan sesuatu yang melampaui ketidaksetujuan. Kepercayaan orang lain diperlakukan seolah-olah berada di bawah izin penguasa. Lalu ancaman fisik mengikuti. Di titik ini, kekuasaan tidak hanya mempunyai pendapat tentang kebenaran; ia mencoba mengendalikan harga dari pilihan yang berbeda.
Kita tidak perlu menebak-nebak isi hati Firʿawn untuk melihat apa yang direkam Al-Qur'an. Teks sudah menunjukkan ucapan, ancaman, dan cara kekuasaan merespons perubahan keyakinan. Itu cukup. Menambah dugaan tentang motif batinnya justru membuat kita meninggalkan pijakan yang diberikan ayat.
QS Az-Zukhruf 43:54 juga memperlihatkan bahwa pengaruh kekuasaan dapat membentuk respons orang banyak. Tetapi ayat-ayat lain mencegah kita menyimpulkan bahwa sebuah masyarakat di bawah kekuasaan selalu mempunyai satu pikiran.
QS Az-Zukhruf 43:54
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهٗ فَاَطَاعُوْهُ ۗاِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ
Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.
5. Suara yang berbeda dari dalam tidak boleh dihapus dari cerita
Di tengah gambaran tentang kekuasaan dan tekanan, Al-Qur'an tetap menyimpan suara-suara yang tidak mengikuti arus dominan. Ini penting, sebab tanpa suara semacam itu kita mudah membayangkan sebuah masyarakat sebagai satu tubuh yang berpikir seragam.
QS Ghāfir 40:28 menghadirkan seorang laki-laki beriman dari keluarga Firʿawn yang menyembunyikan imannya. Ia berbicara dari dalam lingkungan yang sama, tetapi tidak mengulang suara yang paling kuat.
QS Ghāfir 40:28
وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌۖ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ اِيْمَانَهٗٓ اَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا اَنْ يَّقُوْلَ رَبِّيَ اللّٰهُ وَقَدْ جَاۤءَكُمْ بِالْبَيِّنٰتِ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗوَاِنْ يَّكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهٗ ۚوَاِنْ يَّكُ صَادِقًا يُّصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ يَعِدُكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
Dan seseorang yang beriman di antara keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah,’ padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.”
Kisah Hārūn memberi sudut yang berbeda. Ia bukan suara dari luar. Ia berada di tengah Banī Isrāʾīl dan telah memberikan koreksi. Ketika Mūsā kembali, Hārūn menjelaskan bahwa kaumnya telah menganggapnya lemah dan hampir membunuhnya. Artinya, memiliki orang yang berani mengoreksi belum tentu berarti sebuah komunitas mampu menerima koreksi.
QS Al-Aʿrāf 7:150
وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًاۙ قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوْنِيْ مِنْۢ بَعْدِيْۚ اَعَجِلْتُمْ اَمْرَ رَبِّكُمْۚ وَاَلْقَى الْاَلْوَاحَ وَاَخَذَ بِرَأْسِ اَخِيْهِ يَجُرُّهٗٓ اِلَيْهِ ۗقَالَ ابْنَ اُمَّ اِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوْنِيْ وَكَادُوْا يَقْتُلُوْنَنِيْۖ فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْاَعْدَاۤءَ وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zalim.”
Laki-laki dari ujung kota dalam Surah Yāsīn juga mengingatkan hal yang sama: suara yang terdengar paling keras bukan selalu seluruh suara yang ada. Komunitas bukan satu pikiran. Mayoritas tidak otomatis benar, tetapi minoritas juga tidak otomatis benar. Yang harus diperiksa tetap apa yang dikatakan dan apa dasarnya.
Karena itu, salah satu tanda penting yang dapat kita tanyakan kepada sebuah kelompok adalah bukan apakah semua anggotanya sepakat, melainkan apakah suara yang berbeda masih dapat hidup cukup lama untuk didengar.
QS Yāsīn 36:20
وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ
Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.”
6. Sistem dapat rusak bukan hanya karena ada yang salah, tetapi karena tidak ada yang lagi saling mengoreksi
Ada bentuk lain yang lebih sunyi. Sebuah masyarakat tidak selalu kehilangan kemampuan memperbaiki diri karena suara koreksi dibungkam secara terang-terangan. Kadang masalahnya justru karena kebiasaan saling mengingatkan berhenti bekerja.
QS Al-Mā'idah 5:79 menyebut sekelompok orang yang tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Ayat ini membawa perhatian kita dari kesalahan perorangan kepada apa yang terjadi di antara manusia: adakah sesuatu yang bekerja untuk menahan kesalahan sebelum ia menjadi biasa?
QS Al-Mā'idah 5:79
كَانُوْا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ
Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.
