Manifesto
Pantulan Cermin
“Membaca Al-Qur’an bukan sekadar mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah kita miliki,
tapi juga menemukan pertanyaan yang sebelumnya bahkan belum terpikirkan oleh kita.”
Manifesto
“Membaca Al-Qur’an bukan sekadar mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah kita miliki,
tapi juga menemukan pertanyaan yang sebelumnya bahkan belum terpikirkan oleh kita.”
Yang diwariskan kepada kita adalah pemahaman; yang harus selalu kita audit adalah apakah pemahaman itu masih dapat dipertanggungjawabkan kepada Al-Qur’an. Satu diksi tidak selesai pada arti kamusnya; ia harus diuji melalui seluruh penggunaannya, hubungan dengan diksi lain, posisi dalam narasi, dan fungsi yang dibangunnya dalam argumentasi Al-Qur’an.
PANTULAN CERMIN
— tidak dimulai dari keyakinan bahwa pemahaman lama pasti salah. Ia dimulai dari keberanian untuk bertanya: bagaimana jika yang selama ini kita anggap sudah selesai dipahami, ternyata baru permukaannya?
— membaca Al-Qur’an bukan untuk mengulang apa yang sudah kita pahami, tetapi untuk menguji kembali apakah yang kita pahami benar-benar berasal dari cara Al-Qur’an membangun pesannya—lalu menemukan di mana pesan itu bekerja dalam kehidupan.
— mencoba mengungkap bahwa Al-Qur’an mungkin jauh lebih operasional daripada cara kita selama ini memahaminya. Banyak diksi yang telah membeku menjadi istilah keagamaan ternyata bekerja sebagai perangkat untuk membaca manusia, keputusan, hubungan, sumber daya, informasi, perjalanan, risiko, koreksi, dan perubahan. Banyak kisah yang kita baca sebagai sejarah tentang “mereka” ternyata merupakan mekanisme yang sedang mengaudit “kita”. Banyak perintah yang kita kenal sebagai label ibadah ternyata mempunyai hubungan struktural dengan cara manusia menjalani kehidupan. Maka tugas pembaca Quran bukan sekadar mewarisi arti, tetapi menguji apakah arti itu benar-benar sanggup menjelaskan seluruh penggunaan Al-Qur’an dan mengembalikan tuntunan tersebut ke medan hidup tempat ia seharusnya bekerja.
PANTULAN CERMIN
— tidak mencari perbedaan demi menjadi berbeda; kami tidak mengganti makna leksikal dengan simbolisasi bebas; kami tidak menjadikan kisah Al-Qur’an sekadar bahan penilaian atas “mereka”; kami tidak menganggap banyaknya kutipan sama dengan memahami Al-Qur’an; kami menguji definisi terhadap seluruh penggunaan Qur’an; kami membaca hubungan diksi, narasi, argumentasi dan evidence; dan kami mencari medan operasional tuntunan itu dalam kehidupan.
"Sebuah pembacaan belum selesai ketika kita tahu apa arti ayat. Ia baru mulai berarti ketika kita dapat melihat medan kehidupan tempat tuntunan itu bekerja."