Ini tidak berarti setiap orang harus menjadi pengawas bagi hidup orang lain. Koreksi tanpa ilmu, tanpa adab, atau tanpa dasar juga dapat melahirkan kerusakan baru. Yang sedang kita lihat lebih mendasar: apakah sebuah kelompok masih mempunyai cara untuk mengatakan bahwa sesuatu perlu diperbaiki, dan apakah perkataan itu masih mungkin menghasilkan perubahan?
Sebuah lingkungan dapat tampak tenang justru karena semua orang sudah belajar untuk diam. Ketiadaan perdebatan tidak selalu berarti tidak ada masalah. Kadang ia hanya berarti biaya untuk mengangkat masalah sudah terlalu tinggi.
7. Ketika penolakan meningkat menjadi ancaman dan penyingkiran
Beberapa kisah menunjukkan bahwa tekanan dapat meningkat lebih jauh. Nūḥ diancam agar berhenti. Shuʿayb dan orang-orang beriman bersamanya diancam dengan pengusiran. Pada Ṣāliḥ terdapat kelompok yang merencanakan serangan. Pada Muḥammad, QS Al-Anfāl 8:30 merekam rencana untuk menahan, membunuh, atau mengusir.
QS Al-Anfāl 8:30 penting bukan karena setiap penolakan akan berakhir seperti ini, melainkan karena Al-Qur'an menunjukkan bahwa ketidaksetujuan dapat, dalam keadaan tertentu, berubah menjadi upaya terorganisasi untuk menyingkirkan pembawa pesan.
QS Al-Anfāl 8:30
وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.
Di sini kita harus menahan diri dari dua kesalahan. Pertama, jangan menganggap penolakan baru nyata jika sudah menjadi kekerasan. Banyak bentuk penutupan bekerja jauh sebelum itu. Kedua, jangan pula membayangkan bahwa setiap perbedaan akan bergerak menuju kekerasan. Al-Qur'an tidak memberi kita satu tangga yang harus dilalui semua orang dari tidak setuju sampai menindas.
Ancaman, pengusiran, paksaan, atau penyingkiran adalah kemungkinan yang lebih jauh. Ia menunjukkan apa yang dapat terjadi ketika sebuah tatanan merasa bahwa keberadaan koreksi sendiri sudah tidak dapat ditoleransi.
8. Pemuka tidak otomatis menjadi penjaga keadaan lama
Bab ini akan kehilangan keseimbangan jika setiap kali melihat para pemuka kita langsung menganggap mereka pihak yang menutup perubahan. Al-Qur'an sendiri tidak memberi izin untuk membuat kelas manusia seperti itu.
Kisah Saba' memberi pembanding yang penting. Sang ratu memanggil para pembesar dan meminta pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Keberadaan pemuka di sini tidak berfungsi untuk mematikan pembicaraan, tetapi menjadi bagian dari musyawarah.
QS An-Naml 27:32
قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَفْتُوْنِيْ فِيْٓ اَمْرِيْۚ مَا كُنْتُ قَاطِعَةً اَمْرًا حَتّٰى تَشْهَدُوْنِ
Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).”
Ini menjadi pengingat penting: kedudukan, organisasi, dan kepemimpinan tidak dengan sendirinya membuat sebuah sistem tertutup. Yang menentukan adalah bagaimana semuanya digunakan. Apakah kewenangan membuat orang lain lebih mampu menimbang perkara, atau justru membuat satu suara tidak boleh diperiksa? Apakah musyawarah sungguh memberi ruang pertimbangan, atau hanya menjadi upacara untuk mengesahkan keputusan yang tidak mungkin berubah?
Kita tidak dapat menjawab pertanyaan itu hanya dengan melihat struktur formal. Dua lembaga dapat mempunyai susunan yang sama tetapi memperlakukan koreksi dengan cara yang sangat berbeda.
9. Apakah sebuah komunitas masih mampu mengoreksi dirinya sendiri?
Setelah melihat berbagai kisah itu bersama-sama, satu pertanyaan mulai muncul: apakah sebuah komunitas masih mampu mengoreksi dirinya sendiri?
Kemampuan itu tidak berarti semua orang harus setuju. Justru perbedaan kadang diperlukan agar sesuatu yang luput dapat terlihat. Ia juga tidak berarti setiap kritik harus diterima. Kritik dapat salah, bukti dapat lemah, dan orang yang mengoreksi juga dapat keliru. Yang penting adalah masih adanya jalan yang wajar untuk memeriksa semuanya.
Apakah masalah masih boleh disebut sebagai masalah? Apakah bukti yang tidak nyaman masih boleh diperlihatkan? Apakah orang dari dalam kelompok dapat berbeda tanpa segera kehilangan seluruh tempatnya? Apakah seorang pemimpin masih dapat mengubah keputusan tanpa dianggap kehilangan wibawa? Apakah komunitas masih mampu mengatakan, 'Dalam hal ini kita ternyata keliru'?
Tidak satu pun pertanyaan itu, sendirian, menjadi ukuran lengkap tentang masyarakat yang sehat. Kehidupan bersama jauh lebih luas. Tetapi jika semua pintu menuju koreksi tertutup, sebuah kelompok kehilangan salah satu kemampuan terpenting untuk memperbaiki dirinya sendiri. Yang paling berbahaya mungkin bukan ketika sebuah sistem pernah salah. Semua manusia dapat salah. Yang lebih berbahaya adalah ketika sistem itu tidak lagi mempunyai cara yang aman dan jujur untuk mengetahui bahwa ia salah.
10. Refleksi untuk kita — apa yang terjadi ketika koreksi datang dari dalam?
Cermin Bab 20 tidak perlu diarahkan lebih dahulu kepada negara, organisasi besar, atau kelompok lain. Ia dapat dimulai dari ruang yang jauh lebih dekat: keluarga, komunitas, tempat kerja, organisasi keagamaan, bahkan kelompok pertemanan.
Apa yang terjadi ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak nyaman? Apakah hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa apa yang ia tunjukkan, atau mencari cara agar ia berhenti berbicara? Apakah kita membedakan antara orang yang sengaja merusak dengan orang yang sedang menunjukkan kerusakan? Apakah berbeda pendapat masih mungkin tanpa kehilangan rasa memiliki?
Ada kalanya koreksi memang salah dan harus ditolak. Ada kalanya orang yang berbicara tidak jujur. Ada kalanya sebuah kelompok perlu membuat batas yang tegas. Bab ini tidak menghapus semua kebutuhan itu. Justru karena itu, yang diperlukan adalah kemampuan membedakan, bukan kebiasaan menutup.
Sebuah komunitas yang kuat tidak harus menerima semua kritik. Tetapi ia perlu cukup kuat untuk mendengar kritik tanpa merasa bahwa keberadaannya langsung terancam. Ia perlu cukup percaya diri untuk memeriksa dirinya sendiri. Dan ketika kesalahan ditemukan, ia perlu mempunyai jalan untuk berubah tanpa menjadikan perubahan sebagai kehinaan.
Pertanyaan yang paling tajam akhirnya bukan: apakah sistem kita sudah benar? Pertanyaannya: jika ternyata ada yang salah, apakah sistem kita masih memungkinkan kita mengetahuinya dan memperbaikinya?
11. Dari penolakan pribadi menuju lingkungan yang ikut menutup
Empat bab terakhir telah memperlihatkan empat sisi dari persoalan yang sama. Kita pernah melihat perhatian berpindah dari pesan kepada pembawanya. Kita melihat bukti dapat hadir tetapi tidak diberi kesempatan untuk mengubah pemahaman. Kita melihat pengakuan dapat tetap terdengar sementara keputusan sebenarnya ditentukan oleh rujukan lain. Dan sekarang kita melihat bahwa cara-cara itu dapat keluar dari diri seseorang lalu ikut membentuk kehidupan bersama.
Pada saat itu, penolakan tidak lagi hanya berkata, 'Saya tidak menerima.' Ia dapat mulai menentukan siapa yang boleh mendengar, siapa yang boleh berbeda, siapa yang dianggap masih layak berada di dalam kelompok, dan seberapa mahal harga yang harus dibayar untuk berubah tetapi di sinilah kita harus berhati-hati. Bab 17 sampai Bab 20 bukan alat untuk membangun daftar orang jahat. Pola-pola ini bukan identitas tetap. Seseorang dapat menutup diri pada satu saat dan terbuka pada saat lain. Sebuah kelompok dapat gagal menerima koreksi dalam satu perkara tetapi mampu memperbaiki diri dalam perkara yang lain.
Karena itu setelah Bab 20, arah buku harus berubah. Cermin yang selama ini banyak menghadap kepada kisah-kisah dalam Al-Qur'an kini perlu diputar. Bukan lagi terutama untuk bertanya bagaimana mereka menolak, melainkan untuk melihat bagaimana kita sendiri merespons ketika kebenaran menyentuh sesuatu yang kita cintai, kita warisi, kita banggakan, atau kita kuasai.
Di situlah Bagian IV dimulai: bukan dengan menunjuk, tetapi dengan bercermin.
BAGIAN IV — Ketika Cermin Berbalik
Bab 21 — “Kami Muslim”—Lalu Apa?
Bab 22 — Ketika Kita Mengulang Bahasa Mereka
Bab 23 — Ketika yang Islami di Permukaan Justru Menutup Fungsi Koreksi
Bab 24 — Cermin Sebelum Telunjuk